
Seperti yang sudah direncanakan oleh Jamil, hari itu ia akan mengajak karyawannya untuk membantu membersihkan ruang bangunan bagian belakang pabrik. Ada tiga kamar di sana yang menganggur tidak pernah ditempati, semenjak Pak Bos juragan kuningan yang lama dipenjara, serta anak-anak majikannya tidak lagi mau tinggal di rumah itu. Namun ruangan kamar tidur itu memang sudah tidak ada kasurnya. Hanya ruang kosong. Ya, kasur dan perabot lainnya sudah diambil oleh anak dan saudara-saudara bosnya yang lama.
Tidak hanya kamar tidur, di bagian belakang itu juga terdapat kamar mandi, yang masih dipakai oleh para karyawan untuk kencing. Tentu pada bagian kamar mandinya terlihat lebih bersih dan asri. Karena setiap hari digunakan oleh para karyawan. Tetapi bagian yang lainnya tidak terurus.
Bahkan di bangunan belakang itu sebenarnya juga terdapat ruang dapur, yang memang semi terbuka, tidak menggunakan jendela maupun pintu, hanya dinding separo bata. Namun sama dengan kamar tidur, ruang dapur itu kosong tidak ada apa-apanya. Hanya ada meja kompor dari cor-coran, serta washtafel tempat cuci piring yang sudah lama tidak digunakan. Lantainya juga terlihat kotor, karena memang tidak pernah diinjak. Dan para karyawan itu pun tidak pernah ngurusi tempat itu.
Pagi itu, saat semua karyawan sudah hadir, Jamil langsung mengumpulkan karyawannya itu di ruang tengah, ruang tamu yang biasa digunakan untuk menerima pelanggan.
"Begini ...." kata Jamil membuka pengarahan.
"Ya, Pak .... Ada masalah apa ya, Pak ...?" tentu para karyawan tanda tanya.
"Bukan masalah .... Yang pertama, saya mau sampaikan kalau teman kerja kita tambah satu, yaitu Mas Irul. Ini orangnya, kemarin Sampeyan sudah pada tahu. Ini bukan kolusi dan nepotisme, bukan KKN, tetapi Mas Irul memang baik dan kebetulan butuh kerja. Maka saya terima di sini. Rumahnya Lasem, dulu sering membantu keluarga saya." kata Jamil memperkenalkan Irul kepada karyawan yang lain.
"Ooo ....." para karyawan itu memandangi Irul yang dikenalkan, walaupun kemarin sudah sempat ketemu.
"Yang kedua, saya pengin bangunan yang ada di belakang pabrik itu kita manfaatkan bersama. Kita bersihkan dan kita rawat ulang. Kamar mandinya kita bersihkan, agar kalau kita hajat lebih nyaman. Terus, dapurnya juga kita bersihkan, kita tata dan kita manfaatkan lagi. Siapa tahu ada yang lapar, bisa buat mi di situ. Demikian juga kalau ada yang kepengin bikin kopi atau teh, tidak usah beli ke warung .... Kita buat sendiri, kan lebih irit." kata Jamil.
"Tapi dapurnya kosong, tidak ada apa-apanya, Pak ...." sahut salah seorang karyawan yang menyampaikan keadaannya.
"Ya, nanti kita beli kompor dan perabot dapur. Ya rak, piring, gelas, maupun panci dan wajan. Itu yang paham Mbak Sri dan Mbak Ika .... Biar nanti dua Srikandi kita ini yang mendata kebutuhannya." Jamil menjawab yang menyampaikan. Memang untuk melengkapi kebutuhan dapur pasti dibutuhkan banyak perlengkapan. Termasih sendok garpu dan juga pisau.
"Nggih, Pak ...." jawab Mbak Sri yang sudah paham kebutuhan dapur.
"Kemudian juga kamar tidur .... Itu kan kosong tidak ada apa-apanya ....Karena memang barangnya semua sudah diangkut sama yang punya .... Nanti kita belikan dipan untuk tidur. Ya, kalau ada yang ngantuk kan bisa merebahkan diri di situ. Terutama nanti satu kamar biar ditempati Mas Irul, karena kalau nglaju rumahnya terlalu jauh nanti akan sering terlambat kerja. Lha, setidaknya kalau Mas Irul tinggal di sini, biar sambil ngawasi tempat ini dan bersih-bersih. Tetapi kalau ada karyawan lain yang ingin tidur sini juga boleh .... Saya tidak melarang. Yang penting tempatnya dijaga secara baik." kata Jamil lagi yang sudah menjelaskan masalah kamar tidur.
"Tapi itu perlu perawatan dulu, Pak .... Lampunya pada mati, dan catnya juga sudah pada rusak." sahut salah seorang karyawan yang tahu kondisi bangunan belakang.
"Nah, kalau begitu, nanti dicat sekalian. Biar kelihatan baru ...." kata Jamil.
"KIta butuh tukang cat, Pak Jamil .... Karena ngecat bangunan belakang itu tidak selesai satu hari. Bisa sampai empat atau satu minggu itu, Pak .... Sementara garapan kita masih lumayan, untuk mengejar pesanan, Pak ...." kata karyawan yang lain berpendapat. Ya, saat yang mengelola usaha ini Jamil, para karyawannya berani berargumentasi, bahkan usul dan memberi saran. Padahal zaman bos yang lama, para karyawan hanya diam dan takut. Beda seratus delapan puluh derajat.
"Tidak apa-apa .... Kalau memang kita butuh tukang cat, ya nanti kita cari. Ada tidak yang kenal dengan tukang cat, dan yang mau mengecat di sini?" tanya Jamil.
__ADS_1
"Ada, Pak Jamil .... Tetangga saya juga nganggur. Krismon-krismon begini, tukang mbatu, tukang kayu dan tukang cat tidak laku .... Tidak ada yang membangun, Pak .... Uangnya mending untuk nempur beras." sahut karyawan yang lain.
"Ya, sudah ..., nanti disusul, suruh kerja di sini." sahut Jamil meyakinkan.
"Ya, Pak .... Sekarang saja, ya Pak .... Nanti orangnya keburu pergi." usul karyawan itu.
"Ya .... Dijemput pakai motor ...." kata Jamil setuju.
Ya, memang kalau hanya memperbaiki bangunan belakang, mengecat dan membelikan perabotnya, bagi perusahaan kerajinan kuningan Bima Sakti yang dipimpin oleh Jamil, pasti kecil. Tidak masalah dengan pengeluaran belanja yang paling-paling hanya habis lima juta. Tetapi setidaknya, tempat bekerja para karyawan itu bertambah nyaman dan enak. Pasti akan membuat karyawannya semakin betah.
Setelah Jamil selesai memberi pengarahan, karyawan-karyawan itu langsung bekerja bakti. Membersihkan bangunan yang ada di belakang pabrik, yang dulu merupakan tempat tinggal keluarga bos lama. Mereka bersama-sama membersihkan tempat itu. Kamar, dapur dan kamar mandi. Lantainya dikosek semua. Diguyur air, lantas dikasih sabun deterjen, kemudian digosok pakai sikat kamar mandi. Semuanya di kosek. Demikian juga teras dan atap serta dindingnya. Semua dibersihkan. Dan pasti sambil tertawa gembira.
Jamil menyuruh Mas Tarno, sopir box, mengajak Mbak Sri dan seorang karyawan laki yang lain, pergi ke pasar. Tentu untuk belanja berbagai perkakas dapur. Mbak Sri yang paham kebutuhan perabot dapur. Yang laki-laki bagian angkat junjung. Dan pasti dipesan oleh Jamil, untuk beli jajanan buat camilan kerja bakti.
Tukang cat sudah datang, membonceng karyawan yang tadi menjemput. Tangannya kanan kiri sudah mencangking kaleng cat. Seperti yang tadi dipesankan oleh Jamil untuk mampir sekalian ke toko cat. Dia sudah siap mengecat.
"Yang bagian kamar jangan dipel dahulu .... Sekalian nanti setelah dicat, biar cipratan catnya sekalian bersih." kata tukang cat itu.
Tukang cat itu langsung menuang cat dari galon, ke ember yang langsung diaduk-aduk, untuk diencerkan. Selanjutnya sebagian dituang ke tempat cat yang sudah ada rol kuasnya. Rol cat itu disambung dengan tongkat, dan selanjutnya sudah ditempelkan ke tembok, ditarik naik turun. Tembok kamar itu langsung terlihat baru dan bagus. Warna hijau telur bebek yang terang. Terlihat indah. Dan ternyata, sesuatu itu kalau dikerjakan oleh ahlinya, hasilnya juga bagus dan cepat selesai.
Para karyawan yang bersih-bersih sudah menyelesaikan pekerjaannya. Tidak hanya mengosek lantai, membersihkan tembok dan atap. Tetapi mereka juga menata tanaman, bunga-bunga serta tanaman hias lainnya. Kemudian mengganti lampu-lampu yang mati dan redup, dengan lampu yang lebih terang. Dan bangunan belakang yang sempat tidak terurus itu, kini sudah terlihat lebih rapi. Tinggal menunggu pengecatan.
"Mas Irul nanti mau pakai kamar yang mana?" tanya salah satu karyawan pada karyawan baru itu.
"Sembarang, Mas .... Yang penting bisa untuk tidur." jawab Irul yang tentu menurut saja.
"Mas Irul sudah punya istri apa belum?" tanya temannya yang lain.
"Belum ...." jawab Irul.
"Waah .... Dijodohkan sama Mbak Ika saja .... Cocok ini ...." kata yang lain.
"Heh ...! Kalian itu ngomong apaan ...?!" tiba-tiba Ika membentak menegur teman-temannya laki-laki itu. Tidak tahu kapan datangnya, tiba-tiba sudah ada di situ, pas bersamaan temannya bicara jodoh sama Irul.
__ADS_1
"Maaf, Mbak Ika ...." kata karyawan tadi yang menunduk, tapi juga menahan tawa.
"Itu, disuruh keluar semua ...! Membantu nurunkan barang ...!" kata Ika pada karyawan laki-laki yang malah bercanda.
Tentu para karyawan itu langsung keluar. Mau membantu menurunkan barang-barang belanjaan yang dibawa oleh Tarno. Dan memang, mobil box Bima Sakti itu datang membawa barang belanjaan yang lumayan banyak. Mereka pun langsung menurunkan barang-barang, dan mengangkatnya ke dapur. Ada rak gelas piring, ada kompor gas beserta tabung gasnya, ada panci, ada wajan, ada serok dan susruk. Ada juga magicom dan teko air minum. Bahkan juga belanja piring, gelas dan sendok. Belanjaan yang lainnya ada ember, gayung, bahkan juga ada rak handuk. Ada keset dan serbet. Perkakas dapur dan kamar mandi komplit.
Bersamaan dengan datangnya mobil box yang mengangkut perkakas dapur yang baru saja dibelanjakan oleh Mbak Sri bersama Mas Tarno, datang juga tukang becak yang menepikan becaknya, tepat didepan toko. Ada Juminem di dalam becak itu. Tukang becak itu mengantar makanan yang dimasak oleh Juminem. Di jok becak itu terdapat banyak jenis makanan. Ada bakul berisi nasi, panci berisi sayur asam-asam, ada berbagai macam lauk-pauk, ada kerupuk. Dan yang tidak ketinggalan, ada sambalnya.
"Mbak Ika .... Tolong panggilkan karyawan laki-laki, suruh bantu ngangkat barang-barang ini." kata Juminem pada Ika yang ada di bagian toko.
"Iya, Ibu .... Sebentar, kami bantu, Bu ...." sahut Ika yang langsung berlari.
Ika langsung meminta tolong pada karyawan laki-laki yang juga sibuk mengangkat barang-barang belanjaan Mbak Sri untuk keperluan dapur. Maka beberapa karyawan laki-laki langsung membantu mengangkat masakan yang ada di atas becak.
"Walah, Bu Jamil masak-masak to ini ...?" kata salah satu karyawan yang sudah mengangkat bakul berisi nasi.
"Ya, untuk tambah-tambah tenaga ...." sahut Juminem.
"Taruh di mana ini?" tanya yang mengangkat masakan.
"Di ruang tengah saja, yang luas dan nyaman ...." sahut yang lain.
Beberapa orang langsung ikut menata masakan. Termasuk Mbak Ika yang ikut mengangkat krupuk.
"Walah ..., sudah matang semua masakannya, Jum?" tanya Jamil yang menyaksikan betapa sibuknya sang istri menata masakan.
"Iya, Kang .... Sana, karyawannya di suruh makan dahulu ...." kata Juminem yang langsung menyuruh suaminya untuk mengajak makan karyawannya.
Maka, siang itu seluruh karyawan makan bersama, menikmati masakan Bu Bos. Termasuk tukang cat yang ikut bekerja di situ.
Juminem tidak ikut makan. Ia sudah kenyang dengan masakannya sendiri. Saat para karyawan termasuk suaminya itu makan bersama, sengaja Juminem menengok bangunan yang ada di belakang pabrik. Ia mengamati ruangan yang sedang dibersihkan, dicat dan ditata oleh para karyawan. Kamar yang dicat sudah terlihat sangat indah. Tanaman hias yang ditata juga lebih asri dan menarik. Demikian juga dapur, yang sudah dibelikan berbagai kelengkapan perabot masak. Sudah ditata dengan rapi.
"Luar biasa .... Tempat yang tertata rapi, sungguh terlihat sangat menawan ...." gumam Juminem.
__ADS_1