
Sudah satu minggu Melian kuliah di Jakarta. Hidup bersama teman-teman di asrama, tentu banyak cerita yang menarik. Teman yang berasal dari berbagai daerah, pasti punya pengalaman yang bermacam-macam. Tinggal di asrama megah dengan fasilitas mewah, pasti merupakan hal biasa bagi mahasiswa yang latar belakang keluarganya kaya. Di rumah, mereka sudah biasa dengan barang-barang mewah, seperti AC, sower dengan air penghangat, TV kabel, kulkas, dispenser, mesin cuci, maupun penggunaan alat pemasak microwave untuk menghangatkan makanan. Itu semua merupakan hal biasa yang pasti ada di rumah keluarga kaya. Tetapi bagi mahsiswa yang dirumahnya tidak pernah menggunakan barang-barang mewah itu, tentu mereka merasa asing dengan benda-benda super lux. Jangankan untuk menggunakannya, melihat saja sudah takut.
Seperti halnya Melian, meskipun orang tuanya mampu, kalau hanya sekadar uang bukan masalah bukan masalah bagi Jamil, tetapi di rumahnya belum memiliki barang-barang mewah seperti yang ada di asramanya. Di rumahnya belum ada AC, belum ada sower yang bisa mengeluarkan air panas, belum punya TV kabel yang bisa menyiarkan berita dari luar negeri secara langsung, di rumahnya juga tidak ada dispenser yang bisa dipakai untuk membuat mi atau minuman panas, ibunya mau dibelikan mesin cuci juga tidak mau, apalagi alat masak yang namanya microwave. Ibunya pasti bingung mendengarkan nama barang-barang jika Melian nanti meneleponnya.
Maklum, Melian tinggal di Kampung Naga, yang berada di Juwana, daerah kecamatan kecil di Kota Pati. Di kampungnya memang belum ada orang kaya raya yang menggunakan barang-barang mewah seperti itu. Barang-barang lux itu hanya terdengar dari iklan TV. Apalagi budayanya masyarakat Kampung Naga, masih terlalu pasrah dengan keadaan yang ada di lingkungannya. Bahkan masih ada yang menentang perubahan maupun kemajuan. Sehingga toko-toko elektronik di Juwana tidak ada yang menjual barang-barang mewah seperti itu. Yang jelas tidak ada yang beli. Bagaimana mau beli barang-barang mewah yang harganya pasti mahal, untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidup saja masih kurang.
Karena barang-barang yang pantas dimiliki oleh keluarga mewah itu belum lazim di kampungnya, maka keluarganya Melian pun juga tidak punya atau belum memiliki. Bukan karena tidak sanggup membeli, tetapi karena masih bisa melakukan pekerjaan itu secara mandiri, maka belum perlu membelinya. Contoh saja microwave, untuk apa beli alat-alat semacam itu kalau Juminem masih bisa memanasi masakan-masakan di dapur. Dan Juminem bukanlah orang yang sibuk. Ia sanggup memasak tanpa dikejar-kejar waktu.
Setiap malam, saat bapaknya telepon atau SMS, pasti menanyakan keadaan Melian. Kalau saat telepon, pasti ibunya langsung ikut nimbrung. Tentu ingin tahu keadaan anaknya. Seperti malam itu, saat Jamil ingin menanyakan kabar anaknya.
"Halo ..., Nduk .... Bagaimana keadaanmu?" tanya Juminem saat bicara dengan ibunya melalui telepon.
"Baik, Mak ...." jawab Melian.
"Mak-e itu ingin tahu .... Makannya bagaimana? Kamarnya bagaimana? Bisa tidur apa tidak?" tanya ibunya.
"Ya pasti enak lah, Mak .... Saya makan sudah dapat dari catering asrama .... Tapi kalau mau beli atau pengin makanan dari luar, ya bisa beli sendiri .... Makannya enak, kok .... Dan tidak usah khawatir, Mak ..., di asrama semuanya tersedia lengkap." jawab Melian.
"Lha terus ..., tidurnya bagaimana?" tanya ibunya lagi.
"Enak, Mak .... Ruangnya pakai AC .... Dingin dan segar .... Satu kamar dua orang. Saya sekamar dengan Putri, asalnya dari Manado. Bapaknya kaya raya, pengusaha hotel. Ia cantik dan baik, Mak .... Jadi tidak perlu khawatir." jawab Melian yang sudah mulai menceritakan temannya.
"Walah .... Pengusaha hotel ...? Orang kaya, ya ...?" tanya ibunya lagi.
"Ya iya, lah, Mak .... Rata-rata teman Melian, anaknya pengusaha-pengusaha kaya .... Melian jadi minder, Mak ...." kata Melian yang tentu merasa rendah diri, tentu karena orang tuanya hanya usaha kecil-kecilan.
__ADS_1
"Yah .... Yang penting kamu sekolah yang pinter, biar besok bisa jadi pengusaha sukses seperti teman-temanmu itu .... Biar jadi orang kaya ...." kata ibunya yang menasehati anaknya.
"Tut ..., tut ..., tut .... Tut ..., tut ..., tut ...." bunyi telepon jamil.
"Halo .... Halo ...! Halo ...! Loh ..., iki piye, to? Ini kok cuman terdengar suara tut ... tut ..., Kang ...?!" kata Juminem yang belum selesai bicara malah HP-nya mati. Lantas ia menyerahkan HP itu ke suaminya.
"Halah .... Berarti pulsanya habis, Jum ...." jawab Jamil yang melihat HP-nya, lantas mengecek isi pulsanya. "Halah ..., habis tenan, Jum .... Ya sudah, besok saya belikan pulsa lagi." kata Jamil pada istrinya.
"Berarti sudah ndak bisa telepon lagi?" tanya Juminem.
"Ya ..., artinya saat ini, kita disuruh berhenti telepon Melian .... Dia mau belajar .... Katanya disuruh rajin biar jadi anak pintar .... Ya ..., anaknya biar belajar dahulu ...." kata Jamil yang tentu membuat kecewa istrinya.
"Hhhmmng .... Masih kangen ...." Juminem langsung melendot pada suaminya. Pasti, Jamil langsung membelai dengan kasih sayangnya. Dan mereka berdua pun tentu langsung saling peluk. Selanjutnya, mereka pun melepas kangennya sendiri, dengan mencurahkan luapan cintanya.
Sementara itu, di Jakarta, Melian mulai menikmati kehidupan yang berbeda dengan di kampungnya. Saat malam hari ia membuka gorden kamarnya yang berada di lantai sepuluh, Melian bersama Putri, teman satu kamar di asramanya itu, sangat takjub dengan keindahan ibu kota. Ya, asrama mahasiswa yang ada di Serpong itu, yang berdiri setinggi dua puluh lantai, memang sangat megah dan menawan. Kata Putri, seperti hotel milik bapaknya. Yang berbeda adalah lingkungan asrama itu. Jakarta diselimuti gedung-gedung tinggi.
Keindahan Jakarta pada malam hari memang sangat menarik dinikmati dari ketinggian. Mulai dari gemerlapnya jalan-jalan protokol yang dilintasi lampu-lampu kendaraan. Cahaya lampu yang menyorot jalan-jalan itu menghasilkan pentas laser yang sangat menarik. Lampu-lampu yang menghias gedung-gedung tinggi, terutama videotron iklan, beserta Jajaran lampu taman menambah daya tarik dan memberikan suasana syahdunya suasana malam di Ibukota.
Panorama kota ini juga tampak indah ketika diabadikan dengan kamera foto. Bidikan kamera yang menyorot berbagai sisi gebyar Jakarta di malam hari dengan teknik slow shutter speed. Cara pemotretan ini merupakan pengambilan gambar dengan kecepatan rendah yang bertujuan melembutkan gambar, yang umunya membutuhkan lebih dari satu detik atau lebih lambat. Ketika memotret dengan kecepatan slow shutter ini harus menggunakan alat bantu tripod agar menghasilkan gambar tajam.
Putri yang anak seorang pengusaha hotel kaya raya, membawa kamera digital yang sangat canggih. Tentu harganya sangat mahal. Lantas memasang tripod di dekat jendela, serta memasang kamera canggih itu pada tripod. Setelah itu membidik keindahan-keindahan malam Jakarta dengan kameranya. Dan sekali tekan saja, Putri sudah menghasilkan sepuluh gambar yang terakam dalam kameranya. Lantas menunjukkan hasil potretan itu kepada Melian.
"Lihat, Mel .... Ini hasilnya ...." kata Putri yang menunjukkan layar kamera kepada Melian.
"Wao .... Indah sekali ...." kata Melian yang terkagum dengan gambar-gambar yang ditunjukkan oleh Putri.
__ADS_1
Ya, tentunya Melian tidak sekadar kagum dengan gambar-gambar yang ditunjukkan oleh temannya itu, tetapi ia justru terkagum dengan kamera yang dimiliki oleh Putri. Kamera yang sangat bagus yang belum pernah ia lihat. Bahkan teman-temannya sekolah di Pati, juga tidak ada yang punya. Kalaupun punya kamera tustel, itu hanya tustel murahan untuk anak-anak, paling-paling kamera pocket, bukan kamera yang biasa digunakan oleh fotografer profesional.
Lantas, Putri kembali memasang kameranya di tripod. Selanjutnya kembali memotret keindahan Jakarta dari berbagai arah. Dan berkali-kali Putri melakukan pemotretan itu. Tidak masalah, karena kamera ini sudah menggunakan MMC atau Multi Media Card, yang merupakan flash memory yang digunakan untuk menyimpan data dalam kamera digital. MMC itu bisa menyimpan data foto sampai satu gegabyte. Jadi pemotretannya sudah tidak lagi menggunakan rol filem yang kalau ingin tahu gambarnya harus dicetak dulu.
Lagi-lagi, Melian terkagum dengan kamera yang dimiliki oleh Putri.
"Kamera kamu bagus banget ya, Put ...." kata Melian yang sangat tertarik.
"Ini waktu itu dibelikan Papah saat aku ulang tahun ke tujuh belas. Hadiah sweet seventeen ...." jawab Putri.
"Ooo .... Papah kamu pasti sangat sayang sama anaknya." kata Melian yang tentu memuji bapaknya temannya itu.
"Yah ..., mengungkapkan rasa sayang itu macam-macam, Mel .... Ini karena saya senang dengan fotografi, maka diberi hadiah kamera .... Dan ini ada tele tambahannya, lho .... Sayang tidak saya bawa. Yah, kita di sini kan mau kuliah .... Besok kalau liburan, kamu main ke tempatku. Aku ajak ke Bunaken .... Pemandangan bawah laut yang paling indah se Indonesia ...." kata Putri pada Melian, yang tentu mempromosikan daerahnya.
"Iya .... Besok saya harus bilang ke Pak-e sama Mak-e dulu ...." jawab Melian yang ragu-ragu.
"Oke .... Ayo kita lihat hasil pemotretan saya ...." kata Putri, yang kemudian mengambil kameranya dari tripod. Lantas membalik kamera itu dan mengambil MMC-nya. Selanjutnya Putri menghidupkan laptop. Lantas memasukkan MMC itu ke laptop.
"Mel ..., lihat foto-foto kita malam ini .... Bagus kan ...?" kata Putri yang menunjukkan gambar-gambar di laptopnya. Satu persatu ditampilkan di layar laptop. Yah, pemandangan keindahan Jakarta di malam hari sudah terpotret oleh Putri.
"Wao .... Keren banget, Putri .... Ini betul-betul luar biasa. Kamu benar-benar fotografer profesional, Put .... Aku kagum padamu ...." kata Melian yang tentu sangat terheran. Bahkan ada yang menggelitik hati Melian, saat Putri menunjukkan ada gambar sepasang remaja sedang pacaran di taman kota yang disinari lampu temaram.
"Ih, Putri .... Kamu kok bisa membidik anak pacaran segala ...?!" kata Melian yang terkaget dengan foto itu, sebab dari atas asrama di lantai sepuluh, dengan mata telanjang tidak mungkin untuk melihatnya.
"Hehe .... Ini kecanggihan kamera. Kalau pakai tele, saya bisa membidik obyek sekecil semut dengan jarak yang sangat jauh." kata Putri yang memamerkan kecanggihan teknologinya.
__ADS_1
Malam itu, akhirnya mereka berdua asyik menikmati indahnya pemandangan Kota Metropolitan yang benar-benar tidak tidur sepanjang malam. Dan tentu sambil memotret fantasi sudut-sudut Jakarta dari kamar asramanya. Melian pun mulai latihan memotret dengan menggunakan kamera super canggih, yang tentu diajari oleh Putri.