
Hari Senin pagi, di SMA Nasional, seperti biasa anak-anak masuk sekolah. Tetapi kali ini, anak-anak tidak berseragam abu-abu putih, melainkan pada mengenakan pakaian olah raga, meski ada beberapa anak yang memakai seragam SMA. Ya, seperti umumnya sekolah-sekolah lainnya, setelah ulangan akhir semester selesai, anak-anak mengadakan kegiatan Class Meeting. Kegiatan lomba-lomba antar kelas, sebagai pengisi waktu sambil menunggu guru-guru mengorekasi hasil tes. Tentu suasananya lebih santai, karena tidak ada pelajaran. Hanya setelah guru memasang pengumuman bagi anak-anak yang nilainya kurang, mereka harus ikut ulangan remidi. Seluruh kegiatan lomba-lomba antar kelas tersebut diatur dan dipanitiai oleh OSIS. Macam-macam lombanya. Ada basket, voli, catur, tenis meja, bahkan juga ada lomba baca puisi dan karaoke. Pokoknya memberi kesempatan kepada siswa untuk tampil. Menang kalah nomor dua, yang penting mereka bergembira setelah memeras otak menghadapi tes akhir semester.
Pagi itu, di lapangan sekolah sudah ramai anak-anak yang memainkan bola voli. Jadwalnya lomba voli antar kelas. Namun baru saja pertandingan voli dimulai, Soni anak kelas I B, yang baru datang tiba-tiba menyampaikan kabar kalau temannya satu kelas, Jonatan, mengalami kecelakaan tunggal di Bandungan dan meninggal dunia. Sontak anak-anak menjadi ribut. Bahkan pertandingan voli menjadi terhenti. Karena yang sedang bertanding adalah kelas I A melawan I B.
"Ada apa ...?!"
"Jonatan meninggal .... Kecelakaan di Bandungan."
"Kapan ...?!"
"Kemarin .... Menjelang subuh pagi hari ...."
"Lhah, terus ...?!"
"Kemarin sore sudah dibawa pulang dari Rumah Sakit Ambarawa. Sekarang sudah disemayamkan di rumah duka." kata Soni yang menyampaikan ke teman-temanya.
"Rumah duka mana? ?Kita ke sana?" tanya teman-temanya.
"Di rumah sakit sana ...." jawab Soni sambil menunjuk ke arah rumah sakit yang dimaksud.
"Kita ke sana sekarang?"
"Sebentar .... Sedang tanding voli .... Habis ini ...." jawab teman-temannya yang sedang tanding voli.
Meski demikian ada beberapa orang yang langsung keluar halaman sekolah, mengambil motor di parkiran dan bablas ke rumah duka Tlogorejo yang tidak jauh dari sekolahan. Terutama teman-teman dekat Jonatan. Tentu mereka ingin tahu persis keadaan dan ceritanya, yang mungkin akan disampaikan oleh orang tuanya. Hal itu mengakibatkan pemain voli dari kelas I B berkurang dan harus diganti.
"Ada apa ...?!" anak-anak dari kelas lain pada bertanya, ingin tahu ada masalah apa kok sampai pada pergi.
"Ini ..., katanya Soni, Jonatan meninggal karena kecelakaan ...."
"Hah ...?! Jonatan yang tubuhnya besar itu?"
"Ya .... Yang dulu sering bareng Mei Jing."
"Pantesan tidak ikut tanding voli ...."
"Katanya kecelakaan tunggal ...."
"Walah .... Kecelakaan di mana? Memang parah?"
"Kecelakaan di Bandungan .... Itu lho, yang dari atas, pas tikungan menurun .... Motornya masuk jurang."
"Yang benar ...?!"
"Makanya, itu teman-temannya pada ke rumah duka, untuk memastikan."
"Benar, Koh .... Adiknya Jonatan itu teman adikku .... Adikku sudah dapat kabar dari adiknya Jonatan. Benar ..., itu katanya motor yang ditunggangi Jonatan terjun ke jurang. Motornya remuk."
"Itu kapan kejadiannya?"
__ADS_1
"Malam Minggu .... Tapi ditemukan oleh warga sudah menjelang pagi."
"Pasti ngebut ...."
"Wah ..., tidak tahu ...."
Obrolan itu, berita tentang kematian Jonatan, akhirnya sampai ke telinga para guru. Termasuk sampai pada kepala sekolah. Maka ketua kelas IB dipanggil ke kantor oleh wali kelas. Tentu untuk ditanyai tentang kebenaran berita itu.
"Tolong panggilkan ketua kelas I B, ya .... Suruh ke kantor guru. Saya mau tanya tentang berita Jonatan." kata Bu Ester, wali kelas I B, pada salah satu murid yang kebetulan masuk ke ruang guru untuk menanyakan anak-anak yang harus remidi mata pelajaran matematika.
"Ya, Bu .... Nanti akan kami sampaikan." jawab anak itu.
Namun setelah sampai di bawah, di lapangan, Willy, ketua kelas I B,yang sebenarnya tadi ikut voli, ternyata tidak ada. Willy ikut ke rumah duka untuk memastikan berita tentang kematian Jonatan.
"Willy tidak ada, Cik .... Tadi ikut teman-teman ke rumah duka, mau memastikan kabar kematian Jonatan." jawab teman Willy.
"Kalau begitu tolong kamu ke ruang guru, menyampaikan ke Bu Ester, wali kelasmu, bilang kalau Willy sedang ke rumah duka. Gitu, ya ...." pinta murid yang disuruh gurunya tadi.
"Iya, Cik .... Saya akan menemui Bu Ester." sahut anak kelas I B itu, yang langsung naik ke lantai dua, menuju ruang guru.
Setelah masuk ke ruang guru, "Permisi, selamat pagi, Bu Ester ...." kata murid perempuan kelas I B itu.
"Eh, iya, Nik .... Sini .... Mana Willy?" tanya Bu Ester.
"Maaf, Bu Ester .... Willy ke rumah duka .... Mau memastikan berita tentang Jonatan." jawab teman Willy, anak kelas I B tersebut.
"O, ya ..., to .... Kok tadi tidak bilang Bu Ester dulu .... Ya sudah, nanti kalau sudah nyampai sekolahan lagi, langsung suruh menemui Bu Ester, bagaimana beritanya. Gitu, ya ..., Nik." kata Bu Ester yang menunggu kebenaran berita.
Saat turun dari ruang guru, ternyata di lapangan sudah ramai. Murid-murid ramai membicarakan kematian Jonatan. Ternyata teman-temannya yang tadi ke rumah duka sudah pulang, kembali ke sekolah. Dan mereka tentu langsung bercerita tentang kematian Jonatan.
"Willy ...!! Kamu dipanggil Bu Ester .... Bapak Ibu guru pengin tahu kebenaran berita kematian Jonatan." kata anak perempuan kelas I B yang baru turun dari ruang guru tersebut.
"O, ya .... Saya akan segera menemui Bu Ester .... Tolong teman-teman dikoordinir untuk menjenguk Jonatan." kata Willy, ketua kelas I B tersebut.
"Memang benar?" tanya temannya.
"Ya .... Parah .... Nanti kita melayat bersama .... Kasihan ibunya nangis terus." sahut Willy yang langsung naik tangga ke lantai dua. Tentu akan melapor pada wali kelasnya.
Sedangkan di bawah, berita kematian Jonatan sudah ramai dibicarakan oleh murid-murid yang berkumpul di lapangan maupun di teras-teras kelas. Terutama di ruang kelas I B yang mulai membahas rencananya untuk menjenguk ke rumah duka.
"Permisi ..., selamat pagi, Bu Ester ...." Willy yang masuk ruang guru langsung memberi salam pada wali kelasnya.
"Eeh ..., Willy .... Bagaimana beritanya tentang Jonatan? Tadi kok tidak ngajak Bu Ester ...." Bu Ester langsung menanyai ketua kelasnya itu.
"Maaf, Bu Ester .... Ini tadi kami bersama beberapa teman memang langsung ke rumah duka, untuk memastikan kebenaran berita. Dan kami sudah ke sana, ternyata benar, Jonatan mengalami kecelakaan di Bandungan dan meninggal." jawab Willy.
"Waduh .... Ya, Tuhan .... Jadi benar, Jonatan meninggal?" Bu Ester tentu langsung terkejut. Tentu sangat menyedihkan.
"Iya, Bu .... Jonatan mengalami kecelakaan, motornya masuk jurang di Bandungan. Itu lho, Bu ..., kalau dari arah Bandungan, tikungan tajam yang menurun .... Itu kan sisi kanannya jurang .... Lha, Jonatan terjun ke jurang itu." jelas Willy yang tentunya mendengar cerita dari orang tua Jonatan.
__ADS_1
Mendengar cerita dari Willy, guru-guru yang ada di ruang guru itu langsung menyimak, mendengarkan bagaimana peristiwa yang menimpa muridnya. Bahkan Ibu kepala sekolah juga ikut menimbrung ke ruang guru, ingin tahu ceritanya.
"Di mana ...?" tanya Ibu kepala sekolah.
"Di Bandungan, Bu ...." Bu Ester ikut menyaut.
"Wah, habis testing langsung piknik Bandungan ...." guru-guru yang lain menyaut.
"Kejadiannya kapan?" tanya guru yang lain.
"Jadi kata papinya Jonatan, habis tes hari Sabtu itu Jonatan tidak pulang. Hanya bilang pada Yuk-e, katanya mau jalan-jalan ke Bandungan .... Ternyata sampai malam Jonatan juga tidak pulang. Tidak ada kabar berita. Lha saat hari Minggu pagi, ada telepon di rumahnya, dari kepolisian yang menyampaikan kalau Jonatan mengalami kecelakaan dan orang tuanya di suruh ke Rumah Sakit Ambarawa. Orang tuanya langsung ke Ambarawa. Dan setelah sampai di rumah sakit, langsung ditemui polisi dan diantar memastikan orang yang mengalami kecelakaan adalah anaknya. Ternyata orang tuanya diajak masuk ke ruang kamar mayat. Langsung syok, katanya. Dan benar, Jonatan sudah meninggal." kata Willy yang menyampaikan cerita orang tua Jonatan.
"Kecelakaannya sore apa malam?" tanya guru yang lain.
"Katanya ditemukan oleh warga kampung sudah menjelang subuh .... Berarti sudah mau pagi, Bu. Tapi kejadiannya jam berapa tidak tahu. Katanya polisi, diperkirakan terjadi tengah malam." tambah Willy.
"Waduh .... Kecelakaannya sendirian, itu? Tidak berboncengan?" tanya Ibu kepala sekolah.
"Sendirian, Bu .... Ditemukan di tengah kebun sayur." jawab Willy.
"Ke Bandungan kok ya sendirian, kok tidak boncengan sama temannya .... Apa Jonatan belum punya pacar?" tanya guru yang lain.
"Belum, Pak ...." jawab Willy sabil tersenyum.
"Lha itu, yang sering diajak bareng itu ... katanya malah sekarang keluar itu .... Siapa namanya, ya ...?" kata guru yang lain.
"Ooh, Mei Jing .... Mei Jing ikut papinya, Pak .... Ke luar kota ...." jawab Willy.
"Apa parah? Kok sampai meninggal?" tanya salah satu bapak guru.
"Katanya parah, Pak .... Peti mayatnya tidak dibuka, karena katanya wajahnya rusak .... Motornya saja remuk kok, Pak .... Jurangnya dalam, itu Pak .... Pasti lukanya parah." kata Willy.
"Kapan upacara penguburannya?" tanya wali kelasnya.
"Rencana Rabu pagi akan dikremasi, Bu .... Tempatnya di Krematorium Kedungmundu." jawab Willy.
"Bu Ester, tolong dikoordinir, secara bergantian anak-anak menjenguk ke rumah duka. Besok saat upacara pemberangkatan jenazah, kita bareng-bareng ke sana." kata Ibu kepala sekolah.
"Ya, Bu .... Nanti akan saya atur. Ini anak-anak sudah berembug di kelas. Ini saya mau ke kelas sekarang .... Ayo, Willy ...." jawab Bu Ester, yang langsung mengajak Willy turun ke kelas I B.
Di lapangan, lomba-lomba sementara terhenti. Anak-anak ribut membahas masalah kecelakaan yang menimpa Jonatan, hingga mengakibatkan kematian. Tentu ceritanya macam-macam. Anak-anak yang tadi sudah ke rumah duka, menjadi sasaran pertanyaan teman-temannya. Tidak hanya teman satu kelas saja, tetapi juga dari kakak kelas-kakak kelasnya. Tentu banyak yang tidak percaya dengan kejadiannya. Masak ke Bandungan sendirian. Malam Minggu pergi ke Bandungan sendiri, apa tidak kedinginan? Kenapa tidak berboncengan, walau hanya dengan teman? Ada juga yang menyangsikan, jangan-jangan Jonatan berboncengan dengan pacarnya? Tapi bagaimana dengan nasib pacarnya? Apa malah pacarnya ikut jatuh ke jurang, tetapi belum ada orang yang tahu.
"Heh ..., heh ..., heh .... Ada berita heboh ...!!" kata salah satu murid yang baru datang, tiba-tiba nimbrung di kerumunan teman-temannya.
"Apa ...?! Ini Jonatan meninggal kecelakaan di Bandungan ...." sahut salah satu teman yang berkerumun sedang menceritakan Jonatan.
"Hah ...?! Jonatan besar itu meninggal di Bandungan?" tanya anak yang baru datang itu.
"Betul ...." jawab temannya.
__ADS_1
"Lhoh, ini juga ada berita kematian anak-anak SMA Majapahit .... Tiga anak meninggal di vila di Bandungan ...! Juga malam Minggu kemarin itu .... Berarti bareng Jonatan ...?!" kata anak yang baru datang itu.
"Hah ...?! Yang benar ...?!" teman-temannya kaget. Adakah hubungannya antara kematian 3 anak dari SMA Majapahit yang katanya meninggal dalam vila di Bandungan itu dengan Jonatan?