
TAHUN 1998, INDONESIA MENGALAMI KRISIS MONETER.
Melian yang dari kecil dirawat Juminem dan Jamil dengan cara rawatan orang desa, dengan keadaan yang serba sederhana, tentu dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Melian pun tumbuh layaknya anak desa yang lain. Bahkan Melian juga bermain bersama para tetangganya. Anak-anak kecil yang ada di Kampung Naga itu, yang selalu mendatangi rumah Jamil, tentu untuk mengajak Melian bermain bersamanya. Tentu karena halaman rumah Jamil cukup luas dan rindang dengan pohon mangga dan jambu yang rimbun. Rumah Jamil pun ramai oleh aktivitas anak-anak yang bermain bersama. Tentu, mainan-mainan tradisional anak desa.
Melian sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, periang dan penyayang sesama. Semua anak yang ada di kampungnya adalah temannya. Ia tidak membedakan anak laki maupun perempuan. Demikian juga dengan yang besar maupun yang kecil. Semuanya sama, diajak bermain bersama. Melian suka menolong temannya, baik hati dan tidak sombong. Demikian juga saat di sekolah, ia baik kepada siapa saja.
Keanehan Melian tidak tampak. Tidak diketahui oleh teman-temannya maupu para guru dan para tetangga. Seolah Melian hanyalah anak biasa. Tidak ada tanda-tanda aneh. Yang mereka tahu, Melian adalah gadis cilik berkulit putih dan bermata sipit, seperti layaknya anak keturunan Cina. Yang mereka tahu, Melian memang benar-benar anaknya Jamil dan Juminem. Demikian pula yang tercatat dalam surat kelahirannya.
Jamil dan Juminem pun tidak mau menceritakan apa-apa tentang Melian kepada siapapun. Termasuk berbagai keanehan yang dulu sering dialami. Itu rahasia mereka berdua. Yang jelas tidak bisa dipungkiri adalah Melian punya liontin dan gelang giok. Ya, karena gelang yang ada di lengan maupun kalung yang melingkar di lehernya itu tidak bisa dilepas. Dan yang aneh, gelang dan kalung itu ikut berkembang mengikuti besarnya tubuh Melian. Hal itu yang diherani oleh Juminem setiap kali merawat anaknya.
Tahun 1998, negara Indonesia dilanda krisis moneter, atau yang sering dikenal dengan istilah "Krismon". Kala itu Melian masih duduk di bangku sekolah dasar. Masih anak kecil yang belum tahu apa itu resesi ekonomi. Krismon kala itu merupakan momen paling menyedihkan bagi perekonomian bangsa Indonesia. Seluruh daerah dan lapisan kehidupan masyarakat bergejolak akibat peristiwa tersebut. Nilai mata uang rupiah anjlok dan perekonomian rakyat kocar-kacir. Krisis ekonomi yang dialami oleh bangsa Indonesia waktu itu merupakan kehancuran ekonomi yang paling buruk.
Krismon yang terjadi waktu itu mengakibatkan nilai mata uang rupiah melemah. Penyebab utama dari krismon ini adalah membengkaknya angka utang bangsa kita di luar negeri yang melebihi batas cadangan devisa. Sehingga bangsa Indonesia tidak sanggup membayar utang tersebut. Apalagi bunganya yang semakin besar karena nilai rupiah yang anjlok. Di sisi lain, kebijakan pemerintah dalam menangani krisis keuangan yang dinilai plintat-plintut menyebabkan kepercayaan masyarakat dan pasar mulai runtuh.
Melihat situasi ekonomi yang demikian memburuk, ternyata situasi ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Mereka mulai mengobok-obok politik. Yaitu mulai melancarkan mosi tidak percaya kepada pemerintahan Presiden Soeharto. Apalagi saat berunding dengan IMF yang dikatakan sebagai lembaga penyandang dana moneter, yang pada kenyataannya paket reformasi keuangan yang dianjurkan IMF itu malah membuat nasabah memutuskan untuk menarik dana besar-besaran. Tentu akibatnya krisis keuangan semakin membengkak.
Akibat dari krismon itu, banyak perusahaan yang bangkrut. Seluruh bank di Indonesia mengalami kredit macet karena perusahaan-perusahaan tidak bisa membayar utang dan terjadi kredit macet. Maka terjadilah pemutusan hubungan kerja atau PHK besar-besaran. Pengangguran muncul di sana sini, kemiskinan semakin meningkat.
Selain itu, harga bahan pokok meningkat. Kenaikan harga bahan pokok ini membuat masyarakat resah karena kehilangan daya beli. Uang seakan tidak ada nilainya lagi. Semua harga-harga kebutuhan pokok melambung tak tergapai oleh masyarakat. Belum lagi kepercayaan investor dan negara asing yang akan membantu keuangan Indonesia justru ketakutan. Bahkan investor yang sudah masuk justru lari meninggalkan Indonesia. Investor asing tidak lagi percaya bahwa uang yang diinvestasikan dalam melakukan bisnis di Indonesia akan memberikan hasil yang baik. Perusahaan asing yang nekat berbisnis, merka langsung gulung tikar.
Sayangnya, para pejabat tidak mau berkorban untuk rakyat. Mereka justru mengeruk keuntungan dari penderitaan bangsa. Lantas masalah ini dibumbui dengan kata-kata politik. Maka rakyat Indonesia mulai bergejolak, untuk memberontak. Protes besar-besaran pun terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Mahasiswa dan pelajar menggelar demonstrasi, namun entah kenapa tiba-tiba terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan polisi. Protes ini berlangsung cukup lama dari awal hingga pertengahan tahun 1998. Dan yang sangat mengerikan terjadi pada awal bulan Mei 1998, yang menuntut agar Presiden Suharto segera mengundurkan diri.
Kerusuhan terus berlangsung, hingga terjadi penjarahan, perampokan dan isu rasisme, bahkan penculikan. Protes terus berlanjut di seluruh Indonesia. Para mahasiswa dan pelajar, yang kemudian ditunggangi oleh tokoh-tokoh yang ingin merusak negara, menuntut agar rezim orde baru mundur dari kekuasaan karena dianggap gagal mengatasi masalah perekonomian Indonesia. Namun, aksi protes tiba-tiba berubah menjadi fandalisme. Penjarahan terjadi di mana-mana, bahkan pemerkosaan dan juga kekerasan yang mengakibatkan nyawa melayang. Pertumpahan darah tidak bisa dihindarkan lagi. Petugas keamanan menangkapi orang-orang yang dianggap sebagai penghasut dan pembuat keributan. Beberapa mahasiswa hilang. Bahkan ada yang ditembak.
Peristiwa penembakan yang menewaskan empat orang mahasiswa Trisakti, tidak menyurutkan protes mahasiswa. Mereka yang kini ditumpangi dengan berbagai elemen, justru melakukan aksi yang lebih mengerikan. Radio dikuasai oleh mahasiswa, siaran televisi juga dikuasai, dan gedung parlemen yang menjadi sasaran utama langsung dikup oleh mahasiswa dan pelajar. Keadaan dimana-mana menjadi mencekam. Sekolah-sekolah diliburkan, toko-toko tutup semua, bahkan perkantoran pun tidak ada yang berani buka.
Saat itu, Melian yang masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, didekap oleh ibunya. Ia tidak boleh masuk sekolah. Alasannya suasana sedang geger. Tidak aman untuk keluar rumah. Apalagi untuk anak kecil, takut nanti kalau diculik.
Sebenarnya, Juminem memang sangat khawatir dengan anaknya. Kabar yang ia dengar dari para tetanggam banyak anak-anak perempuan yang diculik kemudian diperkosa. Dan kebanyakan yang diperkosa itu anak-anak keturunan Cina. Juminem yang mendengar berita seperti itu, pasti sangat khawatir dengan Melian. Karena anaknya itu tidak ada kulit desanya sama sekali. Tidak sama dengan Jamil maupun Juminem. Melian memang anak keturunan Cina. Maka mulai dari matanya yang sipit, kulitnya kuning keputihan, pokoknya semuanya tidak ada yang diragukan lagi kalau Melian itu memang anak Cina. Walaupun didikannya, pergaulannya, cara hidupnya, bahasa hingga tabiat semuanya adalah Juminem dan Jamil, namun dari segi fisik tidak bisa dibohongi. Makanya, Juminem langsung melarang anaknya masuk sekolah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Seperti pagi itu, saat Melian keluar rumah dengan maksud akan menyapu teras, membantu ibunya bersih-bersih rumah. Tiba-tiba saja ada beberapa orang laki-laki. Mulanya terlihat biasa saja melintas di jalan depan rumah, namun begitu melihat ada Melian yang sedang menyapu di teras, tiba-tiba dua orang lelaki dengan pakaian kumel dan wajah kotor seperti layaknya orang yang tidak pernah mandi, langsung masuk ke halaman. Lantas laki-laki itu berlari akan menubruk dan menangkap Melian. Pasti rencananya Melian akan diculik lantas diperkosa. Dasar manusia biadan, sampah masyarakat tak berguna.
__ADS_1
Namun, betapa kagetnya dua laki-laki itu sesampai di depan teras, tepat di depan Melian. Semulanya mereka ingin menangkap gadis cilik yang cantik itu, saat Melian menyapu lantai teras, ternyata ada kekuatan aneh yang keluar dari sapu itu. Tidak hanya debu atau kotoran yang tersapu, tetapi dua orang laki-laki tadi ikut terlempar terkena gerakan sapu yang diayunkan Melian.
"Glabrought ....!!" suara dua tubuh terjatuh di tanah.
Laki-laki yang berusaha mau menangkap Melian itu melayang dan berjatuhan di jalan, di mana teman-temannya sedang menunggu. Pasti teman-temannya kaget bukan kepalang.
"Ada apa ...?!"
"Kenapa ...?!"
Dua orang yang baru saja terlempar dan jatuh itu meringis kesakitan. Mereka memegangi boyok dan lututnya. Sekujur tubuhnya ngilu tidak karuan. Lantas setelah bisa berdiri tegak ..., "Lariiiii ...!!!" dua laki-laki itu berteriak keras sambil mengajak teman-temannya lari. Mereka pun lari tunggang langgang seperti dikejar anjing.
"Ada aapa, Mel ...?" tanya ibunya yang keluar dari dalam rumah. Pasti ia juga mendengar ada keributan di luar.
"Tidak tahu, Mak .... Orang-orang itu tadi berlarian ketakutan.
"Oo, ya sudah .... Melian tidak apa-apa, kan ...?" tanya ibunya pada Melian.
"Tidak apa-apa, Mak .... Ini masih nyapu ...." sahut Melian yang terus melanjutkan pekerjaannya.
"Loh, Kang .... Kok sudah pulang ...?!" tanya Juminem yang tentu kaget. Masih pagi untuk pulang kerja. Bahkan siang pun belum tiba.
"Majikanku bangkrut, Jum .... Tadi semua karyawan dikumpulkan, katanya sudah tidak punya uang lagi untuk membayar karyawan dan memutar usaha ...." kata Jamil yang tentu sangat lemas.
"Pak ..., kita masuk dahulu .... Duduk di kursi, saya buatkan minuman hangat .... Biar rileks, melepas penat .... Ya, Pak ...." tiba-tiba Melian mengajak bapaknya masuk, dan tentu sudah menggandeng lengan bapaknya.
"Iya, Kang .... Tidak baik membicarakan nasib di luar rumah. Nanti kalau kegengaran orang bisa sampai ke seantero jagat." timpal Juminem.
Mereka pun akhirnya masuk rumah. Duduk di ruang keluarga, dan tentunya sambil menonton televisi yang menyiarkan secara langsung demo-demo yang ada di mana-mana, di seluruh wilayah Indonesia.
"Apa usaha kerajinannya tutup, Kang?" tanya Juminem yang tentu ingin tahu.
__ADS_1
"Pak ...., ini teh hangat .... Diminum dulu untuk melegakan kerongkongan ...." kata Melian yang sudah menyediakan teh untuk bapaknya.
Tanpa diulang dua kali perintah anaknya, Jamil langsung menyeruput teh hangat buatan anaknya itu. Segar. Ya, pasti Jamil tidak mau mengecewakan anak yang sudah bersusah-susah meladeni dirinya. Itu sebagai penghargaan orang tua kepada anaknya. Tentu biar anaknya senang karena apa yang disuguhkan sudah dinikmati.
"Di sana-sini ada demo, Pak ...." kata Melian sambil menunjuk berita di televisi.
"Iya .... Tadi di alun-alun juga ada demo .... Tapi tidak sebesar yang ada di tivi itu ...." sahut Jamil, yang tentu memberi tahu anak dan istrinya.
"Iya .... Kita jangan keluar dahulu .... Takut tidak aman ...." sahut Juminem.
"Betul .... Mending di rumah saja dahulu, menunggu suasana aman." kata Jamil, yang tentu ditujukan pada anak dan istrinya.
"Sekolahnya bagaimana?" tanya Melian.
"Tadi sudah diumumkan ..., sekolah-sekolah diliburkan sampai batas waktu yang belum ditentukan." jawab bapaknya.
"Ooo .... Berarti di rumah terus ya, Pak ...?" tanya Melian.
"Besok kalau sudah aman baru masuk sekolah lagi." jelas bapaknya.
"Kang ..., katanya ada jarah-jarahan, ya ...?" tanya Juminem.
"Itu di kota-kota besar .... Di sini aman ...." jawab Jamil.
"Tapi kata para tetangga, toko-toko di pasar pada tutup ...." ucap Juminem.
"Iya .... Mereka jaga-jaga, tidak ingin memberi kesempatan .... Biar aman ...." sahut Jamil.
"Betul, Mak .... Kalau tokonya buka, nanti bisa didatangi orang lantas dijarah ...." timpal Melian.
"Kang .... Lha terus kerjanya Kang Jamil bagaimana?" tanya Juminem yang tentu juga khawatir kalau suaminya tidak kerja berarti tidak punya penghasilan, yang dibuat belanja untuk makan apa?
__ADS_1
"Kita berdoa saja, Jum .... Semoga Yang Maha Kuasa memberi jalan bagi kita." kata Jamil yang selalu pasrah.
"Iya, Mak .... Kita makan seadanya, dihemat dan irit .... Hehehe ...." sahut Melian yang tetap tersenyum. Itu yang selalu menyenangkan hati Jamil maupun Juminem.