
"Lhoh, Kang ..., Melian mana ...?!" Juminem kaget saat suaminya datang hanya berdua dengan Mas Irul. Karena tadi berangkatnya Melian ikut, tetapi saat kembali ke Toko Laris, ternyata Melian tidak ada. Bahkan Juminem yang penasaran langsung memeriksa mobil suaminya, untuk mencari anaknya. Namun tetap juga Melian tidak ada dalam mobil itu.
"Melian tidak mau pulang .... Dia menyapu rumah engkongnya." jawab Jamil ringan dan santai.
"Lhadalah .... Kang Jamil itu bagaimana, leh ...? Mosok anaknya ditinggal sendirian di tempat yangmasih asing. Melian itu kan nggak kenal sama orang-orang sana .... Lha nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" kata Juminem yang tentu sangat khawatir dengan anaknya.
"Tidak apa-apa .... Melian sudah besar, kok .... Justru ini saya balik kemari sama Mas Irul itu juga karena Melian, Jum ...." sahut Jamil yang tidak mau disalahkan.
"Lha memangnya ada apa, Kang ...?" tanya Juminem pada suaminya.
"Ini .... Saya mau tanya sama Cik Indra ...." kata Jamil.
"Tanya soal apa, Pak Jamil ...?" sahut Cik Indra.
"Ini .... Masalah rumah engkongnya Melian ...." kata Jamil.
"Memang rumahnya kenapa, Pak Jamil ...?" tanya Cik Indra lagi.
"Itu ..., rumahnya engkongnya Melian kan disita oleh bank .... Apakah kami bisa menebusnya kembali?" tanya Jamil yang sudah berniat untuk mengembalikan warisan anaknya.
"Wah ..., bagaimana ya, Pak .... Soalnya kalau melihat tulisan yang menempel di dinding tembok, rumah itu sudah masuk dalam daftar sitaan bank." kata Indra yang juga pernah melihat tulisan itu bersama suaminya waktu jalan-jalan.
"Maksudnya Pak Jamil itu ginim Dek .... Rumah itu mau dibayar, entah itu melunasi hutangnya atau melelang dengan bank ...." jelas Irul pada istrinya.
"Masalahnya, harga lelangnya pasti lebih mahal dari harga umumnya, Pak .... Sayang kalau uang yang besar untuk ikut lelang barang sitaan. Dan belum tentu rumahnya utuh, karena biasanya sudah lama ditinggalkan dan tidak terawat." jelas Indra yang menyampaikan kemungkinan harga dengan kondisi bangunan. Tentu akan sayang uang yang banyak hanya untuk membayar rumah yang kurang baik kondisinya.
"Memang betul begitu, Cik Indra .... Tapi ini masalahnya adalah warisan Melian. Anaknya ingin mengambil kembali rumah itu, sebagai sejarah tempat kelahirannya, dan sejarah keluarganya." kata Jamil yang keberatan dengan nilai sejarah dari rumah itu.
"Seperti itu ya, Pak ...? Itu bank apa ya, Mas Irul ...?" tanya Indra pada suaminya, ingin tahu bank yang menyita.
"Bank milik pemerintah, Dek .... Di Lasem ada cabangnya. Kantornya dekat alun-alun, kok." jawab Irul yang sudah membaca nama bank yang tertempel di dinding.
"Coba besok Senin saya tanyakan dahulu ya, Pak Jamil .... Itu ada dua kemungkinan. Kalau belum masuk lelang, masih bisa ditutup kreditnya. Tapi kalau sudah masuk lelang, maka Pak Jamil harus segera membeli. Dua-duanya ada baiknya, tetapi juga ada sulitnya. Kalau menutup kredit, biasanya hanya melunasi kekurangan atau utang yang harus ditanggung, tentu harus sepengetahuan yang mengajukan kredit. Karena akan ditinjau berkas pengajuannya. Mungkin termasuk KTP. Kalau lelang, harganya adalah seluruh harga tanah dan bangunan yang ada. Jadi lebih mahal dari besarnya utang ditambah bunganya." jelas Indra.
"Saya tidak masalah dengan harga, Cik Indra .... Yang penting tanah dan bangunan itu bisa kembali kepada Melian. Sebab kalau tidak saya turuti kemauannya, nanti bisa geger. Bangunan itu satu-satunya sisa saksi hidupnya. Ibarat nanti harganya mahal, akan saya jualkan apapun demi mendapatkan rumah itu. Mas Irul pasti tahu, bagaimana Melian dulu di rumah itu. Saya benar-benar minta tolong sama Cik Indra." kata Jamil yang siap untuk bertaruh harta kekayaannya demi bangunan rumah engkongnya Melian.
"Iya, Pak .... Akan saya usahakan untuk mengurusnya." jawab indra yang melegakan hati Jamil.
"Yo, wis .... Kalau begitu sekarang Melian ayo dijemput. Kasihan di sana sendirian. Malah bersih-bersih segala ...." kata Juminem yang langsung meminta suaminya untuk kembali ke rumah Engkong, menjemput Melian.
"Ya ...." sahut Jamil yang langsung berangkat.
"Saya ikut, Pak Jamil .... Saya mau memastikan banknya." Indra yang langsung menuju mobilnya Jamil.
__ADS_1
Kini gantian Irul yang ditinggal di tokonya. Gantian istrinya yang ikut ke rumah Babah Ho bersama Jamil dan Juminem.
Dan sesampai di rumah Babah Ho, alangkah kagetnya Juminem, Jamil dan Indra yang menyaksikan Melian membersihkan halaman rumah hingga bersih. Bahkan sudah membakar sampah-sampahnya. Dan lebih kaget lagi, saat Jamil dan Juminem menuju rumah. Ada yang aneh, pintu rumah itu sudah terbuka. Lantas siapa yang membukakan pintu itu? Dan alangkah lebih terkejutnya Jamil dan Juminem, ketika memasuki pintu rumah, semua perabotan dan mebeler yang ada di dalam rumah itu sudah bersih semuanya. Bahkan lantainya juga bersih.
Jamil dan Juminem saling pandang. Tentu heran dengan yang dilakukan anaknya. Membersihkan rumah yang semula kotor dan kumuh itu seorang diri, dan hanya waktu yang tidak begitu lama, semuanya sudah bersih dan rapi. Benar-benar anak ajaib. Jika saja kegiatan bersih-bersih itu dikerjakan oleh orang biasa, dan dilakukan oleh dua orang saja, dua hari tidak bakalan selesai. Tetapi, ini Melian melakukannya seorang diri, tanpa lelah dan capek, selesai dalam waktu yang sangat singkat. Benarkah ada kembaran Melian yang membantunya? Mungkin kakang kawah adi ari-ari yang dikubur di samping pintu rumah itu sudah membantu pekerjaan Melian.
"Melian ..., kamu bersih-bersih sendirian ...?!" tanya Cik Indra yang langsung mendekati Melian yang sedang membakar-bakar sampah.
"Ndak, Cik .... Tadi ada orang-orang yang membantu ...." jawab Melian yang masih asyik dengan membakari sampah-sampah.
"Lhah, mana orang-orang yang membantu Melian ...?" tentu Cik Indra penasaran.
"Tinggal Kakek tua itu yang masih mau menunggui Melian .... Lainnya sudah pada pulang." kata Melian sambil menunjuk ke arah teras yang ada dingklik dari kayu.
Indra terkejut saat menengok ke arah teras yang ditunjuk oleh Melian. Benar yang dikatakan Melian, kalau di bangku kayu yang ada di teras, ada kakek tua yang mengenakan baju lurik ala Jawa warna coklat dengan celana hitam comprang, serta mengenakan iket kepala. Ya, kakek-kakek jaman kuno yang masih setia mengenakan pakaian adat. Padahal tadi saat turun dari mobil, Indra tidak melihat kakek itu.
"Ayo ..., kita ke sana, Cik .... Ngobrol sama kakek itu ...." kata Melian yang langsung menyeret tangan Indra.
Indra hanya bisa menurut. Tidak sanggup untuk menolak. Akhirnya Indra duduk bersama Melian, di sebelah kakek tua itu. Indra pun menyalami si kakek tua yang ada di sebelahnya. Aneh. Meski kakek tua itu terlihat seperti layaknya orang kuno, dengan pakaian model kuno, tetapi tangan kakek itu masih halus dan lembut. Tidak seperti tangan mertuanya yang sering mencangkul. Bahkan si kakek itu baunya harum, seperti bau bayi yang habis dimandiin.
"Sini ..., duduk sini ...." kata si kakek yang akhirnya berada di tengah, antara Melian sama Cik Indra. Lalu kakek itu melanjutkan bicara, memberi petuah pada Melian dan Indra.
"Perjalanan hati dan ruh, jiwa dan raga setiap manusia dipenuhi aneka misteri. Susah sekali untuk diamati atau dilihat, sebab jiwa dan ruh itu bersifat maknawi. Sebenarnya jiwa setiap insan itu sangat halus sekali. Jika kita
Indra dan Melian terlihat seperti kakak beradik. Sama-sama cantiknya, sama-sama lembutnya. Lalu kakek itu melanjutkan pembicaraannya.
"Kadang ..., disaat kita ingin berbuat ikhlas, disaat itu pula qalbu kita tidak ikhlas. Disaat kita ingin berbuat baik, disaat itu pula qalbu kita berkeinginan lain. Semua itu disebabkan karena kita berharap agar orang lain menganggap diri kita sebagai orang baik, berilmu tinggi, kaya, dermawan dan biar terlihat wah. Padahal itu semua justru akan sia-sia. Pada saat kita melarang orang lain agar jangan berbuat jelek, sombong dan riya, disaat itu pula kita sedang melakukan kejelekan, riya serta menyombongkan harta kekayaan kita. Begitu pula saat kita menyerukan supaya tidak cinta dengan hal-hal yang bersifat duniawi, diwaktu yang sama ternyata kitapun ingin dipuji-puji dan dihormati oleh manusia. Padahal itupun virus cinta dunia." kata si Kakek yang sebenarnya sedang memberi wejangan kepada dua perempuan cantik itu.
Tentu Melian dan Indra diam terkesima dengan kata-kata yang diucapkan oleh orang tua itu. Meresapi makna dari kata-kata yang susah dipahami itu, dengan mengkerutkan kening, tanda berpikir keras untuk bisa memahami maknanya.
"Sejatinya bukan hal mudah untuk menjaga hati dari penyakit-penyakit batin seperti iri, dengki, congkak, sombong, tinggi hati, sebab kita tidak bisa merasa. Dan penyakit-penyakit hati itu menculnya tanpa kita sadari. Bahkan ulama dan kyai pun juga bisa terpedaya oleh penyakit hati itu. Apalagi manusia biasa seperti kita. Hanya dengan pertolongan dari Yang Maha Kuasa, kita bisa selamat dan terhindar dari penyakit batin atau nafsu. Sebab hanya Sang Pencipta hati dan nafsu yang mampu menundukkan hati serta nafsu kita. Jadi, dekatkanlah diri kita kepada Yang Maha Kuasa." kata si Kakek itu memberi wejangan.
"Iya, Kek .... Kami akan berusaha ...." kata Indra yang tentu sangat tersentuh dengan nasehat si kakek.
"Melian ...! Cik Indra ...!" teriak Juminem memanggil anaknya dan Cik Indra dari dalam rumah.
"Iya, Mak ...!" Melian menyaut.
"Iya, Mbak Jum ...!" Cik Indra juga menyaut.
Melian dan Cik Indra langsung beranjak masuk ke dalam rumah. Tentu ingin tahu, ada apa dipanggil oleh ibunya.
"Ada apa, Mbak Jum ...?" tanya Indra yang sudah sampai di depan Juminem.
__ADS_1
"Ini, lho ..., kok ada pisang di meja ini yang bawa siapa?" tanya Juminem yang tentu bingung dengan suguhan pisang di ruang itu.
"Kata Melian, tadi banyak orang yang membantu kok .... Mungkin dibawakan si Kakek ...." sahut Indra, karena hanya tahu yang ada di situ adalah si kakek yang menceramahinya.
"Kakek siapa?" tanya Juminem yang tentu bingung.
"Itu ..., yang duduk di teras." jawab Indra.
Tentu Juminem ingin tahu si kakek yang dikatakan oleh Indra tersebut. Juminem pun keluar pintu, menengok ke kanan dan ke kiri. Melihat teras itu. Tetapi tidak ada orang. Tidak ada kakek seperti yang dikatakan oleh Cik Indra. Tentu Juminem penasaran.
"Mana si kakek itu ...?" tanya Juminem yang tidak melihat ada kakek-kakek.
Indra keluar. Ikut menengok ke teras di mana ia tadi duduk bersama si kakek. Ternyata kakek itu memang sudah tidak ada. Merinding bulu kuduk Cik Indra.
"Tadi duduk di situ, Mbak Jum ...." kata Indra sambil menunjuk bangku kayu yang sudah kosong tidak ada orangnya.
"Sudah pulang ...." kata Melian yang menyaut Cik Indra dan ibunya.
"Lho .... Pulang ke mana ...?" tanya Juminem pada anaknya.
"Ya ke rumahnya to, Mak ...." jawab Melian yang santai saja tanpa ada perasaan aneh seperti yang lainnya.
"Lha ini, pisang sesisir ..., siapa yang bawa?" tanya ibunya lagi.
"Kakek ...." jawab Melian, yang merasa memang ia tadi dibantu oleh banyak orang.
"Yang membukakan pintu ...?" tanya Juminem lagi.
"Kakek ...." lagi-lagi Melian menjawab, si kakek yang sudah membantu banyak hal.
"Melian ...!" kini giliran bapaknya yang memanggil.
"Iya, Pak ...." sahut Melian.
"Ini tadi dibantu siapa? Kok seluruh rumah sudah bersih semua ...." tanya Jamil pada anaknya.
"Dibantu Kakek sama orang-orang suruhannya ...." jawab Melian.
"Lha, sekarang mana orang-orang yang membantu itu ...?" tentu Jamil ingin tahu.
"Sudah pada pulang semua .... Kan sudah selesai ...." jawab Melian yang tetap saja santai.
Aneh. Tidak masuk akal. Rumah yang semula kotornya bukan main, jorok dan kumuh, hanya ditinggal sebentar kok sudah jadi bersih dan rapi. Katanya dibantu banyak orang, tapi siapa? Jamil, Juminem dan Indra tentu sangat heran. Apalagi bagi Indra yang baru tahu hal ini, tentu sangat bingung. Siapa kakek misterius itu tadi?
__ADS_1