
Dokter-dokter di Rumah Sakit Daerah sudah angakat tangan. Mereka tidak sanggup menangani penyakit yang diderita oleh Cik Jun. Padahal berbagai macam obat sudah diberikan. Sudah satu minggu lebih Cik Jun dirawat di rumah sakit, namun belum ada perkembangannya sama sekali. Bahkan tubuh Cik Jun semakin menyusut. Semakin kecil dan tentu berat badannya semakin menurun. Cairan infus yang dimasukkan ke tubuh Cik Jun sudah menghabiskan berbotol-botol, tetapi seakan tidak ada reaksi yang berarti. Jika Babah Ho menanyakan tentang apa penyakitnya, dokter belum bisa mengatakan jenis penyakit itu. Katanya ini penyakit aneh. Entah apa sebenarnya yang diderita oleh Cik Jun tersebut.
Akhirnya, para dokter itu memutuskan merujuk untuk mengirim Cik Jun ke Rumah Sakit Pusat yang ada di Semarang. Tentu untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih teliti tentang sakit yang dideritanya. Selain tenaga dokter yang lebih ahli, perlengkapan peralatan medis juga lebih banyak dan modern. Tentu harapannya akan memudahkan penemuan penyakit yang diderita oleh sang pasien, serta mendapatkan obat yang dibutuhkan.
Babah Ho semakin bingung, karena pasti memikirkan nasib istrinya yang harus dirawat di Semarang. Terlalu jauh dengan rumah, dan yang pasti akan mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatan tersebut. Dengan berbagai pertimbangan, terutama demi kesehatan istri, akhirnya Babah Ho pasrah dengan keputusan para dokter tersebut. Ia mengikuti apa yang terbaik. Paling tidak berusaha untuk menyembuhkan istrinya.
Siang itu, mobil ambulan Rumah Sakit Rembang menderu mendengungkan sirine-nya. Melaju kencang di jalan raya. Ambulan itu mengangkut orang sakit, Cik Jun yang terbujur di bed akan dibawa ke rumah sakit pusat di Semarang. Babah Ho berada dalam mobil ambulan itu, duduk mendampingi instrinya. Tangannya memegangi tubuh istrinya yang diikat pada bed itu. Tentu kondisinya sangat menyedihkan. Hal itu terlihat dari mata Babah Ho yang terus mengeluarkan air mata, pertanda menangis.
"Jangan bersedih, Kong ...." kata sopir ambulan itu mencoba menghibur Babah Ho, meski ia tetap konsentrasi dalam menyopir dengan kecepatan tinggi. Biasa, yang namanya ambulan lajunya pasti cepat. Apalagi kalau membawa orang sakit. Begitu sirine dibunyikan, maka mobil-mobil yang ada di depannya langsung minggir.
"Haiya .... Olang istli owe sakit, ha ..., pasti owe sedih, ha .... Hu ..., hu ...." jawab Babah Ho yang tambah terdengar suara tangisnya.
"Sakitnya, apa sih, Kong ...?" tanya sopir yang ingin tahu.
"Haiya .... Owe tidak tau, ha .... Istli owe sakit bikin bingung, ha ..., doktelnya tidak tau, doktelnya bingung, ha .... Hu ..., huk ...." jawab Babah Ho yang tentu semakin menambah volume suara tangisannya.
"Ooo .... Dokternya tidak tahu .... Walah, penyakit apa itu?" kata si sopir.
"Haiya .... Owe tidak tau, ha .... Jangan nanya telus, ha .... Hu ..., hu ...." jawab Babah Ho yang jengkel ditanyai oleh sopir itu.
"Ya, Kong .... Semoga saja ini nanti di rumah sakit pusat, istrinya dapat obat, Kong ...." kata sopir itu ingin menenangkan penumpangnya.
"Haiya .... Semoga bisa sehat lagi, ha ...." jawab Babah Ho yang mulai mereda tangisnya.
Sang sopir itu pun tidak khawatir lagi. Ia paham kalau keluarga pasien yang gawat, pasti sangat mengkhawatirkan keselamatannya. Makanya, jika bicara, sang sopir itu harus menjaga perasaan keluarganya.
"Dulu saya pernah bawa pasien, juga mengantar ke pusat, itu sudah lama di rumah sakit daerah tidak sembuh-sembuh, sampai di pusat langsung ditangani juga cepat sembuh, kok ...." kata sopir ambulan itu, yang ingin membesarkan hati Babah Ho.
Tetapi Babah Ho diam. Tidak menjawab. Tidak menanggapi. Ia sedang bersedih. Ia sedang bingung. Sudah satu minggu lebih menunggui istrinya di rumah sakit. Tidurnya pasti kurang karena hanya bisa tidur di lantai dengan alas tikar. Makannya pasti juga tidak terurus.Tentu kesehatan Babah Ho juga mulai berkurang. Apalagi dari segi usia, Babah Ho sudah berumur enam puluh lima tahun. Kondisi itu pula yang membuat ia semakin cepat lelah dan kurang fit.
Maklum, tidak ada saudara atau famili keluarga dekat Babah Ho yang tinggal di Lasem. Meski kakek neneknya semua berasal dari Lasem, tetapi anak keturunannya menyebar ke tempat yang jauh-jauh. Kalaupun ada orang-orang keturunan yang dekat dengan dirinya atau Cik Jun, itu hanya karena rasa persaudaraan sesama orang keturunan Cina. Tetapi untuk marga atau kerabat sedarah, Babah Ho tidak punya keluarga di Lasem.
Namun, saat Cik Jun dirujuk harus dibawa ke rumah sakit pusat, Babah Ho sudah menghubungi saudara-saudaranya yang tingga di Semarang. Setidaknya nanti, saudara-saudaranya yang ada di dekat rumah sakit akan bisa membantu. Setidaknya kalau ada apa-apa akan lebih mudah minta tolong. Babah Ho sudah merasa agak lega.
Karena merasa omongannya tidak digubris oleh Babah Ho, satu-satunya penumpang yang bisa diajak komunikasi, maka sopir ambulan itu tidak lagi mencoba untuk menghibur ataupun bercakap dengan penumpangnya. Ia langsung tancap gas. Sirine yang menguing memekakkan telinga sebagai bukti kalau mobil ambulan itu sedang melaju kencang. Tentu kendaraan yang ada di depannya langsung menyingkir.
Mungkin karena sepaneng, atau karena jengkel penumpangnya diajak bicara tidak menyahut, atau mungkin juga karena kelelahan, sopir ambulan itu mengendarai mobilnya mulai tidak terkontrol. Yang paling kelihatan kalau sopir itu mulai ngawur adalah laju ambulan itu yang tidak terukur. Laju ambulan itu sudah sangat terlalu kencang. Dan rupanya sopir itu tetap terus menginjak pedal gas sampai mentok. Bahkan masih ingin rasanya untuk menambah panjangnya pedal gas sehingga bisa lebih kencang lagi.
Memang sangat enak jika menyetir mobil yang leluasa untuk melaju, karena mendapatkan fasilitas ngebut tanpa dihalang-halangi oleh mobil lain. Apalagi jalan raya pantura Rembang - Demak merupakan jalan yang datar dan lurus, pasti sangat enak untuk ngebut. Dan tanpa ragu-ragu, sopir yang mendapat fasilitas berjalan kencang itu pun langsung melajukan kenddaraannya sekencang-kencangnya.
Namun, keadaan seperti itu justru membuat sang sopir lengah. Ia kurang waspada dengan mobil-mobil yang melaju dari arah depannya. Saat ia menyalip beberapa mobil, tentu setirnya agak menuju ke kanan. Tiba-tiba saja, sopir itu membanting setir agak kencang, yang akibatnya ia menerabas sisi jalan yang di kanan. Bersamaan itu, sebuah truk besar dengan muatan berat yang datang dari arah berlawanan menjadi sasaran untuk dihantam.
"Duaaaar ....!!!" suara benturan dua mobil yang bertabrakan terdengar.
Meski sang sopir sempat membanting setir ke kiri, mencoba untuk menghindari tabrakan, namun justru ambulan yang melaju kencang dan menghantam truk itu berputar membalik ke kiri. Akibatnya, ambulan itu melaju keluar jalur ke arah kiri jalan, dan masuk ke sungai yang ada di selatan jalan.
__ADS_1
"Byuuuur ...." mobil ambulan itu tercebur ke sungai.
"Ada kecelakaan ...!!! Ada kecelakaan ...!!!" orang-orang berteriak melihat peristiwa itu.
Truk besar muatan berat yang dari arah barat langsung menepi dan berhenti. Sopir dan kernetnya langsung turun. Yang pasti melihat kondisi truknya yang dihantam ambulan. Tetapi tidak begitu parah. Hanya bagian dinding depan agak penyok sedikit. Maklum, bodi truk besar itu semuanya terbuat dari besi yang kuat dan kokoh. Pasti saat mendapat benturan dari mobil ambulan yang hanya terbuat dari plat tipis, justru yang menabrak yang remuk.
Lega bagi sopir dan kernet truk. Mobilnya tidak rusak berat. Paling-paling nanti dibawa ke tukang las untuk dibetulkan. Tidak mengeluarkan biaya yang besar. Namun yang menjadi masalah, yang menabrak adalah mobil ambulan. Biasanya polisi yang menangani kasus-kasus kecelakaan seperti ini suka mencari kesalahan. Tentu ujung-ujungnya minta uang. Padahal secara logika, truk itu sudah berjalan di jalur yang benar, bahkan di lajur tepi kiri. Sopir juga tidak mungkin melajukan truk dengan kecepatan tinggi, karena muatan berat. Tetapi, yang menabrak itu mobil ambulan yang secara umum mestinya diberi prioritas untuk lewat. Tetapi sejak kapan ada aturan ambulan itu bebas untuk melajukan kendaraan semaunya sendiri, tanpa mempedulikan dampak dan keselamatan pengguna jalan lainnya?
Pasti sopir truk itu akan dikenakan sanksi. Paling tidak sudah salah menyebabkan kecelakaan kendaraan lain.
"Ada tabrakan ...!!"
"Ada kecelakaan ...!!"
"Ambulan masuk sungai ...!!!"
"Waduh ...?! Bagaimana orangnya ...?!"
Dalam sekejap, orang-orang langsung ramai berkerumun, menyaksikan kecelakaan tersebut. Terutama yang di pinggir sungai. Mereka ingin tahu nasib orang yang ada di dalam ambulan yang sudah masuk ke sungai tersebut.
Beberapa orang laki-laki sudah turun, masuk ke sungai. Pasti untuk menolong penumpangnya. Setidaknya ingin mengetahui orang yang ada di dalam mobil ambulan itu. Ada yang langsung membuka pintu bagian belakang. Ada juga yang membuka pintu bagian depan. Pintu susah untuk dibuka, karena masih terkinci otomatis. Maka ada yang langsung mengambil batu di pinggir jalan, untuk memecahkan kaca mobil agar dapat menarik tuas kunci pintu.
"Bagaimana ...?!" tanya orang-orang yang ada di daratan, di pinggir sungai.
"Prook .... Pyar ...!!!"
Kaca pintu ambulan bagian depan sisi kiri ambyar dipukul dengan batu. Tentu yang bisa dibuka pintu depan bagian kiri, karena yang sisi kanan sudah miring dan tenggelam di air.
"Sopirnya meninggal ...!" teriak yang sudah berhasil membuka pintu depan.
"Diangkat ...!"
"Pintu belakang dibuka .... Ini tuas kunci sudah saya tarik ...!" teriak yang sudah masuk ke mobil itu.
"Siap ...!!"
Lantas orang-orang yang ada di bagian belakang, langsung menarik handel pintu. Langsung terbuka.
"Waduh .... Ada pasien dan satu orang penumpang ...!" teriak orang-orang yang sudah berhasil membuka.
"Dikeluarkan ...!" kata yang di pinggir sungai.
Akhirnya, dua orang pemuda masuk. Lantas meraih laki-laki tua yang tergeletak di situ, yaitu Babah Ho. Bisa diangkat, lantas dikeluarkan dari mobil.
"Tolong bantu .... Ini ada korban, bisa diangkat ...!" teriak yang dari dalam ambulan.
__ADS_1
"Siaap ...!! Kami bantu mengangkat ...!" beberapa orang yang ada di luar langsung menerima tubuh laki-laki tua yang tidak mampu bergerak lagi tersebut. Lantas tubuh korban, yaitu Babah Ho, langsung digeletakkan di pinggir jalan dengan dilambari koran.
"Yang di bed orang sakit susah diambil .... Ini dipannya terkunci ...!" teriak yang di dalam mobil ambulan.
"Diangkat orangnya saja ...!" teriak yang di luar.
"Tidak bisa, orangnya terikat ...!" sahut yang di dalam.
"Ikatannya dipotong. Ini ada sabit .... Potong saja pakai sabit."
Seorang pemuda membawa sabit masuk ke dalam ambulan. Lantas memotong tali sabuk yang terbuat dari bahan seperti karet, semacam tali sabuk pengaman. Lantas tali itu dipotong bagian pangkalnya yang berada di bed.
"Awas ..., pasiennya dipegangi ...." kata anak muda yang memotong sabuk pengikat itu.
Dua orang lainnya langsung memegangi dan mengangkat keluar. Cukup ringan. Wanita tubuh kecil dan kurus. Dia adalah Cik Jun, istri Babah Ho. Lantas wanita itu juga ditaruh di pinggir jalan.
"Nguiing .... mguk .... Tot ..., tot ..." polisi datang.
"Bagaimana ...?" tanya petugas polisi yang sudah turun dari mobil pick up.
"Itu korban yang sudah diangkat, Pak .... Kelihatannya pasien dan keluarganya ...." sahut para warga yang sudah menolong.
"Yang lainnya ..., ada?!" tanya petugas polisi itu lagi.
"Sopir belum bisa diambil, Pak .... Mobil ini harus ditegakkan dulu untuk mengangkat sopir ...." jawab yang tadi berusaha menolong sopir.
"Kalau begitu didorong bareng-bareng ...." kata polisi itu memberi perintah.
"Ayo kita dorong ...!!! Kita angkat bareng-bereng ...!!!" teriak orang-orang.
"Siaaaap ...!! Satu ...!! Dua ...!! Tiga ...!!! Dorong ....!!!" para warga yang membantu, langsung mendorong menegakkan bodi mobil ambulan tersebut.
"Tahan .... tahan ..., tahan .... Kami mau keluarkan sopirnya ...!" seru seseorang yang mencoba membuka pintu sopir.
Dan ..., "Byuuur ...." air keluar dari pintu yang dibuka.
"Tolong sopirnya diangkat ...!" teriak yang membuka pintu tersebut.
Beberapa orang langsung mengangkar tubuh sopir yang sudah basah oleh darah. Lantas tubuh sopir itu langsung diangkat ke pinggir sungai.
"Langsung naikkan ke mobil polisi semua ...!" kata petugas polisi, agar para korban langsung dinaikkan ke mobil petugas untuk dilarikan ke rumah sakit.
Tiga penumpang ambulan tak berdaya, di larikan ke rumah sakit daerah di Demak. Tentu untuk mendapatkan perawatan.
Bagaimana keadaan Babah Ho? Bagaimana dengan istrinya? Bagaimana pula sopir ambulan yang ngebut tadi? Apakah mereka semuanya selamat?
__ADS_1