
Senin Sore, Pulang dari Semarang.
"Dek ..., kalau misalnya nanti kita pulang mampir ke rumah Pak Jamil bagaimana? Masalahnya kita sudah seminggu tidak komunikasi. Kita belum memberi kabar ...." kata Irul pada istrinya, saat akan pulang dari Semarang, setelah menyelesaikan semua urusan keuangan penjualan perhiasan.
Walau pembayarannya menggunakan cara transfer, tentu ada administrasi yang harus diurus untuk penyelesaian transaksi. Beruntung Indra menggunakan bank tempat ia bekerja dahulu, tentu banyak temannya yang membantu dan pasti dipermudah prosesnya. Demikian juga dengan Pak Andi Ming, yang jelas sudah mendapatkan kemudahan bertransaksi di bank itu. Dan prosesnya, pasti selesai dalam waktu yang sangat cepat.
"Boleh, Mas .... Tapi harus beli oleh-oleh dulu .... Masak mampir ke Pak Jamil kok tangan kosong ...." jawab istrinya yang tentu setuju. Karena dua orang suami istri itu sedang bahagia. Bukan hanya sebagai pengantin baru, tetapi karena baru saja memperoleh uang yang sangat besar jumlahnya. Satu milyar.
Akhirnya, Irul dan Indra mampir ke toko pusat oleh-oleh, untuk membeli jajanan-jajanan yang akan diberikan untuk keluarga Pak Jamil dan tentu untuk keluarganya di Lasem. Macam-macam jenisnya. Ada wingko babat, lumpia, kue moaci, bandeng presto, dan kue lapis legit spekuk. Indra membeli dua bungkus. Yang satu bungkus akan diberikan ke keluarga Pak Jamil, dan yang satu bungkus lagi untuk mertuanya.
Setelah selesai berbelanja oleh-oleh, Indra kembali mengajak suaminya untuk naik taksi. Yang tentu agar lebih cepat menuju terminal, lebih nyaman dan tidak ribet untuk membawa oleh-olehnya.
"Kita naik taksi ya, Mas .... Biar lebih cepat sampai terminal." kata Indra pada suaminya.
"Iya, Dek .... Juga tidak sumuk, ya .... Hehe ...." sahut Irul yang tentu sangat setuju diajak naik taksi, karena pengalamannya saat berangkat merasa lebih nyaman. Dan tentunya, kali ini Irul merasa senang dan bahagia, karena mereka berdua sudah mengantongi uang satu milyar di rekening Indra. Bekal modal yang hanya tinggal menyebut mau apa yang mereka katakan. Ya, pada masa itu uang sebanyak itu sangat luar biasa besarnya. Pastinya, senyum selalu mengembang di bibir pasangan pengantin baru tersebut.
Namun tentunya, dua orang suami istri ini adalah orang yang sudah dewasa, yang sanggup meredam luapan emosi kegembiraan. Meski mereka tengah mendapat rezeki yang tidak terkira besarnya, dan semuanya itu diluar dugaan mereka berdua, namun mereka tidak menunjukkan tanda-tanda menjadi orang kaya baru. Mereka tetap tenang, seakan tidak pernah terjadi apa-apa dalam kehidupannya. Walau sebenarnya jantung mereka berdegup kencang, dan mungkin aliran darahnya menyebar semakin cepat ke seluruh tubuhnya. Tentunya terkadang jari tangannya atau kakinya sedikit gemetar.
Dan semua itu menjadi lebih sangat tenang, saat mereka sudah masuk dan duduk di jok bus Indonesia Raya jurusan Semarang - Surabaya. Mereka duduk menjadi berjejeran. Irul berada di sisi kanan dekat dengan jalanan keluar masuk orang, sementara Indra duduk di sisi kirinya Irul, dekat jendela yang bisa menyaksikan pemandangan di sebelah kiri bus. Tentu sambil berpegangan tangan. Tangan kiri Irul digenggam erat oleh dua tangan Indra. Walau duduk di pinggir jendela, Indra tidak melihat pemandangan di luar, tetapi lebih senang menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. Pasti dengan senyum bahagia.
"Dek ..., nanti kalau kita kemalaman di Juwana, bagaimana?" tanya Irul pada istrinya.
"Apa kita menginap di Pak Jamil ...?" istrinya balik bertanya.
"Kalau Dek Indra mau, ndak papa .... Jadi kita malah tidak tergesa-gesa untuk pulang." jawab Irul yang tentu lebih setuju kalau tidak kemalaman di jalan.
"Sekalian menyampaikan rencana kita, Mas ...." sahut Indra.
"Iya .... Kita bicarakan sekalian nanti malam bersama Pak Jamil." tambah Irul.
Setelah itu, Indra sudah terlelap. Tidur di pundak suaminya. Irul kembali menjaga istrinya, sebagai tugas seorang suami yang bertanggung jawab. Namun, rasa bahagia yang menyelimuti hatinya, tidak membuat matanya mengantuk. Dan yang jelas, di sepanjang perjalanan itu angan-angan Irul melayang ke mana-mana. Tentunya keinginan-keinginan untuk memiliki toko sembako yang besar dan lengkap. Dengan lamunan-lamunan itu, ternyata membuat perjalanannya tidak terasa. Dan bus yang melaju cepat itu sudah dekat dengan tujuannya.
"Juwana ..., Juwana ...! Siap-siap ...!" kondektur bus itu sudah memberi aba-aba.
"Dek ..., bangun .... Kita sudah mau sampai." Irul membangunkan istrinya.
"Eh, iya ..., Mas ...." Indra tergagap, dan langsung mengusap pelupuk matanya. Lantas membenarkan jaket yang dikenakan, serta menata tas kecil yang dicangklong dan tetap berada dalam jaketnya. Walau tas itu kecil, isinya harta yang sangat berharga.
Irul sudah berdiri, mengambil kardus jajanan yang tadi diletakkan di bawah kursinya. Mencangking dua kardus itu berjalan mendekat pintu depan. Istrinya mengikuti di belakangnya, yang tentu sambil berpegangan lengan Irul.
Dan saat bus itu berhenti, kernet membuka pintu, tangannya memegangi lengan Irul yang menapakkan kaki turun ke ratan. Selanjutnya Indra yang juga turun dengan dibantu oleh sang kernet tadi.
"Pak ..., becak ...!" Irul memanggil tukang becak.
Tukang becak yang dipanggil langsung mendorong becaknya ke arah Irul dan Indra.
"Ke mana ..., Mas ...?" tanya tukang becak itu, sambil mengangkat roda belakang, agar bagian depan menurun untuk mempermudah penumpangnya naik.
"Kampung Naga, Pak ...." jawab Irul, yang tentu akan langsung menuju rumah Pak Jamil.
"Nggih ...." jawab tukang becak itu, yang langsung menggenjot becaknya menuju Kampung Naga.
Tidak lama, hanya sekitar lima menit, tukang becak itu sudah sampai. Bahkan masuk ke halaman rumah Pak Jamil, seperti aba-aba yang diberikan oleh Irul. Lantas Irul dan Indra, turun dari becak itu.
"Lhoh ..., Mas Irul ...! teriak Juminem yang saat itu berada di teras rumahnya.
Mendengar teriakan ibunya yang menyebut nama Iru, Melian yang berada di dalam rumah langsung keluar.
"Mana, Mak ..., Mas Irul ...?!" tenya Melian dari dalam rumah.
"Ini .... Mas Irul sama Cik Indra ...!" jawab ibunya.
"Mas Irul ........." Melian langsung menubruk Irul yang sudah berdiri di teras rumah bersama Cik Indra. Tentu memeluk erat tubuh laki-laki yang sangat dirindukannya itu.
Indra hanya bisa memandangi suaminya yang dipeluk oleh Melian. Ia membiarkan Melian yang melepas kangennya pada suaminya itu. Tentu Indra tidak cemburu, karena memang Melian itu sangat manja kalau dengan Irul.
__ADS_1
"Ee ..., ee ..., ee .... Jangan di luar saja ...! Saru .... Ayo, masuk ...!" kata Juminem yang langsung mengajak tamunya itu masuk ke dalam rumah.
Irul dan Indra pun mengikuti tuan rumahnya, masuk ke ruang tamu. Tentu masih mencangking dua kardus berisi oleh-oleh itu.
"Melian ..., ini oleh-oleh buat kamu ...." kata Indra yang memberikan satu kardus kepada Melian.
"Makasih ya, Cik Indra .... Apa ini isinya ...?" kata Melian yang menerima pemberian dari Cik Indra, yang tentu langsung tanya isinya.
"Lumpia .... Kesukaanmu .... Buka saja, biar tidak berkeringat." jawab Cik Indra yang tahu kesukaan Melian saat kost bersama di Semarang.
"Asyik .... Kok lumpia? Memang Cik Indra dari Semarang?" tentu Melian menebak.
"Iya .... Ada urusan di Semarang ...." jawab Cik Indra.
"Ini, Cik Indra ..., Mas Irul .... Minum teh hangat .... Walah ..., kok repot-repot bawa oleh-oleh segala .... Memang Cik Indra ke Semarang sama Mas Irul sejak kapan?" tanya Juminem yang juga ingin tahu, saat menyuguhkan teh untuk tamunya.
"Tadi pagi, Mbak Jum ...." jawab Cik Indra.
"Subuh, Mbak .... Nyegat di pasar ...." tambah Irul.
"Oo .... Calik, to .... Apa tidak capek?" kata Juminem yang tentu tahu capeknya orang pulang pergi naik bus ke tempat yang jauh.
"Iya, Mbak .... Habis di Semarang sudah tidak punya tempat kost lagi ...." sahut Indra.
Di luar rumah, terdengar ada suara kendaraan yang datang. Pasti itu Pak Jamil yang pulang kerja. Dan ternyata benar. Suara motornya sudah sampai di teras.
"Wue ..., pantesan kok dari luar sribit-sribit bau bunga .... Ternyata ada pengantin baru yang datang ...." Jamil yang baru saja datang, langsung masuk ke ruang tamu, menemui dan menyalami Irul dan Indra.
"Iya, Pak Jamil ...." sahut Irul.
"Sudah dari tadi?" tanya Jamil.
"Barusan nyampai, Pak ...." jawab Irul.
"Ini dari Semarang, Pak .... Mampir ke rumah kita .... Itu ngasih oleh-oleh lumpia kesenangannya Melian." kata Juminem yang menjelaskan ke suaminya.
"Ada urusan sebentar kok, Pak Jamil .... Nggak enak kalau harus mengganggu pekarjaan Mas Tarno ...." jawab Irul yang tentu tidak membuka rahasianya.
"Ke tempat kerjaannya Cik Indra ...?" tanya Jamil lagi yang mecoba ingin tahu.
"Betul, Pak Jamil .... Ada urusan dengan teman-teman .... Hanya sebentar, kok ...." jawab Indra untuk meyakinkan.
"Lha, terus ..., hasilnya bagaimana? Cik Indra mau kerja lagi?" tanya Jamil yang ingin tahu.
"Tidak, Pak Jamil .... Rencananya saya mau buka warung sembako di Lasem saja, Pak ...." Indra mulai menyampaikan niatannya, tentu agar Pak Jamil bisa melepas suaminya dari pekerjaannya di Bima Sakti. Seperti yang diinginkan oleh Indra, yang ingin membuka usaha berjualan sembako, sebagai mata pencaharian, yang tentu sesuai dengan cerita suaminya saat masih muda, sebagai pegawai di kiosnya Babah Ho.
"Lhoh ..., Cik Indra mau tinggal di Lasem ...? Mau berjualan sembako ...?" Jamil langsung kaget. Dan tentu Juminem juga bingung mendengarnya.
"Memang Cik Indra mau jualan di Pasar Lasem? Kayak Babah Ho dulu itu?" Juminem langsung menimpal.
"Pakai kiosnya engkong saja ...." Melian juga menimpal.
"Iya, Pak Jamil .... Iya, Mbak Jum .... Mungkin itu yang bisa kami lakukan .... Karena saya sudah keluar dari kerja, dan tidak punya pekerjaan lagi kalau harus tinggal di Lasem ....Makanya kami ingin usaha jualan sembako ...." jelas Indra kepada Jamil dan Juminem.
"Kiosnya engkong sudah dibeli orang, Mel ...." kata Irul pada Melian.
"Tapi Mas Irul masih kerja di sini, kan ...?" Melian langsung menyaut.
"Saya mau jadi kuli toko sembako lagi .... Seperti dulu waktu jadi pegawainya engkong .... Hehehe ...." sahut Irul yang tentu mencoba membuat Melian tidak kecewa.
"Lho ....... Lha besok yang ngantar Melian sekolah, siapa?" Melian langsung memanja.
"Naik motor sendiri .... Kan sudah bisa naik motor ...." jawab Irul yang sudah sering ngajari Melian naik motor. Bahkan diam-diam kalau berangkat atau pulang, sebenarnya yang nyetir kendaraan itu Melian, Irul hanya membonceng sambil membimbing.
"Iih ..., Mas Irul .... Kan Melian belum punya SIM ...."
__ADS_1
"Memang Melian sudah bisa naik motor?" tanya bapaknya.
"Sudah, Pak .... Pulang pergi yang nyetir Melian, kok ...." jawab Irul yang membuka rahasia Melian.
"Iya ..., sudah .... Katanya mau dibelikan motor baru ..., mana, Pak ...?" Melian langsung menagih janji bapaknya.
"Yang benar? Sudah bisa naik motor sendiri?" bapaknya masih meragukan.
"Iih ..., Pake gak percayanan ...." Melian tidak mau diejek.
"Ya sudah ..., kalau memang sudah bisa naik motor, besok Pak-e belikan. Melian penginnya motor bebek yang seperti apa?" kata Jamil pada anaknya, yang tentu akan menepati janji untuk membelikan motor. Bagi Jamil, untuk membelikan motor anaknya adalah hal mudah. Tetapi yang penting anaknya harus lebih rajin belajar.
"Lha kalau Mas Irul nanti mau jadi tukang ngantar-ngantar barang belanjaan seperti dulu, berarti tidak kerja lagi di sini ...?" tanya Juminem yang baru ngeh dengan gojekannya Irul pada Melian.
"Lhoh ..., memang Mas Irul tidak kerja di tempat kita lagi? Lha terus yang tidur di pabrik siapa? Yang bersih-bersih tiap pagi dan membukakan pintu, siapa?" tanya Jamil yang juga baru menyadari kalau Irul akan keluar.
"Rencananya begitu, Pak Jamil ..., Mbak Juminem .... Tapi ini baru rencana. Karena kami belum dapat tempat untuk berjualan. Besok baru mau mencari tempatnya." jawab Irul.
"Lha mbok buka kios di sini saja .... Biar dekat .... Nanti Cik Indra yang jaga toko, Mas Irul tetap kerja di tempat kita ...." Jamil mencoba memberi alternatif.
"Maaf, Pak Jamil .... Ini baru rencana. Karena terus terang kami belum dapat tempat. Tetapi, Mak-e dan Pak-e kan sudah tua, Pak Jamil .... Mereka pengin kami tinggal di rumah, karena adik-adik sudah tidak ada yang menemani orang tua. Jadp kami memang berpikiran untuk buka usaha yang dekat dengan rumah." jelas Irul pada Pak Jamil maupun Mbak Juminem.
"Betul juga, Mas Irul .... Orang tua memang penginnya itu anak-anaknya dekat ...." sahut Juminem, yang tentunya ingat saat ditinggal Melian kost di Semarang. Makanya ketika Melian pindah sekolah di Pati, Juminem lebih tenang pikirannya.
"Yah .... Saya tidak bisa melarang, Mas Irul .... Tetapi persaudaraan kita jangan diputus begitu saja. Kita tetap saudara, Mas Irul .... Harus saling mengunjungi, harus saling mengabari ...." kata Jamil yang pasrah dengan pilihan Irul.
"Pokoknya Mas Irul dan Cik Indra harus sering main kemari ...." timpal Melian yang tentu juga berat jika ditinggal Irul.
"Melian juga sering tengok kami ...." kata Cik Indra membalas.
"Iya, Pak Jamil .... Toh ini belum terlaksana dalam waktu dekat ini. Kami masih mencari-cari tempat. Doakan saja kami bisa berhasil, Pak ...." kata Irul yang tentu meminta restu dari Jamil yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Pasti, Mas Irul .... Tapi malam ini Mas Irul dan Cik Indra tidur sini, kan? Sudah tidak ada angkutan ke Lasem ...." kata Jamil yang juga ingin tahu kalau Irul dan Indra bakal menginap.
"Iya, Pak .... Ini sudah kemalaman." jawab Irul.
"Asyik .... Cik Indra tidur sama saya saja ...." kata Melian yang tentu senang bisa tidur bersama Cik Indra lagi.
"Eeeh ..., Melian ..., Cik Indra kan sudah punya suami .... Ya biar tidur sama Mas Irul ...." kata Juminem yang mengingatkan anaknya.
"Tidak apa-apa, Mbak Jum .... Biar nanti malam saya tidur sama Melian .... Untuk melepas rindu ...." kata Indra yang tahu perasaan Melian.
"Mohon izin, Pak ..., saya tidur di pabrik, sekalian mau ambil pakaian saya." kata Irul pada pimpinannya.
"Memang besok langsung mau pulang? Tidak singgah di sini barang beberapa hari, gitu?" tanya Jamil.
"Ini, jajanan buat mertua nanti basi, Pak ...." kata Indra sambil menunjukkan kardus isi jajanan, yang tentunya isinya seperti yang sudah dibuka oleh Melian.
"Walah .... Yo wis .... Tapi saya pesan sama Mas Irul, Cik Indra ..., kalau besok ada teman yang mantu atau punya kerja, saya minta Mas Irul sama Cik Indra datang kondangan, untuk mengikat tali silaturahmi karyawan kita." kata Jamil yang tentu ingin Irul dan Indra tidak melupakan teman-temannya.
"Nggih, Pak Jamil .... Akan saya usahakan." jawab Irul.
"Nah, ini ..., sebentar lagi, Mbak Ika juga mau mantenan .... Dapat duda beranak tiga .... Kelihatannya frustrasi gara-gara Mas Irul menikah sama Cik Indra ...." kata Jamil yang langsung memberi tahu pada Irul dan Indra.
"Masak sih, Pak ...?!" Irul terheran, tentu kaget mendengar kabar Mbak Ika yang hanya dapat duda yang sudah punya anak tiga.
"Mbak Ika yang cantik, yang ada di toko itu ya, Pak ...?" tanya Indra yang ikut penasaran.
"Iya ..., betul, Cik ...." jawab Jamil.
"Iya, Pak .... Pokoknya kalau ada apa-apa, kami mohon dikabari ...." kata Irul.
"Telepon saya saja, Pak .... Biar gampang." kata Indra yang tentu lebih cepat kirim kabar lewat telepon.
"Iya, Cik .... Nanti kalau ada apa-apa, akan saya telepon." kata Jamil yang tentu akan lebih mudah untuk kabar-kabar.
__ADS_1
Malam itu, Cik Indra benar-benar tidur bersama Melian. Sedangkan Irul, tidur di kamarnya yang ia gunakan, di belakang pabrik. Tentu sambil mengemas pakaian-pakaiannya yang ada di sana.
Jamil dan Juminem, di dalam kamarnya tidak bisa tidur, karena memikirkan Irul yang akan kembali ke Lasem. Tentu mereka sangat kehilangan tenaga yang diandalkan di pabrik. Tetapi itulah keputusan pilihan hidup. Dan Irul bersama Indra sudah memutuskan.