GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 29: MALING MALANG


__ADS_3

    Tidak hanya mesin jahit yang dibeli oleh Jamil untuk istrinya. Hari berikutnya Jamil juga beli televisi. Meski tidak baru, tetap saja itu merupakan barang berharga bagi orang desa. Waktu itu teman Jamil di tempat kerja ada yang butuh uang untuk biaya sekolah anaknya. Teman Jamil itu sudah berusaha pinjam uang ke teman-teman yang lain. Jawabnya pasti pada tidak punya. Bahkan orang itu sudah mengahdap ke juragan batu kapur tempat ia bekerja, tetapi nihil. Tidak ada hasilnya. Padahal anaknya sudah mendapat surat dari sekolahannya agar segera melunasi tunggakan uang sekolah.


    Akhirnya, orang itu mencoba menemui Jamil, tivinya mau di jual. Kalau dijual ke toko loak pasti dibeli dengan harga murah. Kalau dijual ke teman sendiri harganya tentu masih lumayang tinggi.


    "Mil, tivi-ku tolong dibeli .... Anak saya nangis terus ditagih uang sekolah oleh gurunya." kata si teman Jamil tersebut saat istirahat. Sengaja ia menemui Jamil untuk bicara berdua agar tidak didengar teman yang lain. Malu katanya.


    "Aku tidak punya uang ...." sahut Jamil.


    "Halah ..., tolong saya gitu, lho ...." kata si teman itu lagi.


    "Yaampum, Jo .... uang saya untuk makan saja pas-pasan ...." sahut Jamil pada temannya.


    "Halah, tidak percaya .... Coba lihat, mana dompetmu ...." kata si temannya itu tetap memaksa Jamil dan tidak percaya kalau Jamil tidak punya uang. Tentu karena temannya itu tahu kalau istrinya Jamil sekarang momong cucunya Babah Ho, pasti dibayar lumayan.


    "Ini lho ..., kalau tidak percaya ...." kata Jamil sambil menunjukkan dompet kepada temannya itu.


    Namun, alangkah kagetnya Jamil, saat membuka dimpet yang akan diperlihatkan temannya itu sebagai bukti kalau ia tidak punya uang, ternyata di dalam dompetnya justru terlihat banyak uang. Jamil melongo, uang siapa yang ada dalam dompetnya. Padahal pagi tadi, saat ia mau berangkat kerja beli bensin di tetangganya, di dalam dompetnya hanya tinggal beberapa ribu rupiah saja. Dan Jamil juga yakin kalau ia tidak punya uang, karena bayaran minggu kemarin sudah diberikan kepada Juminem semua untuk belanja kebutuhan hidup. Tapi, kini saat Jamil ingin membuktikan ucapannya kepada temannya, justru ia kecangar karena dalam dompetnya masih ada uang dalam jumlah banyak.


    "Naaah ...., ini kan uang .... Mosok kamu tidak mau membantu temannya yang sedang kesusahan, Mil ...?!" kata temannya itu yang langsung merebut dompet Jamil dan mengambil beberapa lembar uang untuk digunakan membayar tivi miliknya.


    "Lhah ..., lhah ...., lhah .... Jo ...?! Iki piye, leh ...?!" kata Jamil yang masih bingung dengan uang yang ada di dompetnya tersebut.


    "Wis, pokoke tivi-ku nanti saya anter ke rumahmu." kata temannya yang langsung pergi, pulang untuk mengambil televisi untuk diantar ke rumah Jamil.


    Jamil hanya bisa diam. Tidak bisa bicara, apalagi menjelaskan keanehannya itu kepada temannya. Ya, itu adalah rahasia dirinya.


    Benar, siang itu teman Jamil mengantarkan televisi ke rumah. Ada Juminem yang di rumah yang tentu masih menjahit borongan kerudung. Tentu sambil mengawasi Melian yang tidur siang.


    "Kulanuwun ...., Mbak Juminem ...." uluk salam orang itu di teras rumah Juminem.


    "Ee...., Lek Jo .... Ada apa Lek Jo ...? Kok dengaren ...." sahut Juminem dari balik jendela yang dibuka agar tempatnya menjahit terang.


    "Ini, Jum .... Ngantar tivi ...." sahut orang itu.


    "Lhah ..., tivinya siapa, Lik? tanya Juminem yang bingung.


    "Tivi saya, tapi saya jual, tadi saya suruh mbayar Jamil. Biasa Jum .... Untuk bayar sekolahnya anak .... Lha ini tivinya saya antar kemari." kata laki-laki itu.


    "Walah .... Lha kok jual tivi segala itu, lho .... Yo wis ditaruh di meja sini yo, Lek .... Tolong dipasangkan sekalian, disetel yang bagus yo, Lek ...." kata Juminem yang tentu tersenyum senang dibelikan tivi oleh suaminya.


    Memang di Desa Sarang belum semua warga punya televisi. Bagi orang-orang kampung, televisi itu barang mewah, barang mahal yang hanya bisa dibeli oleh keluarga yang kaya dan terpandang. Para penduduk kalau mau nonton acara televisi maka biasanya mereka datang ke rumah orang yang punya televisi dan beramai-ramai nonton bersama orang sekampung.


    Tapi sekarang, Juminem punya televisi, betapa hebatnya dia. Nanti pasti para tetangganya akan berdatangan menintin televisi di rumahnya. Makanya, begitu ada orang datang, teman suaminya ke rumah dan membawa televisi, Juminem tersenyum senang.


    "Ini, Jum .... Tivinya sudah menyala ...." kata laki-laki teman suaminya itu.


    "Walah, Lek .... Apik banget .... Cara nyetelnya bagaimana, Lek Jo?" tanya Juminem yang ingin tahu.


    "Nah ..., pakai ini. Ini namanya remot. Tombol yang warna merah di pojok atas ini untuk menghidupkan dan mematikan. Tombol panah kanan dan kiri ini untuk mengatur volume suara. Lha yang panah atas bawah ini untuk memindah canel. Nih, dicoba ...." kata laki-laki yang menjelaskan kepada Juminem.


    "Saya coba ya, Lek ...." kata Juminem yang sudah memencet tombol merah. Televisinya mati. Lantas dipencet lagi, televisi itu hidup lagi. Lantas mencoba memindah saluran siaran. Bisa. Lantas dipindah-pidah lagi.


    "Gampang to, Jum .... Wis, pokoke kamu sama anak yang kamu momong pasti senang." kata laki-laki itu mengambil hati untuk menyenangkan Juminem.


    "Iya, Lek Jo .... Maturnuwun ...." sahut Juminem yang masih mencoba memencet-pencet remot tivi.

__ADS_1


    "Nanti kalau gambarnya kurang bagus, ini antenenya digerakkan sampai pas. Sudah ya, Jum .... Saya mau kerja lagi. Terimakasih, Jum ...." kata laki-laki itu yang langsung keluar rumah.


    "Walah, Lek .... tidak minum dahulu ...?" kata Juminem yang lupa menyediakan minuman.


    "Terimakasih, tidak usahm Jum .... Saya tergesa .... Nanti ndak dimarahi juragane ...." orang itu langsung pergi mengendarai motornya.


    Karena mendengar suara aneh yang keluar dari televisi, Melian pun terbangun. Dan Juminem langsung mengangkat anaknya, dan mengajak menonton tivinya yang baru. Asyik dan menyenangkan.


    Kabar berita tentang Jamil punya televisi pun langsung menyebar ke seluruh kampung. Rumah Jamil ramai oleh para tetangga yang ingin membenarkan kabar berita itu. Selain itu, pasti mereka juga ingin tahu, seperti apa televisi Jamil. Dan yang jelas, tetangga yang belum punya televisi akan menonton di situ.


    Juminem pun sibuk menggelar tikar di lantai dalam rumahnya, meski rumah Jamil baru diplester pasir semen saja, tapi bagi warga kampung itu sudah bagus. Tikar satu tidak muat untuk menampung para tetangga yang datang. Maka ada pula tetangga Juminem yang membawa tikar sendiri dari rumah. Apalagi kalau pas acara sinetron yang menjadi favorit ibu-ibu, tetangganya ramai di rumah Juminem.


    Siang hingga larut malam, rumah Jamil penuh sesak para tetangga yang menonton siaran televisi. Bagian siang biasanya untuk anak-anak. Sore sampai malam bagiannya acara ibu-ibu. Sedangkan tengah malam bagiannya bapak-bapak. Hal itu tentu membuat Juminem maupun Jamil sering ngantuk karena kurang tidur. Tapi bagi Melian, ia senang terus karena rumahnya ramai.


    Seperti malam itu, Juminem yang sudah sangat mengantuk, tidur duluan sambil mendekap Melian. Sedangkan Jamil yang sebenarnya sudah mengantuk dari sore karena kecapaian kerja menggali batu kapur, berkali-kali matanya terpejam di kursi. Namun karena masih ada tetangga yang menonton siaran televisi, ia sungkan, tidak enak kalau meninggalkan tetangganya untuk pergi tidur. Maka saat para tetangga sudah pada pulang, Jamil langsung bergegas mematikan televisi dan langsung menutup pintu. Lantas ia pun menyusul istrinya ke tempat tidur. Hanya dalam waktu sekejap, Jamil sudah ngorok. Ia tertidur pulas.


    Rupanya, rumah Jamil sudah diperhatikan orang sejak malam tiba. Tidak hanya satu orang, tetapi ada beberapa orang. Merka bukanlah orang baik-baik, tetapi mereka itu adalah kawanan maling yang akan merampok harta milik Jamil. Mereka tahu kalau Jamil baru saja beli mesin jahit baru. Lalu beli televisi. Harta-harta seperti itulah yang diincar oleh orang-orang jahat.


    Begitu Jamil menutup pintu rumah, orang-orang yang dari tadi bersembunyi dan memperhatikan rumah itu langsung mengendap mendekat ke rumah. Pasti yang dituju pertama adalah jendela dekat tempat tidur Jamil. Ia akan memastikan terlebih dahulu yang punya rumah sudah tidur pulas. Maka begitu mendengar suara dengkuran yang sangat keras, itu pertanda bahwa yang punya rumah sudah tertidur nyenyak.


    "Tunggu sebentar ...." bisik salah satu dari gerombolan maling itu.


    "Langsung atur posisinya, kamu congkel jendela itu, masuk lewat jendela. Setelah itu buka pintunya." bisik yang satunya, mengatur siasat.


    "Yang lain tunggu di pintu, begitu saya buka pintu semua langsung masuk. Tugasmu berdua menggotong mesin jahit. Kamu ambil apa saja yang ada di lemari. Saya memanggul tivi. Begitu dapat langsung keluar. Tidak usah tunggu yang lain, langsung ke arah timur, nanti ketemu di tempat biasa." bisik yang disuruh mencongkel jendela.


    "Ya .... Kita mulai sekarang. Bismilah semoga selamat ...." kata yang tadi menempelkan kuping ke arah tempat tidur Jamil.


    Malam itu, sekawanan maling masuk ke rumah Jamil. Harta benda Jamil akan dirampok. Seperti skenario yang diatur oleh pimpinannya, maka salah satu maling itu berhasil mencongkel jendela depan. Lantas ia melompati jendela menelusup masuk ke rumah Jamil. Tentu dengan hati-hati agar tidak menubruk kursi ataupun barang yang ada di rumah Jamil, agar tidak menimbulkan keributan. Lalu dengan mengendap-endap, ia menuju pintu. Pasti untuk membuka pintu itu seperti yang direncanakan.


    Tiga orang itu pun langsung masuk rumah, sesuai yang sudah dibagikan tugasnya. Yang dua orang langsung menuju tempat mesin jahit, sedang yang satu lagi langsung menuju lemari pakaian. Sedangkan yang tadi masuk lewat jendela, sudah memanggul televisi yang berada di meja. Maling-maling itu langsung melancarkan aksinya.


*******


    Mungkin karena capai, kelelahan, dan yang jelas kurang tidur, Jamil maupun Juminem matanya susah untuk dibuka. Meskipun matahari sudah mulai mencorongkan sinarnya menerangi perkampungan tempat tinggal Jamil, namun rupanya hangatnya matahari pagi itu belum sanggup mengusik kenyenyakan tidur mereka. Demikian juga Melian, tidak seperti biasanya yang selalu bangun sebelum subuh, kali ini juga ikut-ikutan tertidur lelap. Apa mungkin orang-orang jahat, para pencuri yang masuk ke rumahnya semalam itu menyebar sirep atau ilmu penidur?


    "Jamil ....!! Juminem ...!!!"


    "Jamil ....!!!"


    "Juminem ....!!!"


    "Ini ada apa ...?!"


    "Waah ..., apa ini ...?!"


    "Jamil ...!!!"


    "Jamil sama Juminem ini pada ke mana, to ya ...?!"


    "Melian kok juga tidak kelihatan ...."


    "Jamil ....!!! Ini jan-jane ada apa ...?!"


    Jamil tergagap. Ia terjaga dari tidurnya saat mendengar orang-orang di luar rumahnya pada berteriak. Jamil kaget dan bingung.

__ADS_1


    "Jum .... Jum .... Bangun .... Bangun Jum ...." kata Jamil sambil menguncang tubuh Juminem, membangunkan istrinya.


    "Hah ...?! Iya, Kang .... Ada apa?" tanya Juminem yang langsung tergagap bangun.


    "Itu .... Di luar kok ada ribut-ribut  .... Para tetangga memanggil-panggil kita .... Ayo cepetan bangun ...." kata Jamil memberi tahu istrinya.


    "Iya ..., iya, Kang ...." sahut Juminem yang langsung meninggalkan dipan tempat tidur.


    Juminem yang matanya belum begitu jelas, langsung menuju pintu untuk keluar rumah menemui para tetangga yang ribut. Namun, saat melangkah menuju pintu ....


    "Astaghfirullah .... Kang ...!!!" Juminem kaget oleh yang dilihatnya.


    "Ada apa, Jum ...?!" Jamil langsung menghampiri istrinya.


    "Itu, Kang .... Ada orang, Kang ...." Jumuinem hanya sanggup menunjukkan kepada suaminya. Tapi ia takut untuk mendekat.


    "Waladalah .... Blaik .... Ini ada apa?" Jamil juga heran dengan apa yang dilihatnya.


    Sementara di luar rumah Jamil ada yang di halaman, ada yang di teras, bahkan juga sudah ada yang mendekat ke pintu rumah Jamil, orang-orang kampung pada berdatangan, ikut menyaksikan kejadian aneh di rumah Jamil. Ya, di rumah Jamil ada orang-orang yang berdiam tanpa bisa bergerak. Seakan menjadi patung. Satu orang memanggul televisi di pundaknya, berdiam di teras. Berdiri seperti patung. Hanya matanya yang bisa lirak-lirik. Lantas di belakang orang yang memanggul televisi itu, ada dua orang yang sedang menggotong mesin jahit. Yang satu sudah keluar pintu, dan yang satu lagi masih di dalam. Pasti berat, terlihat dari ekspresi wajahnya yang seakan tidak kuat menahan beban beratnya mesin jahit yang semuanya besi itu. Tetapi mesin jahit itu seakan memang menempel di tangannya. Mereka juga terdiam seperti patung. Tidak bisa bergerak sama sekali. Dan satu orang lagi masih berada di depan lemari pakaian. Dia membungkuk. Tangannya yang satu ada di bawah memegang taplak meja yang akan digunakan untuk membungkus barang curiannya, sedangkan tangan yang satu lagi masih berada di lemari. Kepalanya meluntir ke atas seakan melihat barang yang akan diambil. Orang ini juga menjadi patung, diam tidak bisa apa-apa. Hanya matanya yang terlihat ketakutan.


    Yah, para pencuri yang semalam masuk ke rumah Jamil, rupanya terkena kutukan menjadi patung. Entah ilmu apa yang digunakan untuk menjaga rumah Jamil seperti itu, dan entah siapa yang memasang guna-guna aneh seperti itu.


    "Rumah Jamil kemalingan ....!!"


    "Malingnya jadi patung, tidak bisa bergerak ....!"


    "Ben kapok ....!!!"


    "Besok rumah kita dipasangi guna-guna mantra kayak rumahnya Jamil, biar aman ...."


    "Saya mau minta Jimatnya Jamil, mau saya pasang di ladang, biar yang mencuri tanaman saya jadi patung."


    Orang-orang pun terus berkelakar. Tentu sambil mengejek para pencuri yang jadi patung itu.


    "Kamu bisa melepas maling ini, Mil?" tanya salah seorang yang ingin tahu bagaimana cara membebaskan kutukan patung tersebut.


    "Tidak tahu .... Lha yang bikin jadi patung siapa saja saya juga tidak tahu ...." jawab Jamil.


    "Walah ...., blais ki ...."


    "Lha terus, ini bagaimana ...?" Jamil bingung, minta saran dari para tetangganya.


    "Laporkan Pak Bayan .... Biar nanti dibawa ke kantor polisi."


    "Ya, biar ditahan polisi ...."


    "Biarkan saja, biar kapok ...."


    "Lha nanti kalau kencing dan berak di sini bagaimana?" Juminem tidak mau beresiko kalau rumahnya kotor.


    "Ya sudah, dibawa ke polisi saja ...."


    Tentu perasaan takut, malu dan bingung sudah menyelimuti pikiran para pencuri itu. Dan tentunya, mereka akan kapok dengan kejadian aneh itu.


    Lantas, bagaimana cara membebaskan kutukan patung yang dialami oleh para pencuri ini?

__ADS_1


__ADS_2