GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 136: DIMANA MELIAN?


__ADS_3

    Setelah selesai mengambil raport, siang itu, mobil yang disetir oleh Mas Tarno, sudah menanjak menuju Bandungan. Jamil masih duduk di depan, mendampingi Mas Tarno yang menyetir. Sedangkan Juminem duduk di kursi tengah, didampingi oleh Cik Indra. Irul duduk sendiri di jok belakang yang posisinya miring.


    "Hati-hati, Mas Tarno ..., jalannya kelak-kelok naik turun ...." kata Cik Indra memberi tahu sang sopir.


    "Iya, Cik ...." jawab Mas Tarno yang langsung lebih waspada.


    "Tempatnya kira-kira di mana, Cik Indra tahu?" tanya Jamil.


    "Nanti setelah sampai di tanjakan yang tinggi dan berkelok, kita minggir dan berhenti. Kita tanya masyarakat di situ. Kalau mendengarkan cerita teman-teman Melian, tempatnya ada di sekitar situ. Karena jatuhnya di jurang. Tanjakan itu yang bawahnya jurang." jawab Cik Indra sambil mengamati sisi kiri mobil, untuk mencari tempat yang kira-kira terjadi kecelakaan.


    "Oke, siap ...." jawab Mas Tarno yang mengendarai mobilnya secara perlahan.


    "Ini sudah mulai tanjakan-tanjakan, Mas Tarno .... Sebentar lagi nyampe .... Pelan-pelan saja ...." kata Cik Indra.


    Mas Tarno yang menyetir pun mulai mengurangi kecepatan. Dasar jalannya naik, tentu semakin berat untuk menyetir. Belum lagi kelokan-kelokan yang tajam dan terjal, harus ekstra hati-hati. Dan jika berpapasan dengan mobil dari arah berlawanan, maka harus ekstra hati-hati karena jalannya yang sempit.


    Hingga akhirnya, Mas Tarno sudah melintas di tanjakan yang sangat tinggi. Mungkin tanjakan ini yang dimaksud oleh Cik Indra. Dan setelah melewati tanjakan itu, di tempat yang agak landai, Mas Tarno minggir, menepi dan berhenti.


    "Ini tanjakan yang paling tinggi, Cik Indra .... Apakah tempat ini yang dimaksud?" tanya Mas Tarno pada Cik Indra.


    "Mungkin .... Kita tanya dulu pada masyarakat di sini." jawab Cik Indra.


    "Tanyanya bagaimna?" tanya Mas Tarno, yang tentu bingung mau menanyakan apa.


    "Tanya tempat yang kemarin ada kecelakaan motor masuk jurang ...." jawab Cik Indra.


    "Oh, ya ...." sahut Mas Tarno yang langsung turun. Akan bertanya pada orang yang nanti akan ditemui.


    Irul juga ikut turun. Pasti dia juga ingin tahu keadaan tempatnya. Dan tentunya juga ingin mencari, kira-kira di mana tempat jatuhnya Melian. Maka Irul langsung ke tempat kelokan jalan itu, yang pinggirnya adalah jurang.


    Demikian juga Cik Indra yang tentu menyusul Irul. Ikut turun dan mendekat, serta memegang tangan Irul. Ya, saat itu, mereka berada di lereng bukit, yang bawahnya adalah jurang. Tentu harus hati-hati, agar tidak jatuh.


    "Tidak ada orang ...!" Mas Tarno yang berusaha untuk bertanya, tapi tidak ketemu orang. Maklum, di situ memang tidak ada rumah penduduk, karena tempatnya yang miring dan berjurang.


    "Lha apa kita naik lagi ...? Sampai ke tempat penduduk?" Jamil mengusulkan.


    "Lha itu ada rumah bagus ...! Pasti ada orangnya ...." kata Irul sambil menunjukkan rumah bagus yang dimaksud.


    "Mana, Mas Irul ...?!" Tarno yang tadi merasa tidak menemukan jadi penasaran.


    "Itu, lho ...! Rumah gedung bagus itu ...! Lha, itu ..., ada nenek-nenek pakai pakaian putih, tangannya melambai memanggil .... Ya, sudah .... Saya saja yang ke sana, saya yang menanyakan ...." kata irul yang langsung melangkah cepat ke tempat yang ditunjuk.


    "Mana sih, ada rumah bagus? Kok Mas Irul bisa bilang ada rumah gedung bagus ...?" tentu Tarno bingung dengan yang dikatakan Irul, karena tengak-tengok ke arah Irul pergi, dia tidak melihat kalau ada gedung.


    "Mas Irul ...!!! Gedungnya di sebelah mana ...?!!" teriak Cik Indra yang juga bingung.


    "Lhah ..., orang itu piye, to ...?! Ke mana tadi?" Jamil yang turun ikut bingung, karena Irul sudah menghilang.


    "Katanya mau tanya, ada orang yang tinggal di gedung bagus .... Nenek-nenek mengenakan pakaian putih tangannya melambai memanggil dia ...." jawab Cik Indra yang juga bingung.

__ADS_1


    "Lha, mana?" tanya Jamil ingin tahu,


    "Itu ke sana ...." Cik Indra menunjukkan arahnya.


    "Waduh .... Blais ...! Itu kuburan ....! Bukan gedung bagus .... Tidak ada rumah di situ .... Adanya cuman kuburan ...!" kata Jamil yang tentu langsung khawatir.


    Maka secara spontan, Jamil langsung melangkah menyusul ke arah Irul pergi. Demikian juga Cik Indra, yang tentu lebih khawatir saat tahu kalau yang ditunjukkan oleh Irul tadi hanyalah kuburan.


    "Ke mana arahnya?" tanya Jamil yang tengak-tengok di tengah kuburan, mencari Irul.


    "Tadi menunjukknya ke sini ...." jawab Cik Indra.


    "Lhah, kok tidak ada, orangnya ....?" Jamil pun bingung mencari, di situ hanya ada patokan batu nisan dan punden-punden kuburan.


    "Mas Irul ...!!" Cik Indra berteriak memanggil Irul.


    "Mas Irul ...!!!" Jamil juga berteriak memanggil.


    "Kok tiba-tiba menghilang ...?! Ke mana tadi, Mas Irul? Tepatnya tadi ya ke sini, di sini ini ...." Cik Indra semakin khawatir. Lantas ia mencoba ke pinggir kuburan itu yang langsung ke jurang. Siapa tahu Irul turun ke jurang. Tetapi kata-kata Irul tentang gedung bagus dan nenek mengenakan pakaian putih itu tidak ada sama sekali. Jangankan gedung, gubuk saja di situ tidak ada.


    "Kok tidak ada, Cik ...? Padahal baru sebentar di berjalan kemari .... Kok sudah menghilang ...?! Ke mana dia?" tentu Jamil bingung, setelah mencari ke sekitar itu tidak ada apa-apa. Tidak menemukan orang, juga tidak menemukan rumah. Tetapi Irul hilang begitu saja.


    "Mas Irul ...!! Mas Irul ...!!!" Jamil dan Cik Indra berteriak memanggil Irul.


    "Nyari siapa, Pak ..., Mbak ...?!" tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang menanya ke Jamil dan Cik Indra. Laki-laki tua dengan celana comprang warna hitam dan kaos oblong warna putih, yang sedang mencari rumput untuk pakan ternak.


    "Mencari Mas Irul, Pak .... Katanya tadi ke sini, ada nenek yang melambaikan tangan di rumah gedung bagus .... Tapi kok sekarang tidak ada .... Tadinya dia itu ingin mencari tahu tentang kecelakaan yang menimpa anak saya .... Eh, malah Mas Irulnya hilang." jawab Jamil pada laki-laki itu.


    "Iya, betul Pak .... Bapak tahu?" tanya Cik Indra yang sudah mendengar ceritanya dari teman-teman Melian.


    "Iya .... Tapi itu korbannya hanya anak laki-laki .... Anaknya sudah meninggal, lha wong kepalanya remuk .... Motornya saja remuk, baru diangkut polisi dua hari yang lalu." jawab bapak pencari rumput itu.


    "Sebenarnya yang mengalami kecelakaan itu berboncengan dengan anak saya .... Tapi kok anak saya hilang, sampai sekarang belum ketemu .... Makanya, Mas Irul tadi ingin tanya kemari ...." jawab Jamil.


    "Tadi orangnya ke sini ...? Melihat wanita tua pakai pakaian serba putih ...? Wanita itu tinggal di gedung yang mewah ...?" tanya laki-laki pencari rumput tersebut.


    "Iya, Pak .... Dia bilangnya begitu .... Malah mengajak kami, tapi kami ditinggal .... Setelah kami menyusul kemari, kok orangnya tidak ada ...." jawab Indra yang tadi memang diajak Irul.


    "Anak Bapak kecelakaan di sini?" tanya laki-laki itu lagi.


    "Walah ketiwasan, Mbak .... Itu pasti Nenek Jumprit. Teman Mbak sudah dibawa Nenek Jumprit .... Lha rumahnya ini .... Punden ini ...." kata bapak pencari rumput itu.


    "Jadi ...?! Gedung bagus itu tidak ada? Nenek-nenek yang mengenakan pakaian serba putih itu juga tidak ada?" tanya Jamil yang bingung dengan kata-kata Irul sesaat sebelum hilang tadi.


    "Banyak orang yang cerita seperti itu .... Gedung bagus itu, ya punden ini, kuburan Nenek Jumprit ...." jawab bapak pencari rumput itu sambil menunjuk kuburan yang paling besar di tempat itu, kuburan yang dibuat semacam punden berundak.


    "Waduh ...." Jamil sambat.


    "Lha, neneknenek yang mengenakan pakaian serba putih itu, orangnya cantik, ya Nenek Jumprit itu ...." tambah bapak pencari rumput itu.

__ADS_1


    "Lha terus ..., Mas Irul di mana ...?" tanya Cik Indra yang sangat khawatir dengan keberadaan Irul.


    "Ya di rumahnya Nenek Jumprit." jawab bapak itu.


    "Lhoh ..., berarti di dalam kuburan itu ...?" tanya Cik Indra yang langsung meraba dan mencari celahnya.


    "Ya, memang begitu .... Ada orang-orang yang hilang di sini, karena masuk ke rumahnya Nenek Jumprit .... Dan dia banyak yang tidak kembali ...." jawab bapak pencari rumput itu.


    "Ya ampun Mas Irul ...." tentu Cik Indra sangat khawatir dengan orang yang diam-diam ia cintai.


    "Lha terus, caranya untuk mengembalikan bagaimana, Pak ...?" tanya Jamil, yang tentu tambah bingung, karena Melian belum ketemu, kini tambah Irul ikut menghilang.


    "Wah, kalau itu yang tahu Mbah Sawal ..., juru kuncinya kuburan ini .... Beliau yang paham dan bisa membantu. Nanti saya antar ke rumahnya. Ini Mbah Sawal masih mencari rumput untuk pakan ternak ...." jawab pencari rumput itu.


    Karena lama menunggu di mobil, Juminem dan Tarno menyusul Jamil dan Indra yang pergi mencari Irul. Mereka berdua ikut ke lahan yang tadi dituju oleh Jamil maupun Indra. Yang ternyata adalah tempat pemakaman.


    "Lhoh, kok sampai kuburan, Mas Tarno ...?!" Juminem terkejut menyaksikan patok-patok batu nisan.


    "Lha itu, orangnya .... Pak Jamil dan Cik Indra ada di tengah kuburan itu, lho ya ...." jawab Tarno sambil menunjukkan keberadaan dua orang yang dicarinya.


    "Lha Mas Irulnya mana? Kok malah orang lain yang ada di situ?" tanya Juminem yang tentu masih tengfak-tengok mencari Irul.


   Juminem akhirnya bergegas menemui suaminya dan Cik Indra. Disusul Mas Tarno yang mengikuti dari belakangnya.


    "Kok lama sekali .... Mana Mas Irul? Sudah ketemu belum? Bagaimana dengan Melian?" Juminem langsung menanyai suaminya.


    "Belum Jum .... Ini kita mau diantar ke Mbah Sawal, yang bisa membantu kita untuk menemukan Mas Irul dan Melian ...." kata Jamil pada istrinya.


    "Lha Mas Irul di mana?" tanya Juminem mengulangi kebingungannya.


    "Mas Irul hilang ...." jawab Jamil yang tentu sangat khawatir.


    "Ya ampun, Mas Irul ....!!! Melian belum ketemu kok malah Mas Irul nyusul .... Mas Irul kok ikut hilang itu bagaimana to, Pak-e ...!! Iki piye, Kang ...??!! Hua ..., huk ..., huk ..., hu ...." tentu Juminem langsung menjerit histeris menangisi nasibnya. Nasib anaknya yang hilang belum ketemu, ditambah Irul yang ikut menghilang. Sungguh tragis dan menyedihkan.


    Menyaksikan Juminem yang menangis histeris, Cik Indra pun ikut-ikutan menangis. Tentu karena mengalami nasib yang apes juga. Belum bisa menemukan Melian, kini orang yang dicintai ikut-ikutan hilang. Malang nian nasibnya.


    Begitu halnya dengan Tarno. Meski hanya sopir, ia sangat denkat dengan Irul, apalagi dengan pimpinannya. Tentu ia ikut merasakan kesedihan itu. Dan di tempat pemakaman itu, di kuburan itu, terjadi hujan tangis.


    "Lho ..., kok malah pada menangis di kuburan .... Ayo, kita berangkat ke rumah Mbah Sawal .... Kita minta bantuan ke Mbah Sawal." kata Jamil yang mengajak istri dan karyawannya, serta Cik Indra yang ikut mencarinya.


    "Monggo ..., saya antar ke rumah Mbah Sawal ...." kata laki-laki pencari rumput itu.


    "Rumahnya jauh, Pak?" tanya Jamil.


    "Itu .... Di bawah sana ...." kata orang itu sambil menunjuk perkampungan yang ada jauh di bawah lembah.


    "Naik mobil, bisa?" tanya Jamil lagi, yang tentu kalau terlalu jauh mending naik mobil.


    "Tidak usah .... Mobilnya saja yang dibawa muter kampung ke arah sana .... Kita turun lewat sini ...." jawab pencari rumput itu yang sudah menyunggi keranjang rumput menuruni jalan setapak menuju lembah.

__ADS_1


    Jamil, Juminem mengikuti laki-laki yang menyunggi rumput di kepalanya itu. Demikian juga Cik Indra. Bagi Jamil dan Juminem, tentu perjalanan menuruni lereng seperti ini sudah biasa. Tetapi bagi Cik Indra, ini merupakan perjalanan yang sangat berat dan penuh rintangan. Namun ia tetap bersemangat, demi untuk menemukan Mas Irul dan Melian.


__ADS_2