
"Pokoknya aku maunya diantar sekolah sama Mas Irul ...!" kata Melian yang sudah mengenakan seragam SMA dan menyangklong tas punggung.
"Ee ..., Nduk .... Piye, leh .... Mas Irul kan mau pulang ke Lasem ...." kata ibunya yang tentu kasihan dengan Irul yang dipaksa mengantarkan sekolah anaknya.
"Tidak .... Mas Irul belum kerja, belum punya toko .... Pulang siang gak papa .... Pokoknya ngantar sekolah Melian dulu ...!" Melian yang terus memegangi tangan Irul.
"Melian ..., diantar Pak-e wae, yo .... Nanti sekalian Pak-e mampir dealer motor ...." kata Jamil yang juga merayu anaknya.
"Ndak mau ...! Pokoknya Melian maunya dianter Mas Irul ...!" Melian tetap tidak mau.
"We, lha .... Bocah ki piye, leh ...?!" Juminem jadi bingung.
"Mas ..., antar Melian ke sekolah saja dahulu .... Aku nunggu sebentar gak papa kok ...." Indra membisik pada suaminya, yang tahu Melian bakal ngambek terus-terusan. Kasihan kalau sampai tidak mau sekolah lagi. Yah, namanya juga anak-anak, kadang sifat manjanya sangat keterlaluan.
"Ya udah ..., ayo Mas Irul antar ...." kata Irul yang langsung naik ke motor dan menghidupkan mesinnya.
Pagi itu, yang mestinya Irul akan pulang ke Lasem bersama istrinya, tetapi Melian benar-benar memaksa Irul untuk mengantarkan sekolah. Tidak mau diantar oleh bapaknya. Mau tidak mau, Irul mengalah. Mengantarkan Melian ke sekolah.
"Yea .... Hehehe .... Aku diantar Mas Irul ...." Saat Irul sudah naik ke motor, dan sudah menghidupkan motornya, Melian langsung tertawa senang.
"Dasar ..., anak manja ...." kata ibunya yang tentu jengkel melihat sikap anaknya.
"Sabar, Mbak Jum ...." sahut Cik Indra yang tentu juga gemes dengan anak yang manja itu.
"Maaf, lho ..., Cik Indra .... Melian memang semaunya sendiri ...." kata Juminem pada Indra, yang terpaksa harus menunda pulangnya gara-gara Melian.
"Tidak apa-apa .... Namanya juga anak-anak .... Pasti dia kangen betul sama Mas Irul ...." kata Indra pada Juminem.
"Ya udah .... Ayo, ditunggu di dalam saja .... Sambil melanjutkan sarapannya." kata Juminem yang langsung mengaja Indra kembali masuk.
Sementara itu, di Jalan Raya Juwana - Pati, ketika Irul mengantarkan Melian berangkat sekolah, seperti biasa, Melian langsung banyak bicara. Ngobrol sepanjang jalan.
"Mas Irul .... Kenapa sih, harus buka toko di Lasem? Kan enakan di Juwana, kerja di tempat Pak-e ...." kata Melian yang tentu sedih kalau Irul harus kembali ke Lasem. Pasti dirinya akan kesepian terus.
"Melian .... Mas Irul kan sudah nikah ..., sama Cik Indra .... Sekarang Cik Indra sudah tidak kerja, padahal kami butuh tambahan penghasilan untuk hidup berdua .... Kalau saya sama Cik Indra tidak usaha, atau bekerja agar dapat penghasilan yang lebih, terus mau makan apa ...? Lantas .... Di Juwana itu saya kan hanya nunut di rumah Pak Jamil yang ada di pabrik. Lha kalau misalnya Cik Indra saya ajak tinggal di situ, bagaimana kata para karyawan ...? Tidak enak, Mel ...." jelas Irul pada Melian di perjalanan.
"Kalau Melian kangen, bagaimana?" tanya Melian.
"Kalau Melian yang kangen, Melian dolan ke Lasem .... Kalau Mas Irul yang kangen, Mas Irul yang dolan ke Juwana .... Gampang, kan ...." jawab Irul yang tidak mau berbelit-belit.
Sejenak Melian diam. Pasti meresapi kata-kata Irul. Memang kelihatannya mudah. Jika Melian yang kangen, ia yang pergi ke Lasem untuk menemui Irul. Dan jika Irul yang kangen, ia datang ke Juwana menemui Melian. Tetapi benarkah semudah itu? Sementara saat ini di Lasem Mas Irul justru sudah bersama orang lain, yaitu Cik Indra. Pasti Mas Irul akan lebih sibuk mengurusi dagangan dan Cik Indra daripada Melian.
"Mas Irul ...." kata Melian yang mendekap erat tubuh Irul. Seperti layaknya anak pacaran.
"Hmmm ...." gumam Irul.
"Melian takut ...." kata Melian yang semakin kencang mendekap Irul.
"Takut apa ...?" tanya Irul.
"Takut kehilangan Mas Irul ...." kata Melian tiba-tiba.
"Takut kehilangan bagaimana ...? Juwana - Lasem itu tidak jauh, Mel .... Dekat .... Jadi setiap saat pengin ketemu, pasti bisa ....Apanya yang ditakutin ...?" jelas Irul pada Melian.
Melian diam. Tidak mengungkapkan kata-kata lagi. Mungkin sudah kehabisan kata. Tetapi raut wajahnya jelas memperlihatkan rasa sedih. Seakan ia bakal berpisah dengan Irul dalam waktu yang sangat lama. Seakan ia akan berpisah dengan Irul dalam jarak yang amat jauh. Sehingga kesedihan itu benar-benar terlihat di wajahnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Irul menghentikan motornya di depan sekolahan. SMA tempat Melian bersekolah.
"Sudah sampai, Mel .... Sana, masuk .... Nanti terlambat, lho ...." kata Irul.
"Iya, Mas ...." Melian turun dari boncengan. Lantas berjalan ke arah gerbang.
"Eh, Mel .... Salim dulu sama Mas Irul ...!" kata Irul yang memberikan tangannya.
"Iya, Mas Irul ...." Melian menyalami Irul, dan mencium tangannya, seperti kalau diantar oleh bapaknya.
"Nah ..., begitu .... Besok kalau senggang, ajak Mak-e sama Pak-e ke Lasem. Kita berziarah ke makam Mamah ...." kata Irul pada Melian, sebelum anak itu masuk ke gerbang sekolah.
"Iya, Mas .... Aku mau ...!" Melian kembali gembira. Tentu karena diingatkan untuk ke tempatnya Mamah. Lantas Melian berlari girang, masuk ke sekolahnya.
Irul mengamati gadis remaja itu dengan senyum senang.
*******
Irul dan Indra pulang dari Juwana dengan naik bus ekonomi jurusan Kudus - Rembang. Kalau menunggu yang jurusan Surabaya terlalu lama. Maka untuk mempercepat perjalanan, mereka naik bus biasa. Yang pasti jumlah busnya lebih banyak. Namun hanya berhenti di terminal Remang. Tidak apa-apa. Bagi Irul, yang penting langsung jalan.
Memang, untuk bus ke arah Lasem sangat sulit. Hanya bus-bus jurasan Surabaya atau bus malam yang banyak melintas lewat Lasem. Tapi kalau naik dari Juwana, nanti ongkosnya disuruh bayar sama dengan kalau ke Surabaya. Jadi lebih mahal bila dibandingkan dengan bus jurusan Kudus - Pati - Rembang.
"Dek, ini nanti kita turun di Rembang. Busnya cuman sampai Rembang." kata Irul pada istrinya, yang tentu memberi tahu lebih dulu agar nanti istrinya tidak kaget. Memang saat itu bus dalam provinsi kebanyakan hanya sampai di Rembang. Yang melintas di Lasem hanya bus-bus antar provinsi.
"Nggak papa, Mas .... Yang penting sampai." jawab Indra yang tidak mau protes.
"Nanti dari Rembang ke Lasem, kita naik Tosa .... Itu, motor roda tiga yang dibuat omprengan." kata Irul lagi.
"Iya, Mas .... Tidak apa-apa .... Yang penting sampai." jawab Indra yang sudah menyadar di pundak suaminya.
Tapi istrinya diam tidak menjawab. Bahkan sudah tidak bergerak. Irul mencoba menengok. Ternyata istrinya sudah tertidur nyenyak. Irul tersenyum memandangi wajah istrinya yang cantik itu.
"Sungguh beruntung aku mendapatkan istri yang cantik ...." begitu kata hati Irul.
Bus terus melaju. Sepelan-pelannya bus, tetap kencang di jalan raya. Maka banyak sepeda motor yang mengalah jika berpapasan dengan bus ataupun akan disalip. Kena anginnya saja sudah bikin motor melayang. Namun tentunya bus ini sering berhenti untuk menaikkan ataupun menurunkan penumpang. Maklum, ini adalah bus ekonomi yang mengangkut semua penumpang dengan tujuan jauh maupun dekat. Penumpang yang naik pun dari kalangan ekomomi bawah. Pastinya para bakul, pedagang pasar, karyawan pabrik maupun orang-orang biasa dengan kantong terbatas.
Anehnya, justru bus ekonomi ini yang sering terjadi kasus kecopetan. Mungkin karena penumpangnya yang tidak berpengalaman. Makanya, walau tidak membawa harta berlebih maupun uang banyak, Irul tetap berhati-hati. Jangan sampai diincar oleh copet. Seperti saat berangkat, tas kecil istrinya berada di dalam jaket. sehingga tidak kelihatan kalau membawa tas.
Satu jam perjalanan, akhirnya, bus yang ditumpangi itu sudah masuk ke terminal Rembang. Terminal yang dekat dengan Pantai Kartini, obyek wisata andalan Kota Rembang.
"Rembang habis ...!! Rembang habis ...!!" kondektur bus itu berteriak.
Sang sopir sudah meminggirkan busnya di tempat penurunan penumpang. Sementara kondekturnya yang tadi berteriak memberi tahu para penumpang, sudah turun dan langsung menuju warung. Langsung mengangkat gelas es teh dan meminumnya.
"Dek ..., bangun .... Sudah sampai ...." kata irul membangunkan istrinya.
"Eh ..., iya, Mas ...." jawab Indra yang langsung berdiri sambil memutar pinggangnya.
Irul dan Indra turun dari bus, tentu sambil mengankat kardus bawaannya dari Semarang, yang berisi oleh-oleh untuk orang tuanya.
"Mas ..., anter aku pipis dulu, ya ...." kata Indra pada suaminya. Memang, wanita agak sulit menahan urin.
"Iya .... Itu WC-nya ada di sebelah sana." kata Irul yang menunjukkan pada istrinya, dan berjalan menuju kamar kecil. Tentu sambil menyangking kardus.
Setelah selesai, dari kamar kecil, Indra tersenyum pada suaminya yang menunggu di samping kamar kecil itu.
__ADS_1
"Ngapain senyum-senyum ...?" tanya suaminya.
"Lega ...." jawab Indra yang senyumnya semakin lebar.
"Ayo, kita naik Tosa .... Tapi jangan tidur lagi .... Sudah dekat." kata Irul yang mengajak istrinya berjalan keluar terminal, untuk menyegat angkot dari Tosa. Ya, di daerah Rembang angkutan dari motor roda tiga ini sangat umum. Dan rupa-rupanya, usaha angkutan di sana menggunakan kendaraan roda tiga tersebut, yang dimodifikasi seperti layaknya angkot, dengan ditambahi atap bagian atasnya.
Di depan terminal, sudah ada Tosa yang berhenti menunggunya.
"Lasem, Pak ...?" tanya Irul pada pengemudi Tosa itu.
"Iya, Mas .... Ayo naik ...." jawab sang pengemudi yang kepalanya memakai helem.
Irul bersama istrinya langsung naik ke angkot itu. Sudah ada dua wanita yang duduk di situ. Mungkin habis jualan di pasar, karena membawa selendang dan keranjang.
Pengemudi masih tengak-tengok, mencari penumpang. Tapi akhirnya jalan, setelah dari terminal tidak terlihat lagi orang yang keluar. Angkutan antik itu berjalan dengan kecepatan yang lumayan lambat. Mungkin tidak bisa kencang. Atau mungkin sambil mencari penumpang.
"Jangan tidur lho, Dek ...." kata Irul pada istrinya yang sudah mulai menempelkan kepala di pundaknya.
"Iya, Mas .... Semalam itu saya gak bisa tidur, Mas .... Makanya saya ngantuk banget." jawab Indra.
"Memang kenapa ...?" tanya suaminya.
"Ih, Mas .... Aku takut ...." jawab Indra.
"Takut apa ...?" tanya Irul.
"Ih ..., pokoknya serem, Mas .... Aku gak berani tidur ...." jawab Indra lagi.
"Iya .... Seremnya itu karena apa? Ada apa? Kamu ngapain?" tentu Irul jadi penasaran.
"Mas ..., itu rumahnya Melian kok serem, ya .... Ada sesuatu yang menakuti saya, Mas .... Dan saya takut banget ...." kata Indra yang teringat peristiwa semalam.
"Itu hanya perasaanmu saja, Dek ...." kata Irul menenangkan istrinya.
"Ih, benar, Mas .... Aku tidak bohong ...." tandas Indra.
"Ya sudah .... Nanti sampai rumah, Dek Indra tidur lagi ...." kata Irul sambil memegangi tangan istrinya.
"Mas, tolong saya, ya ....Jaga Indra baik-baik, Mas .... Jangan sakiti Indra. Aku takut apa yang saya lihat semalam akan menjadi kenyataan ...." kata Indra yang mengiba pada suaminya.
"Yang sabar, Dek .... Nanti kita bicara di rumah ...." jawab Irul menenangkan istrinya. Pasti ia bingung dengan yang dibicarakan oleh istrinya. Takut apa yang dirasakannya? Tadi pagi Melian takut, sekarang istrinya juga takut. Ada apa ini sebenarnya?
Angkot itu pun sudah sampai di depan Pasar Lasem. Indra dan Irul turun. Irul membayar ongkosnya pada pengendara angkot itu. Lalu berjalan menuju parkiran motor. Namun sebelum sampai parkiran, Irul membeli rokok sebngkus, sebagai upah yang sudah ngurusi motornya.
"Mas Irul .... Waah, katanya pulang sore, lha kok sampai nginep .... Wealah ...." kata tukang parkir itu.
"Maaf, ternyata tidak rampung sehari .... Ini, rokok, buat isep-isep ...." jawab Irul yang sambil memberikan rokok dan menambahi uang parkir.
"Walah, ya .... Makasih ya, Mas Irul .... Ini kontaknya." kata tukang parkir itu yang memberikan kunci motor Irul, yang tentu sudah disiapkan oleh tukang parkir.
Irul langsung menghidupkan motornya. Digenjot beberapa kali baru bunyi. Maklum motor tua. Lantas memboncengkan istrinya untuk segera pulang, karena istrinya semalamtidak tidur, pasti mengantuk. Indra yang membonceng, sambil memegangi kardus oleh-oleh. **** naik motor tua, mereka berdua kelihatan mesra. Motor itu melaju meninggalkan pasar.
"Lhoh ..., Irul ki bojone Cino, ya ...?" tanya orang yang duduk di parkiran.
"Saudaranya Babah Ho yang di Semarang ...." jawab tukang parkir itu.
__ADS_1
"Ooo .... Pantesan ...."