GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 210: SEGENGGAM TANAH KUBURAN


__ADS_3

    Jarak pekuburan dengan rumah Irul tidak begitu jauh. Letaknya ada di sisi selatan kampung. Sekitar sepuluh menit perjalanan, orang-orang yang terus bergantian, bahkan berebut untuk memikul jenazah Cik Indra, akhirnya sampai di pekuburan.


    Empat pemuda menurunkan keranda secara perlahan, meletakkan ditepi liang lahat. Kemudian membuka tutup keranda. Lantas membopong pocongan yang tergeletak di keranda itu, untuk diturunkan ke dalam liang lahat. Dua orang yang ada di dalam liang itu langsung menerimanya. Perlahan menempatkan pocongan itu pada liang. Lantas dua orang yang masih berada di dalam lubang kubur itu menerima papan-papan kayu, untuk digunakan sebagai penutup jenazah yang ada di liang bawah. Setelah semua tertutup, dua orang itu langsung meminta cangkul, dan memarik tanah galian itu dengan cangkulnya, kembali ke lubang kubur. Menutup kuburan Cik Indra.


    "Allahu akbar .....!!!" teriak orang yang mulai menguruk lubang kuburan itu.


    "Allahu akbar ....!!!" para pelayat yang memenuhi tanah pemakaman itu menyaut, berseru mengagungkan kebesaran Tuhan.


    Satu persatu laki-laki yang ikut melayat pada menurunkan tanah, menguruk lubang kuburan Cik Indra. Terus bergantian, hingga kuburan itu menjadi penuh dengan tanah yang menggunduk. Lantas seseorang menancapkan batu nisan di dua ujung, tempat kaki dan kepala.


    Pastinya pada batu nisan terdapat tulisan nama orang yang meninggal. Dan biasanya tanggal lahir dan tanggal kematian. Namun ada yang beda pada batu nisan Indra. Di situ tertulis "Indrasari, Orang baik yang mati karena pekerti orang jahat". Melihat tulisan itu, pasti para warga kembali membenci pekerti para rampok yang sadis itu, yang sudah membunuh korbannya. Mereka pun bersumpah akan menangkap dan menghukum mati jika ada orang jahat yang masuk ke kampungnya.


    Beberapa pemuda yang juga prihatin dengan peristiwa perampokan yang disertai kekerasan, akhirnya pada berembug. Nanti sepulang dari makam, mereka akan ke kantor kepolisian, menuntut memburu pelaku perampokan yang mengakibatkan meninggalnya Cik Indra itu hingga ketemu.


    "Saudara-saudara ..., jangan pulang dulu .... Mari sejenak kita menundukkan kepala, seraya berdoa. Mendoakan arwah Cik Indra, agar diampunkan dari segala dosa, diterima amal dan budi baiknya menjadi pahala yang akan memudahkan pengadilan di hari kiamat nanti, dan semoga arwah Cik Indra diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kasih, ditempatkan dalam surga-Nya. Aamiin ..., aamiin ..., ya Robi-alamin ...." kata Pak Modin yang memimpin doa di pemakaman Cik Indra tersebut.


    "Aamiin .........." suara para pelayat mengaminkan.


    "Dan di pekuburan ini, di pemakaman Cik Indra, marilah kita berikan kesaksian, bahwa Cik Indra ini orang baik, nggih ...?!" kata Pak Modin meminta kesaksian para pelayat.


    "Orang baik ........!!" sahut para pelayat.


    "Dan juga kita berikan kesaksian, bahwa Cik Indra ini orang yang sholekah, nggih ...?!" kata Pak Modin meminta kesaksian para pelayat lagi.


    "Orang sholekah ........!!" teriak para pelayat lagi-lagi menjawab pertanyaan Pak Modin.


    "Kita juga bersaksi, bahwa Cik Indra ini orang yang suka beramal, ya ...?!" kata Pak Modin meminta kesaksian para pelayat lagi.


     "Suka beramal ........!!" teriak para pelayat lagi.


    "Semoga kebaikan Cik Indra, kesholehannya, serta amal-amal baiknya diterima sebagai amal ibadah untuk memudahkan perjalanan Cik Indra dalam memasuki surganya Allah .... Aamiin ...." kata Pak Modin yang kemudian membacakan doa-doa.


    Orang-orang yang hadir di pemakaman itu pun turut mendoakan Cik Indra. Doa yang dipenuhi linangan air mata. Doa yang dipenuhi isak tangis. Terutama keluarga Irul, Jamil dan Juminem serta para perempuan. Mereka benar-benar merasa kehilangan orang baik yang murah hati. Orang baik yang sering berbagi. Orang baik yang sering memberi. Bahkan juga ringan tangan dalam membantu para tetangganya yang kesusahan.


    Setelah selesai upacara pemakaman, selesai berdoa, satu persatu pelayat menaburkan bunga di pusara Cik Indra. Sebagai perlambang mengharumkan nama Cik Indra. Hingga tanah yang menggunduk itu bertambah tinggi dengan banyaknya bunga yang menumpuk di tempat pemakaman Cik Indra.


    Sepulang para pelayat, Irul dan Melian masih duduk bersila di depan makam Indra. Ingin rasanya kembali menikmati kemesraan bertiga. Namun kini semuanya harus sirna, karena Indra telah tiada. Melian teringat dengan kemesraan-kemesraan kala Cik Indra masih hidup. Orang yang selalu mengalah dan baik pada dirinya, kini tidak lagi bisa diajak cerita, tidak lagi bisa diajak bercanda, dan tidak lagi bisa diajak bermesraan bersama. Pantas dua malam terakhir gelang gioknya memberi pertanda. Tanda kesedihan dari naga yang melilit lengannya. Ternyata ini yang menyebabkannya. Kalau si naga yang berwujud gelang saja bersedih dan menangis, apalagi Melian yang sudah teramat sangat dekat dengan Cik Indra.


    "Melian .... Ayo kita pulang ...." Irul mengajak Melian meninggalkan kuburan caciknya.


    "Mas Irul pulang duluan .... Mungkin di rumah banyak pelayat yang menunggu. Saya sebentar lagi ...." jawab Melian.

__ADS_1


    "Yakin, mau di sini sendirian ...?" tanya Irul meyakinkan.


    "Iya, Mas Irul .... Nanti saya langsung ke Jakarta .... Mas Irul jaga diri baik-baik, ya ...." jawab Melian.


    "Melian juga hati-hati ...." kata Irul yang kemudian memeluk Melian serta mencium keningnya, sebelum melangkahkan kaki meninggalkan pemakaman.


    "Iya, Mas Irul ...." kata-kata Melian bergetar. Entah apa yang menyebabkannya, Melian sendiri tidak tahu.


    Melian kembali bersimpuh di atas tanah yang masih basah itu. Kembali hanyut dalam kesedihan. Ingin rasanya ia membalaskan sakitnya Cik Indra. Ingin rasanya ia mengejar para penjahat yang keji dan tega membunuh Cik Indra tersebut.


    "Grrrrrrr .....!" tiba-tiba saja Melian menggeram. Tangannya mencengkeram tanah kuburan Cik Indra yang masih basah itu. Hingga tanah yang baru saja diurugkan pada makam Cik Indra itu tergenggam oleh tangan Melian. Lantas tanah yang ada di genggamannya itu diremas sekuat tenaga, seakan sedang meremas kepala para penjahat yang sudah membunuh Cik Indra.


    Di saat itu, tiba-tiba sinar merah berkelebat. Semacam pita yang mengeluarkan cahaya seperti api, melayang ke arah tubuh Melian. Lantas membawa tubuh Melian, hilang dari pemakaman.


*******


    Sebuah truk box melaju dari arah Rembang menuju Bojonegoro. Melintas provinsi dari dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur. Rupanya truk box tersebut ingin mencari jalan pintas, dengan melintas di daerah perkampungan. Tentu jalannya tidak begitu besar, dan juga tidak diaspal halus. Bahkan pada beberapa bagian jalan, aspalnya sudah mengelupas, sehingga tampak batu-batu makadam yang terkadang jika dilintasi kendaraan bisa mencelat. Tentu kendaraan tidak bisa cepat melintas di jalan itu.


    Namun sebenarnya, sopir truk itu tidak mencari jalan pintas. Melainkan mencari jalan kampung untuk menghindari cegatan-cegatan polisi di jalan raya. Ya, itulah truk box yang ditumpangi oleh lima orang perampok yang sudah membobol Toko Laris. Truk box yang digunakan untuk merampok barang-barang dagangan Toko Laris. Truk box yang dikendarai oleh para perampok yang sudah mencacah-cacah tubuh Cik Indra hingga mengakibatkan luka parah dan kehabisan darah, yang selanjutnya Cik Indra harus meregang nyawa.


    "Dul .... Itu di depan ada warung .... Kita berhenti. Coba kamu tawarkan barang-barang yang sudah kamu angkut. Biar jadi uang ...." kata laki-laki yang menyetir truk box tersebut pada dua rekannya yang duduk di samping kirinya. Sedangkan dua orang lagi berada di dalam box.


    Truk box itu perlahan minggir. Berhenti di depan warung kampung. Lantas seorang dari yang menumpang di depan turun dari truk. Menuju ke warung itu.


    "Bu ..., kami mau menawarkan sembako murah .... Ibu mau beli ...?" tanya laki-laki komplotan perampok itu.


    "Hehehe .... Saya tidak mau beli barang hasil rampokan ...." kata wanita dalam warung yang ditawari itu.


    Laki-laki yang menawarkan sembako murah itu, saat melihat wanita di warung itu langsung kaget dan ketakutan. Wanita yang ada di warung itu ternyata berubah menjadi pocongan dengan wajah penuh luka dan darah yang dleweran di mukanya.


    "Tolong ...!! Tolong ...!!" laki-laki itu langsung berlari ke truk itu lagi dengan jantung berdebar-debar karena saking takutnya.


    "Ada apa ...?!" temannya yang masih duduk di jik depan itu menanyakan, dan tentu juga ikut takut, dikiranya ada polisi.


    "Itu ...! Itu ...! Pocongan ...!! Cepat pergi ...!!" kata orang yang langsung menutup pintu mobilnya.


    Temannya yang menyopir pun langsung menjalankan truknya. Namun saat melihat ke spion, di belakang tidak ada siapa-siapa.


    "Dasar Penakut ....!" gumam sopir itu mengejek temannya.


    Truk box itu kembali berjalan. Kembali melintasi jalan kampung. Dan kembali berhenti saat ada warung di perkampungan yang dilewatinya.

__ADS_1


    "Itu, ada warung lagi .... Cukup besar untuk warung kampung. Sana coba ditawarkan lagi." kata sang sopir menyuruh temannya yang ada di sampingnya.


    "Kamu saja .... Aku masih takut ...." sahut orang yang tadi sudah menawarkan, dan katanya ditakuti pocong.


    "Halah .... Itu warungnya ramai ..., banyak orang." sahut temannya yang memang melihat di warung itu banyak orang yang pada duduk-duduk sambil minum kopi.


    "Kamu saja .... Aku tidak berani ...." sahut orang yang tadi ditakuti pocong. Lantas memiringkan tubuhnya agar temannya yang ditengah segera turun.


    Akirnya, temannya yang ada di tengah turun. Berjalan menuju warung itu, untuk menawarkan sembako yang dibawanya. Memang banyak orang yang pada nongkrong di warung kampung itu.


    "Bu ..., saya mau menawarkan sembako murah ...." kata si perampok yang menawarkan hasil curiannya.


    "Murahnya seperti apa ...? Apa seperti saya ...?" jawab wanita yang ada di warung itu.


    Perampok itu kaget. Wajah wanita itu berubah menyeramkan.


    "Apa murahnya seperti orang-orang yang pada duduk di dingklik itu ...? Ha ...?" lanjut kata perempuan yang berjualan di warung itu.


    Lantas perampok yang menawarkan dagangannya, menoleh dan melihat orang-orang yang pada duduk di warung itu. Ia lebih kaget dan ketakutan. Dan langsung lari meninggalkan warung, langsung meloncat ke jok mobil.      "Ayo cepat pergi ...!!" suruh orang itu pada temannya yang menyopir.


    "Ada apa ...?!" tanya yang menyetir.


    "Pokoknya pergi ...!!! Cepat ...!!!" kata yang baru saja melompat ke jok dan menutup pintu secara kencang dan langsung menutup kacanya. Lantas membenamkan kepalanya di punggung temannya, tanpa berani melihat keluar.


    Truk box itu kembali berjalan. Dan tentunya agak cepat. Setelah beberapa saat truk itu berjalan, orang yang ketakutan itu baru berani mengangkat mukanya.


    "Memang kamu melihat apa ...?" tanya perampok yang menyetir.


    "Menyeramkan dan menakutkan. Ternyata orang-orang yang berada di warung tadi, mayat-mayat hidup. Ada yang wajahnya sangat rusak. Ada yang darahnya menetes. Ada juga yang kulitnya mengelupas, terlihat tulang tengkoraknya .... Hiii .... Serem ...." kata perampok yang tadi turun berusaha menawarkan barangnya.


    "Lha, terus .... Ini kita bagaiman ...?!" tanya yang menyopir.


    "Wis ..., pokoknya jalan terus .... Sampai kita tiba di Bojonegoro .... Biar aman. Di sana wilayahnya sudah beda. Sudah bukan wilayah Jawa Tengah. tetapi sudah masuk Jawa Timur. Wilayah hukumnya sudah beda. Kita aman di sana." kata perampok yang masih ketakutan itu.


    "Lewatnya mana?" tanya yang menyopir.


    "Wis .... Pokoknya mengikuti jalan ini terus .... Ke arah timur terus ...." kata temannya.


    "Oh, ya ..., betul .... Ini jalannya sudah mulai halus." kata si sopir yang mulai merasakan halusnya jalan.


    Dan truk box itu kini melaju semakin kencang. Setidaknya untuk menghiundari kejaran polisi dari Rembang. Apalagi jalannya yang halus, datar dan sepi. Sangat nyaman untuk mengendarai dengan kecepatan tinggi. Sopir itu terus menginjak gas mengikuti jalan yang lurus tanpa belak-belok.

__ADS_1


__ADS_2