
Dusun Pancur terlihat gersang. Daun-daun kering yang berguguran menumpuk di pinggir jalan. Banyak ranting yang juga berjatuhan. Banyak pula pohon-pohon yang sudah tidak ada daunnya sama sekali. Bahkan rumput-rumput pun kering semuanya. Dusun Pancur terlihat gersang. Kala itu Dusun Pancur sedang mengalami kekeringan. Dusun Pancur sedang mengalami bencana kemarau panjang. Tidak ada air setetes pun, sehingga kampung itu benar-benar terlihat sebagai kampung yang sangat kering. Tanaman-tanaman sudah hampir punah, tidak ada hijau-hijau dari daun. Tanah pun terlihat pecah-pecah karena saking keringnya. Debu-debu berterbangan menutup semua yang berada di dusun itu. Semuanya sudah mengering.
Tentu kekeringan ini berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan masyarakat, terutama di daerah pedesaan yang hidup dari pertanian. Tentunya banyak tanaman yang sudah mati. Mereka pun tidak bisa memanen hasil pertanian, bahkan menanam pun tidak mungkin lagi untuk dilakukan. Karena tidak ada air sama sekali. Dan tanah yang ada di kampung tersebut sudah pada menganga karena saking keringnya kampung itu. Sudah banyak hewan ternak yang mati karena tidak dapat makan atau minum.
Dusun yang dulunya makmur itu, kini sudah berubah menjadi dusun yang sangat kesulitan bahan makanan, sangat kesulitan untuk hidup. Bahkan untuk minum saja, mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan air. Kala itu, semua sumber mata air sudah mati. Tidak ada lagi air yang mengalir, tidak ada lagi air yang menetes. Yang ada hanyalah air mata yang membasahi pipi mereka, karena saking sedihnya meratapi kehidupan yang dialami oleh masyarakat Dusun Pancur.
Irul bersama Melian yang datang berboncengan dengan diiringi oleh empat orang pengendara motor yang saling berboncengan, mulai memasuki Dusun Pancur. Tentu Melian langsung melihat kesedihan kampung itu. Melian langsung melihat keadaan kampung yang sangat memprihatinkan. Setidaknya, Dusun Pancur sudah lebih dari setahun tidak menerima tetesan air hujan. Dan mungkin juga, di pagi hari pun tidak bakal ada embun yang menempel di dusun tersebut.
Itulah gambaran kekeringan yang dialami oleh warga masyarakat Dusun Pancur. Melian mengamati itu semua sebagai sebuah petaka. Dan tiba-tiba, saat melintas masuk di Dusun Pancur, di jalan yang terdapat sedikit tanjakan, Melian menyuruh Irul untuk menghentikan motornya.
"Mas Irul ..., coba berhenti sebentar." kata Melian yang menyuruh Irul untuk menghentikan motornya.
"Ada apa, Melian?" tanya Irul yang sudah menghentikan motornya di pinggir jalan. Dan tentu, akhirnya dua motor yang ada di depannya juga ikut berhenti karena tahu, tamu yang dia undang, orang yang dia harapkan bisa menolong itu tiba-tiba berhenti di awal masuk kampungnya. Pasti ada sesuatu yang mereka lihat.
Setelah turun dari boncengan motornya, Melian pun ke pinggir jalan, mengamati kampung yang dia datangi itu. Melian langsung mencoba naik ke atas tanah yang agak tinggi yang berada di pinggir jalan itu. Ia melihat ke kanan dan ke kiri menyaksikan keadaan kampung itu. Dari gundukan tanah itu, Melian bisa menyaksikan ke seluruh penjuru. Melihat ke kanan dan ke kiri. Entah apa yang dilihat oleh Melian, tetapi ia merasakan ada yang aneh. Ada sesuatu yang dirasakan olehnya. Sudah ada pertanda yang dirasakannya. Apalagi kalau bukan gelang gioknya yang bergetar di lengan tangannya. Gelang giok berukir naga yang dikenakan oleh Melian itu tiba-tiba bergetar kuat. Seakan memberi tanda kepada Melian ada sesuatu yang akan mengganggu dirinya. Lantas Melian melihat ke atas bukit yang juga gersang. Ya, di atas bukit itu ada batu besar. Batu yang seakan menggantung di atas bukit, batu yang akan terguling, akan menggelinding jika saja tersentuh oleh tangan manusia.
Aneh memang, batu yang sangat besar itu, batu seukuran tiga ekor kerbau, menempel begitu saja di atas bukit dan tidak menggelinding ke bawah. Batu itu disebut Batu Gantung. Ya, karena batu itu kalau dilihat dari bawah, kalau disaksikan dari Dusun Pancur, seolah-olah batu itu memang menggantung di awang-awang.
Melian menyaksikan ada keanehan pada batu itu. Namun Melian tidak beranjak untuk ke tempat bergantungnya batu itu. Tetapi ia turun, akan melanjutkan perjalanan lebih dulu, walau sebenarnya Melian merasakan di batu itu memang ada sesuatu yang aneh, yang sudah sempat mengganggu gelang giok yang dikenakan oleh Melian.
"Ayo, Mas Irul ..., kita jalan lagi." kata Melian yang sudah naik ke boncengan sepeda motor yang disetir oleh Irul.
Irul pun langsung menyalakan mesin motornya, kembali berangkat mengikuti dua orang yang menyetir di depannya, yang memboncengkan dua orang lagi. Ya, tiga motor itu langsung menuju ke balai desa Dusun Pancur. Tentunya Melian dan Irul sudah akan disambut oleh para tetua Dusun Pancur yang sudah berkumpul di balai desa.
Tidak berapa lama, tiga buah motor itu pun sudah membelok dan masuk ke halaman balai desa. Dan setelah sampai di balai desa, empat orang yang berboncengan itu langsung menuju ke pendopo. Di pendopo balai desa itu sudah ada beberapa orang duduk bersila. Dan saat Irul dan Melian, yang kemudian mengikuti empat orang yang sudah masuk duluan itu, saat Melian dan Irul masuk ke pendopo itu, semua orang berdiri, semua orang menyalami Irul, semua orang menyalami Melian. Bahkan mereka pada mencium tang Irul, dan bahkan ada yang menyembah kepada Irul.
Ada yang aneh yang dilakukan oleh para tetua kampung itu. Mereka menganggap Irul seperti layaknya seorang dukun sakti yang akan menolong mereka, menolong warga Dusun Pancur.
"Monggo, Mbah .... Silahkan duduk di sini, Mbah .... Selamat datang di dusun kami." kata salah seorang tetua kampung itu yang menyebut Irul dengan ka-kata "Mbah", artinya orang yang sudah tua.
Tentu Irul jadi kikuk dan malu. Dirinya yang masih terlalu muda, tetapi sudah dipanggil Mbah.
"Terus terang, Mbah ..., kami sangat berterima kasih dengan kedatangan Simbah ke tempat kami. Terus terang, Mbak ..., dusun kami sedang mengalami bencana seperti yang Mbah lihat tadi. Dusun kami mengalami kekeringan. Semuanya kering, bahkan hati kami pun saat ini juga menjadi kering dan gersang karena tidak mendapatkan tetesan embun yang bisa menyejukkan kehidupan kami. Oleh sebab itu kami mohon ampun kepada Simbah, kalau kami sudah berani merepotkan Simbah. Kami sengaja ingin meminta tolong pada Simbah, mohon bantuan agar Simbah berkenan menolong kami, agar Simbah membantu kami, agar Simbah sanggup mengurai permasalahan yang dihadapi oleh warga Dusun Pancur ini, yaitu bencana kekeringan yang sudah kami alami selama setahun lebih. Mohon petunjuk dari Simbah ...." begitu kata orang-orang yang ada di pendopo itu, kata para ketua adat, kata para sesepuh kampung, bahkan mungkin juga di situ ada para orang-orang pintar yang diakui oleh warga kampung sebagai dukun di tempat itu.
Namun itu semua adalah permintaan dari mereka. Irul yang masih muda dan dipanggil "Mbah" sebenarnya sangat risih didengar di telinganya, sangat tidak bisa mendengar kata-kata panggilan itu, karena dirinya tentunya masih orang muda yang belum punya pengalaman apa-apa, bahkan menurut para sesepuh kampung itu yang menganggap Irul sebagai seorang dukun, sebagai seorang paranormal, sebagai seorang yang bisa menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh warga kampung Dusun Pancur tersebut.
"Maaf bapak-bapak, maaf para sesepuh, dan semuanya saja, mohon maaf, saya jangan dipanggil "Simbah". Saya ini masih muda, saya ini baru berumur 40 tahun. Jadi jangan panggil saya Mbah. Saya malu." kata Irul yang tentunya merasa dirinya belum pantas untuk menyandang gelar seperti itu.
"Lah, terus ..., maunnya kami panggil apa, Mbah?" kata salah satu sesepuh dusun tersebut.
"Panggil saja "Mas Irul" atau "Dik Irul" seperti itu saja, saya lebih senang karena memang saya masih terlalu muda, Pak." begitu sahur irul.
"Muda berdasarkan umur, Mas irul .... Tetapi bagi kami, Mas Irul ini sangat cukup tua dalam pemahaman hal-hal yang terkait dengan yang tidak kelihatan. Tentu Mas Irul lebih paham dan lebih mengerti apa sebenarnya yang terjadi di dusun kami, apa sebenarnya yang menimpa dusun kami." kata tetua kampung itu.
Sesaat kemudian, setelah sedikit berbincang, seorang perempuan tua masuk ke pendopo itu, dengan membawa baki yang berisi minuman dan makanan, yang tentunya itu akan disuguhkan kepada Irul dan Melian.
"Monggo, minumannya .... Silakan diminum untuk melepas dahaga sejenak. Mohon maaf, tempat kami sedang kesulitan air. Jadi kami tidak bisa menyuguhkan apa-apa." begitu kata perempuan itu yang merupakan salah satu istri dari sesepuh kampung.
"Terima kasih, Bu .... Jangan repot-repot .... Kami di sini tidak harus dihormati seperti ini. Anggap saja kami ini orang biasa, warega kampung biasa." begitu kata Irul yang tentu sangat sungkan ketika menerima suguhan minuman, karena dia tahu bahwa kondisi di kampung itu sedang kesulitan mencari air.
"Den Mas Irul .... Langsung saja saya sampaikan, terus terang kami memohon untuk dibantu memecahkan persoalan di kampung kami. Jika memang ada syaratnya, apapun syarat itu, kami siap untuk melaksanakannya." begitu kata sesepuh kampung itu, yang tentunya kepingin permasalahan kekeringan di kampungnya bisa segera diatasi.
Tentu Irul bingung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Bahkan Irul sendiri tidak tahu dengan penyebab kekeringan yang terjadi di Dusun pancur tersebut.
Namun tiba-tiba, Melian mendekatkan mulutnya ke telinga Irul. Ia membisikkan sesuatu di telinga Irul. Yang tentu bisikan itu adalah usulan yang disampaikan oleh Melian untuk mencoba mengurai masalah yang sedang terjadi di Dusun Pancur.
"Hah ...?! Kok seperti itu ...?" Irul kaget dengan kata-kata yang dibisikkan oleh Melian.
"Iya, Mas Irul ...." sahut Melian.
"Tapi ....?!" Irul seakan kelihatan takut.
"Kita coba saja ...." kata Melian.
"Saya takut, Melian ...." sahut Irul.
"Maaf, Bapak-bapak .... Izinkan kami untuk melihat kampung ini sejenak. Saya sama Mas Irul mau naik ke bukit itu terlebih dahulu." tiba-tiba Melian meminta izin pergi sama Irul, dengan alasan ingin melihat situasi yang ada di kampung itu.
"Oh, iya .... Silahkan ...." kata tetua kampung itu, yang tentu memberi izin.
__ADS_1
"Apa perlu kami antar ...?" tanya salah seorang yang ikut berada di situ.
"Tidak usah, Pak .... Kami harus melihat berdua saja." kata Melian yang langsung berdiri dan menarik tangan Irul. Mengajak Irul keluar.
Irul menurut saja. Karena memang ada yang harus dia bicarakan bersama. Ya, Irul pun mengendarai motornya, memboncengkan Melian, dan langsung menyusuri jalan kampung itu. Akhirnya, Melian minta kepada Irul untuk menghentikan motornya di daerah yang terlihat paling tinggi di kampung itu.
"Melian ..., kok syaratmu aneh-aneh, sih ...?!" tanya Irul kepada Melian.
"Mas Irul ingat waktu kita melawan pendekar dari Sungai Kuning?" tanya Melian pada Irul.
"Iya ..., ingat .... Memang kenapa ...?" tanya Irul pada Melian.
"Mas Irul, kala itu saya dikalahkan oleh Perempuan aneh dari Sungai Kuning itu. Tetapi saat tanpa sengaja saya jatuh dan menimpa Mas Irul, saat itu mengakibatkan kita berciuman, ternyata muncul kekuatan luar biasa. Yang akhirnya kita sanggup mengalahkan pendekar Sungai Kuning itu." kata Melian yang tentunya mengingatkan kepada Irul saat melawan pendekar dari Sungai Kuning.
Irul terdiam. Irul melamun. Pikirannya kembali mengingat peristiwa di puncak bukit, saat Melian akan diculik oleh pendekar dari Sungai Kuning tersebut. Ya, Irul ingat betul peristiwa itu. Kala itu, memang mereka berdua tanpa sengaja sudah melakukan ciuman. Tapi benarkah itu menyebabkan munculnya kekuatan sakti pada tubuh Irul dan Melian?
"Mas Irul .... Di bukit itu, di tempat batu yang besar menggantung itu, ada kekuatan jahat yang ingin menghancurkan Dusun Pancur. Wujudnya ular raksasa. Kekuatan yang dimiliki ular raksasa itu sangat besar. Ular itu yang sudah menutup semua sumber air di sekitar Dusun Pancur ini. Untuk mengembalikan mata air-mata air yang sudah disumbat oleh ular raksasa itu, harus ada orang yang sanggup mengalahkan kekuatan jahat ular itu. Mungkin kita tidak sanggup untuk melawannya. Tapi dengan ciuman kita, mungkin kita bisa mengalahkannya." kata Melian menjelaskan kepada Irul.
Irul termangu mendengar kata-kata Melian itu. Tentunya itu syarat yang sangat berat. Karena Irul tidak mungkin mau melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama. Dan tentunya tidak tega melakukan hal nista itu kepada Melian.
"Saya tidak sanggup, Melian .... Karena kamu bukan istriku." kata Irul yang berusaha menolak.
"Kalau begitu, jadikanlah aku sebagai istrimu, Mas Irul ...." kata Melian.
"Tapi Melian ...." Irul ragu-ragu.
"Kita harus menolong warga Dusun Pancur, Mas Irul .... Kita sudah berhutang budi kepada mereka. Mereka pernah menyelamatkan kita, Mas ...." kata Melian yang seakan memaksa Irul.
"Apa kamu mau membunuhku, Melian ...?" tanya Irul kepada Melian, yang tentunya Irul khawatir, karena setiap lelaki yang mendekati Melian, pasti akan berakhir dengan kematian.
"Kita pasrah saja, Mas Irul .... Jika memang Yang Maha Kuasa menghendaki demikian, kenapa kita harus menolak?" kata Melian yang tetap menghendaki Irul untuk menikahinya, agar bisa mengalahkan musuh yang memiliki kekuatan sangat luar biasa itu, yaitu ular raksasa yang menutup semua jalan air di Dusun Pancur.
"Baiklah, jika memang seperti itu. Saya ikhlas, demi bisa menolong orang lain." begitu kata Irul kepada Melian, ia pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Akhirnya, Irul kembali memboncengkan Melian, menuju ke balai desa, yang tentunya masih ditunggu oleh para tetua kampung.
"Ada syarat yang harus dipenuhi, Pak ...." kata Irul kepada para tetua itu.
"Apa syaratnya, Mas Irul ...? Kami siap memenuhinya .... Yang penting kampung kami kembali makmur seperti sedia kala ...." jawab sesepuh yang tentu ingin segera tahu syarat yang diminta.
"Nikahkan kami ...." kata Irul.
"Apa ...? Mas Irul dan Caciknya ini harus kami nikahkan? Berarti .... Ya, kami siap. Kami akan menikahkan Mas Irul." kata sesepuh itu, yang tentu merasa agak heran dengan syarat yang diminta oleh Irul.
"Walah .... Syaratnya minta nikah? Gampang itu." sahut sesepuh yang lain.
"Ya sudah, ayo cepat kita nikahkan." kata yang lainnya.
"Tanggapannya apa, Mas Irul?" tanya yang lain.
"Rebana saja, Pak ...." jawab Irul.
"Ya, besok pagi, kita akan menikahkan Mas Irul dengan Cacik .... Cacik siapa namanya?" sahut yang lainnya, yang kemudian tanya nama Melian.
"Melian ...." jawab Melian menyebutkan namanya.
"Kalau begitu, segera diumumkan acara pernikahan Mas Irul dan Cik Melian. Besok pagi semua warga menjadi saksi di sini. Segera undang naib. Segera pasang tratak. Remaja-remaja dikerahkan untuk menghias tempat ini. Ibu-ibu disuruh menyiapkan sajian makanan. Besok kita merayakan pernikahan Mas Irul dan Cik Melian." begitu kata salah satu sesepuh warga yang langsung mengatur pernikahan Melian dengan Irul.
Irul pun menelepon keluarganya. tentu akan memberitahu kalau dirinya besok akan dinikahkan oleh warga Dusun Pancur. Dan tentunya, Irul meminta kepada adik-adiknya untuk membawa berbagai bahan makanan yang bisa dimasak untuk suguhan para tamu.
Tentu ibunya Irul kembali senang, karena anaknya yang sudah lama menduda itu akhirnya mau menikah lagi. Maka orang tuanya Irul, seketika itu juga langsung mengerahkan para tetangganya untuk masak-masak. Dan bahkan, meminta anak-anaknya untuk menutup toko, semuanya bersiap untuk menata barang-barang yang akan dibawa ke Dusun Pancur.
"Lhah, Nikah kok ya dadakan itu, lho .... Piye, leh ...??" kata orang-orang yang tetntu kaget dengan rencana pernikahan yang tiba-tiba itu.
Demikian juga Melian yang menghubungi orang tuanya. Ia memberi tahu kalau dirinya akan menikah dengan Irul di Dusun Pancur. Mereka akan dinikahkan oleh warga kampung pancur. Tentu kedua orang tuanya harus hadir diacara pernikahan anaknya itu. Kedua orang tuanya harus menyaksikan pernikahan Melian.
"Nduk ..., kamu itu bagaimana, nikah kok mendadak seperti ini? Pak-e dan Mak-e tidak siap, Nduk ...." kata ibunya yang tentu kaget mendengar berita itu.
"Iya, Mak .... Ini syarat untuk menolong warga Pancur." jawab Melian singkat.
__ADS_1
*******
Pagi itu, Dusun Pancur sangat ramai. Orang-orang berdatangan menuju balai desa. Tua muda, laki perempuan, semuanya ingin menyaksikan orang yang banyak dibicarakan oleh warga kampung, akan menyelesaikan masalah kekeringan di Dusun Pancur, tetapi minta syarat harus dinikahkan. Itulah yang aneh. Makanya orang-orang pun pada berdatangan ke balai desa yang sudah dihias dengan berbagai pernak-pernik layaknya orang mantu. Bahkan di tempat itu, sudah dipasangi meja dan kursi yang sangat banyak. Tentunya untuk duduk para tamu. Dan suguhan para tamu pun langsung dibagi-bagikan. Banyak jenisnya, banyak macamnya. Keluarga Irul membawa banyak makanan dari tokonya. Bahkan orang tuanya Irul juga sudah membuat jenang dan gemblong. Makanan khas orang mantu.
Demikian juga Jamil dan Juminem, yang akhirnya harus memborong jajanan pasar di Pasar Lasem. Tentunya untuk disuguhkan kepada para tamu. Ibu-ibu dari Dusun Pancur juga memasak nasi dan lauk pauk yang enak-enak. Tentu semuanya itu nantinya akan dibagikan kepada para tamu. Maka, tamu-tamu yang datang hari itu, semuanya berpesta menyaksikan pernikahan Irul dan Melian.
Di depan, di pendopo balai desa, tertata meja dengan kursi-kursi. Irul dan Melian berada di tempat itu. Mereka dinikahkan oleh Pak Naib. Disaksikan oleh Jamil dan Juminem serta para sesepuh Dusun Pancur.
Irul mengenakan setelan jas. Sedangkan Melian, mengenakan pakaian ala Tiongkok. Dandanannya pun juga ala Tiongkok tradisional. Ia mengenakan baju warna hijau, dengan rambut yang disanggul ke atas. Di rambut itu, tertancap tusuk konde yang indah. Di lehernya terlihat liontin giok yang sangat indah. Ya, Melian benar-benar layaknya pengantin dari Cina yang cantik jelita.
Pernikahan pun dimulai. Semua mata tertuju pada pendopo balai desa. Menyaksikan acara akhad nikah antara Irul dan Melian. Hingga acara pernikahan itu pun terlaksana secara lancar dan khidmat.
Sebenarnya, saat acara pernikahan Irul dan Melian berlangsung, ada sesosok makhluk gaib yang matanya mencorong memandang ke arah Melian. Ya, sosok makhluk gaib itu adalah ular raksasa yang tubuhnya melingkar mengelilingi Dusun Pancur, sedangkan bagian kepalanya berada di batu besar yang menggantung di bukit.
Melian tahu hal itu, dari getaran gelang gioknya. Maka sejak acara pernikahan itu, Melian sudah waspada. Melian sudah bersiap. Melian akan melawan ular raksasa yang sudah mengganggu ketenteraman Dusun Pancur. Ya, Melian sudah siap bertempur. Dan tentunya bersama dengan Irul.
Ternyata, dugaan Melian benar. Ular raksasa itu ingin menggagalkan pernikahan Irul dan Melian. Maka,ular raksasa itu pun gergerak, akan mengobrak-abrik acara pernikahan Melian.
"Awas ...!!!" Melian berteriak keras, memperingatkan semua orang yang hadir di pernikahannya.
Tentu para tamu terkaget oleh teriakan Melian itu. Lantas orang-orang langsung berdiri, takut akan terjadi sesuatu.
Namun belum sempat orang-orang itu pergi meninggalkan tempat duduknya, tiba-tiba angin kencang datang menyapu halaman balai desa tersebut.
"Whuzzz ....!! Grompyangng ...!" angin itu sudah merobohkan tratak yang terpasang di halaman balai desa.
Orang-orang langsung berlarian meninggalkan tempat itu. Mereka ketakutan. Mereka berusaha menyelamatkan diri.
Melian yang tahu kedatangan ular raksasa siluman itu, ia langsung menyeret Irul. Lantas Melian meloncat kian kemari, melawan ular siluman tersebut.
"Hiya ....!!Ciaaat ..., hiayaaa ....!!!" Melian berkelebat dan berusaha menggiring ular raksasa itu agar keluar dari tempat pesta.
Irul berlari kencang. Ia menuju ke arah batu gantung yang ada di atas bukit.
"Tolong orang-orang disuruh menyingkir dari bawah bukit. Batu gantung itu nanti akan terbelah dan meluncur ke bawah. Jangan sampai ada orang yang berada di dekatnya. Berbahaya ...." pesan Irul kepada para sesepuh, yang sambil ditinggalkan pergi.
Sementara itu, Melian terus berlompatan melawan ular raksasa itu. Dan tentu kembali membawa ke persembunyian awalnya, yaitu di batu gantung.
Dan setelah sampai pada batu gantung, Irul sudah menunggu di sana. Melian meloncat dari atas kepala ular raksasa itu, lantas meloncat turun, tepat berada di depan Irul berdiri.
"Mas Irul, berikan aku ciuman ...." kata Melian yang meminta di cium oleh suaminya yang baru saja resmi dinikahkan.
Irul masih agak ragu. Tetapi ular raksasa itu sudah menurunkan kepalanya, menjulurkan lidahnya, bahkan sudah memperlihatkan taringnya. Ular itu sudah siap memangsa Irul dan Melian.
Lantas tiba-tiba, bibir Melian sudah menempel di bibir Irul. Irul pun mencium Melian dengan penuh kemesraan. Tiba-tiba, sinar hijau keluar dari gelang giok milik Melian. Dan sinar hijau itu langsung meneluarkan asap, yang lama kelamaan asap itu sudah berubah menjadi seekor naga raksasa. Naga raksasa itu langsung menyemburkan api dari mulutnya, tepat mengenai kepala ular raksasa itu. Ular itu seketika terbakar dan tidak berdaya lagi. Kepala ular raksasa itu terkapar di atas batu besar yang menjadi tempat perembunyiannya.
Irul yang masih memeluk Melian, termangu menyaksikan kejadian itu. Ternyata inilah rahasia ciuman yang diminta oleh Melian.
"Mas Irul ..., pukulkan batang kayu ini di kepala ular itu ...!!" kata Melian yang memberikan potongan kayu kepada Irul.
"Iya, Melian ...." sahut Irul yang menerima batang kayu itu, lantas ia melompat dan memukulkan potongan kayu itu tepat di kepala ular.
"Duaarrrr ......!!!!"
Kepala ular itu remuk, bersama dengan pecahnya batu besar yang menjadi tempat bersandarnya kepala ular tadi. Hal aneh langsung terjadi di situ. Bersamaan dengan terbelahnya batu besar itu, tiba-tiba memancar air yang langsung mengalir membanjiri kampung itu.
"Horeeee ........!!!!" warga Dusun Pancur langsung bersorak. Mereka bergembira, karena kekeringan yang melanda kampungnya, kini sudah berakhir. Air yang memancar itu langsung disambut dengan suka cita oelh masyarakat Dusun Pancur.
Pesta makan-makan pun langsung dilanjutkan. Dan tentunya, semua warga memberi ucapan selamat kepada Irul dan Melian, yang sudah melangsungkan pernikahan, dan juga sudah menyelesaikan masalah, sudah memberikan air untuk penghidupan warga Dusun Pancur.
"Mas Irul ..., Cik Melian .... Karena jasa-jasa yang sudah diberikan kepada kami, maka kami para sesepuh Dusun Pancur, bersepakat untuk mengangkat Mas Irul dan Cik Melian ini menjadi pemimpin kami, menjadi Kepala Dusun Pancur. Mohon penghargaan kami ini diterima." begitu kata sesepuh kampung itu, yang langsung mengangkat Irul menjadi Kepala Dusun.
Akhirnya, Melian dan Irul menjadi pasangan yang langgeng. Kutukan laki-laki yang meninggal saat mendekati Melian, ternyata sudah sirna. Mereka pun menjadi Kepala Dusun, yang memimpin rakyatnya dengan bijaksana dan membangun kampung menjadi sejahtera. Dan hingga kini, Dusun Pancur merupakan kampung yang tentram dan makmur.
------ T A M A T ------
Ikuti kisah mistis berikutnya: Petualangan manusia serakah yang mencari harta kekayaan dengan mengabdikan dirinya untuk para berhala. Baca kisahnya dalam: PULAU BERHALA
__ADS_1