GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 139: BERTEMUNYA IRUL DAN MELIAN


__ADS_3

Hari Minggu pagi.


    Setelah sejak malam Jumat Kliwon, kabut jingga yang menyelimuti puncak Gunung Bugel, setiap malam memancarkan cahaya yang menakitkan itu, tidak ada warga yang berani mendekat ke kuncak Gunung Bugel. Termasuk para juru kunci dan penjaga kebersihan makam itu. Karena cahaya jingga itu akan terlihat setelah matahari terbenam dan menghilang saat matahari terbit.


    Hingga pada malam Minggu, orang-orang yang berjaga, bahkan hampir setiap laki-laki dewasa ikut berembug untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di puncak Gunung Bugel tersebut.


    "Saya merasa aneh dengan kemunculan cahaya jingga setiap malam di puncak pemakaman .... Anak istri saya pada takut." kata salah seorang warga yang mengungkapkan ketakutan keluarganya.


    "Iya, betul .... Anak dan istri saya juga ketakutan ...." sahut yang lain, juga mengungkapkan ketakutannya.


    "Saya sendiri juga takut, kok .... Jangan-jangan itu seperti cerita kemamang ..., bola api yang memangsa manusia itu, lho ...." orang yang dari tadi mendusel teman-temannya mengungkapkan ketakutannya.


    "Iya, ya .... Kalau itu ndaru ..., kenapa sampai bisa bermalam-malam ...?"


    "Makanya saya takut ...."


    "Bagaimana kalau kita mencoba melihat ke puncak bukit, apa sebenarnya yang terjadi di sana?" usul salah seorang warga.


    "Aku takut ...."


    "Yang berani saja .... Cari orang-orang yang pemberani."


    "Jangan malam hari .... Tempat sekitarnya gelap .... Kalau sampai ada apa-apa, kita kesulitan untuk menyelematkan diri." yang lain memberi saran.


    "Kalau begitu, besok pagi-pagi setelah matahari terbit .... Bagaimana?"


    "Setuju ...!!"


    "Saya siap ...!!"


    "Saya ikut ...!!"


    "Baiklah .... Kalau begitu besok pagi semua yang akan ikut ke puncak untuk membuktikan apa yang terjadi di atas sana, berkumpul di sini. Kita berangkat bersama-sama. Jangan lupa, bawa sabit atau alat keamanan lainnya. Tolong juga ada yang membawa dadung .... Siapa tahu ada binatang buas yang akan memangsa warga. Tolong yang jadwal ronda malam ini, tetap berjaga .... Yang lainnya tidur untuk menjaga stamina tubuh kita buat besok pagi. Yang takut, tidak berani ikut ke puncak, kami mohon malam ini ikut menemani yang berjaga." Salah seorang yang terlihat sebagai orang berpengaruh di situ memberikan rencananya.


    Yang lain menyetujui rencana itu. Mereka pun mengikuti perintah orang itu. Banyak yang pulang untuk tidur, dan rencananya besok akan ikut naik ke puncak. Bahkan juga sudah ada yang menyiapkan peralatan dan senjata yang akan dibawa besok.


    Bersama dengan menyingsingnya fajar di ufuk timur, beberapa warga yang semalam tidak tidur, berjaga sambil menyaksikan cahaya jingga yang ada di puncak Gunung Bugel, mulai membangunkan warga yang rencananya akan naik ke puncak Gunung Bugel.


    "Ayo bangun ...!"


    "Ayo bangun .... Sudah siang ...!"


    "Ayo segera kumpul ...!!"


    "Kita akan segera berangkat ...!"


    Orang-orang pun mulai menggeliat dan bangun. Bersiap untuk berangkat mendaki ke puncak Gunung Bugel, ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di puncak pemakaman itu. Ada yang lengsung mengambil doran gagang pacul, ada yang membawa sabit, ada yang membawa potongan bambu, bahkan ada juga yang membawa dadung pengikat hewan ternak. Tempat di bagian bawah pemakaman bong Cina itu, yang biasa digunakan untuk parkir kendaraan pengunjung sudah penuh dengan warga yang akan ikut menyaksikan kejadian di puncak.


    Dengan dikomando oleh Pak Jagabaya dan Pak Bekel, mereka naik beriringan. Jalan setapak menuju puncak, menjadi penuh sesak berdesakan oleh puluhan warga yang pikirannya dipenuhi tanda tanya. Mereka ingin tahu penyebab memancarnya kabut jungga yang menerangi puncak Gunung Bugel. Benarkah itu ndaru? Ataukah itu makhluk alien yang datang dari luar angkasa?


    Kini mereka sudah mencapai puncak. Mencari sumber cahaya yang setiap malam mereka lihat. Karena ketika siang, saat kalah dengan sinar matahari, cahaya jingga itu pun memudar, meredup, bahkan hilang. Seperti kunang-kunang, hanya menyala pada saat malam gelap.


    Namun sinar jingga itu adalah aura. Cahaya yang memancar dari kekuatan orang-orang sakti.

__ADS_1


    "Kita berhenti dulu .... Cahaya itu mestinya berasal dari sini. Kita amati tempat ini baik-naik. Jangan sampai ada yang celaka." kata Pak Bekel yang memimpin rombongan itu.


    "Nggih ...!" jawab orang-orang yang langsung menghentikan langkahnya.


    "Cahaya itu kelihatannya muncul dari makam Dampo Awang, Pak ...." kata salah seorang yang mengamati secara seksama, sambil menunjuk ke arah makam Dampo Awang.


    "Lihat ...! Itu yang di sana ...! Bongpai itu juga bersinar ...!" salah seorang yang juga menunjukkan ada sinar yang keluar dari bongpai. Itu merupakan bongpai milik Tan Liong. Ayah dari Nenek Amak.


    Orang-orang pun terkejut saat menyaksikan bongpai yang bersinar tersebut. Mereka heran, tetapi juga takut. Ada apa kira-kira dalam bongpai itu?


    "Kita periksa, Pak ...." kata salah seorang anak muda yang cukup pemberani.


    "Jangan mendekat ...!" Pak Bayan melarang. Takut kalau terjadi apa-apa.


    "Sebaiknya kita amati sekeliling dulu .... Ada apa kira-kira .... Kita jangan gegabah. Harus hati-hati dengan kekuatan-kekuatan yang tidak kita ketahui." tambah Pak Bekel.


    "Nggih .......!" sahut orang-orang yang ada di puncak pemakaman itu.


    Maka, mereka pun lantas mengamati kawasan pemakaman itu, kalau-kalau ada yang bisa dijadikan petunjuk. Mereka melihat ke kanan kiri di kisaran tempat itu. Memang tempatnya ditumbuhi rumput dan tidak terawat. Maklum tempat ini memang jarang didatangi peziarah.


    "Lhoh ..., Pak ...!! Itu ada orang yang sedang bersemedi di situ ...!" kata salah seorang yang melihat ada sosok manusia sedang duduk bersila bersemedi.


    "Mana ...?!!" sontak yang lain langsung bertanya ingin tahu.


    "Itu .... Di bawah pohon beringin ..., dekatnya makam Dampo Awang ...." kata orang yang melihat itu sambil menunjukkan seorang laki-laki yang duduk bersila, diam tak bergerak.


    "Iya, betul ...!! Itu ..., saya melihatnya ...." sahut yang lain.


    "Iya ..., iya .... Itu orangnya ...!!" akhirnya semuanya bisa melihat orang yang bersemedi hampir menempel pada pohon beringin tersebut. Mungkin dari kejauhan, orang yang bersemedi itu tidak akan kelihatan, karena dikira bagian dari pohon beringin yang besar dan rimbun.


    "Jangan diganggu. Dia sedang bertapa brata, pasti ada yang diminta pada Yang Maha Kuasa ...." kata Pak Bekel yang tidak mau orang-orangnya menggoda meditasi seseorang. Karena menututnya, yang menggoda orang yang bertapa adalah setan.


    "He ..., lihat ...!! Itu dibawah ada perempuan yang tergeletak di bongpai!!" tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang melihat orang menggeletak di kuburan.


    "Mana ...?!"


    "Itu ...!!! Lihat di bongpai bawah itu ...!! Tubuhnya tersampir di bongpai ...."


    "Hah ..., iya ...! Coba dibantu ...!" sahut yang lain.


    Beberapa orang langsung turun, mencoba membantu perempuan yang tergeletak di bongpai, dengan posisi tersampir pada batu dindingnya. Tentu orang-orang sangat khawatir, kalau terjadi apa-apa dengan perempuan itu.


    "Pak ..., perempuan ini masih remaja .... Dia pingsan ...!" kata orang yang sudah sampai di tempat remaja perempuan itu.


    "Kita bantu, Pak ...!"


    Orang-orang itu langsung membantu, mengangkat tubuh gadis itu dari atas bongpai, yang rupanya sudah ia peluk berhari-hari disitu. Melihat dari perawakannya, kulit serta matanya, jelas anak ini memang sedang memeluk makam keluarganya. Mungkin kalau tidak ayah, ibu, nenek atau kakek. Maklum orang-orang yang datang ke situ tidak bisa membaca dan memahami tulisan yang ada di bongpai.


    "Ada yang bawa teh hangat ...?!" tanya Pak Bayan.


    "Ada ...." salah satu warga yang membawa botol berisi teh hangat langsung diberikan.


    Pak Bayan merobek daun semedro yang ada di sampingnya, lantas menuangkan sedikit teh hangat dan meneteskan ke mulut gadis itu melalui ujung daun. Bibir gadis itu sudah basah. Lantas Pak Bayan membuka bibirnya sedikit. Teh hangat dalam daun itu kembali diteteskan ke bibir.

__ADS_1


    "Ahglght ....... Uhght ..., gleght ...." gadis itu tersedak. Gadis itu langsung sadar. Membuka mata dan bingung melihat keadaan di sekitarnya yang penuh orang pada mengerubungnya.


    "Mamah .... Mamah .... Mamah .... Di mna saya?" kata gadis itu saat siuman dari pingsannya.


    "Alhamdulillah ..........." orang-orang yang mengerubung langsung mengucap syukur.


    "Mas Irul .... Mas Irul ...! Mas Irul ...!!! Huk ..., hu ..., hu ...." gadis itu memanggil Mas Irul.


    "Tenang, anak cantik .... Kami akan menolongmu .... Kami tidak akan menyakitimu .... Ayo duduklah .... Minum teh hangat ini, untuk melancarkan darahmu ...." kata Pak Bayan yang masih membantu gadis itu.


    Lantas gadis itu meminum. Satu botol diteguk terus menerus hingga habis. Menandakan ia sangat kehausan.


    "Anak ini lapar .... Apa ada yang bawa bekal?" tanya Pak Bayan pada warga yang ikut.


    "Pisang, Pak ...." jawab salah satu warga.


    "Ya, bawa sini .... Biar untuk mengisi perut anak ini." kata Pak Bayan, yang selanjutnya memberikan sesisir pisang di samping gadis yang baru siuman itu.


    "Makanlah pisan ini untuk menambah kekuatan tubuhmu ...." kata Pak Bayan.


    Gadis itu langsung mengambil satu buah. Lantas dimakan sampai habis. Setelah itu menambah lagi. Pasti anak perempuan itu tidak hanya kehausan, tetapi juga kelaparan.


    "Nonik cantik ini namanya siapa, dari mana dan di sini ada apa?" tanya Pak Bayan yang tentu diperhatikan semua oleh orang-orang yang mengerubungi gadis itu.


    "Eee ..... Saya Melian .... Rumah saya di Juwana .... Ini makam mamah saya .... Mas Irul mana?" sahut gadis cantik yang ternyata adalah Melian.


    "Mas Irul ...? Mas Irul itu siapa?" tanya Pak Bayan.


    "Mas Irul .... Laki-laki yang membantu Pak-e .... Yang menemani saya. Tadi saya melihat di sini ...." jawab Melian yang sambil tengak-tengok mencari Irul.


    "Jangan-jangan ....." salah seorang mulai berfikir ke orang yang bertapa.


    "Orang yang bertapa di pohon ringin ...." sahut yang lainnya.


    "Ya ..., itu di atas. Mungkin orang yang sedang bertapa itu ...." tambah yang lain lagi.


    "Ayo di lihat, apa yang sedang meditasi itu orangnya ...?"


    "Auch .... Sakit ...." Melian mencoba berdiri, tetapi kakinya terasa sakit semua.


    "Dibantu ...! Ayo dipapah ...!"  kata Pak Bayan memerintahkan untuk memapah Melian, naik ke tempat bagian lebih atas.


    Lantas setelah sampai di atas, orang-orang mendekatkan gadis itu ke tempat orang yang sedang bermeditasi di bawah pohon beringin. Ingin menunjukkan apakah laki-laki itu yang dicarinya.


    "Mas Irul .........!!!!" Melian menjerit, dan langsung menubruk laki-laki yang duduk bersila diam tak bergerak di bawah pohon beringin itu.


    Pasti orang yang bermeditasi itu langsung kaget. Membuka mata dan menatap orang yang menubruknya.


    "Melian .......!!!" laki-laki itu, yang tidak lain adalah Mas Irul, langsung memeluk erat tubuh Melian, yang sudah sangat ia rindukan.


    Irul sangat bahagia. Ia menangis karena terharu, sudah bisa menemukan kembali anak majikannya. Tidak hanya dari keluarga Jamil dan Juminem, tetapi juga keluarga dari Babah Ho dan Cik Lan. Maka dua orang itu terus berpelukan dan tidak mau saling melepas, karena rasa rindunya.


    Orang-orang warga kampung yang menyaksikan hal itu, sangat bersyukur. Tidak ada hal membahayakan di tempat itu. Hanya menemukan dua orang yang sedang menjalankan ritualnya masing-masing. Itu yang diketahui oleh mereka. Lantas mereka menggotong Melian yang kakinya sakit dan tidak sanggup berjalan. Memapah Irul, serta memberi makan dan minum di rumah Pak Bekel.

__ADS_1


    Tentu banyak pertanyaan yang ingin diketahui oleh warga kampung tersebut. Namun Irul mengatakan tidak tahu apa-apa. Demikian juga Melian, yang hanya menjawab kangen sama mamah dan ingin memeluk makamnya.


    Namun satu hal yang menjadi pertanyaan, sebenarnya kekuatan apa yang menyebabkan munculnya kabut jingga yang menyelubungi puncak Gunung Bugel tersebut?


__ADS_2