GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 162: TOKO LARIS


__ADS_3

    "Dek ..., tolong ujung tikar yang sana di tarik ..." kata Irul minta bantuan istrinya yang sudah menggelar tikar di tokonya.


    "Iya, Mas .... Nanti tamunya ada berapa orang?" tanya Indra balik.


    "Sekitar tiga puluh orang. Yang dua puluh orang dari para tetangga di sekitar sini, yang sepuluh orang saudara-saudara kita dari kampung." jawab Irul.


    "Pada datang jam berapa, Mas?" tanya Indra lagi.


    "Habis maghrib." jawab Irul yang tentu tahu kebiasaan orang kampung.


    Sementara itu, di dapur, ibunya Irul dan beberapa perempuan saudaranya, sudah menyiapkan minuman dan makanan, yang nanti akan disajikan untuk para tamu yang ngaji. Selain makanan kecil, juga sudah ditata nasi tumpeng dengan ingkung ayam. Ada dua tumpeng besar dengan gunungan yang disebut bucu cukup tinggi. Ini nanti akan dimakan bersama-sama oleh semua yang hadir. Nasi tumpeng yang berbentuk kerucut ini dikaitkan dengan bentuk gunung yang melambangkan sumber kemakmuran. Tumpeng ini juga berarti tempat yang dinilai sakral oleh masyarakat Jawa. Nasi tumpeng dinilai memiliki kaitan yang erat dengan langit dan surga, yaitu permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar memberi rezeki yang berlimpah. Nasi berbentuk kerucut yang menjulang ke atas ini juga merupakan harapan agar kehidupan masyarakat dapat meningkat kesejahteraannya. Lantas setelah selesai menata tumpengnya, selanjutnya diangkat dan diletakkan di ruang yang sudah digelari tikar. Nanti untuk para tamu memberikan doa.


    Sementara itu, di ruang gudang, tempat dimana barang-barang dagangan yang sudah dikirim oleh distributor disimpan oleh Irul, dua adik perempuan Irul bersama beberapa perempuan saudara dekatnya, sedang memasuk-masukkan berkat ke dalam kantong kresek yang nanti akan bagikan kepada para tamu saat pulang. Memang agak berbeda dengan biasanya. Kalau yang umum, masyarakat Lasem akan membagikan berkat di dalam kardus atau bakul plastik yang berisi nasi dengan aneka lauk. Namun kali ini, isinya berkat ada beras satu kantong plastik seberat lima kilo, satu botol minyak goreng, satu kilo gula pasir, ada kecap dan saos botol kecil, satu kaleng susu kental manis, satu bungkus teh celup dan serenteng kopi. Ini menurut Indra sebagai bahan promosi, bahwa tokonya nanti akan menjual berbagai macam sembako seperti yang dijadikan berkat kepada para tamunya itu.


    Di teras toko, bapaknya Irul bersama beberapa laki-laki tua, yang masih saudara dengan keluarga Irul, sudah duduk santai di tikar yang digelar. Tentu sambil menghisap rokok dan ngobrol berbagai hal. Yang pasti membicarakan toko yang dibangun oleh Irul dan istrinya. Tentunya orang-orang tua ini menunggu para tamu yang sebantar lagi pada datang.


    Dan setelah maghrib, para tetangga rumah baru Irul itu berdatangan. Ada Pak RT yang sudah diwanti-wanti oleh Irul untuk datang. Dan tentunya Pak Modin yang sudah dipasrahi memimpin doa. Setelah komplit, acara pun segera dimulai.


    "Bapak-bapak para hadirin semuanya, perkenalkan nama saya Irul, dan ini istri saya, Indra. Saya mengucap syukur kepada Allah, yang sudah melimpahkan suka cita kepada kami, bisa bertetangga dengan bapak-bapak semuanya di sini, dan mendapat nikmat dari Yang Maha Pemurah, yaitu sebuah bangunan toko, yang berada sebagai tetangga Bapak-bapak semua, yang rencananya besok akan kami buka. Untuk itulah kami mengundang bapak-bapak semua, tentu kami sangat berterima kasih atas kerawuhan bapak-bapak semuanya. Dan kami mohon untuk didoakan agar usaha kami untuk membuka toko sembako di sini bisa lancar dan keberkahan." kata sambutan dari Irul saat memperkenalkan diri kepada para tetangganya.


    "Aamiin ........" orang-orang langsung mengamini permohonan Irul.


    "Untuk itu, kami mohon kepada Pak Modin sekiranya sudi untuk memimpin doa. Maturnuwun ...." begitu kata-kata Irul yang selanjutnya meminta Pak Modin yang memimpin doa.


    "Mohon maaf, Pak Modin .... Ini nanti doanya selain selamatan buka toko, sekalian ngeslupi rumah ini, nggih ...." tiba-tiba bapaknya Irul usul kepada Pak Modin.

__ADS_1


    Tentu para tetangga yang hadir di situ juga paham yang dimaksud oleh orang tua itu. Bahkan memang tahu mereka, malam itu adalah syukuran dan selamatan untuk masuk rumah, atau yang istilahnya orang sana disebut dengan ngeslupi.


    Pak Modin pun paham hal itu. Maka ia pun langsung memimpin doa berdasarkan keyakinan agama yang umum dianut oleh orang Lasem.


    "Assalamualaikum .... Izin menyela bicara, kepada para sesepuh, tetua, bapak, ibu, sanak saudara sekalian .... Malam ini Mas Irul dan Cik Indra, punya hajat, memasuki rumah atau ngeslupi omah yang baru saja dibeli. Walaupun rumah ini dulu sudah ada, tetapi sudah disulap oleh Mas Irul menjadi baru lagi. Dan rencananya akan dibuat usaha membuka toko sembako .... Kita doakan agar nantinya usaha Mas Irul dan Cik Indra ini berjalan lancar, ramai dan laris, serta diberkahi oleh Allah." kata Pak Modin yang mengawali mukadimah.


    "Aamiin ........" orang-orang langsung mengamini.


    "Selanjutnya, saya selaku pribadi, dan modin di sini, serta mewakili Pak RT dan para warga semua, memohon kepada Mas Irul, Cik Indra, Bapak, Ibu, semua saudara-saudaranya, untuk menjalin tali silaturahmi. Otomatis Mas Irul dan Cik Indra akan menjadi bagian dari warga kami. Senang Mas Irul adalah senang kami, susah Mas Irul juga ikut kami rasakan. Demikian sebaliknya, suka duka warga kampung kita ini, Mas Irul juga ikut memahami." nasehat yang diberikan oleh Pak Modin kepada Irul, yang maksudnya nantinya Irul ikut guyub rukun dengan semua warga.


    "Nggih, Pak Modin ...." jawab Irul, yang paham maksudnya.


    "Monggo, semuanya saja .... Kita doakan bersama. Semoga yang menjadi niat Mas Irul dan Cik Indra serta semua keluarganya, akan dikabulkan oleh Allah. Tokonya laris. Rezeki yang diberikan adalah rezeki yang halal dan barokah. Dan diberi keselamatan dunia dan akherat ...." selanjutnya Pak Modin membacakan doa. Orang-orang yang hadir pun mengamini semua doanya.


    "Pak, silahkan dinikmati ...." kata adiknya Irul yang sudah selesai mengeluarkan hidangan.


    "Monggo, Bapak-bapak .... Ini nasi tumpengnya .... Silahkan ambil sendiri-sendiri ...." kata Pak RT yang tentunya menyuruh kepada para tamu yang ada di situ untuk menikmati nasi tumpeng.


    Pak Modin memotong kerucut nasi tumpeng, ditempatkan di piring. Lantas diberi lauk, daging ayam serta lauk-lauk lainnya. Namun tidak dimakan sendiri.


    "Mas Irul .... Ini bucu tumpeng, saya serahkan kepada sampeyan. Bucu itu dalam bahasa Jawa diistilahkan 'yen mlebu kudu ngacu' yang maknanya yang sudah masuk harus segera iikat dengan kacu. Kacu itu sapu tangan. Lha orang dulu sering menyimpan uang atau barang itu dengan cara dibungkus sapu tangan. Artinya, kalau rezeki itu sudah masuk maka harus diikat yang kencang, jangan sampai terlepas atau hilang muspro tanpa faedah. Lhah kalau tumpeng, dalam bahasa Jawa diistilahkan 'yen metu kudu mempeng' yang maknanya kalau keluar rumah untuk mencari uang atau rezeki, maka harus bersungguh-sungguh, biar mendapat rezeki yang banyak .... Begitu, Mas Irul .... Monggo bucu tumpeng ini dimakan Mas Irul, sebagai perlambang Mas Irul bekerja keras untuk mendapatkan rezeki yang banyak, barokah, bermanfaat, dan tentunya bisa digunakan untuk ibadah ..., syukur kalau bisa ke Mekah ...." kata Pak Modin yang menyerahkan bucu tumpeng kepada Irul, tentu sambil tersenyum.


    "Aamiin .... Terima kasih, Pak Modin ...." kata Irul yang menerima piring berisi bucu tumpeng tersebut.


    Para tamu yang lain pun tentunya mendengarkan wejangan Pak Modin tadi, yang pasti sangat bermakna dalam kehidupan. Setidaknya mengingatkan kepada semua yang ada di ruangan itu, kalau ingin dapat rezeki yang banyak harus kerja keras, dan kalau sudah dapat rezeki harus setiti dan gemi, jangan boros dengan foya-foya yang tidak ada manfaatnya.

__ADS_1


    "Wis, ayo monggo .... Yang lainnya ambil sendiri-sendiri ...." kata Pak Modin yang mengambil piring lagi, kali ini untuk dimakan sendiri.


     Para tamu yang lain langsung mengambil sendiri-sendiri. Makan bersama-sama, menikmati nasi tumpeng yang disiapkan oleh ibunya Irul. Rasanya enak dan lezat. Tentu sambil makan sambil ngobrol. Itu yang menyebabkan orang yang makan tidak merasa kalau sudah habis banyak.


    "Tokonya mulai buka besok, Mas Irul ...?" tanya Pak RT.


    "Nggih, Pak ...." jawab Irul.


    "Toko apa ...?" ada yang ingin tahu.


    "Laris ...." ada yang nyeletuk.


    "Maksudnya jualan apa?" warga yang ingin tahu tadi menegaskan.


    "Sembako, Pak ...." jawab Irul.


    "Nah begitu, kok .... Laris yan laris .... Namanya itu ...." orang itu ngedumel.


    "Ooo .... Namanya Toko Laris ...?" yang lain justru berkata beda lagi.


    "Ya, Pak ..., betul. Namanya Toko Laris ...." tiba-tiba Irul langsung menyaut, membenarkan kalau nama tokonya adalah Toko Laris.


    "Toko Laris, jualan sembako ...." yang lain, yang sok tahu ikut-ikutan menjelaskan.


    Ya, Toko Laris. Kemarin seharian Indra dan Irul saat akan mengajukan izin usaha bingung mencari nama toko. Saat ditanya oleh petugas, ia belum bisa menjawab nama tokonya. Tetapi, malam itu, para tetangganya justru sangat gampang memberikan nama tokonya Irul dan Indra. Toko Laris. Sebutan itu yang akan ia jadikan nama tokonya.

__ADS_1


__ADS_2