GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 151: PENGANTIN BARU


__ADS_3

    Setelah selesai acara pernikahan, Irul dan Indra, sebagai pengantin baru, belum boleh pergi-pergi. Menurut adat desa, pengantin baru tidak boleh bepergian selama sepasar, yaitu lima hari pasaran kalender Jawa. Hal itu menjadi pantangan bagi orang Jawa, jika pengantin baru bepergian sebelum genap sepasar. Jika dilanggar maka akan ada masalah yang dialami. Entah itu mengalami musibah atau masalah-masalah dalam hidupnya. Bahkan ada yang mengalami perpecahan dalam rumah tangga.


    Demikian halnya dengan bapak dan ibunya Irul, yang tentu melarang anak dan menantunya untuk bepergian. Termasuk saat ingin balik ke Juwana. Jangankan pulang ke Juwana, mau ke pasar saja tidak dibolehkan. Namun tentu, sebagai anak yang baik, Irul tidak berani membantah kata-kata orang tuanya.


    "Kamu itu manten baru .... Jangan bepergian dulu, kalau belum genap sepasar ...." kata bapaknya pada Irul, yang kala itu sedang duduk bersama Indra di ruang tamu.


    "Nggih, Pak ...." jawab Irul yang menurut.


    "Atau malah sebaiknya, kamu tidak usah balik ke Juwana .... Tinggal di sini saja .... Lha rumah ini kan kosong, tidak ada yang menempati .... Paling-paling cuman saya sama Mak-mu saja .... Adil-adikmu sudah dibuatkan rumah sendiri .... Lha warisan ini ya mestinya buat kamu ...." kata bapaknya yang tentu penginnya anak dan menantunya itu tinggal di rumah itu.


    "Lhah, kerjanya bagaimana, Pak ...?" tanya Irul yang tentu tidak mungkin untuk tinggal di rumah warisan itu.


    "Yaa, cari kerja di sini .... Kan lebih enak dan nyaman tinggal di rumah sendiri ...." kata bapaknya.


    "Masalahnya kalau cari kerja di sini susah, Pak .... Mau kerja apa ...? Di tempat Pak Jamil kan saya sudah mapan, Pak ...." kata Irul yang beralasan.


    "Lha mbok kerja di kiosnya yang dulu itu ... Itu, yang di kiosnya Babah Ho, yang di Pasar Lasem." kata bapaknya.


    "Kiosnya sudah di jual, Pak .... Sudah jadi milik orang lain." sahut Irul, yang tentu bapaknya tidak paham dengan keadaan pasar.


    "Ooo .... Lha bangkrut, apa?" tanya bapaknya.


    "Katanya disita bank .... Mungkin banyak hutang, bangkrut ...." jawab Irul.


    "Oalah .... Berarti bangkrut ...." sahut bapaknya.


    "Lha, terus .... Kami ini boleh keluar rumah kapan, Pak?" tanya Irul pada bapaknya.


    "Kalau sudah sepasar .... Besok Jumat .... Memang mau ke mana, to?" kata bapaknya, yang tentu bertanya ingin tahu mau ke mana.


    "Ya ..., mau lihat-lihat kampung .... Mosok mbegeglek diam di rumah terus ...." jawab Irul.


    "Yo ..., sing sabar .... Lihat sekeliling rumah dulu ...." kata bapaknya.


    "Nggih, Pak ...." jawab Irul.


    Mereka berdua, Irul dan Indra menurut dengan apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Tidak baik membantah kata-kata orang tua, walaupun secara akal pikiran dan nalar sehat. Tetapi bagi Indra, membantah kata-kata dari orang tua adalah pamali. Oleh Irul disebut ora ilok. Ya, mereka adalah anak yang berbakti.


    Bagi Indra, mendapat mertua, ibu dan bapak dari Irul, ibarat kata seperti mendapat orang tua baru. Maklum Indra sudah tidak punya orang tua, tidak punya papi dan mami lagi. Maka begitu ketemu dengan orang tua Irul, alangkah senangnya ia, seakan mendapatkan kembali orang tuanya. Apalagi ibunya Irul sangat memanjakan Indra, terlalu sayang dan baik pada Indra. Makanya Indra merasa tidak ingin membantahnya. Bahkan semua orang memperlakukan Indra dengan amat baik. Tidak hanya ibunya Irul, tetapi dua adik perempuan Irul juga teramat baik pada Indra. Demikian juga keponakan-keponakannya yang memanja kepada dirinya.


    Yah, tentu mereka sangat senang dan menyayangi Indra. Karena Indra adalah wanita yang cantik dan ramah. Mudah bergaul dan bisa menerima siapa saja. Bahkan tidak hanya adik iparnya atau ponakannya yang mendekat padanya, tetapi juga saudara-saudara jauh dari Irul serta para tetangga yang ingin menyaksikan kecantikan istri Irul secara dekat. Memang, bagi orang kampung di desanya Irul, Indra ini terlihat sangat cantik. Orangnya putih, dengan mata sipit, mengenakan pakaian apa saja terliahat cantik.


    Seperti siang itu, Indra membantu mertua perempuannya di dapur. Meski hanya sekadar bantu-bantu, tetapi oleh mertuanya, ia sudah dianggap sebagai menantu yang baik, menantu yang rajin, menantu yang mau membantu orang tua, menantu yang mengerti mertuanya. Sanjungan semacam itu tentu langsung menyebar ke para tetangganya.


    "Kamu itu mbok duduk saja di depan sana, sama Irul .... Tidak usah ke dapur ...." kata ibu mertuanya pada Indra.

__ADS_1


    "Tidak apa-apa, Bu .... Saya tidak bisa bengong ...." sahut Indra yang tetap ikut membantu, meski hanya cuci piring dan gelas.


    "Ya dimaafin .... Ini rumahnya Irul berantakan .... Maklum rumahnya orang desa ...." kata ibu mertuanya.


    "Tapi sangat besar, Bu .... Ini kalau di tempat saya jadi rumahnya orang se kampung ...." jawab Indra.


    "Walah .... Lha memang di kampungnya Nik Indra ini rumahnya kecil-kecil, begitu ...?" tanya ibu mertuanya.


    "Ya, kan di perumahan, Bu .... Namanya juga RSS .... Rumah sangat sederhana .... Jadi, ya ..., hanya untuk tempat tidur saja, Bu ...." jawab Indra.


    "Ooo .... Itu kemarin yang ikut kemari, saudaranya Nik Indra, ya ...?" tanya ibu mertuanya lagi.


    "Iya .... Itu tante sama om saya ...." jawab Indra.


    "Om-nya Nik Indra kayak orang Jawa, ya ...?" kata ibu mertuanya lagi, yang tentu semakin senang dengan menantunya yang bisa diajak ngobrol sambil masak.


    "Orang Cirebon, Buk ...." jawab Indra sambil menata piring dan gelas.


    "Ooo .... Cirebon itu jauh ya, Nik ...?" tanya ibu mertuanya lagi, yang tentu ingin tahu tempatnya.


    "Kalau dari sini, ya jauh, Buk .... Kalau dari Jakarta ya agak dekat." jawab Indra memberi gambaran.


    "Ooo .... Cedak Jakarta, to ...." ibu mertuanya sok merasa tahu Jakarta.


    "Tidak apa-apa .... Cuman bantu-bantu kok ...." sahut Indra yang tidak mau disuruh duduk menganggur.


    "Mosok pengantin baru kok ribet di dapur ...." kata adik iparnya lagi.


    "Lhah memang kalau pengantin baru tidak boleh ngapa-ngapain, Dek ...?" tanya Indra pada adik iparnya yang menegur itu.


    "Ya, mestinya di dalam kamar saja, Cik ..., berduaan sama Mas Irul .... Biar cepet punya keturunan .... Hehehe ...." kata adik iparnya itu, yang tentu pengin cepat punya keponakan.


    "Ih, malu lah .... Takut nanti kamu intip .... Hehe ...." sahut Indra yang tidak mau kalah digoda.


    "Ayo ..., ini masakan dibawa keluar .... Kita makan bareng-bareng ...." kata ibunya yang sudah selesai masak.


    "Ya, Mak ...." sahut anak perempuannya, adiknya Irul, yang langsung mengankat nasil di bakul.


    Indra, anak menantunya juga ikut mengangkat piring dan sendok. Dibawa ke meja depan, di ruang tamu. Di sana memang ada meja besar dengan bangku dari kayu. Masakan diletakkan di meja itu.


    "Ayo ..., makan bareng-bareng .... Biar enak dan seger ...." kata sang ibu yang keluar sambil membawa irus dan centong.


    "Ya .... Ayo makan bersama ...." sahut suaminya, yang tentu langsung berdiri menghampiri hidangan yang sudah disajikan di meja.


    "Sambelnya mana, Mak ...?" tanya salah satu menantu laki-laki, istri adiknya Irul.

__ADS_1


    "Ya ..., sebentar ...!" sahut istrinya yang masih mengusung masakan dari dapur.


    "Ini ..., sayur sup sama tempe goreng .... Ditambah sambal tomat. Nikmatnya nggak karuan ...." kata ibunya Irul.


    "Ini, ayam gorengnya ...!" kata adiknya Irul yang membantu mengangkati masakan.


    Bapaknya Irul langsung makan. Satu piring penuh, dengan sayur sup dan sambal tomat. Ditambah tempe dan ayam goreng.


    Irul ikut mengambil makan. Ia juga makan seperti bapaknya. Nikmat rasanya, makan dengan sayur sup ala desa, meski hanya kul dirajang-rajang, tetapi terasa sangat enak.


    "Dek ..., ayo makan ...." kata Irul menyuruh istrinya.


    "Iya, Mas .... Ini sudah mau ambil." jawab Indra yang sudah mengambil nasi.


    "Cik Indra, makannya yang banyak ...." adik iparnya menyuruh juga.


    "Iya, Dek .... Ini lho, sudah banyak ...." jawab Indra yang tentu mengambil semua macam lauk.


"Sini, Dek .... Duduk sini ...." Irul menyuruh Indra duduk berjejeran.


    "Iya, Mas ...." sahut Indra yang tentu menuruti kata suaminya.


    Namun Indra, yang sudah duduk dekat dengan suaminya, ia memanggil keponakan-keponakannya. Anak dari adiknya Irul. Tentu Indra langsung menyuapi keponakan-keponakan itu. Dua keponakannya menurut saja, bahkan sangat manja dengan Indra. Dua anak itu langsung disuapi oleh Indra.


    "Ayo ..., makan yang banyak .... Biar badannya kuat ...." kata Indra sambil terus menyuapi dua keponakannya yang semakin manja itu.


    "Walah ..., kok manja sama Bude ...." kata bapak anak itu.


    "Lho .... Anak-anak ini gimana ...? Kok malah ngganggu Bude ...?!" kata ibunya yang tentu kaget saat melihat anaknya disuapi oleh kakak iparnya.


    "Nggak papa, Dek .... Biar saja, ini malah habis banyak lho ...." sahut Indra yang tetap menyuapi keponakannya.


    "Yo wis ..., sana tambah lagi ...!" mertua perempuannya menyuruh Indra.


    "Ya, Bu ...." jawab Indra.


    "Lhah, Cik Indra malah tidak makan, ini ...?! Kok disuapkan ke keponakan semua ...?" kata adiknya Irul.


    "Gak papa, Dek .... Mumpung mau makan ...." sahut Indra.


    "Sekali-sekali manja, ya, Dek .... Mumpung disuapi sama bude yang cantik .... Hehe ...." kata bapaknya Irul.


    Tentu, sifat atau watak Indra yang seperti itu menyenangkan bagi keponakan-keponakannya. Apalagi adik-adik iparnya, yang tentu sangat senang melihat Indra yang walau sangat cantik, tetapi hatinya sangat baik. Dan pastinya kebaikan caciknya itu menjadi bahan cerita kepada teman maupun para tetangganya. Pastinya adik-adiknya akan bilang kalau caciknya itu baik dan ramah, sangat dekat dengan keponakannya, bahkan keponakannya didulang atau disuapi saat makan. Dan tentunya Cik Indra suami kakaknya itu tidak risih, tidak merasa jijik dan tidak canggung makan bersama keluarga dan keponakannya.


    Ya, ibarat kata, Irul memang beruntung. Mendapat istri yang sangat cantik dan baik bagaikan bidadari. Semoga indahnya masa itu tidak hanya saat pengantin baru saja. Tetpi bisa langgeng untuk selamanya. Seperti kata para ustad, Irul dan Indra bisa menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, warahmah, yang artinya hidup rukun, tenteram, dipenuhi dengan kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2