GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 102: BUAH KATA-KATA


__ADS_3

    Sementara itu, Mei Jing yang merasa sudah kalah dari Melian, wajahnya murung. Antara malu dan sedih. Terutama saat ia ditinggalkan begitu saja oleh teman-teman satu kelasnya, anak laki-laki yang awalnya pada memberi suport kepada Mei Jing. Kini ia hanya tinggal sendiri di tengah lapangan, yang sudah tidak ada orang lagi. Bahkan teman-temannya yang tadinya bersorak penuh semangat, karena merasa sakit dan malunya saat dipukul Melian tadi pagi, inginnya terbalaskan oleh Mei Jing, tapi kenyataannya justru sebaliknya. Mei Jing-lah yang menjadi bulan-bulanan oleh Melian. Maka teman-temannya yang tadinya mendukung, berbalik wajah meninggalkan Mei Jing.


    Sedangkan suhu pelatih Mei Jing, yang sempat membantunya, sudah diajak masuk oleh Sang Pendeta. Yang pasti sang pelatih itu akan mendapat marah dari Pak Pendeta, karena sudah membantu anak yang kurang tata krama. Bahkan sudah bersepakat dengan Mei Jing untuk mengeroyok Melian. Dan yang paling menyedihkan, tentunya karena sang pelatih itu baru saja dikalahkan oleh muridnya sendiri.


    Mei Jing termenung di tengah lapangan sendirian. Ada rasa jengkel dalam hatinya, karena sudah dipermalukan oleh Melian di hadapan teman-temannya. Pasti teman-temannya itu akan menceritakan kepada teman-teman yang lain tentang kekalahan dirinya tersebut. Dan pasti orang-orang, teman satu kelas, bahkan teman satu sekolahan akan menganggap kalau Mei Jing bukanlah ahli wushu yang seperti selalu dipamerkan dalam setiap pertunjukan. Nyatanya, kali ini ia benarpbenar sudah dibuat tak berdaya oleh Melian, orang yang sudah ia hina sebagai anak babu. Bahkan Melian yang mengajari dan melatih wushu adalah dirinya sendiri. Tetapi faktanya, Melian justru sudah merobohkan dirinya, bahkan bersama suhu pelatihnya di hadapan teman-temannya.


    Tetapi bagi Mei Jing, kekalahan denganMelian itu bukan membuat dirinya sadar dengan kekeliruannya. Mei Jing justru sangat benci dengan Melian. Bahkan muncul dendam yang sangat besar dalam hatinya. Ia semakin benci dengan Melian yang dianggapnya sebagai keturunan Cina rendahan itu, orang desa, anak babu yang dihamili majikannya. Mei Jing benar-benar sangat menganggap jelek pada Melian.


    Akhirnya, dengan berjalan gontai karena tubuh yang lemas dan otot yang sudah terkuras tenaganya, bahkan ada bilur pada lengan dan wajahnya, Mei Jing meninggalkan lapangan. Keluar menuju halaman depan klenteng. Lantas naik ke becak, minta diantar pulang ke rumahnya.


    "Dasar babu kurang ajar ...!! Dasar babu murahan ...!! Dasar babu gatel ...!!!" suara wanita memaki-maki.


    "Gdelompraaaang ....!!!" terdengar suara panci yang dilempar ke lantai.


    "Blught ....!!"


    "Rasakan ini .... Nyohhh ........!!!" terdengar lagi suara wanita yang seolah sedang memukul orang.


    "Huaaa huuu huk ..... Ampun, Nyah ....!! Aduh, Nyah ...!! Sakit, Nyah ...!!" terdengar suara perempuan minta ampun kesakitan.


    Mei Jing kaget sampai di depan rumahnya, mendengar suara-suara itu dari dalam rumah. Maka begitu turun dari becak, ia ingin segera berlari masuk, untuk mengetahui apa yang terjadi.


    "Eee ..., ongkosnya, Nik ....!" teriak Pak Becak yang meminta ongkos kepada Mei Jing. Karena Mei Jing berusaha langsung lari masuk rumah, dan belum membayar ongkos becak.

__ADS_1


    Maka Mei Jing keluar lagi, lantas memberikan uang kepada Pak Becak. Pak Becak langsung pergi meninggalkan jalan di depan rumah Mei Jing. Yang tentu tidak mau mendengar suara keributan yang ada di dalam rumah pelanggannya itu. Namun Pak Becak sudah menduga, pasti itu majikan perempuan sedang mengamuk ke pembatu rumah tangganya. Peristiwa semacam itu sudah biasa terjadi dan sering didengar. Paling-paling pembantunya tidak becus bekerja.


    Lantas Mei Jing masuk rumah. Ia menyaksikan pembantu di rumahnya sedang mendelosor di lantai, menangis tidak karua. Ibunya menjambak rambut perempuan yang dipanggil sebagai babu itu, dioncit berkali-kali. Sedangkan bapaknya Mei Jing duduk di kursi tamu, diam tak bergeming.


    "Ada apa, Mi ...?!!" tanya Mei Jing yang kaget melihat peristiwa itu kepada ibunya yang dipanggilnya "Mami".


    Maminya tidak menjawab. Tetapi tangannya justru menampar wajah pembantunya yang sudah tak berdaya mendelosor di lantai. Yang jelas maminya itu kelihatan benar-benar marah kepada pembantunya itu.


    Lantas Mei Jing melangkah ke arah papinya yang duduk di kursi tamu. Ia ingin tahu apa yang terjadi, maka ia pun menanyakan ke papinya.


    "Pi ..., Mami kenapa, Pi ...?" tanya Mei Jing kepada ayahnya.


    Tetapi laki-laki setengah baya yang dipanggil Papi oleh Mei Jing itu tak bergeming. Diam tak menjawab. Malah terlihat seperti termenung, ada sesuatu yang amat berat dalam pikirannya.


    "Pi ..., ini ada apa ...?! Kenapa Papi tidak lerai Mami yang mengamuk ke Yu-e ...?!" tanya Mei Jing yang menanya keras ke papinya, yang mestinya harus melerai maminya yang sedang menyiksa pembantu rumah tangga yang biasa dipanggil "Yu" dari kata mbakyu, panggilan untuk pembantu rumah tangga.


    Mei Jing kembali ke maminya. Ia sudah mulai gusar. Ada sesuatu yang tidak beres tengah terjadi di keluarganya.


    "Mi ..., ini sebenarnya ada apa ...?!" tanya Mei Jing yang sudah memegang tangan maminya yang memukuli pembantunya itu.


    "Ini ..., babu kurang ajar ...!!! Babu cluthak ...!!!" jawab maminya sambil menuding Inem, pembantunya yang masih mendelosor di lantai dan menangis.


    "Memang kenapa, Yu Inem ...?" tanya Mei Jing yang penasaran, kok sampai tega maminya menyiksa pembantunya itu.

__ADS_1


    "Inem hamil ...! Bunting ...!!" jawab maminya.


    "Hamil ...? sama siapa ...?!" tanya Mei Jing.


    "Tuh ...!!! Papi kamu, tuh .... Laki-laki mata keranjang ...!!Cluthak ...!!" kata maminya sambil melangkah ke suaminya, dan langsung menampar laki-laki yang sedang terbengong itu.


    Setelah itu, perempuan yang jengkel dan kesal serta marah itu, masuk ke kamarnya, dan membanting pintu kamar. Dan pasti menangis, mengetahui kelakuan suaminya yang sudah menghamili pembantunya sendiri. Seperti ditampar mukanya, maminya Mei Jing benar-benar malu. Kalau berita itu sampai keluar, hancurlah keluarganya.


    Mei Jing langsung kembali ke papinya. Pasti ingin pengakuan yang sebenarnya dari papinya, terkait dengan berita menyedihkan yang barusan didengar dari ibunya.


    "Pi .... Apa benar yang dikatakan Mami ...?" tanya Mei Jing penuh harap dapat jawaban kepastian dari papinya.


    "Papi kilaf .... Papi gelap mata ...." jawab papinya pelan, tetapi sangat menusuk perasaan anaknya.


    "Benar, Papi menghamili Yu-e ...?!" tanya Mei Jing ingin menegaskan pendengarannya.


    "Iya ...." jawab papinya lirih.


    Deg. Jantung Mei Jing seakan mau copot. Ia tidak menyangka kalau jawaban itu akan keluar dari mulut papinya. Tubuhnya langsung lemas. Seakan ada yang baru saja melolos otot dari badannya. Mei Jing langsung merebahkan tubuhnya di kursi, dekat dengan papinya. Diam tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya matanya yang terlihat menerwang ke atas, seakan ada yang menggelanyut di pikirannya.


    Ya, tentu Mei Jing Melian saat di lapangan, saat ia tanding dengan Melian, saat ia ingin mempermalukan Melian di hadapan teman-temannya. Namun kenyataannya, justru dirinya yang dihancurkan Melian. Dirinya dikalahkan tanpa daya. Ibarat kata, tanding lawan kosong. Mei Jing tidak sanggup menyentuh Melian, tetapi sebaliknya, ia yang menjadi sasaran pukulan-pukulan tangan dan kaki Melian. Dan yang paling diingat oleh Mei Jing, saat dirinya mengejek dan menghina Melian sebagai anak babu, dan kini kenyataannya, justru papinya sendiri yang menghamili pembantunya. Kata-kata Melian, saat ia hina, ternyata terbukti.


    Mei Jing terngiang kata-kata teman akrabnya itu, bahkan yang sudah menjadi sahabat, dan juga muridnya secara khusus dalam belajar wushu. Ia sudah menuduh sahabatnya sebagai anak babu yang dihamili majikannya. Ia juga sudah menyebar berita fitnah itu kepada teman-temannya, sehingga teman-teman satu kelasnya seperti diadu dengan Melian. Kini, semua hal yang buruk yang pernah ia sampaikan itu ternyata justru menimpa di keluarganya sendiri.

__ADS_1


    Ada perasaan yang bergejolak di hati Mei Jing. Antara ingin menyesali kata-kata yang sudah ia hinakan kepada Melian, dan ingin memberontak dengan kenyataan yang terjadi. Dirinya sudah dihancurkan oleh Melian. Kalah tanding, yang tentu membuat malu pada teman-temannya. Dan sekarang, keluarganya tercoreng oleh perbuatan papinya yang menghamili pembantunya.


    Ingin rasanya Mei Jing berlari dari kenyataan. Namun bagaimana caranya? Apakah ia harus meminta maaf kepada Melian dan kembali menjadi sahabatnya? Atau ia harus pergi jauh meninggalkan Melian, karena malu? Apakah ia harus keluar dari sekolah untuk menghindari ejekan teman-temannya? Mei Jing tidak lagi bisa memikirkan apa-apa.


__ADS_2