
Seperti yang diinginkan oleh Melian, yanitu mencari tahu bagaimana fakta yang terjadi di dunia perbankan, sehingga begitu mudah bisa menetapkan tanah dan bangunan Babah Ho yang sudah tidak ada ahli warisnya bisa dijadikan sebagai jaminan aset. Maka sepulang dari melayat, Melian langsung bilang kepada bapak dan ibunya, untuk ikut Mas Irul dan Cik Indra ke Lasem. Walau bapak dan ibunya mengatakan besok saja, tetapi Melian tetap bersikukuh untuk ikut. Akhirnya, Pak Jamil menyuruh Irul untuk membawa mobilnya pulang ke Lasem. Karena tidak mungkin berboncengan motor tiga orang.
Melian malam itu tidur di rumah Babah Ho, rumah engkongnya yang sudah lama tidak ditempati. Tetapi sudah bersih dan rapi. Ya, waktu itu sudah dibersihkan oleh Melian yang katanya dibantu oleh banyak orang. Hanya sayangnya, rumah itu gelap karena listriknya dicabut oleh PLN, sudah lama tidak membayar tagihan listrik. Makanya malam itu Melian menyalakan lampu teplok, lampu dengan bahan bakar minyak tanah sebagai penerangan rumah, yang dibantu oleh Irul dalam memasangnya. Waktu itu di Lasem masih banyak penduduk yang menggunakan lampu teplok sebagai penerangan. Ada tiga lampu teplok yang dipasang oleh Irul, yaitu di dinding teras depan, di meja ruang tengah dan di kamar yang digunakan tidur oleh Melian.
Sebenarnya Irul dan Indra sudah memaksa Melian untuk tidur di rumahnya. Namun Melian tidak mau dan memaksa untuk tidur di rumah engkongnya. Katanya ingin mengenang rumah engkongnya. Akhirnya Irul dan Indra mengizinkan, yang lantas membantu mengambilkan lampu teplok. Kebetulan di toko Irul menyediakan dagangan lampu teplok tersebut. Maklum, lampu ini masih banyak dibutuhkan masyarakat.
"Benar nich, ya .... Tidur di rumah engkong sendirian ...?" Irul ingin memastikan niat Melian.
"Iya ..., bener ..., Mas ...." jawab Melian.
"Gak takut ...?" tanya Indra.
"Ih, takut .... Memangnya Melian ini anak kecil ...." sahut Melian sambil mencibir merasa diejek oleh Cik Indra.
"Yam sudah .... Saya tinggal, ya .... Mas Irul capek .... Mau tidur dulu ...." kata Irul yang sudah melangkah menuju mobil milik Pak Jamil tersebut.
"Dah, Melian .... Tidur yang nyenyak .... Besok pagi kita ke bank untuk menanyakan keinginanmu." kata Indra yang juga melangkah ke mobil.
"Iya .... Makasih Mas Irul, Cik Indra ...." sahut Melian yang langsung masuk dan menutup pintu rumah engkongnya tersebut.
Malam itu, Melian berada di dalam rumah engkongnya sendirian. Tidur di rumah sepi tanpa teman. Mungkin bagi anak-anak normal atau orang tua lainnya, akan berfikir seribu kali untuk tidur di tempat yang tidak pernah dipakai itu. Atau sebut saja rumah Babah Ho di Gedongmulyo itu sudah kosong tanpa penghuni sekitar lima belas tahun. Kalau orang Lasem menyebutnya sebagai rumah hantu. Tempat uji nyali. Banyak uka-uka. Bahkan sering dijadikan totohan atau taruhan siapa yang berani tidur di rumah itu sampai pagi akan dibayar.
Yah, memang rumah kosong sering dikonotasikan dengan kata-kata angker. Rumah yang banyak hantunya. Apalagi rumah Babah Ho, yang oleh para tetangga diketahui semua penghuninya mati secara tragis. Cik Lan mati saat akan diperkosa dan terjatuh ke bawah jembatan. Demikian juga dengan Babah Ho dan istrinya yang meninggal karena ambulan yang ditumpangi mengalami kecelakaan. Juga tersiar kabar, cucunya Babah Ho, terbakar hidup-hidup dirumah yang dibakar oleh massa. Pasti arwah dari pemilik rumah itu masih gentayangan. Dan tentu akan mengganggu orang yang berani masuk rumah kosong itu.
Namun Melian, justru seperti menantang, ingin ketemu dengan hantu maupun arwah yang menunggu rumah itu. Tidak ada rasa takut baginya untuk tidur sendirian di rumah kosong itu. Sayangnya tidak ada orang yang tahu dan berani membayar atas keberaniannya tersebut.
Indra yang merasa khawatir dengan Melian. Tetapi bagi Irul, ia sudah biasa menghadapi Melian. Bocah pemberani yang tidak pernah punya rasa takut. Jangankan tidur di rumah engkongnya, tidur di kuburan saja ia tidak takut. Maka Irul tidak pernah mengkhawatirkan Melian.
__ADS_1
Malam semakin larut. Indra tidak bisa tudur. Meski berkali-kali mencoba memejamkan mata, namun rasa kasihan pada Melian selalu membayang di pelupuk mata. Indra khawatir dan takut, jangan-jangan Melian tidak bisa tidur. Jangan-jangan Melian didatangi hantu. Jangan-jangan Melian diganggu oleh makhluk-makhluk gaib. Jangan-jangan Melian didatangi orang jahat, dan berbagai pikiran buruk menghantui Indra. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, karena suaminya sudah tidur pulas, tidak berani membangunkan, merasa kasihan karena suaminya tentu kecapaian menyetir seharian. Indra hanya bisa memohon, agar Yang Maha Kuasa memberikan keselamatan bagi Melian.
Sementara itu, di luar rumah Babah Ho, ada beberpa pemuda kampung yang saat sore tadi, tahu kalau ada gadis cantik yang datang ke rumah itu. Mereka juga tahu kalau gadis cantik itu tidur di rumah yang kosong tersebut. Apalagi di bagian teras depan ada lampu minyak yang menyala. Demikian juga di dalam rumah itu, ada lampu yang menyala. Berarti memang gadis cantik yang masuk ke rumah itu tadi sore, tidur di situ.
Para pemuda itu pun berniat untuk mengintip gadis yang tidur di rumah itu. Tentunya mereka menunggu waktu agak malam, setidaknya suasana sudah sepi. Sehingga tidak ada yang tahu kalau mereka akan mengintip gadis cantik yang tidur.
Dan setelah suasana sepi, sekitar lima orang pemuda, mulai melancarkan aksinya. Mereka mulai mengamati, mencari di kamar mana yang terdapat lampu teplok yang menyala. Pasti di kamar itu si gadis cantik itu tidur.
Yah, benar. Melian tidur di kamar sisi kanan. Lampu teplok itu digantungkan pada dinding kamar. Tentu menerangi seluruh ruang kamar itu. Melian terlentang di atas tempat tidur di kamar itu. Tentu karena merasa sendirian di rumah itu, ia bebas untuk tidur dengan posisi sembarangan. Bahkan Melian melepas rok dan bajunya yang dirasa ribet saat dipakai untuk tidur. Melian tidak menyadari kalau di luar rumah ada pemuda-pemuda nakal yang ingin mengintip dirinya.
Ada jendela di sana. Tepat di samping tempat tidur. Jendela kayu model kuno, yang ada angin-anginnya untuk sirkulasi udara. Pas dengan yang diharapkan oleh para pemuda yang ingin mengintip tersebut. Tidak harus memanjat, hanya memasang mata di celah lubang jendela.
Tentu lima pemuda itu berebut ingin menyaksikan kemolekan tubuh anak gadis yang masih kelas dua SMA tersebut. Dengan kulit yang putih mulus, yang hanya ditutupi dua lembar kain segitiga. Pasti laki-laki yang mengintip itu langsung ngiler, menelan ludah karena menahan nafsu. Mereka pun berebut ingin melihatnya.
Malam pun semakin larut. Lima pemuda itu tidak beranjak dari pinggir jendela rumah Babah Ho. Rumah yang dulu ditakuti oleh warga masyarakat karena diyakini banyak hantunya, malam itu justru dianggap sebagai tempat yang mengasyikkan bagi lima pemuda yang mempunyai kesibukan baru. Mengintip perawan tidur.
Namun di penghujung malam itu, saat asyik-asyiknya mereka menikmati pemandangan, tiba-tiba saja mereka terkejut. Kaget dan takut bukan kepalang. Karena di belakang mereka, di tempat mereka pada mengintip orang tidur itu, sudah berdiri makhluk-makhluk yang menakutkan. Ada yang mengenakan kain pocong, yang oleh masyarakat Lasem disebut memedi pocong. Ada yang hanya berujut tulang-tulang yang bisa bergerak, yang dikatakan sebagai jerangkong. Ada yang mengenakan kain putih seperti jubah besar, rambutnya panjang terurai tidak karuan, wajahnya pucat dengan mata yang mengeluarkan darah. Ada sundel bolong yang terlihat punggungnya berlubang dengan banyak singgat yang menempel. Ada juga nenek-nenek keriput yang membawa kain panjang pengikat perut, yang oleh masyarakat disebut memedi bengkung. Dan masih banyak perwujudan hantu-hantu yang menakutkan, mengerubung para pemuda yang mengintip orang tidur tersebut. Membentuk setengah lingkaran, yang seakan mengurung lima orang pemuda yang tengah asyik mengintip gadis yang tidur.
Mendengar temannya menjerit, pemuda-pemuda yang lain langsung menoleh ke belakang. Sama seperti pemuda yang pertama. Mereka pada menjerit ketakutan. Tidak bisa lari keluar, karena sudah dikelilingi oleh hantu. Mereka pun pada jatuh pingsan.
"Kukukluruuuuukk .......!!!" suara ayam jantan keluruk. Pertanda hari sudah pagi.
Melian menggeliat, lalu bangun. Meski ia anak yang berkecukupan dan selalu dimanja oleh ibunya maupun bapaknya, tetapi selalu bangun pagi. Dan Melian bukanlah anak yang malas. Kalau di rumah, pasti membantu ibunya ikut mengurusi dapur. Dan kini, saat ia berada di rumah engkongnya sendirian, ia pun tidak mau tinggal diam. Setelah dari kamar mandi, Melian langsung memegang sapu untuk bersih-bersih.
"Toloooong .......!! Toloooong .......!! Toloooong .......!!"
Terdengar suara perempuan berteriak minta tolong. Tentu di pagi yang masih umun-umun itu orang-orang kampung langsung berlarian keluar, menghampiri perempuan yang berteriak minta tolong tadi.
__ADS_1
"Ada apa ....?!!"
"Kenapa ...?!!"
"Kok jerit-jerit ....?!!"
Orang-orang yang mendatangi langsung bertanya pada perempuan yang berteriak tadi.
"Itu .... Di sana ...! Ada orang yang tidur di makam ....!!" kata perempuan itu sambil menunjuk ke arah kuburan, di mana ia tadi melintas.
"Hah ....??!!!" orang-orang pada kaget dan heran.
"Di mana ...??!!"
"Di kuburan .... Tidur di makam ....!!" jawab perempuan itu.
Orang-orang langsung pada berlari, terutama kaum laki-laki, menuju ke kuburan yang ditunjuk oleh perempuan itu. Banyak orang yang ke sana, ingin melihat kabar yang disampaikan perempuan tadi.
Dan sesampai di kuburan, orang-orang pada kaget. Mereka mendapati ada lima pemuda yang tergeletak di kuburan. Masih tertidur tengkurap mendekap batu nisan tanpa berpakaian.
"Heh ...!!! Heh ...!!! Bangun ...!!!" bentak salah satu warga menyuruh pemuda yang masih memeluk batu nisan dengan tanpa mengenakan pakaian itu untuk bangun. Tidak hanya dibentak, tetapi juga ada yang ditendang badannya.
Tentu lima pemuda yang dibangunkan itu langsung kaget. Bingung dan lingnung.
"Hah .... Di mana, saya ...??!!" tentu ingatannya mereka sedang tidur dengan gadis yang cantik jelita. Tetapi, kenyataannya mereka justru tergeletak di kuburan, tidur memeluk batu nisan seperti layaknya sedang memeluk perempuan cantik.
"Toloooong ....!!! Toloooong ....!!! Toloooong ....!!!"
__ADS_1
Begitu sadar, kalau dirinya sedang memeluk batu nisan di kuburan, maka mereka langsung berteriak minta tolong, dan tentu lari tunggang langgang, karena malu kepada orang-orang kampung yang berkerumun melihatnya.
"Dasar bocah edan ....!! Hahahaha ....!!" orang-orang kampung tertawa geli menyaksikan lima pemuda yang lari tunggang langgang tanpa pakaian itu.