
"Halo, Putri .... Sudah tidur ...?" tanya Melian saat menelepon Putri. Ya, memang beberapa minggu lamanya, Melian tidak mau menghubungi maupun dihubungi Putri. Bukan karena tidak suka, tetapi Melian ingin menyadarkan Putri. Setidaknya agar Putri tahu kalau Melian tidak suka dengan sikap dan perilakunya, yang hanya hura-hura memuaskan nafsunya saja. Dalam istilah asingnya disebut hedonisme, yaitu perilaku yang cenderung hanya memikirkan kesenangan duniawi, cenderung berperilaku boros dan berfoya-foya, mengumbar hawa nafsu duniawi.
"Iya, Melian .... Sebenarnya aku yang mau telepon. Tapi dari tadi takut mengganggu kamu. Saya sadar, Melian sekarang sibuk." jawab Putri yang tentu merasa senang kembali mendapat teman untuk curhat.
"Tidak apa-apa .... Mama kamu sudah pulang?" tanya Melian.
"Sudah, tadi sore. Pesawat dari Jakarta transit di Makasar, baru ke Manado." jawab Putri menjelaskan kepulangan mamanya.
"Mama kamu baik ya, Put .... Perhatian sama anaknya." kata Melian menghibur Putri.
"Iya, sih .... Tapi marah-marah terus sama saya ...." jawab Putri.
"Lhoh ..., kenapa? Bukannya Mama kamu sangat sayang sama dirimu?" tanya Melian. yang tentu ingin tahu.
"Mama marah, saat tahu kalau dirimu gak tinggal di asrama lagi. Pasti Mama menuduh aku bertengkar sama kamu." jawab Putri.
"Maafkan saya, Putri .... Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya tidak ingin mengganggu kebahagiaan kamu." jawab Melian.
"Kami sudah putus, Mel ...." sahut Putri.
"Maksud Putri ...?" tanya Melian.
"Wijaya sudah meninggalkan saya. Ternyata kamu yang benar, Mel .... Memang mereka-mereka itu brengsek semua. Hanya mau merusak gadis-gadis saja .... Aku sangat kecewa, Mel .... Huk ..., hu ..., hu ...." Putri menangis. Tentu kembali sedih teringat dirinya ditinggalkan Wijaya begitu saja.
"Ya ampun, Putri .... Kok bisa ...?!" Melian bertanya.
__ADS_1
"Memang waktu itu aku sangat khawatir sama kamu, makanya aku telepon Kim Bo ..., jawabannya menyakitkan. Ternyata Kim Bo memang gonta-ganti cewek. Ibarat kata, cewek yang mau sama dia, dimanja sebentar. Habis itu, langsung ditendang, ganti sama yang lain. Habis manis sepah dicampakkan. Beruntung kamu, Mel .... Setelah itu, aku ketemuan sama Wijaya. Aku juga mengeluh ke Wijaya, dan menanyakan masalah Kim Bo. Ternyata Wijaya juga sama saja dengan Kim Bo. Dia langsung bilang putus. Lantas pergi begitu saja .... Wijaya memutus aku, Mel .... Coba bayangkan, Mel ..., aku sudah menyerahkan diriku, lantas ditinggalkan begitu saja .... Apa tidak sakit hati ini, Mel .... Huk ..., huk ..., huk .... Hatiku hancur, Mel .... Huk ..., huk ..., huk .... Diriku kini hanya sebagai sampah, Mel .... Aku tidak punya harapan, Mel .... Diriku sudah tidak berarti lagi, Mel .... Aku sudah tidak berguna lagi .... Huk ..., huk ..., huk .... Huk ..., huk ..., huk ...." Putri menangis sesenggukan, menangisi nasib dirinya yang kini sudah kehilangan harga dirinya seorang gadis.
"Jadi ...?!" Melian tanda tanya.
"Iya, Mel .... Huk ..., huk ..., huk .... Aku sudah memberikan segalanya kepada Wijaya ...." jawab Putri yang terus mengguguk menangis.
"Sampai seperti itu ...?!" Melian tanya lagi.
"Wijaya janji-janji .... Tentu aku menurut saja .... Aku terbius kata-katanya .... Makanya aku rela menyerahkan segalanya ....Huk ..., huk ..., huk ...." sahut Putri yang sangat menyesali segala yang terjadi.
"Maksud Putri ..., kamu sudah memberikan mahkota berharga milikmu?" tanya Melian yang tentu bengong. Seperti itukah pacarannya anak-anak orang kaya? Pacaran dengan kebebasan ala orang-orang tak beradab. Pergaulan yang bergaya kebarat-baratan. Mengaku gaya hidup anak moderen. Pergaulan orang berduit. Pacaran yang membebaskan segala cara, hingga melakukan larangan-larangan agama. Melanggar adat istiadat. Dan yang jelas sudah tidak menggunakan etika dan tata krama. Tidak malu pamer syahwat kepada orang lain. Sungguh keterlaluan.
"Iya ..., Mel .... Mungkin itu yang menyebabkan Mama langsung menjenguk aku. Kata Mama, ia mimpi buruk tentang diriku. Makanya ia langsung ke Jakarta, setelah telepon saya dan khawatir dengan keadaanku ...." jawab Putri.
"Mama kamu sudah tahu hal ini?" tanya Melian lagi.
"Kenapa kamu tidak menuntut Wijaya untuk tanggung jawab ...? Mestinya kamu bisa menuntut janji-janjinya ...." kata Melian.
"Aku tidak sanggup lagi, Mel .... Aku sudah tidak bisa apa-apa .... Kalau aku ngomong lagi sama Wijaya, itu artinya aku mencari penyakit, Mel .... Hatiku ini sudah remuk .... Sebenarnya aku sudah pengin bunuh diri, Mel .... Aku frustrasi. Teapi begitu aku melihat kamu dielu-elukan oleh banyak mahasiswa beberapa hari lalu di depan jurusan itu, aku membatalkan niatku untuk bunuh diri. Aku ingin minta maaf pada kamu, Mel .... Sayang waktu itu kamu tidak mendengar teriakanku. Tapi aku tetap berniat untuk mengucapkan selamat dan meminta maaf padamu. Itulah swbabnya, waktu Mama ngajak aku nyari kamu, aku langsung mau. Aku kangen sama kamu, Mel ...." kata Putri yang tentu langsung mengungkapkan isi hatinya.
"Bunuh diri ...??? Apa enaknya ...?" tanya Melian pada Putri.
"Habis .... Aku sudah tidak punya teman yang bisa melindungi diriku, tidak ada sahabat yang menjagaiku lagi. Hidupku selalu dibayangi ketakutan-ketakutan, Mel .... Huk ..., huk ..., huk ...." kata Putri yang lagi-lagi, menangis kembali.
Melian terdiam. Tidak bicara lagi. HP-nya sudah terlepas dari pipinya. Bahkan sudah mati. Angannya melayang, terbayang saat-saat indah bersama Putri. Dan yang pasti teringat dengan ketakutan Putri saat dicegat para berandal di tengah jalan. Dan waktu itu, memang Melian yang menjadi pelindung, pengaman dan pengayom Putri. Melian mengalahkan berandal-berandal yang menghadangnya. Putri sangat senang. Akhirnya Putri membelikan makan kepada Melian, sebagai tanda terima kasihnya.
__ADS_1
Lantas Melian juga teringat saat ia diajak ke kampungnya Putri di Manado. Ia diajak berwisata keliling Manado. Juga diajak makan-makanan khas bersama keluarganya Putri. Dan Melian disambut seperti saudaranya, bahkan dibelikan tiket pulang pergi. Melian sangat senang. Dan tadi siang, barusan mamanya Putri membawakan oleh-oleh untuk dirinya. Sebuah persaudaraan yang sangat mengesankan.
Namun, kini mendengar curhatan Putri yang dirusak masa depannya oleh cowok yang katanya mengaku pacar, Melian ikut prihatin. Begitu teganya laki-laki yang sudah menyakiti sahabatnya itu. Entah seperti apa remuknya hati Putri. Wajar kalau ia ingin bunuh diri. Karena laki-laki itu sudah merenggut mahkota berharganya.
Tiba-tiba saja, wajah Melian berubah menjadi tegang. Tangannya mengepal kencang. Ia amat marah mendengar curhatan nasib sahabatnya itu. Dan tanpa diketahui oleh orang lain, gelang gioknya yang berukir naga itu, mengeluarkan kilatan cahaya merah. Plassss ....! Menghilang begitu cepat.
*******
Pagi hari jam enam, berbagai stasiun televisi swasta, menyiarkan berita pagi. Yang menjadi topik berita utama adalah sebuah kebakaran di tempat diskotik. Ada siaran langsung dari tempat kejadian kebakaran.
"Selamat pagi pemirsa televisi .... Pagi ini kami berada di kawasan Tambora, tepatnya di Jalan Kalibesar, di depan gedung yang digunakan sebagai tempat diskotik dan karaoke. Sejak semalam, sekitar pukul sepuluh malam, tempat diskotik dan karaoke yang berlantai tiga ini dilalap si jago merah. Dinas Pemadam Kebakaran sudah mengerahkan puluhan mobil pemadam untuk memadamkan api. Namun butuh waktu yang sangat lama, karena api yang melalap tempat hiburan malam ini sangat besar dan menghabiskan seluruh bangunan." Penyiar televisi itu menyiarkan secara langsung dari tempat kejadian, yang tentu reporter itu menunjukkan lokasinya dengan jelas.
Secara kebetulan, Putri pas lewat di lobi asrama, yang terdapat televisi yang menyiarkan berita itu. Seketika Putri berhenti, melihat berita itu, dan pastinya ingin tahu tempat yang terbakar tersebut.
"Lhoh ....??!!" Putri terkejut. Ia ingay betul dan tahu persis gedung yang terbakar di berita itu. Yah, Putri pernah ke tempat itu. Tempat diskotik dan karaoke. Hampir setiap malam Wijaya mengajaknya ke tempat itu. Dugem.
Putri langsung berdiri mendekat di depan layat televisi. Mengamati secara seksama. Ingin tahu beritanya secara komplit. Ingin tahu nasib gedung diskotik yang sudah menjadi saksi kelamnya.
"Belum diketahui penyebab secara pasti, saat ini pihak kepolisian memasih terus memeriksa para saksi. Untuk sementara, korban jiwa yang sudah ditemukan ada dua orang pengunjung tempat diskotik tersebut, keduanya dipastikan berjenis kelamin laki-laki, namun belum diketahui identitasnya, karena luka bakar yang sangat parah. Korban meninggal sudah dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan visum. Sedangkan korban luka-luka, kebanyakan luka bakar dan luka jatuh dari lantai atas, karena melompat untuk menyelamatkan diri." kata reporter itu lagi menyebutkan korban.
Begitu mendengar korban, tiba-tiba saja Putri menjadi cemas dan khawatir. Pasti ia teringat kepada mantan cowoknya, Wijaya. Dan tentu juga teringat dengan Kim Bo. Mereka sering ke tempat itu. Mungkinkah malam tadi dua cowok itu datang ke tempat diskotik itu? Jika mereka berdua ke tempat itu, tahu tentang kebakaran itu.
"Inilah keadaan saat ini di lokasi kebakaran. Petugas pemadam masih menyisir sisa api. Nah, ini mobil-mobil pengunjung yang masih terparkir, belum sempat dievakuasi ...." kata reporter yang menunjukkan lokasi secara detail, mendekat ke lokasi terdekat yang boleh diambil gambarnya.
Deg ...! Seakan jantung Putri berhenti berdetak. Ia menyaksikan mobil-mobil yang terparkir di gedung diskotik itu. Putri hafal betul dengan mobil milik Wijaya, sedan sport warna merah. Dan tentu juga masih hafal dengan plat nomornya, yang kebetulan tadi tersorot oleh kamerawan.
__ADS_1
"Berarti Wijaya berada di tempat itu. Berarti Wijaya juga mengalami luka-luka." gumam Putri, dan langsung berlari menuju lift. Ia langsung naik ke kamarnya di lantai sepuluh. Tentu akan segera mandi, dan segera berangkat ke kampus ekonomi, untuk mencari info dari teman-temannya.
Benarm jam tujuh pagi, di fakultas ekonomi sudah ramai berita kebakaran diskotek. Dan yang didengar oleh Putri, dari mahasiswa ekonomi, Wijaya dan Kim Bo adalah korban meninggal yang terbakar di tempat diskotik.