GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 75: TIDAK KETEMU


__ADS_3

    Setelah dipimpin oleh Pak Habibi yang menjadi Presiden menggantikan Pak Harto, perekonomian Indonesia kembali membaik. Nilai rupiah semakin menguat. Krismon mulai berkurang. Daya beli masyarakat sudah membaik. Pasar-pasar mulai menggeliat, ramai oleh pembeli. Demikian juga toko-toko yang sempat tidak berani membuka karena takut di jarah, kini sudah mulai ramai. Setidaknya suasana ekonomi bangsa Indonesia sudah terlihat ramai antara penjual dan pembeli. Tidak hanya perekonomian dalam negeri, tetapi perdagangan luar negeri juga sudah berangsur membaik. Ekspor impor kembali meramaikan suasana di pelabuhan. Devisa negara kembali surplus.


    Membaiknya perekonomian bangsa ini tentu sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Terutama rakyat kecil pekerja buruh, yang kala itu memang benar-benar menderita karena kasus PHK besar-besaran sebagai dampak dari krisis moneter. Tetapi kini, setelah pabrik buka, setelah karyawan pada mulai kerja, setelah masyarakat bisa memperoleh penghasilan, ekonomi bangsa kembali bangkit.


    Pagi itu Jamil ikut Mas Tarno naik mobil box yang mengantar barang dagangan kerajinan kuningan ke Tuban. Pelanggan lama yang dulu waktu belum ada krismon sudah sering beli barang-barang kerajinan di pabriknya Jamil, dengan bos lamanya. Jamil pun pernah mengantar barang-barang ke rumah pelanggannya itu. Dan sekarang, saat Jamil kembali mengantarkan barang ke Tuban, di rumah pelanggannya, posisinya sudah berubah. Jamil bukan lagi sebagai karyawan, tetapi sudah menjadi bos.


    Memang pelanggan-pelanggan kerajinan yang dulu, pada saat krismon berhenti membeli, karena memang daya beli masyarakat benar-benar berhenti, kini setelah perekonomian kembali membaik, mereka pun kembali berbelanja untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dulu rata-rata para pelanggan ini hanya tertumpu pada produk untuk bangunan atau kebutuhan perumahan. Itu masih dengan juragan yang lama. Tetapi sekarang, setelah perusahaan kerajinan kuningan itu dipegang oleh Jamil, sudah terjadi perubahan yang signifikan. Kalau dulu hanya membuat handle pintum kunci, gembok, dan kran kamar mandi, kini perusahaan kerajinan kuningan yang bernama Bima Sakti itu justru lebih banyak meproduksi barang-barang kerajinan asesoris dan hiasan-hiasan rumah, seperti lampu, hiasan dinding serta pernak-pernik yang digunakan untuk mempercantik rumah. Bahkan juga banyak membuat trofi atau piala untuk memenuhi pesanan luar negeri.


    Pelanggan-pelanggan yang lama, yang rata-rata adalah pedagang, tentu menjadi lebih senang dan merasa lebih banyak pilihan untuk ditawarkan kepada para pembeli. Barangnya bagus-bagus, dan kualitasnya juga lebih baik. Garapannya halus dan sempurna. Apalagi perhiasan bros yang biasa dicari para wanita, lebih komplit dengan berbagai model. Ini yang laris dan diborong oleh para pedagang.


    Seperti halnya pelanggan lama dari Tuban itu, terlihat senang dan memuji Jamil yang sudah berani mengubah produk-produk andalan bosnya yang lama. Dan tentu banyak cerita yang diobrolkan, terutama upaya bertahan di masa krisis moneter. Dan pelanggan dari Tuban itu mengangguk-anggukan kepala, tanda sangat menghargai dan menghormati Jamil. Karir dari seorang buruh yang bisa menjadi bos. Pasti itu hal yang sangat luar biasa. Apalagi kalau melihat terobosan-terobosan yang sudah dilakukan oleh Jamil, ia sangat kagum. Dan akhirnya, pelanggan-pelanggan lama itu kembali bergairah untuk kulakan, berbelanja dalam jumlah yang besar.


    "Mas Tarno, nanti kita mampir di Pasar Lasem ya ...." kata Jamil memesan kepada sopir box yang mengangkut barang-barang pesanan dari pelanggan asal Tuban tersebut.


    "Siap, Pak ...." saut Mas Tarno sambil menyetir, melajukan mobil dari arah Juwana menuju Tuban. "Memang ada apa, Pak?" tanya Mas Tarno selanjutnya.


    "Ada saudara di sana yang mau saya temui ...." jawab Jamil.


    "Saudaranya laki-laki, Pak? Dia jualan di pasar, Pak ...?" tanya Tarno lagi.


    "Iya ..., tetapi bukan dagangannya sendiri .... Hanya menjadi penjaga kios milik orang ...." jawab Jamil.


    "Lhah, kok tidak disuruh kerja di tempat kita saja, Pak?" sopir itu langsung menanyakan, karena terlihat aneh.


    "Penginnya begitu .... Tapi belum tahu nanti .... Kalau misalnya saya ajak kerja di tempat kita, mau apa tidak ya?" Jamil pura-pura tanya.


    "Walah ..., ya mesti mau lah, Pak .... Masak kerja di tempat saudara sendiri kok tidak mau." sahut Tarno yang tetap konsentrasi dalam menyetir.


    "Tapi rumahnya di Lasem, Mas Tarno .... Jauh ...." kata Jamil lagi, yang mencoba menjajagi pendapat karyawannya.


    "Walah ..., ya disuruh tinggal di pabrik to, Pak .... Lha kan di pabrik juga banyak kamar kosong yang tidak dipakai. Daripada kotor dibuat rumah tikus, kan mending ada yang nempati." jawab Mas Tarno yang tentu sangat sesuai dengan yang diharapkan oleh Jamil.


    "Gitu, ya ...? Kira-kira karyawan lain mengizinkan apa tidak?" tanya Jamil, lagi-lagi ingin tahu pendapat karyawannya.


    "Lhoh ..., yang penting kan Pak Jamil .... Yang punya perusahaan kan Pak Jamil .... Karyawan itu kan anak buah Pak Jamil, ya harus menurut .... Kalau ada karyawan yang tidak mau, ya dikeluarkan saja to, Pak." tutur Tarno yang sudah menganggap Jamil adalah orang yang paling kuasa mengatur perusahaan.


    "Waaah ..., ya tidak boleh begitu, Mas Tarno .... Walaupun saya yang mimpin, tapi perusahaan itu milik kita bersama. Kita harus saling memberi masukan bagaimana baiknya .... Nanti kalau ada karyawan yang tidak setuju malah bisa membuat teman-teman tidak nyaman bekerja, akhirnya kerjanya aras-arasen, malas, ditak fokus, hasil produksinya tidak maksimal. Kamu kan tahu to, Mas Tarno ..., kenapa teman-teman kita yang lama dulu, begitu minta pesangon langsung saya beri, dan saya senang .... Itu karena kalau saya pertahankan, dia justru tidak akan bekerja dengan baik. Hasilnya, teman-teman jadi ribut terus, udur-uduran, yang mengakibatkan tempat kerja jadi tidak nyaman. Begitu, Mas Tarno ...." jelas Jamil pada karyawannya, yang juga agar mengerti bagaimana membuat suasana kerja bisa meningkatkan hasil produksi.


    "Oo ..., begitu ya, Pak ...." kata Tarno yang tentu hanya sanggup bekerja, tidak sanggup untuk berfikir bagaimana menghasilkan produk yang baik.

__ADS_1


    "Ya, iya ...." sahut Jamil.


    Tanpa terasa, mobil itu sudah masuk daerah Lasem. Dan Mas Tarno langsung membelokkan mobil box itu ke Pasar Lasem. Lalu memarkirkan di depan pasar.


    "Pasar Lasem ini, Pak Jamil?" tanya sopir box itu.


    "Iya, betul .... Matikan dulu mesinnya, Mas Tarno ngopi-ngopi dulu ...." kata Jamil yang kemudian turun dari mobil.


    "Lha, Pak Jamil?" tanya Tarno.


    "Saya dipesankan teh hangat saja .... Mas Tarno sekalian makan, kalau mau sarapan. Saya mau menemui Irul dahulu." jawab Jamil yang sudah melangkah menuju pasar.


    "Ya, Pak ...." jawab Tarno yang langsung bablas menuju warung tenda yang ada di dekat parkiran kendaraan, di depan pasar.


    Jamil tengak-tengok di teras pasar. Kios yang dijaga oleh Irul ternyata tutup. Irul tidak berjualan.


    "Nyari apa, Pak ...? Mau beli apa? Silakan lihat-lihat sini ...." kata salah seorang ibu penjaga di dekat bekas kiosnya Babah Ho itu.


    "Anu .... Saya mau mencari Mas Irul, Bu .... Apa ibu tahu?" tanya Jamil kepada ibu yang berada di kios sebelahnya itu.


    "Irul libur .... Tidak buka .... Kemarin baru saja dimarahi majikannya. Tahu majikannya galak kok ya malah  tutup .... Nanti kalau disemprot lagi, lha mbuh bocah kuwi ...." kata ibu itu.


    "Itu ..., Cina dari Semarang .... Kalau datang pasti marah-marah, yang katanya jualan gak laku-laku, yang jualan malas, tidak bisa jualan, uangnya pada hilang, dagangannya rusak ..... Wis, pokoknya macam-macam ...." kata ibu itu lagi.


    "Memang Mas Irul orangnya seperti itu, Bu?" tanya Jamil menelisik.


    "Walah, Mas .... Irul itu anaknya rajin. Jam tujuh pagi pasti sudah membuka kiosnya, jam empat sore baru tutup. Memang warungnya sepi, harganya mahal, tidak mau ngantar barang. Apalagi krismon begini .... Orang belanja jarang .... Kasihan itu Irul ...." jelas ibu tetangga kios tersebut.


    "Oo .... Begini, Bu ..., saya tak nulis surat, nanti saya titip untuk disampaikan ke Mas Irul. Boleh kan, Bu ...?" kata Jamil yang akan menitip surat.


    Maklum, zaman itu memang masih jarang telepon. Jangankan HP, telepon rumah saja yang punya hanya orang-orang kaya. Paling banter untuk menyampaikan pesan hanya melalui surat itu. Maka Jamil langsung mengambil kertas, menyobek kertas nota yang dibawanya, lantas ia tulisi pesan di belakang nota itu, "Mas Irul, tadi saya kemari, sayang tidak ketemu. Ini saya titip pesan, kalau sampeyan pengin kerja dengan saya, silakan ke Juwana. Cari alamat ini. Pokoknya kalau sudah sampai di kota Juwana, tanya saja Kerajinan Kuningan Bima Sakti. SEmoga kita ketemu. Jamil." begitu yang ditulis Jamil.


    Kertas itu lantas dilipat, dimasukkan ke amplop coklat yang ada cap perusahaan Bima Sakti. Lantas amplop itu dititipkan ke ibu penjaga kios yang bersebelahan dengan kios yang dijaga Irul.


    "Ini, Bu .... Besok kalau Mas Irul kemari, mohon disampaikan. Maturnuwun, Bu ...." kata Jamil sambil menyerahkan amplop berisi surat tersebut.


    "Iya, sama-sama .... Besok saya sampaikan." kata ibu itu.


    Jamil melangkah turun. Langsung menuju warung yang dekat dengan parkiran mobilnya. Kemudian masuk ke warung itu, mencari Mas Tarno. Masih tarno masih asyik menikmati makan.

__ADS_1


    "Kulanuwun .... Teh pesanan saya mana, Mas?" kata Jamil sambil menyenggol lengan sopirnya.


    "Walah ..., lupa saya, Pak .... Maaf, Pak .... Mbak, pesan teh hangat ...! Hehehe ...." kata Tarno yang ternyata belum memesankan teh hangat untuk juragannya.


    "Yo wis, rapopo .... Lupa itu gak ada hukumnya .... Nyuwun unjukan teh hangat, Mbak ...." kata Jamil yang kemudian memesan teh hangat pada penjualnya.


    "Nggih .... Monggo ...." sahut penjual warung itu, yang dengan cepat sudah memberikan teh hangat kepada Jamil.


    "Bagaimana, Pak ...? Sudah ketemu?" tanya Tarno pada bos-nya.


    "Tidak .... Kiosnya tutup ...." jawab Jamil.


    "Nyari siapa, Pak ...?" tiba-tiba perempuan bakul warungan itu ikut nimbrung bertanya. Biasa di pasar, segala sesuatu ditanyakan atau diberitakan tidak ada yang tabu. Makanya kalau ada berita apa-apa, di pasar cepat menyebar.


    "Cari Mas Irul .... Tapi katanya libur ...." Jawab Jamil.


    "Walah, Pak .... Kasihan Mas Irul itu .... Kalau bos-nya datang, langsung dimarah-marahi .... Bos-nya yang dari Semarang itu sangat galak ..... Tidak seperti Babah Ho, bos-nya yang dulu." kata penjual nasi rames itu.


    Jamil terdiam. Membayangkan nasib Irul. Bagaimanapun juga, dulu sudah pernah ada ikatan batin ketika Irul sering mengantarkan sembako ke rumahnya. Setidaknya sering ngobrol dan bercerita tentang kisah masing-masing. Sudah ada ikatan batin diantara keduanya. Makanya begitu mendengar berita kalau Jamil dibakar, Irul sangat terpukul, hingga pingsan.


    "Makannya sudah selesai pa belum, Mas Tarno?" tanya Jamil yang sudah menghabiskan teh hangat satu gelas.


    "Sudah, Pak ...." jawab Tarno.


    "Kalau sudah kita melanjutkan perjalanan ke Tuban .... Keburu siang ...." sahut Jamil.


    "Lha, terus ...? Mas Irul tidak dicari, Pak?" tanya Tarno sang sopir box itu.


    "Ada pesan apa ...? Besok kalau orangnya ke pasar saya sampaikan ...." kata penjual warungan itu.


    "Tadi saya sudah titip pesan pada tetangga kiosnya, kok ...." jawab Jamil.


    "Oo ...,  ya sudah ...." sahut bakul itu.


    "Sudah ..., tolong dihitung .... Habis berapa?" kata Jamil yang sudah berdiri untuk membayar.


    Lantas bakul itu menhitung, dan Jamil segera membayar dan berpamitan. Walau hampa, tidak bisa ketemu dengan Irul, tetapi Jamil sudah tahu kondisi orang yang dicarinya, dari cerita orang-orang pasar.


    Tarno langsung menghidupkan mobil box-nya. Siap untuk melanjutkan perjalanan, mengantarkan barang-barang pesanan pelanggannya.

__ADS_1


__ADS_2