GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 150: PESTA PERNIKAHAN


__ADS_3

Hari Minggu Legi, 13 Februari 2005.


    Pesta pernikahan Irul dan Indra digelar di Desa Babagan, Lasem. Tentu dilaksanakan secara meriah. Anak pertama yang sudah didahului oleh dua adiknya. Bahkan adik-adiknya sudah punya anak. Tentu orang tuanya sangat berharap sekali Irul itu segera menikah. Maklum, kalau di desa, Irul itu termasuk perjaka tua, atau yang biasa disebut "joko kaseb".


    Maka, ketika Irul menikah, orang tuanya benar-benar seperti haul. Merayakannya secara besar-besaran. Apalagi istri Irul adalah anak keturunan Cina yang sangat cantik. Pasti nanti akan menjadi pembicaraan orang di seluruh kampung, kalau istrinya Irul seperti bidadari. Dan warga masyarakat pasti akan terheran-heran dengan kecantikan istrinya Irul. Itu akan menjadi kebanggaan bagi keluarga Irul. Terutama dua adik perempuannya, yang pasti bangga punya mbakyu yang cantik.


    Seluruh pelataran di rumah Irul sudah didirikan tenda dengan rumbai-rumbai sebagai hiasannya. Sejak malam para remaja kampung tetangga Irul, menghias tempat pesta. Ada yang membuat hiasan dari janur, ada juga yang dari daun pakis dan puring. Setiap tiang tenda diberi hiasan. Daun-daun janur yang dibentuk menjadi aneka rupa hiasan hasil karya remaja desa.


    Di sisi barat halaman itu, terdapat panggung yang sangat tinggi, sekitar satu meter dari pelataran. Panggung itu ditutup karpet warna hijau. Di atasnya sudah terdapat jidur besar yang bergantungan pada tiang penyangga. Selain jidur yang besar-besar, juga terdapat rebana. Ada yang sangat besar, tetapi juga ada yang kecil. Ada juga ketipung, biola, mandolin dan icik-ick. Rencananya nanti, hiburannya adalah slamproh gambus. Musik tradisional yang masih berkumandang di daerah pedesaan yang kental dengan tradisi muslim. Slamproh gambus ini sebenarnya musik khas dari Timur Tengah. Masuk Indonesia sebagai budaya yang dibawa oleh kaum Gujarat. Kini perkembangan zaman, aliran musik slamproh gambus itu menjadi khosidah.


    Rumah Irul pagarnya yang terbuat dari papan, bagian depan dan tengahnya dilepas. Sehingga terlihat sangat terbuka luas. Di tengah-tengah terdapat kursi pelaminan dengan dekorasi panggung pengantin yang cukup megah. Orang Lasem menyebutnya dengan istilah "Paesan Padi-padi". Nanti setelah darias mengenakan pakaian pengantin, Irul dan Indra akan duduk di pelaminan itu.


    Di pinggir jalan depan rumah Irul, sebelah panggung hiburan dan jauh di sisi timur, terdapat salon-salon besar yang ditumpuk-tumpuk. Pasti nanti suaranya akan menggelegar. Biasa, orang kampung kalau punya kerja, loudspeakernya harus keras, agar semua orang bisa mendengarnya.


    Di halaman rumah Irul sudah tertata kursi-kursi tamu yang sangat banyak. Tidak hanya di halaman rumah saja, tetapi kursi-kursi itu juga tertata di sepanjang jalan depan rumah Irul yang sudah didirikan tenda. Sedangkan di lantai rumahnya, digelari tikar. Nantinya tamu-tamu yang ke dalam, mereka lemprakan atau lesehan di di tikar. Di sini mereka bisa melihat pengantin secara dekat.


    Jam sepuluh pagi, tamu-tamu sudah berdatangan. Terutama laki-laki dewasa para tetangga Irul, yang sudah duduk di kursi bagian depan. Mereka adalah among tamu. Kebanyakan merupakan saudara dari keluarga Irul. Demikian juga para orang tua perempuan. Mereka sudah duduk lesehan di depan kursi pelaminan. Irul dan Melian sudah mengenakan pakaian pengantin ala Lasem. Irul hanya mengenakan setelan jas abu-abu dan berdasi. Kepalanya mengenakan peci warna hitam. Wajahnya disaput dengan bedak tipis oleh perias pengantin. Tampak ganteng dan lebih muda. Ditambah selalu tersenyum. Bahkan tertawa kalau digoda oleh saudara atau tamu yang datang menyalami.


    Indra beda lagi. Dasarnya sudah cantik. Kuitnya putih dan mulus. Maka hanya dengan riasan sedikit saja, Indra sudah seperti bidadari. Pastinya pengantin perempuan yang mengenakan kebaya tradisional dengan dandanan ala Lasem, menjadi pusat perhatian dari para tamu yang datang. Terutama para perempuan yang iri dengan kecantikan istrinya Irul tersebut.


    Bapaknya Irul bersama ibunya, duduk disamping kanan Irul. Sedangkan Jamil dan Juminem serta Melian, duduk di samping kiri Indra. Mereka semuanya tersenyum. Tentu karena rasa senangnya di pesta pernikaha itu. Terutama orang tua Irul. Bapak dan Ibunya tersenyum terus, bahkan sering tertawa kalau disalami oleh tamu.


    Tamu-tamu dari Juwana, teman-temannya Irul, karyawan kerajinan kuningan Bima Sakti, semua datang. Ada yang mengajak anak istri. Pak Jamil menyewa mini bus untuk acara kondangan itu. Khusus untuk karyawannya. Nanti habis kondangan, mereka akan melanjutkan piknik ke Tuban dan Lamongan. Tentu sangat ramai dan meriah. Mereka satu persatu menyalami Irul. Tentunya sambil tertawa riang mengerjai Irul. Istri dan anak-anaknya pun juga ikut tertawa gembira.


    Namun ada satu yang diam dan agak merengut, yaitu Mbak Ika. Tentunya Mbak Ika agak kecewa ketika Irul menikah dan dapat istri yang sangat cantik. Wanita yang pernah ketemu di tokonya.


    Jamil, Juminem, Melian dan Mas Tarno tidak ikut piknik. Mereka menunggui mantenannya Irul dan Indra sampai selesai. Maklum, di desa acara mantenan itu satu hari satu malam.


    Tabuhan alat musik gambus mengalun merdu. Tiga orang biduan yang mengenakan pakaian gamis besar kombor-kombor dan sangat glamour, mengalunkan suaranya. Menyanyi menghibur para tamu. Dan tentunya pengantin yang duduk di pelaminan. Suaranya menggelegar di salon yang besar.


    " Sungguh senangnya pengantin baru ....

__ADS_1


    Malam pertama oh malu malu ....


    Malam kedua padamkan lampu ....


    Malam ketiga tak boleh tahu."


    Musik intro menampilkan permainan mandolin dan biol yang sangat piawai. Suaranya khas, seperti menggelitik telinga para pendengarnya. Lantas tiga penyanyi kembali mengalunkan nada indahnya.


    "Sungguh senangnya pengantin baru ....


    Malam pertama oh malu malu ....


    Malam kedua padamkan lampu ....


    Malam ketiga tak boleh tahu .... Kana ..., wahdana ..., wahdana ..., wahdan ...."


    Dari dapur, sekelompok remaja desa, putra dan putri, dengan mengenakan pakaian baju putih dan bawahan hitam, siap-siap mengeluarkan hidangan. Mereka berbaris di depan dapur. Lantas dari dalam keluar keranjang berisi kardus snack, akan dibagikan ke para tamu. Kemudian, di belakang laki-laki yang mengangkat dus snack ada dua remaja laki-laki yang mengkat krat teh botol. Keduanya berjalan bersama, mengikuti remaja putri yang sudah berada di depan, yang akan membagikan suguhan makanan ringan itu. Demikian juga dengan remaja-remaja yang lain. Mereka membagikan suguhan ke seluruh tamu. Tampak guyub, rukun dengan kerjasama yang sangat baik. Itulah yang dinamakan sinoman, remaja-remaja yang membantu di tempat orang punya kerja.


    Setelah selang beberapa menit, tentu setelah hidangan makan nasi selesai, para remaja itu kembali sibuk di depan dapur. Yang laki-laki pada mengangkat nampan ukuran besar yang terbuat dari kayu. Kemudian oleh seksi konsumsi yangmenata di di dapur, nampan-nampan itu diisi piring yang di dalamnya ada sup. Ya, kini para tamu akan disuguhi hidangan sup. Seperti tadi saat membagi hidangan snack. Remaja putri yang bertugas membagikan ke para tamu. Sedangkan yang laki-laki bagian mengangkat nampan berisi piring-piring sup. Semua tamu mendapatkan hidangan itu.


    Para remaja laki-laki mulai mengambil piring-piring kosong dan botol teh yang sudah habis. Tentu nantinya agar tidak terinjak-injak oleh para tamu yang bisa berakibat pecah. Dan tentunya juga akan mengganggu para tamu yang keluar. Makanya para sinoman langsung mengangkut piring dan botol kosong tersebut.


    Namun ternyata para sinoman tidak berhenti. Dari depan dapur, para petugas sinoman itu sudah kembali mengangkat nampan. Kali ini berisi gelas bening yang berisi es buah. Ya, para tamu akan disuguhi es buah. Tentu remaja putri yang mengenakan baju putih dan rok hitam itu langsung berbaris di deretan para tamu, untuk membagikan es buah yang dibawa oleh para sinoman. Lengkap sudah hidangan yang disajikan oleh keluarga Irul.


    Irama musik gambus terus mengalun, menghibur para tamu. Penyanyinya meliak-liuk, melantunkan lagu sambil menari. Tentu sangat menghibur para penontonnya. Ya, grup gambus "Pelipur Lara" yang cukup terkenal di kawasan Pantura Timur.


    Namun tiba-tiba, ada hal aneh yang terjadi di tengah pernikahan Irul. Saat para biduan gambus itu berhenti menyanyi, dari arah timur, di jalan kampung menuju rumah Irul, terdengar alunan tabuhan musik pengiring barongsai, kesenian ala Tiongkok. Semakin keras dan semakin mendekat. Tentu para tamu terkaget. Ada tontonan apa lagi yang ditanggap oleh keluarganya Irul?


    Maka para tamu yang semula duduk nyenyak menyaksikan gambus itu, langsung berdiri dan menoleh ke arah asal suara. Ya, ada barisan baringsai yang menari-nari menuju ke tempat pernikahan Irul.


    "Kusrsinya disingkirkan ...!" orang-orang mulai berdiri dan minggir.

__ADS_1


    "Ya, kursinya ditumpuk saja, biar digunakan untuk menari barongsai ...."


    Lantas orang-orang yang tadinya duduk di kursi yang ditata di jalan, mereka mengalah, minggir sambil mengusungi kursi ditumpuk di pinggir halaman. Jalan di depan rumah Irul pun sudah berubah menjadi panggung pentas barongsai.


    "Jreng .. dung ..jreng ... dung .. jreng ..... Jreng .. dung ..jreng ... dung .. jreng ....." alunan musik pengiring barongsai itu sangat menggelegar, meski tidak menggunakan pengeras suara, tetapi suaranya mengalahkan alunan musik gambus. Akhirnya, penabuh musik gambus itu pun menghentikan pentasnya, dan berbalik menonton barongsai yang baru datang.


    Barongsai itu ada tiga, warna oranye, warna biru dan warna merah. Tiga barongsai ini menari jejingkrakan di depan pintu masuk ke halaman rumah Irul. Dan seakan tiga barongsai itu berusaha memamerkan tariannya dihadapan mempelai. Ya, tarian itu seakan ingin masuk dan memberi selamat kepada mempelai.


    Maka para tamu yang kebetulan berada di jalan masuk ke rumah itu, minggir dan menyingkirkan kursinya, kemudian memberi tanda mempersilahkan barongsai-barongsai itu untuk masuk. Dan benar, tiga barongsai itu menari sambil meliak-liuk menuju ke halaman rumah.


    "Ayo Mas Irul ..., ayo Cik Indra ..., maju ..., sambut barongsai itu ..., beri salam ...." kata Melian yang sudah mengajak Mas Irul dan Cik Indra berjalan maju ke luar rumah.


    Maka dua pengantin itu pun berjalan keluar rumah, menuju halaman rumah, menyambut barongsai-barongsai yang sudah menunggunya. Tentu orang tuanya mengikuti di belakangnya. Demikian juga Jamil dan Juminem serta Melian yang juga berada di belakang pengantin.


    Dan saat Mas Irul serta Cik Indra sampai di depan rumah, tiga barongsai itu melakukan aksi yang sangat luar biasa. Tiga barongsai itu melakukan atraksi bertumpuk. Tiga barongsai berdiri menjadi satu, saling memanggul barongsai lainnya. Selanjutnya, barongsai yang paling atas melompat bersalto di udara. Demikian juga yang ada di bawahnya, Sedangkan barongsai yang paling bawah, berguling-guling jumpalitan. Sungguh luar biasa. Tepuk tangan pun riuh ramai dari para tamu yang menyaksikan.


    Irul mengangkat kedua tangannya. Demikian juga pengantin perempuan, yang bermaksud melambai. Tetapi tiga ekor barongsai itu melompat bergantian memberi salam pada Irul dan Cik Indra. Ini adalah ucapan selamat menempuh hidup baru.


    "Tolong ambilkan keranjang sesaji yang ada di dekat pelaminan pengantin ...." kata Irul pada saudaranya yang ada di dekatnya, untuk mengambil keranjang yang berisi aneka macam buah-buahan serta jajanan pasar. Bahkan ada juga nasi ketan, jadah, jenang dan ingkung ayam bakar. Satu keranjang penuh. Itu adalah tradisi orang desa, kalau punya kerja harus membuat sesaji.


    Yang disuruh langsung mengangkat keranjang berisi aneka makanan itu, tidak kuat seorang. Maka terus diangkat berdua.


    "Ini, Mas ..., keranjang sesajinya ...." kata orang yang mengangkat.


    "Berikan kepada barongsai itu." kata Irul menyuruh dua orang yang mengangkatnya untuk diberikan kepada barongsai.


    Dua orang itu langsung menuruti perintah Irul, memberikan sekeranjang barang sajen itu kepada barongsai yang sudah menunggu. Keranjang itu langsung diambil oleh barongsai warna merah. Lantas dua barongsai yang lain mengangguk-angguk, sebagai bertanda mengucapkan terima kasih. Lantas tiga ekor barongsai itu meninggalkan para pengantin yang ada di halaman rumah. Tentu sambil menari-nari. Bahkan dua barongsai yang tidak membawa keranjang, melompat-lompat pertanda gembira dan senang sudah mendapatkan hadiah dari pengantin. Sorak sorai para tamu pun memberi pujian pada kehebatan barongsai yang menari itu.


    Dan barongsai itu meninggalkan halaman tempat pesta. Pergi kembali ke tempat asalnya. Tidak ada yang tahu, siapa yang menyuruh barongsai itu datang menghibur tamunya Irul. Tidak ada yang tahu dari mana sebenarnya barongsai itu. Tentu orang-orang pada bingung. Apalagi pemusik gambus yang langsung menghentikan permainannya, serta biduan yang hanya bisa melenggong bingung. Tidak hanya para tamu, tetapi keluarga dan saudara Irul yang tidak pernah memesan barongsai, pasti juga bingung. Siapa sebenarnya yang mengirimkan barongsai di acara pernikahannya Irul? Dan setelah dikejar oleh anak-anak yang ingin menyaksikan lagi, barongsai itu sudah menghilang di perempatan jalan.


    Tapi Irul, tersenyum puas menyaksikan pertunjukan yang sudah menghibur para tamu itu. Dan ia, langsung menyolek pipi Melian. Melian yang dicolek pipinya langsung tersenyum senang menyaksikan Mas Irul yang bahagia dalam pernikahannya dengan Cik Indra.

__ADS_1


__ADS_2