
Hari itu, sekitar jam sepuluh, Jamil meminta diantar Mas Tarno ke dealer motor. Ya, Jamil ingin membeli sepeda motor. Sudah lama ia menginginkan punya motor, semenjak motor bututnya ikut terbakar bersama rumahnya yang diamuk masa. Tentu, kini setelah perusahaannya sudah punya uang cukup, keiinginan beli motor itu akan dipenuhi. Setidaknya kalau ada motor, ia bisa mengantar anak dan istrinya bepergian ke mana-mana. Apalagi kalau bisa kembali memboncengkan Juminem, pasti ia tidak akan marah-marah melulu.
"Kok hanya beli motor, Pak? Tidak beli mobil sekalian?" tanya Tarno sang sopir box yang menyetir menuju toko motor.
"Mas Tarno .... Perusahaan masih butuh banyak uang untuk pemulihan modal. Motor saja, nanti bisa dipakai juga untuk wira-wiri para karyawan." jawab Jamil yang duduk di sebelah kiri Mas Tarno.
"Tapi untuk keluarga kan lebih nyaman pakai mobil, Pak ...." sambung Mas Tarno lagi.
"Tidak baik menimbun harta, Mas Tarno .... Yang penting cukup saja .... Jangan terlalu mewah-mewah .... Harta benda tidak akan dibawa mati .... Percuma menimbun harta benda, toh nanti kalau sudah mati yidak bisa menghidupkan lagi. Justru yang penting itu amal-amalnya, Mas Tarno ...." sahut Jamil sambil menceramahi karyawannya itu.
"Betul juga ya, Pak .... Bahkan nanti kalau mati, hartanya jadi rebutan ahli warisnya, yang akhirnya malah jadi masalah ...." jawab Tarno yang sedang nyopir itu.
"Apalagi, Mas Tarno .... Tempat usaha kita ini dahulu kan milik Pak Bos. Meskipun sudah diserahkan ke saya, dan saya kelola, tetapi besok kalau Pak Bos sudah keluar dari penjara, rencananya akan saya kembalikan ...." kata Jamil yang tentu mengagetkan Mas Tarno.
"Lho, Pak ...?! Jangan, Pak .... Nanti bisa bangkrut lagi .... Terus, karyawannya tidak dibayar lagi ...." sahut Mas Tarno tegas, tidak ingin kalau perusahaan itu dikembalikan ke bosnya yang lama.
Namun Jamil belum menjawab, mobil box yang sekarang di kanan kirinya ada tulisannya "Kerajinan Kuningan Bima Sakti" itu sudah berhenti di depan dealer motor yang terbesar di Juwana.
"Sini, Pak ..., ini dealer motornya ...." kata Mas Tarno pada bos-nya.
"Ya .... Mas Tarno ikut turun, temani saya milih motor. Saya ndak mudeng, Mas ...." kata Jamil yang mengajak karyawannya itu ikut masuk ke dealer.
"Walah, Pak .... Pokoknya beli yang bagus ...." kata Mas Tarno yang tentu menyuruh bos-nya untuk beli motor yang bagus.
Dua orang itu akhirnya masuk ke showroom. Melihat-lihat motor yang dipajang di ruangan. Cukup banyak jenis dan bentuknya. Ada motor bebek, ada motor laki, dan ada juga trail dan motor yang tinggi besar. Banyak pilihannya.
"Pak ..., yang ini keren ...." kata Mas Tarno sambil memegang motor laki yang lumayan besar.
"Jangan, Mas .... Itu harganya mahal .... Yang motor bebek saja .... Biar besok kalau Melian mau latihan bisa menaikinya ...." kata Jamil yang juga sudah mengelus-elus motor bebek.
"Oo, begitu .... Ya, ini yang pas, Pak ...." sahut karyawannya itu menambah keyakinan Jamil untuk memilih kendaraan yang akan dibelinya.
Bersamaan dengan itu, datang seorang wanita cantik menghampiri Jamil dan Tarno. Dia adalah sales di dealer itu.
"Pengin beli kendaraan yang mana, Pak ...?" tanya wanita sales itu.
"Yang ini, Mbak .... motor bebek warna merah ...." sahut Jamil yang sudah sangat senang dengan motor yang dipeganginya.
"Yakin yang ini ...? Tidak mau yang ini ...?" kata sales itu sambil menunjukkan motor laki yang gagah dan keren.
"Tidak, Mbak .... Biar anak saya nanti bisa naik. Anak saya perempuan,kok ...." jawab Jamil yang sudah mantap dengan motor bebek yang dipilihnya.
"Oo .... Ya, Pak .... Ini bagus juga untuk cewek ...." kata sales perempuan itu.
"Berapa ini harganya?" tanya Jamil.
"Yang ini cuman tiga jutaan, Pak .... Tidak sekalian beli untuk Bapak sendiri ...? Yang motor laki-lakia ini, Pak?" kata sales itu, yang juga menawarkan jenis motor yang lain.
"Uangnya tidak cukup, Mbak ...." sahut Jamil datar.
"Bisa kredit kok, Pak ...." kata sales itu lagi.
"Wah, Mbak ..., kalau kredit saya tidak berani. Bunganya bisa mencekik leher .... Takut gantung diri gara-gara tidak bisa membayar utang." kata Jamil yang antipati dengan utang.
"Ah ..., Bapak bisa saja ...." kata sales itu.
Selanjutnya sales itu mengajak Jamil duduk di tempat administrasi pembayaran. Tentu untuk menyelesaikan pembayaran serta menyerahkan syarat-syarat, yaitu KTP untuk pembuatan kelengkapan surat-surat motor berupa BPKB dan STNK. Jamil pun membayar secara kontan. Dan tentu yang terpenting adalah alamat pengiriman kendaraan tersebut.
"Kendaraannya di kirim ke mana, Pak?" tanya perempuan cantik yang berada di bagian administrasi.
__ADS_1
"Di rumah saya .... Kampung Naga. Nanti kalau sudah masuk Kampung Naga, langsung di rumah kuno yang ada halamannya cukup luas itu. Tanya saja rumah Kang Jamil ..., orang-orang sudah pada tahu." kata Jamil yang memberi arah rumahnya.
"Iya, Pak .... Nanti akan saya sampaikan kepada armada yang mengantar. Terima kasih ya, Pak .... Besok beli lagi ya, Pak ...." kata perempuan cantik itu.
"Hehehe .... Uangnya siapa, Mbak ...." Jamil tersenyum.
*******
Siang baru saja lewat. Melian baru saja pulang sekolah. Tentu setelah anaknya masuk rumah, Juminem langsung menutup kembali pintu rumahnya. Setidaknya ia mengurus anaknya di dalam rumah. Mulai dari ganti pakaian sampai makan siang bersama anaknya. Itu kebiasaan Juminem di siang hari setelah anaknya pulang sekolah. Bahkan ia selalu minta Melian untuk tidur siang sebentar. Paling tidak merebahkan punggungnya setelah dari pagi sampai siang duduk di bangku sekolah. Nanti sore, jika ada temannya main ke rumah, kondisi fisik anaknya sudah tidak terlalu capai. Demikian Juminem sendiri. Setidaknya ia bisa merebahkan tubuh sejenak, setelah dari pagi sudah sibuk di dapur, dan setelah selesai masak, ia sibuk dengan pekerjaannya menjahit. Maka ia juga butuh istirahat.
"Permisi ...!! Kulanuwun ...!!" suara orang uluk salam di depan rumah Juminem.
Mendengar suara orang datang, tentu Juminem bergegas bangun dari rebahannya di dipan tempat tidur.
"Melian .... Itu ada orang kasih salam di depan rumah, siapa, Ya ...?" tanya Juminem pada anaknya.
"Tidak tahu, Mak ...." sahut Melian yang tetap rebahan di tempat tidurnya.
Akhirnya Juminem melangkah ke ruang depan. Kemudian ia mengintip dari balik jendela. Terlihat ada dua orang laki-laki memakai seragam baju putih ada garis-garis merah, berdiri di teras rumahnya. Lantas Juminem melirik lagi. Di depan rumah, di halaman, ada mobil bak terbuka juga warna putih pakai sleret merah, terparkir. Di atas baknya, terlihat sepeda motor yang berdiri dan terikat. Ya, sepeda motor baru.
Juminem lari ke dalam, ke kamar anaknya. Ia tergopoh-gopoh, ingin memberi tahu anaknya.
"Melian .... Sini ...." kata Juminem sambil melambaikan tangannya tenda memanggil anaknya.
"Ada apa, Mak ...?" tanya Melian.
"Sini .... Ada mobil mwmbawa motor baru .... Greeess ...." kata Juminem yang langsung menyeret lengan anaknya, diajak menengok ke luar rumah.
"Permisi .... Kulonuwun ...." suara laki-laki itu terdengar lagi, bertepatan Juminem berada di depan pintu.
Maka Juminem pun langsung membuka pintu rumahnya.
"Apa benar ini rumah Pak Jamil?" tanya salah seorang yang ada di teras itu.
"Benar .... Memang ada apa, ya?" tanya Juminem lagi.
"Ini, Bu .... Kami mau mengantarkan motor ...." kata orang yang ternyata pengantar motor dari dealer itu.
"Lhoh, motornya siapa?" Juminem kaget dan bingung.
"Pak Jamil, Bu .... Tadi Pak Jamil yang beli ke tempat kami. Ini kami disuruh mengantar ke rumah ...." sahut laki laki pegawai dealer itu.
"Wealah .... Tenan to iki ...? Wee .... Nduk ..., Melian ..., Ini Nduk, motornya Pak-e...." Juminem langsung girang, senang bukan kepalang. Tentu langsung turun dari teras dan menuju mobil bak terbuka itu, melihat motor baru yang dibeli oleh suaminya.
Demikian juga Melian. Sampai umur sepuluh tahun sekarang ini, baru kali ini ia melihat motor di rumahnya. Dan tentu, Melian juga senang bapaknya beli motor baru. Bocah segede itu, belum pernah membonceng motor. Hanya saat bayi saja, ketika diantar oleh Jamil dan Juminem pulang pergi ke rumah engkongnya. Pasti Melian sudah tidak ingat atau bahkan belum tahu. Itu saja memakai motor butut. Maka dengan diturunkannya motor baru yang dibeli oleh bapaknya, ia sangat senang. Langsung terbayang dibenaknya, nanti saat ayahnya pulang, ia akan diboncengkan naik motor.
Dua orang pegawai dealer motor itu menurunkan motor bebek yang baru. Pelan-pelan, agar tidak lecet.
"Ditaruh di mana, Bu?" tanya karyawan itu pada Juminem.
Juminem dan Melian yang membuntuti dua laki-laki pegawai dealer yang menurunkan motor itu bingung. Mau ditempatkan di mana motor baru itu.
"Di mana, Ya....???" Juminem malah bingung.
"Saya letakkan di teras sini, ya ..., Bu ...?" kata para pengantar motor itu, yang sudah menyetandarkan motornya.
"Eh, ya ..., ya ..., ya ...." jawab Juminem gugup.
"Nah, Bu .... Ini kunci kontaknya, terus ini buku pedoman pemilik motor ..., dan yang ini surat bukti pengiriman. Mohon Ibu tanda tangan di sini .... Bukti kalau barang sudah sampai di rumah pembeli." kata salah seorang pengantar itu yang menyodorkan kertas untuk ditanda tangani oleh penerima, ia juga meminjami ballpoint kepada Juminem untuk tanda tangan.
__ADS_1
Juminem menerima semuanya. Kunci kontak, buku-buku dan tentu menandatangani surat pengantaran barang yang diminta oleh karyawan itu.
"Terima kasih ya, Bu .... Barang sudah kami antar, dan kami mau balik ke toko motor lagi." kata para pengantar motor tersebut berpamitan.
"Eeh, Mas ..., tidak minum dulu ...?" Juminem yang saking bingungnya hingga lupa menyuguh minum untuk orang-orang yang sudah mengantarkan motor baru itu.
"Tidak usah, Bu .... Kami harus segera balik ke toko." sahut karyawan itu yang langsung menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Juminem.
Sepeninggal dua orang pengantar motor tadi.
"Uwih ..., Mak .... Apik, Mak ...." kata Melian yang sudah meraba motor yang distandarkan di teras rumahnya.
"Iya, Mel .... Bagus banget ....Ini Pak-mu beli motor bebek untuk siapa, ya ...?" kata Juminem yang tentu ingin tahu.
"Paling-paling untuk Mak-e .... Hehehe ...." jawab Melian sambil nyengenges.
"Lhah .... Mak-e tidak bisa naik motor, ya ...." sahut ibunya.
"Ya besok suruh ngajari Pak-e .... Biar nanti kalau ke pasar bisa naik motor ...." kata Melian yang menyuruh ibunya untuk minta diajari naik motor.
"Takut ..., Nduk ...." sahut Juminem.
"Ya sudah, besok Melian saja yang naik .... Melian minta diajari sama Pak-e, ah ...." kata anaknya yang tentu senang seandainya besok bisa naik motor.
Hingga sore, dua perempuan ibu dan anak itu mengelus-elus motor baru yang terparkir di teras rumahnya. Dan sampai Jamil pulang, lantas menyapa anak dan istrinya itu, dua orang anak dan ibu itu tidak tahu, karena saking asyiknya memerhatikan motor dengan cerita masing-masing.
"Ehm ..., ehm ...!" Jamil pura-pura berdehem, untuk memberitahu kedatangannya pada anak dan istrinya.
"Eee ..., Pak-e ...." Melian langsung menubruk bapaknya. Lantas katanya, "Pak-e beli motor baru, ya ...."
"Iya .... Bagus nggak?" sahut Jamil yang sudah diseret anaknya menuju ke tempat motor berada.
"Bagus, Pak .... Melian suka. Mak-e juga suka ...." jawab anaknya.
"Kang ..., kok beli motor bebek, ini untuk siapa?" tanya Juminem.
"Ya untuk kita .... Nanti kalau Melian sudah besar biar bisa pakai ...." jawab Jamil sambil tersenyum.
"Oo .... Nanti aku diboncengkan ya, Kang ...." kata Juminem mulai memanja pada suaminya.
"Iya ...." jawab Jamil dengan senyum manisnya.
"Melian juga ya, Pak ...." sahut anaknya.
"Iya, Sayang ...." Jawab Jamil sambil mengangkat tubuh anaknya dan dinaikkan ke atas jok motor.
"Mau diboncegkan sekarang, Pak...?" tanya Melian yang senang karena sudah dinaikkan di atas motor.
"Sebentar, Sayang .... Pak-e mau mandi dahulu .... Nanti habis Pak-e selesai mandi, saya ajak muter-muter ...." sahut Jamil menjanjikan pada anaknya.
"Asyiiik ...." Melian sangat girang akan diajak muter-muter naik motor.
"Aku juga ya, Kang ...." timpal Juminem.
"Iya .... Asal tidak cemuruan lagi ...." jawab Jamil sambil melangkah masuk rumah.
"Iiih ...!!" Juminem yang mengejar suaminya, lantas mencubit pinggang Jamil.
Jamil yang dicubit pinggangnya membalas dengan meremas pantat istrinya. Juminem kaget, langsung memeluk pinggang Jamil, dan kepalanya sudah dibenamkan ke dada suaminya. Ia terseret mengikuti langkah suaminya yang terus berjalan. Hingga akhirnya, dua orang itu pun sudah masuk ke kamar mandi.
__ADS_1