
Pagi itu, setelah sarapan pagi, Jamil mengantar para tukang pulang ke Juwana. Namun Juminem dan Melian masih tinggal di rumah engkongnya. Tentu karena masih ingin menikmati rumah indah yang baru saja direnovasi itu. Seandainya Melian tidak sekolah, ingin rasanya tinggal di rumah itu selamanya. Tetapi sebagai tanggung dalam belajar, maka Meliantidak bisa meninggalkan sekolahnya.
Setelah keberangkatan Jamil mengantar pulang para tukang, Juminem mengajak Melian jalan-jalan. Dan tujuan pertama adalah tempat penjual sarapan. Ya, ke warung sarapan yang ada di dekat dengan rumahnya. Sehingga hanya jalan kaki sebentar saja sudah sampai. Penjual sarapan yang biasa dibeli oleh para tukang. Dan saat sampai di warung sarapan tersebut, tentu orang-orang yang ada di situ langsung memandangi Juminem dan Melian. Maklum, orang baru yang belum dikenal oleh penduduk kampung itu.
"Bu ..., mau beli sarapan ...." kata Juminem pada bakul sarapan yang masih sibuk meladeni para pembelinya.
"Iya .... Mau dimakan di sini apa dibungkus ...?" tanya si penjual.
"Makan sini ya, Nduk ...." Juminem bilang pada Melian.
"Ya, Mak .... Biar bisa nambah kalau kurang ...." jawab Melian. Lantas mereka duduk di dingklik warung itu.
"Sampeyan rumahnya mana ...?" tanya salah satu pembeli yang masih antri di situ.
"Itu .... Rumah yang baru diperbaiki itu .... Rumahnya Babah Ho ...." jawab Juminem sambil menunjuk ke arah rumahnya.
"Ooo .... Warga baru, to ...?" tanya yang lain.
"Belum, Bu .... Kami belum menempati rumah itu .... Baru diperbaiki ...." jawab Juminem.
"Besok kalau ngeslupi, kami diundang bancaan, ya ...." kata pembeli yang lain.
"Iya, Bu .... Kalau slametan kami undang ...." jawab Juminem.
"Ini mau makan apa, Nonik Cantik ...?" tanya penjual sarapan itu, yang tentu menyanjung Melian.
"Nasi pindang .... Minumnya es teh ...." jawab Melian.
"Walah ..., es-nya tidak ada .... Pagi-pagi bakul esnya belum bangun .... Teh hangat saja, ya ...." kata si penjual.
"Ya ...." jawab Melian.
"Ini, teh hangatnya .... Nonik cantik ini namanya siapa?" tanya bapak yang memberikan gelas teh hangat, suami bakul sarapan itu.
"Melian ...." jawab Melian.
"Melian ini cucunya Babah Ho, Pak .... Yang punya rumah di depan sana itu ...." kata Juminem menjelaskan kepada bapak yang membuatkan teh hangat.
"Lhoh ..., cucunya Babah Ho ...?! Berarti anaknya Koh Liem ...?! Anaknya Cik Lan ...?!" tanya bapak yang membantu istrinya itu.
"Betul, Pak .... Melian ini putrinya Cik Lan .... Sejak kecil saya yang merawat, yah ..., malah kayak anak saya sendiri ...." jawab Juminem yang tentu tidak akan menutupi tentang keluarga dari Melian tersebut. Mau tidak mau, besok pasti juga akan ditanyakan silsilahnya, karena mengaku sebagai pewaris rumah Babah Ho, dan mengatakan kalau Melian adalah cucu Babah Ho.
"Walah .... Ini benar anaknya Cik Lan ...? Lha kok sudah perawan begini .... Waduh ..., lama tidak tahu, ngerti-ngerti sudah jadi perawan." kata ibu penjual sarapan itu.
"Ooo ......" Tentu orang-orang yang lain, yang masih antri beli sarapan di situ, ikut tahu kalau Melian ini adalah cucunya Babah Ho, anaknya Cik Lan.
"Lhah ..., ini tinggal di Semarang apa di mana ...?" tanya bapak yang masih membuatkan teh dan kopi pada pembelinya.
"Kami tinggal di Juwana, Pak .... Tukang-tukang yang kemarin memperbaiki rumah itu tetangga kami." jawab Juminem sambil menikmati nasi pindang.
"Ooo ...... Lha saudaranya yang dari Semarang itu kok sekarang tidak pernah kelihatan lagi?" tanya si bapak itu lagi.
"Koh Han, ya ...? Sudah meninggal, Pak .... Memang dulu sering kemari, to ...?" kata Juminem, dan tentu ingin tahu.
"Innalillahi ......." orang-orang yang ada di warung itu langsung berucap.
"Iya .... Dulu si Han itu yang sering kemari menawarkan rumahnya Babah Ho itu untuk dijual. Tetapi tidak ada yang mau .... Entah kok terus hilang begitu saja .... Ternyata sudah meninggal, to ...." kata si bapak, yang biasa kalau di warung tentu sering ada transaksi-transaksi antar maklar.
"Iya, Pak ...." sahut Juminem yang tetap sambil menikmati makan. Dengan mendengar penuturan warga sekitar, tentunya ia jadi tahu sedikit-sedikit tentang sejarah rumah itu dan keluarga Babah Ho.
"Lha kalau tinggalnya di Juwana, terus rumah ini besok yang nempati siapa ...?" tanya ibu penjual sarapan itu, disela-sela meladeni para pembelinya.
"Ya ..., besok kalau Melian sudah nikahan .... Hehe ...." jawab Juminem sekenanya.
__ADS_1
"Memang sudah punya pacar, Nik ...?" tanya bakul itu.
"Belum .... Masih sekolah ...." jawab Melian agak jengkel ditanyai soal pacar.
"Nanti kalau liburan, kami mau ke sini .... Setidaknya sambil bersih-bersih." tambah Juminem.
"Ya ..., sama sarapannya di Mak Ijah, ya .... Hehe ...." kata si bakul itu sambil tertawa.
"Lhah, berarti nanti rumahnya kosong lagi ...? Apa nggak sayang sudah dibangun bagus-bagus kok nggak ditempati ...?" tanya pembeli yang lain, yang tentunya juga tetangga di situ.
"Di sini nanti ada Mas Irul yang ngurusi, kok ...." jawab Juminem.
"Saudaranya ...?" tanya orang-orang yang jajan.
"Iya .... Itu lho, yang punya Toko Laris yang jualan sembako itu ...." jawab Juminem.
"Ooo .... Toko Laris tempatnya Cik Indra itu ...?" sahut orang-orang yang tentu sudah banyak yang kenal dengan pemilik Toko Laris.
"Betul ...." jawab Juminem.
Tentu para tetangga itu langsung mulai akrab dan berbaik kepada Juminem dan Melian. Tentunya mereka menganggap kalau Juminem ini nanti akan menjadi tetangganya. Yang tentu akan merubah rumah Babah Ho menjadi asri kembali. Setidaknya di rumah Babah Ho nanti ada yang menempati. Tidak kosong seperti kemarin-kemari dulu, yang justru menjadikan orang-orang takut kalau mau lewat melintas di jalan situ. Tetapi sekarang, setelah rumah itu direnovasi, jalannya menjadi terang, bahkan teras rumahnya juga terang benderang.
"Sudah Bu .... Berapa ini habisnya ...? Saya nambah mendoan satu .... Melian nambah apa, Nduk?" kata Juminem yang sudah selesai makan.
"Saya nambah heci satu .... Sama minta ini ya, Mak ...." kata Melian yang menunjukkan kerupuk bakar pasir satu bungkus yang sudah dipegangnya.
"Lha kok tergesa, lho ...." kata si ibu penjual sarapan itu.
"Gantian yang lain, Bu ...." jawab Juminem.
Dan setelah membayar, Juminem dan Melian pun kembali ke rumahnya. Pastinya masih akan menata barang-barang peninggalan engkongnya. Akan ditata lagi biar rapi dan tentunya sambil dibersihkan dari debu-debu yang menempel.
Juminem dan Melian sudah menyiapkan ember berisi air sabun serta lap yang akan dipakai untuk membersihkan. Mereka berdua duduk di depan lemari bipet. Lemari kuno yang terbuat dari kayu jati dengan ukir-ukiran khas Jepara. Lemari hias yang sempat ngetren pada zamannya. Model bipet tahun delapan puluhan. Bagian atasnya ada kotakan memanjang dengan tutup kaca. Di ktakan atas ini terdapat cangkir-cangkir keramik bagus-bagus, yang rupanya koleksi dari neneknya Melian waktu itu. Lantas di bawahnya terdapat kotakan-kotakan yang lebih kecil, di sisi kanan dan sisi kiri. Pada kotak ini tidak ada tutupnya. Di kotak yang kanan terdapat boneka kucing yang terbuat dari keramik, sedangkan yang kotak kiri terdapat gajah yang juga terbuat dari keramik. Entah apa maknanya, Juminem tidak tahu. Juminem dan Melian mencuci keramik-keramik itu secara hati-hati. Lantas dijemur di teras depan, diberi alas koran bekas.
Lantas di bagian bawahnya, terdapat tiga kotak besar, dengan pintu dari kaca. Sehingga bagian dalamnya terlihat. Melian langsung tertarik dengan barang-barang yang ada di dalam kotakan itu. Ya, ada foto-foto keluarga di dalam kotak itu. Tentu begitu dibuka pintunya, Melian langsung mengeluarkan foto-foto itu. Termasuk di situ ada album foto sebanyak tiga album. Melian mengeluarkan semuanya.
"Mak .... Lihat ini, Mak .... Foto-foto keluarga Engkong ...." kata Melian yang sudah mengangkat foto-foto yang ada dalam figura maupun di album.
"Eh, iya .... Dibersihkan dulu, Nduk ..., biar kelihatan jelas." kata Juminem yang langsung mengelap pigura-pigura tersebut. Demikian juga Melian, yang tentu sangat tertarik dengan foto itu.
"Mak ..., ini foto keluarga .... Engkong yang mana? Kalau yang ini pasti Mamah .... Saya pernah ketemu waktu di pekuburan." kata Melian sambil menunjuk orang-orang yang ada dalam foto itu.
"Walah, iya .... Yang laki-laki tua ini, Babah Ho .... Ini engkongnya Melian. Lhah, yang perempuan ini, yang menggandeng tangan Engkong, itu Mamak, neneknya Melian. Benar ..., yang ini Mamah Melian, namanya Cik Lan. Tapi yang lain saya tidak tahu .... Nanti tanya Mas Irul. Yang tahu semua keluarga Melian adalah Mas Irul." jelas Juminem pada Melian yang tentu ingi tahu semua keluarga engkongnya.
"Saya telepon Cik Indra ya, Mak .... Minta biar Mas Irul kemari ...." kata Melian yang sudah mengangkat handphonenya.
"Jangan sekarang, Sayang .... Jam-jam pagi begini Mas Iru sama Cik Indra pasti sibuk melayani pembeli. Nanti siang saja saat istirahat ...." kata ibunya yang meminta agar Melian bersabar.
"Ya sudah ..., kalau begitu saya SMS saja sama Cik Indra, nanti kalau Mas Irul sudah senggang biar kemari." kata Melian pada ibunya, yang langsung mengambil HP dan mengetik SMS.
"Sekarang kita bersihkan semua saja dahulu .... Nanti kalau Mas Irul sudah senggang dan datang kemari, melihat fotonya bisa jelas." kata ibunya yang langsung kembali bersih-bersih.
Namun ternyata, tidak sampai siang, Irul sudah sampai di rumah yang kini menjadi milik Melian tersebut.
"Ada apa, Mel ...?" tanya Irul setelah turun dari motor dan masuk ke ruang tamu, dimana Melian dan ibunya sedang bersih-bersih di situ.
"Mas Irul ...." Melian langsung menyeret Irul, mendekat ke tumpukan foto.
"Apaan. sih ...?!" Irul yang diseret langsung menurut saja.
"Ini, Mas Irul .... Tahu foto-foto ini, nggak ...?" tanya Melian yang sudah menunjukkan foto keluarga dengan posisi tertata rapi. Ya, foto keluarga zaman dulu, kalau mau difoto semuanya harus dalam posisi siap. Maka tukang fotonya harus menata terlebih dahulu sebelum dijepret kamera.
"Ooh .... Ini Engkong .... Yang ini nenek Melian, panggilannya Nyah Jun. Lha, yang ini ..., Cik Lan .... Mamah kamu. Ini foto Cik Lan masih perawan. Yang gemuk ini Koh Han .... Saudaranya Engkong dari Semarang yang meninggal kemarin itu. Yang ini, suami istri saudaranya Engkong yang di Kudus .... Tapi sudah meninggal semua saat mobil yang disopiri anaknya menabrak truk di dekat Pasar Lasem. Lhah, yang ini dulu rumahnya di Semarang, masih hidup atau tidak saya tidak tahu. Tapi katanya mengalami kecelakaan terbakar. Kalau yang ini, laki-laki dan perempuan ini saya tidak kenal, tapi setahu saya tinggalnya di Kalimantan. Jarang kemari. Yang sering kemari ya, Koh Han itu." Irul menjelaskan satu persatu.
__ADS_1
"Kalau Papahnya Melian yang mana ...?" tanya Melian yang ingin tahu.
"Kalau di foto ini tidak ada papahnya Melian. Ini saudaranya Engkong semua. Coba lihat albumnya." kata Irul yang kemudian meminta album foto itu.
"Yang ini, Mas Irul ...?" tanya Melian yang menunjukkan album ada foto-foto pengantin.
"Iya .... Yang ini foto pengantin Cik Lan .... Ini foto pengantin Papah sama Mamah Melian. Coba lihat ini .... Nah, yang ini Koh Liem, papahnya Melian. Dia suami mamahnya Melian." kata Irul sambil menunjukkan foto pengantin itu.
"Papah kok kelihatan tua ya, Mas Irul ...." kata Melian yang tidak percaya kalau bapaknya itu terlihat tua di foto.
"Hehe .... Iya .... Memang saat menikah dengan Cik Lan, Koh Liem ini sudah seperti bapaknya. Katanya dijodohkan oleh orang tuanya Koh Liem, papahnya Melian." sahut Irul.
"Lhah, terus .... Keluarga Engkong yang dari Papah, yang mana? Sekarang ada di mana?" tanya Melian yang tentu ingin tahu keluarga-keluarganya.
Irul terdiam. Bingung untuk menjawabnya. Kasihan dengan Melian yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Selanjutnya Irul membuka album itu, mencoba mencari foto keluarga Koh Liem. Dibalik-balik beberapa lembar, belum menemukan foto-foto keluarga Koh Liem. Dan akhirnya ketemu foto yang diharapkan itu. Foto keluarga saat pernikahan yang hampir terletak di belakang sendiri.
"Lhoh .......?!!!" Irul kaget.
"Ada apa, Mas Irul ...?" tanya Melian.
"Kenapa, Mas ...?" Juminem langsung mendekat ke album. Tentu langsung mengamati halaman foto yang sedang dibuka.
"Ini ....???? Ini ....??? Ini ......???" Irul menunjukkan foto-foto. Ada tiga foto yang ingin ditunjukkan kepada Melian. Namun foto-foto itu hanya terlihat bagian bahu ke bawah. Sementara bagian wajahnya buram, tidak bisa terlihat. Anehnya, ketiga foto dari keluarga Koh Liem seperti itu semua.
"Kok ..., seperti ini, Mas Irul ....???" Melian kecewa.
Mengkorok bulu kuduk Juminem. Seakan ada sesuatu pada foto itu. Entah apa sebenarnya yang terjadi, tetapi foto-foto itu seakan adalah orang-orang yang tidak bisa dipotret. Gambar pada wajahnya seperti foto yang terbakar. Tetapi anehnya, foto yang terbakar itu hanya pada bagian wajah orang saja. Jika itu memang sebuah keanehan, berarti Melian dialiri darah dari keluarga bapaknya. Bukan dari keluarga Babah Ho. Ya, keanehan yang ada pada diri Melian, kini terlihat dari foto keluarga bapaknya yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa.
Darah deras langsung mengalir ke otak yang ada di kepala Juminem. Entah apa sebabnya, tiba-tiba perasaan Juminem menjadi guncang. Perlahan kepala Juminem bergoyang. Dan akhirnya, "Bokgh ....!" Juminem sudah tersungkur pingsan.
"Mak .... Mak-e ...!! Mak .... Mak-e ...!!" Melian kaget melihat ibunya yang tergeletak di lantai.
"Mbak Jum ....!! Mbak Juminem ....!!! Walah .... Malah pingsan ...." Irul pun kaget tahu juminem pingsan.
"Ayo ditolong, Mas ...." kata Melian yang sudah mencoba membantu ibunya.
"Iya .... Kita rebahkan di kasur ...." Irul yang mengangkat tubuh itu, dan kemudian direbahkan di atas kasur.
Melian langsung memijit kaki ibunya. Irul langsung ke dapur, membuatkan teh hangat. Lantas meneteskan teh hangat itu dengan sendok, sedikit-sedikit untuk membasahi mulut Juminem.
"Tadi pagi sudah sarapan apa belum ...?" tanya Irul.
"Sudah, Mas .... Beli nasi pindang di warung depan sana ...." jawab Melian.
"Paling masuk angin .... Kalau bersih-bersih jangan terlalu memaksa. Sedikit-sedikit saja." kata Irul yang kini memijit bagian pundak dan tengkuk.
"Ehkgh .... Hoooek ...." Juminem bersendawa. Pertanda sudah siuman.
"Ini, diminumi teh hangat, Mbak Jum .... Biar anginnya keluar ...." kata Irul yang langsung memegangi gelas meminumkan teh kepada Juminem.
"Makasih, Mas Irul .... Walah ..., malah ngrepoti ini ...." Juminem sudah bisa bicara.
"Mbak Jum masuk angin ini ...." kata Irul, yang sekarang mulai memijit pada bagian belikat Juminem. Centong-centong memang biasa jadi tempat angin yang nakal.
"Iya, Mak .... Tadi malam waktu jalan-jalan di alun-alun tidak pakai jaket." timpal Melian.
"Ya sudah .... Buat istirahat dulu, Mbak Jum .... Saya mau ke toko dulu, saya ambilkan obat tolak angin." kata Irul, yang kemudian berpamitan pulang ke toko.
"Iya, Mas Irul .... Terima kasih ...." sahut Juminem yang kembali merebahkan badannya untuk istirahat.
Melian merasa kasihan pada ibunya. Ia memijiti seluruh tubuh ibunya. Tentu dengan penuh kasih sayang. Tentunya sambil cerita macam-macam. Sungguh anak yang berbakti pada orang tua.
Namun Juminem, masih memikirkan kakek nenek Melian yang dari keluarga bapaknya. Siapa sebenarnya mereka itu?
__ADS_1