
"Ada apa, Mel ...??!!!" Irul kaget. Ia langsung meloncat bangun dari kursi panjang, lantas berlari menuju kamar Melian.
Di kamar, di atas kasur, Melian sudah duduk termangu. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Lantas memeluk Irul, saat laki-laki itu datang ke kamarnya.
"Ada apa ...?" tanya Irul kembali, yang bingung ada masalah apa dengan Melian.
"Mas Irul .... Aku takut, Mas .... Mas Irul ke mana tadi ...?" kata Melian dalam pelukan Irul.
"Mas Irul tidur di depan, di kursi .... Takut apa ...?" tanya Irul.
"Huhuhuhu ....." Melian justru menangis.
Irul membiarkan saja Melian menangis. Biar sesak di dadanya tertumpah lebih dahulu. Kalau sudah menangis, setidaknya sudah lega perasaan yang mengganjal di dada. Pikirannya pun bisa plong. Pasti ada masalah yang menyebabkan Melian ketakutan. Mungkin saja mimpi buruk yang menakutkan. Irul mendekap Melian, sambil membelai rambutnya yang terurai. Persis seperti membelai istrinya sendiri.
Memang saat bersama dengan Melian di kursi ruang tengah, Melian yang tertidur di pangkuannya, oleh Irul dibopong dan dipindahkan ke kamar. Lantas ditata, dibetulkan pakaiannya, bahkan tubuhnya langsung diselimuti agar tidak kedinginan. Maklum pakaian yang dikenakan oleh Melian serba minim. Kalau terhempas angin malam, pasti akan kedinginan. Setelah menyelimuti Melian, Irul beranjak tidur di kursi panjang, yang memang sering ia pakai tidur saat bermalam di rumah Engkong itu.
Dan setelah Melian mulai tenang, Irul mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas. Lantas diminumkan kepada Melian. Tentu agar Melian bisa lega dan sejuk hatinya. Ia pun kembali menanya.
"Kamu kenapa, Mel ...?" tanya Irul.
"Kok Mas Irul tidak tidur di sebelah Melian? Melian kok tidak ditemani, Mas ...? Melian takut, Mas .... Huhuk ..., hu ...." jawab Melian yang masih terisak.
"Iya ..., Mas Irul tidur di kursi depan, ya .... Tidak jauh, kok .... Takut sama apa ...? Ada apa ...? Apa ada yang mengganggu kamu ...?" tanya Irul yang ingin tahu penyebabnya.
"Mas Irul ...... Melian mimpi buruk, Mas ...." kata Melian mulai cerita.
"Mimpi buruk apa?" tanya Irul yang kini sudah melepas pelukannya pada Melian, lantas duduk berdampingan di atas kasurnya.
Melian menyandarkan kepalanya di pundak Irul. Lantas menceritakan tentang mimpi yang baru saja dialaminya.
"Mas Irul .... Aku mimpi buruk .... Mimpi yang menakutkan, Mas ...." kata Melian sambil memegangi lengan Irul.
"Mimpi apa ...?" tanya Irul yang ingin tahu.
"Mas Irul .... Lihat gelang giok milikku ini ...." kata Melian sambil menunjukkan gelang yang melingkar di lengan kirinya.
Irul pun mengamati gelang itu. Gelang yang dipakai Melian sejak bayi. Ia tahu persis gelang yang bagus itu. Pasti harganya sangat mahal. Dan tidak semua orang bisa membelinya. Setahu Irul, gelang itu pasti yang membelikan orang tuanya. Atau setidaknya engkongnya yang kaya dan uangnya banyak. Memang gelang giok umumnya dipakai oleh anak perempuan dari keturunan Cina. Wajar kalau Melian mengenakan gelang giok itu.
"Memang kenapa dengan gelang ini?" tanya Irul pada Melian.
"Mas Irul .... Ini bukan gelang sembarangan .... Ini gelang wasiat. Waktu Cik Indra mau meninggal, perwujudan naga yang ada dalam ukir-ukiran gelang ini mengeluarkan air mata, seakan seperti naga yang hidup dan menangis. Dua hari berturut-turut naga ini bersedih. Saya telepon Pak-e dan Mak-e, menanyakan keadaanny, tapi sehat-sehat saja dan tidak apa-apa. Dan ternyata, di hari berikutnya Pak-e menelepon saya, mengabari kalau Cik Indra tidak ada." kenang Melian saat terjadi peristiwa itu.
"Lantas ..., apa hubungannya dengan mimpi buruk kamu?" tanya Irul.
"Mas Irul ..., saya bermimpi setiap kali berdekatan dengan cowok, gelang yang saya kenakan ini berubah menjadi merah menyala, bahkan seakan berubah menjadi api yang akan membakar setiap orang yang mendekat, Mas." kata Melian sambil mengelus gelang gioknya itu.
"Benarkah ...? Terus bagaimana selanjutnya?" tanya Irul yang mulai penasaran.
__ADS_1
"Setiap kali saya berdekatan dengan cowok, laki-laki yang mendekat ke saya itu langsung jadi korban, Mas Irul .... Dia dilalap api oleh naga yang jadi gelang saya ini ...." kata Melian.
"Bagaimana mungkin bisa, Mel ...?! Ini hanya gelang yang terbuat dari batu giok ...." bantah Irul yang kurang percaya dengan mimpi Melian itu.
"Ih, Mas Irul itu kalau dikasih tahu mesti tidak percaya .... Ya sudah kalau tidak percaya .... Ngapain cerita sama orang yang tidak mau percaya .... Percuma ...." kata Melian yang tentu langsung ngambek.
"Bukan begitu, Mel .... Itu kan hanya mimpi .... Jadi, jangan terlalu dimasukkan dalam hati." kata Irul yang meminta agar Melian tidak terlalu memikirkan mimpinya.
"Tapi, Mas Irul .... Mimpi ini seperti nyata, Mas .... Dan saya takut akan terjadi ...." kata Melian yang masih yakin kalau mimpinya itu bakal kejadian.
"Coba Melian katakan yang jelas .... Kamu mimpi apa? Siapa yang terkena api dari gelang giokmu itu?" tanya Irul memaksa Melian untuk mengaku.
"Saya takut mengatakannya, Mas .... Takut ini terjadi sungguhan .... Soalnya, cowok ini .... Hukhuhuhu ...." Melian tidak melanjutkan kata-katanya, tapi justru kembali menangis.
"Cowok yang kamu maksud itu siapa ...? Pacar kamu, ya ...?" tanya Irul yang ingin kejelasan dari Melian.
"Iya, Mas .... Kami baru pendekatan .... Tapi rasanya memang kami sudah saling tahu maksud dan isi hati masing-masing .... Dia cowok yang baik, Mas ...." jawab Melian yang masih bersedih.
"Teman kuliah?" tanya Irul.
"Teman saya di kegiatan volunteer, Mas .... Dia mahasiswa yang ikut membantu di bidang teknologi ...." kata Melian yang tentu sangat sedih.
Ya, mimpi Melian adalah tentang Akbar. Cowok yang baru saja ia gandrungi. Cowok yang baru dekat dengan dirinya. Cowok yang sudah bisa membuat hatinya jatuh cinta. Walau belum ada kata-kata cinta, meski belum ada janji-janji yang saling diikat, namun rasa itu sudah kelihatan. Sudah ada tanda-tanda bahwa dua orang itu, antara Melian dan Akbar akan saling mengisi hatinya. Buktinya, Akbar sudah rela memberikan jaket untuk menghangatkan tubuh Melian. Akbar dengan setia menemani Melian menyaksikan kincir air. Begitu juga sebaliknya, Melian menunggui Akbar memasang dinamo, bahkan dengan terlihat mesra ia memberikan minum kepada Akbar, memegangi gelasnya dan menyuapkan ke Akbar. Bahkan saat melam menjelang, Melian juga menyuapkan nasi uduk ke mulut Akbar. Ini semua sudah merupakan bukti bahwa mereka berdua memiliki rasa cinta yang sama. Apalagi saat mereka pulang dari tepi sungai menuju rumah antik, Akbar menggandeng tangan Melian. Terus terang saja, Melian sudah jatuh cinta pada Akbar.
Namun dalam mimpi itu, Melian menyaksikan gelang giok yang dikenakan kembali hidup. Gelang itu berubah menjadi naga, tidak lagi hijau seperti warna naga dalam batu giok itu, melainkan menjadi naga yang seakan terbuat dari kobaran api. Lantas lidah-lidah api itu menjilat-jilat membakar tubuh Akbar. Tentu Melian menjerit-jerit ketakutan dan kasihan menyaksikan Akbar yang kesakitan tersebut.
"Sudah ..., tenangkan dirimu, Mel .... Berdoa saja, semoga tidak terjadi apa-apa ...." kata Irul yang juga memeluk tubuh Melian, tentu dengan penuh kasih sayang.
Dua orang itu saling peluk. Melian yang masih sedih memikirkan mimpinya, tentu masih ingin menumpahkan kesedihannya itu di dada Irul. Demikian juga Irul yang merasa kasihan, juga memeluk erat Melian. Bahkan Irul sudah berkali-kali mencium ubun-ubun Melian, rambut bagian ujung kepala. Kata orang Jawa, ubun-ubun merupakan jalannya nyawa manusia. Irul menciuminya dengan penuh harap, ingin menyadarkan Melian.
"Ting ..., tuling .. ting tung ting ting .... Ting ..., tuling .. ting tung ting ting ...." HP Melian berdering.
Melian kaget. Di tengah malam yang mestinya orang-orang sedang nyenyak-nyenyaknya tidur, ada yang menelepon dirinya. Itu tidak wajar. Telepon yang pasti akan menyampaikan berita penting.
"Ada telepon, Mel ...." kata Irul yang melepas pelukannya.
Melian juga melepas pelukannya. Perlahan ia turun dari tempat tidur. Lantas berjalan menuju meja yang ada di kamar itu. Ia meraih HP miliknya. Lantas mengamati panggilan yang ada di layar. Putri yang memanggil.
"Huh ...! Putri ...." kesah Melian yang langsung meletakkan HP itu lagi di mejanya, membiarkan panggilan berhenti sendiri. Melian tidak mau mengangkat.
"Lhoh ..., kok tidak diangkat ...?" tanya Irul yang heran.
"Teman asrama dulu .... Tengah malam gini kok telepon." sahut Melian yang terlihat jengkel.
"Siapa tahu panggilan penting .... Biasanya kalau telepon tengah malam begini, itu ada yang penting." kata Irul pada Melian.
"Itu cuman teman satu kamar di asrama dulu, Mas Irul .... Dulu sudah pernah bentrok dengan Melian .... Makanya Melian pergi dari asrama .... Paling-paling mau tanya soal kuliah ...." sahut Melian yang masih terlihat jengkel. Apalagi saat kemarin datang, langsung menanyakan masalah Akbar. Keterlaluan sekali.
__ADS_1
"Ting ..., tuling .. ting tung ting ting .... Ting ..., tuling .. ting tung ting ting ...." HP Melian berdering lagi.
"Nah, Kan .... Bunyi lagi ...." kata Irul.
"Biarin saja, Mas .... Gak usah diangkat .... Melian jengkel .... Tengah malam gini kok telepon ...." kata Melian yang tambah cemberut.
"Melian rebutan pacar sama orang ini, ya ...?" tebak Irul yang tentu sambil menggoda Melian.
"Iih ...! Gak level, Mas .... Dia yang mau ngrebut pacar saya ...." kata Melian jengkel.
"Hehe .... Ternyata rebutan pacar, to ...." lagi-lagi Irul menggoda.
"Mas Irul ......!" tentunya Melian jengkel digoda terus-terusan. Ia langsung mencubit perut Irul berkali-kali.
"Auh ..., auh ..., auh ...." Irul yang dicubit perutnya berusaha mengelak. Ia teringat saat gijekan sama istrinya dulu, Indra sukanya mencubit perut. Bahkan kalau marah, ia juga mencubit perutnya Irul. Tentu hal ini justru mengingatkan kembali saat Irul bermesraan dengan Indra.
"Ting ..., tuling .. ting tung ting ting .... Ting ..., tuling .. ting tung ting ting ...." HP Melian berdering kembali, untuk yang ketiga kalinya.
"Nah, teleponnya bunyi lagi .... Sekarang harus diangkat. Pasti itu ada sesuatu yang penting. Apapun yang dikatakan oleh temanmu itu, berpikirlah bahwa sesuatu akan terjadi kapan saja dan di mana saja." kata Irul yang kali ini memaksa Melian untuk mengangkat teleponnya.
"Iya ...." sambil mbesengut Melian melangkah mengambil HP, lalu jawabnya di HP itu, "Halo ...." Melian pura-pura mengantuk.
"Halo Melian .... Kami kecelakaan, Mel ...." kata Putri yang menjawab dalam teleponnya.
"Apa ...?! Kecelakaan ...?! Siapa ...?!" Melian langsung terkejut mendengar berita itu.
"Saya, Mel .... Sama Akbar ...." jawab Putri dengan nada yang terdengar gemetar.
"Apa ...?! Sama Akbar ...?!" tanya Melian yang tidak percaya, kenapa Akbar bisa pergi bersama Putri.
"Iya, Mel .... Saya luka-luka, ini masih di rumah sakit .... Tapi Akbar, Mel .... Akabar, Mel .... Akbar .... Hukhuhuhu ...." Putri langsung menangis.
"Akbar kenapa, Put ...?! Kamu sama Akbar, ya ...?!" Melian ikut degdegan, ingin tahu bagaimana kondisi Akbar.
"Iya, Mel .... Akbar meninggal, Mel .... Hukhuhuhu ...." jawab Putri yang terus menangis.
"Hah ...?! Apa ...?! Akbar ...!!!" Melian menjerit histeris. Melatekkan HP di kasur begitu saja, lantas memeluk Irul sambil menangis sejadi-jadinya.
"Benar, kan ..., Mas Irul .... Benar kan apa yang saya katakan .... Mimpi Melian jadi kenyataan, Mas Irul .... Huhuhuhu ...." kata Melian yang memprotes pendapat Irul sebelumnya.
"Iya ..., Mas Irul percaya, Mel .... Sudah, jangan terlalu keras menangisnya .... Nanti para tetangga malah berdatangan .... Dikira ngapa-ngapain .... Nangisnya pelan saja ya, Sayang .... Dan itu artinya cowok itu bukan jodoh kamu .... Masak kamu pulang kampung, dia sudah sama perempuan lain, saingan kamu, teman kamu .... Yah, jangan terlalu sedih .... Dia belum jadi cowok kamu, kan?" kata Irul yang mendekap Melian, dan juga berkali-kali mencium ubun-ubunnya. Lantas menyeka air mata yang sudah deras mengalir di pipinya. Tentu dengan penuh kasih sayang. Bukan sekadar kasih sayang layaknya adik atau anak, tetapi mirip saat Irul menyayangi Indra.
"Iya, Mas Irul .... Tapi kelihatannya dia itu baik, Mas ...." Melian menurut saja, mulai tenang dan hanya merebahkan wajahnya di dada Irul. Tentu Irul membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Melian ..., bagaimana kalau besok kita ke kubur Mamah .... Sudah lama Melian tidak menengok Mamah. Kamu mau ...?" kata Irul yang mencoba mengalihkan berita tentang temannya yang meninggal itu.
"Iya, Mas .... Sama Mas Irul, ya .... Aku masih pengin berduaan sama Mas Irul ...." kata Melian yang tentu juga rindu dengan ibunya.
__ADS_1
"Iya ...." sahut Irul yang kasihan kalau menyaksikan kisah Melian itu. Apalagi kalau sampai di kubur ibunya, kubur Cik Lan, perasaan Irul pasti tidak karuan.