GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 215: BELAJAR HIDUP


__ADS_3

    Melian melangkah menuju gubug yang pintunya tadi ditendang oleh dua laki-laki, yang juga sudah memukuli pemilik gubug itu. Tentu Melian ingin tahu, ada masalah apa dia dengan dua laki-laki tadi.


    Pemilik gubug itu, orang yang tadi sudah dipukul dan ditendang oleh dua orang yang mendatanginya, ternyata menyaksikan bagaimana Melian sudah mengalahkan dua laki-laki itu, walau hanya mengintip dari balik pintu gubugnya. Tetapi ia tahu presis kalau gadis langsing yang cantik itu sudah berani melawan preman yang ditakuti oleh orang-orang penghuni seluruh daerah bantara sungai tersebut.


    "Ada masalah apa dua laki-laki tadi dengan kamu?" tanya Melian pada laki-laki yang bersembunyi di balik pintu.


    Sementara itu, beberapa orang sudah mendekat ke gubug laki-laki yang pintunya sudah ditendang dan sempal. Mereka ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi. Dan tentunya orang-orang ini juga ingin melihat gadis cantik yang sudah membuat dua laki-laki yang sok jagoan tadi lari terbirit-birit.


    "Tidak ada apa-apa ...." jawab laki-laki yang masih berjongkok di balik pintu itu.


    "Ngaku saja ...!" tiba-tiba tetangganya yang tinggal di daerah kumuh itu nyeletuk menyuruh laki-laki itu mengaku.


    "Ya ..., ngaku saja ....!!" kata yang lain.


    "Anu .... Gue ..., anu ...." sahut laki-laki itu.


    "Anu ..., anu ..., apa ...?!! Yang jelas kalau ngomong ...!!" yang lain membentak.


    "Iya .... Gue punya hutang ...." jawab laki-laki yang masih berjongkok di samping pintunya yang roboh.


    "Hutang apa ...?!" tanya tetangganya.


    "Jangan-jangan kamu ikut-ikutan sama komplotan itu ...?!" kata yang lain.


    "Anu .... Ya ..., anu ..... Gue ..., anu ...." laki-laki itu kelihatan ketakutan.


    "Memangnya mereka itu komplotan apa?" tanya Melian kepada orang-orang yang ada di situ, yang sudah mendekat ke dirinya.


    "Pengedar, Cik ...!!" tiba-tiba ada suara nyeletuk.


    "Pengedar apa ...?" tanya Melian.


    "Narkoba ...." jawab yang lain.


    Langsung terbersit dalam benak Melian, pasti laki-laki yang jongkok di depannya itu, ada sangkut pautnya dengan peredaran narkoba. Setidaknya laki-laki itu sudah ada hubungan dengan narkoba.

__ADS_1


    "Berarti kamu jualan narkoba?" tanya Melian pada laki-laki yang bertambah ketakutan itu. Ia mengira kalau Melian ini pasti intel polisi.


    "Tidak .... Gue cuman dipaksa ...." jawab laki-laki yang ketakutan itu.


    "Dipaksa apa?" tanya Melian ingin tahu.


    "Disuruh memberikan bungkusan-bungkusan kepada orang .... Tapi gue kagak tau itu bungkusan apa .... Waktu itu gue dikasih uang .... Tapi uangnya langsung gue pakai. Habis, dah ...." jawab laki-laki itu yang sudah mulai memandang Melian.


    Ya, memang, laki-laki yang pekerjaannya sebagai pemulung itu, pernah diminta oleh dua laki-laki perelente yang tadi sudah memukul dan menendangnya, untuk membawakan bungkusan barang. Katanya hanya membawa saja, dan nanti akan ditemui orang untuk diambil barang titipannya itu. Laki-laki yang berprofesi sebagai pemulung itu, pagi-pagi sudah berangkat membawa gerobaknya, tentu mencari barang-barang rongsokan. Tetapi di dalam gerobak itu, ditaruh dua bungkus dus makanan kecil yang dilapisi koran. Kemudian bungkusan itu ditimbun dengan barang-barang rongsokan.


    Pemulung itu disuruh oleh dua orang laki-laki yang mendatanginya, untuk membawa gerogaknya mencari barang-barang rongsok menuju daerah bawah terowongan tol di kawasan Penjaringan. Kata dari orang yang menyuruhnya, nanti akan ada orang yang menemuinya di terowongan tol itu untuk mengambil bungkusan yang dititipkan tersebut.


    Karena pemulung itu diberi uang oleh yang menyuruh, dan tentu lumayan bagi seorang yang mencari rongsok, maka laki-laki pemulung itu mau-mau saja, dan tentu langsung menerima uangnya. Bahkan pasti dengan senang hati. Kalau hanya sekadar dititipi barang, dan hanya berukuran kecil, tidak berat, tentu tidak masalah. Yang penting dapat uang. Apalagi juga dapat barang hasil memulung. Rezekinya dobel.


    Saat pemulung itu sampai di bawah terowongan tol, ia berhenti. Tidak di pinggirm tetapi justru ke tengah, di pembatas jalan putaran mobil yang membalik arah. Pemulung itu mendekatkan gerobaknya di pinggir tiang jalan layang. Dan pasti laki-laki pemulung itu duduk bersandar di tiang jalan tol yang sangat besar tersebut, karena capek menyeret gerobaknya yang lumayan jauh. Pemulung itu mengambil topinya untuk kipas-kipas karena merasa gerah oleh panasnya terik matahari di ibu kota. Dan yang pasti, pemulung ini menunggu orang yang akan mengambil barang titipannya.


    "Ini gerobag sampah siapa yang berani masuk ke sini ...?!!" tiba-tiba ada seorang pemuda yang mengenakan jaket kulit warna hitam naik ke trotoar kolong tol tersebut dan menendang gerobak milik pemulung itu.


    "Punya gue ..., Bang ...." jawab pemulung yang duduk bersandar di tiang tol itu. Dan tentu langsung berdiri dan memegangi gagang gerobak itu agar tidak tumpah.


    "Jangan, Bang .... Nanti tumpah semua .... Ini milik aku, Bang ...." kata si pemulung itu sambil menarik gerobaknya.


    "Mana barang milik saya ...?! Kok tidak ada di sini ...?!" tanya laki-laki itu yang masih mengabrak-abrik barang-barang dalam gerobak.


    "Oh, barang titipan, Bang ...?!" tanya pemulung itu.


    "Iya .... Bungkusan barang saya ...." kata laki-laki itu lagi.


    "Sabar, Bang .... Barangnya tersimpan rapi ...." kata si pemulung. Lantas ia membungkuk ke bawah gerobaknya. Mengambil bagor yang diikatkan di bagian gerobak, menempel dengan bambu penarik. Tentu bagor itu sudah penuh dengan kertas-kertas atau kardus hasil pulungan. Ada yang diambil dari tempat sampah, ada juga yang didapat di jalanan.


    "Ini, Bang ...." kata pemulung itu.


    "Ya .... Ini bungkusan milik saya .... Nih, uangnya ...." kata laki-laki berjaket kulit itu dan langsung pergi setelah mendapatkan barangnya, dan tentu sudah memberikan amplop berisi uang kepada pemulung itu.


    Pasti mendengar kata-kata uang, pemulung itu langsung tersenyum lebar. Ia langsung membuka amplopnya, ingin tahu seberapa banyak uangnya. Kalau hanya meraba ketebalan amplopnya, kelihatannya lumayan banyak. Dan setelah membuka amplop itu, ternyata memang jumlah uangnya sangat banyak.

__ADS_1


    Tentu pemulung itu sangat senang. Tandi waktu mau berangkat, waktu dititipi barang, ia sudah diberi uang. Kini setelah menyerahkan barang itu, ternyata diberi uang lagi, dan jumlahnya sangat besar. Maka tak heran, kalau pemulung ini langsung membalik arah gerobaknya. Akan langsung kembali ke tempat pengepulan rongsong. Dapat sedikit tidak masalah. Yang penting sudah dapat duit banyak.


    Dasar orang yang tidak pernah pegang uang banyak. Begitu mendapat uang dalam jumlah besar, maka ia bingung mau beli apa. Inginnya, semua yang ada di angan-angannya akan dibeli. Tentu juga ingin beli barang-barang mahal seperti yang dimiliki oleh orang-orang kaya. Dan yang pasti, ia ingin makan-makan yang enak dan lezat. Yang pasti harganya juga mahal-mahal.


    Seketika itu, pemulung itu setelah mengembalikan gerobagnya, ia langsung mengajak anak dan istrinya untuk jajan. Makan-makan di tempat yang sering dibicarakan orang. Beli jajan macam-macam. Anak dan istrinya langsung diajak masuk ke mall. Belanja berbagai macam, termasuk membelikan pakaian untuk anak istrinya, dan juga untuk dirinya sendiri. Setidaknya ia ingin tampil lebih keren seperti layaknya orang kaya dengan duwit yang banyak.


    Pagi harinya, dua orang perlente yang naik kendaraan seperti harley, kembali menemui pemulung itu. Lagi-lagi ia menitipkan barang-barangnya kepada pemulung itu. Dan seperti biasa, di kolong jembatan tol sudah ada yang menunggu atau menemuinya untuk mengambil barang titipannya itu.


    Namun, nasib apes dialami oleh pemulung itu. Barang yang dibawanya hilang entah jatuh di mana, ia tidak tahu. Itulah yang lantas menjadi masalah dengan para pengedar. Pemulung itu harus mengganti uang yang sangat banyak jumlahnya. Pasti pemulung itu tidak punya uang sebanyak yang diminta oleh dua orang yang menitipkan barangnya.


    Seperti itulah cerita awalnya si pelmulung itu harus memulai hidup dengan para pengedar, para penjual narkoba. Dan sekarang harus menanggung hutang sebagai pengganti barang yang dihilangkan.


    "Ooo ..., jadi seperti itu .... Berarti kamu kenal dengan orang-orang itu tadi?" tanya Melian, dan juga para temannya yang ada di situ.


    "Tidak kenal. Karena saya tidak boleh mengenal nama siapa pun. Termasuk yang selalu mengambil barang itu." jawab pemulung itu.


    "Cik ..., ini nanti, mereka pasti kemari lagi dengan rombongannya." kata orang-orang yang ada di situ.


    "O ..., ya ...? Kenapa ...?" tanya Melian yang oleh orang-orang di situ langsung dipanggil Cik.


    "Yang jelas dia akan menagih hutang pada dia .... Dan karena di sini ada yang berani melawan dia, maka mereka akan mengajak teman-temannya untuk balas dendam .... Pasti komplotan orang-orang ini akan mengejar kamu, Cik ...." kata orang-orang di daerah kumuh itu yang mulai mengkhawatirkan keselamatan Melian, dan juga khawatir kalau daerahnya akan diobrak-abrik oleh kelompok orang-orang jahat itu.


    "Kira-kira kapan dia akan datang kemari lagi? Akan saya tunggu kedatangannya." kata Melian yang justru ingin menghadapi orang-orang jahat itu.


    "Jangan ..., Cik .... Bahaya .... Mereka itu orang-orang jahat yang tidak akan memberi ampun pada siapapun. Apalagi Cacik orangnya cantik .... Pasti mereka akan menangkap Cacik untuk dipaksa melayani." kata orang-orang di situ yang tentu sudah memperkirakan hal yang akan terjadi.


    "Tidak masalah .... Berapapun jumlahnya, mereka akan saya hadapi ...." kata Melian yang tidak gentar dengan apa yang akan dilakukan para penjahat. Tentu emosinya semakin meninggi keteika ada orang jahat yang akan berbuat sewenang-wenang.


    "Jangan, Cik .... Lebih baik Cacik pulang saja .... Demi amannya, jaga keselamatan, Cik ...." kata orang-orang itu lagi.


    "Saya lebih tidak tega kalau melihat gubug-gubug kalian ini dihancurkan mereka. Saya juga tidak mau orang-orang jahat itu menyakiti kalian. Saya akan melawan mereka jika datang kemari lagi. Kalau kalian mau membantu saya, bersiap saja melawan para penjahat. Hidup itu harus tegas. Berani melawan kejahatan. Jangan takut, karena kita membela kebenaran. Kalau kita mau bersatu padu, melawan bersama, pasti kita akan kuat dan menang." kata Melian yang mulai menyulut keberanian orang-orang kecil itu, orang-orang miskin yang selalu menderita.


    "Benar, ini ...? Kami boleh membantu melawan mereka ...? Kami boleh mengeroyok mereka ...?" orang-orang pun mulai nampak muncul semangat akan ikut melawan kalau nanti orang-orang jahat itu mau merusak tempat tinggalnya.


    "Hidup itu perlu ketegasan. Hidup itu perlu keberanian. Hidup itu butuk kesungguhan. Jangan mudah menyerah. Jangan mudah mengalah. Lakukan perlawanan untuk membela hak kalian." kata Melian yang senang karena orang-orang di situ kembali bersemangat untuk berani membela kebenaran.

__ADS_1


    Inilah yang namanya ketegasan dalam hidup. Berani melakukan apa saja, demi membela kebenaran. Berani mempertahankan apa saja, demi mempertahankan harkatnya. Melian sudah memberi pelajaran tentang mempertahankan hidup.


__ADS_2