GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 94: MASUK KLENTENG


__ADS_3

    Kini, akhirnya Melian sudah mengenakan seragam putih abu-abu. Seragam SMA yang didambakan. Seperti yang diinginkan, akhirnya Melian bisa bicara langsung kepada murid yang kemarin menampilkan atraksi wushu. Namanya Mei Jing. Gadis itu temannya satu angkatan, hanya beda kelas. Mei Jing berada di kelas I B, sedangkan Melian duduk di kelas I D. Tetapi saat istirahat pasti ketemu, karena ruang kelasnya berjejeran, hanya berselang satu kelas saja.


    Tanpa malu-malu, Melian langsung bertanya di mana Mei Jing berlatih wushu. Ia pun berterus terang ingin ikut belajar wushu. Gelagat yang baik dan Melian memang anak baik. Mei Jing pun langsung akrab dengan Melian. Apalagi Melian ingin belajar wushu. Setidaknya kalau mau berlatih wushu bersamanya, nanti bisa berangkat dan pulang bersama.


    "Melian, kalau kamu mau belajar wushu, setidaknya kamu berolahraga, untuk jaga kesehatan. Dan kamu juga bisa jaga diri, kalau sewaktu-waktu ada anak nakal atau orang jahat yang mau mengganggu dirimu, kamu bisa membela diri." kata Mei Jing yang tentu sangat memikat pikiran Melian.


    "Iya, betul, Jing .... Saya maunya juga begitu .... Untuk jaga-jaga diri. Aku suka kalau bisa seperti kamu." jawab Melian.


    "Kalau memang Melian mau berlatih wushu, besok pulang sekolah saya ajak ke tempat latihan. Lihat lokasinya dulu, sama lihat anak-anak yang latihan di sana. Kamu cocok apa tidak, bisa untuk pertimbangan." kata Mei Jing yang mau mengajak Melian untuk melihat tempat latihannya.


    "Memang jauh dari sini?" tanya Melian.


    "Lumayan, tidak begitu jauh .... Di klentang daerah Pecinan. Tapi kalau jalan kaki juga lumayan. Kalau kamu mau, besok kita bersama-sama naik becak. Nanti sekalian kamu main ke rumahku." kata Mei Jing yang sudah merasa cocok berteman dengan Melian.


    "Lhah, kalau di Kampung Pecinan, aku juga kost di situ, tapi masih di kawasan Jagalan, belum masuk Semawis." sahut Melian.


    "Ini di Gang Lombok. Dekat dengan Jagalan." kata Mei Jing.


    "Terus nanti, aku pulangnya bagaimana?" tanya Melian yang pasti bingung, karena belum hafal jalan-jalan di Kota Semarang.


    "Nanti dari rumahku naik becak. Kalau dari rumahku sudah dekat. Atau saya antar juga tidak apa-apa." jawab Mei Jing.


    "Baiklah .... Besok pulang sekolah kita ke sana." kata Melian menyetujui ajakan Mei Jing.


    Bel masuk pun sudah berbunyi. Mereka masuk ke kelas masing-masing, kembali mengikuti pelajaran.


*******


    Hari itu, sesuai rencananya, siang setelah usai pelajaran, Melian bersama Mei Jing naik becak menuju daerah Gang Lombok. Tentu di becak itu mereka sambil ngobrol untuk saling tahu satu sama lain.


    "Melian di sini kost?" tanya Mei Jing.


    "Iya .... Nanti ini lurus saja sampai tempat kost saya." jawab melian.


    "Memang Melian aslinya dari mana?" tanya Mei Jing yang ingin tahu.


    "Rumah saya di Juwana, Pati ...." jawab Melian.

__ADS_1


    "Memang di Semarang Melian tidak punya saudara?" tanya Mei Jing lagi. Karena biasanya anak-anak dari daerah yang bersekolah di Semarang kebanyakan ikut saudaranya.


    "Tidak ada .... Bahkan Mak sama Pak-e saya, ke Semarang saja baru kemarin saat mengantar saya mendaftar sekolah. Kami jarang bepergian." jawab Melian.


    "Hmm .... Jadi kamu ini anak rumahan, ya ...." kata Mei Jing yang tentu merasa aneh dengan jawaban temannya yang tidak pernah bepergian.


    "Ya ..., tidak juga .... Tapi kalau pergi-pergi tidak terlalu jauh. Paling ke Tuban. Kemarin, waktu perpisahan SMP itu, tempat saya ada piknik ke Jakarta." kata Melian yang menceritakan hidupnya.


    "Terus, di rumah ngapain saja?" tanya Mei Jing lagi.


    "Kadang saya membantu Mbak Ika di toko. Mbak Ika itu karyawan Pak-e saya yang kerja di bagian toko." jawab Melian.


    "Memang Bapak kamu punya usaha apa?" tanya Mei Jing lagi, tentu ingin tahu.


    "Membuat kerajinan kuningan. Macam-macam .... Ada kran air, souvenir, tropi, piala .... Ada juga lampu gantuk yang besar itu. Mei Jing asli lahir di Semarang, ya?" kata Melian yang tentu ingin tahu juga asal temannya itu.


    "Iya .... Saya sejak lahir di Semarang. Malah saya belum pernah ke Juwana. Katanya terkenal bandengnya ya?" jawab Mei Jing yang langsung menanyakan tentang bandeng.


    "Iya benar .... Tapi itu yang di daerah sisi utara. Daerah tambak. Kalau rumahku di Kampung Naga, di kotanya." jawab Melian.


    Dan tanpa terasa, mereka sudah sampai di depan klenteng. Pak becak menghentikan becaknya.


    "Terimakasih, Pak ...." kata Mei Jing yang memberikan uang ke tukang becak itu.


    Mereka berdua berdiri tepat di depan pintu klenteng. Mei King sudah biasa di tempat itu. Tapi bagi Melian, ini hal baru. Belum pernah masuk ke bangunan sembahyangan orang-orang keturunan Tionghoa tersebut. Bangunan kuno yang sangat artistik, dengan pintu-pintu yang indah. Satu pintu besar yang berada di tengah, dan diapit oleh dua pintu kecil-kecil yang ada di kanan kirinya. Yang paling menarik bagi Melian adalah pada bagian atas genting. Di puncak genting itu terdapat dua naga yang sedang menjaga atau entah bermain bola api. sedangkan di belakang dua naga itu ada naga-naga yang juga menengok ke arah dua naga yang menjaga bola api tersebut. Naga-naga itu seakan seperti sungguhan, karena ukirannya yang sangat bagus dengan warna cat yang menarik pula.


    "Ini tempatnya, Mel .... Mari kita masuk." kata Mei Jing mengajak Melian yang masih terkesima menyaksikan bangunan klenteng itu..


    Dengan agak ragu-ragu Melian melangkahkan kaki memasuki tempat sembahyangan itu. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, mengamati semua ornamen serta gambar-gambar yang ada di bangunan klenteng tersebut. Tentu Melian sangat kagum dengan benda-benda yang dilihatnya.


    "Kamu belum pernah masuk klenteng, ya?" tanya Mei Jing.


    "Belum. Ini yang pertama kali. Tapi kalau melihat barongsai dan liong-liong di halaman klenteng, orang tuaku pernah mengajak nonton ...." jawab Melian.


    "Memang di Juwana tidak pernah ada kegiatan di klenteng?" tanya Mei Jing yang mengira Melian ini sering sembahyang di klenteng.


    "Klenteng hanya ramai kalau perayaan tahun baru imlek. Ya pentas barongsai itu." jawab Melian.

__ADS_1


    "Ini klenteng terbesar di Semarang. Usianya sudah ratusan tahun." tutur Mei Jing.


    "Klenteng apa ini namanya?" tanya Melian yang ingin tahu, agar bisa bercerita pada Mak-e di kampung.


    "Klenteng ini namanya Klenteng Tay Kak Sie, yang dipakai sebagai tempat pemujaan Dewi Kwan Im. Tetapi karena tempatnya yang berada di Gang Lombok, orang-orang lebih senang atau mudah menyebutnya Klenteng Gang Lombok. Konon menurut sejarahnya pembangunan Klenteng Tay Kak Sie ini dibangun oleh tukang-tukang yang didatangkan langsung dari Tiongkok." tutur Mei Jing yang tentu mendengar cerita itu secara turun temurun dari nenek moyangnya.


    "Waah .... Hebat sekali ...." Melian terkagum.


    "Klenteng ini merupakan klenteng rakyat. Artinya tempat ini digunakan untuk sembahyangan masyarakat umum. Siapa saja boleh masuk dan sembahyang di sini. Makanya klenteng ini sangat ramai dikunjungi masyarakat. Terutama orang-orang keturunan Cina, pada sembahyang di tempat ini untuk mendoakan nenek moyangnya. Termasuk orang-orang yang berwisata, ingin menyaksikan keindahan klenteng ini. Bahkan turis asing dari negeri Cina sana, juga banyak yang datang kemari. Bangunan ini sudah masuk dalam cagar budaya warisan bangunan kuno." jelas Mei Jing.


    "Waah .... Kapan-kapan saya diajari untuk sembahyang di sini, ya ...." pinta Melian, yang memang belum tahu cara sembahyangan orang Cina.


    "Pasti .... Ayo, kita masuk .... Nah, ini lihat .... Pintu utama untuk masuk ini dihias dengan lukisan dua malaikat penjaga pintu yaitu Wi To Po Sat dan Kiat Lo Po Sat. Sedangkan yang di sampingnya itu, terdapat lukisan yang berada di kanan dan kiri, yaitu Naga Hijau dan Macan Putih, yang berfungsi sebagai penentang pengaruh jahat


yang mengganggu klenteng. Naga Hijau melambangkan kekuatan yang penuh kebijaksanaan, sedangkan Macan Putih melambangkan anak yang berbakti kepada orang tua." tutur Mei Jing. Tentu ia sangat hafal dengan makna lukisan-lukisan itu, karena ia sangat sering ke tempat tersebut.


    "Kamu kok hafal semua sejarah yang ada di klenteng ini, Jing ...." puji Melian.


    "Ya, kan hampir setiap hari saya kemari .... Ayo kita masuk lagi." ajak Mei Jing.


    "Ya ...." sahut Melian yang ikut melangkah.


    "Mel ..., kamu lihat itu .... Kalau tadi dari luar, terlihat di atas genting ada dua naga penjaga matahari. Itu melambangkan kekuatan, keperkasaan, kejayaan, kemakmuran dan keadilan. Sedangkan yang ada di atap bangunan tengah itu, dihiasi sepasang naga yang mengapit buli-buli, yaitu tempat minum yang terbuat dari sejenis labu kering. Biasanya oleh para pendeta Cina, buli-buli itu digunakan untuk wadah air suci atau obat yang sering dibawa oleh dewa. Itu melambangkan tempat ini menjadi lambang keseimbangan alam dan berfungsi menangkal energi buruk maupun kekuatan-kekuatan roh jahat." tutur Mei Jing pada Melian.


    Tentu Melian sangat terkesiama mendengar penuturan dari temannya itu, yang benar-benar mengagumkan. Lantas mereka berdua melangkah bersama menuju pelataran bagian dalam. Namun saat sampai teras, Melian dan Mei Jing itu bertemu dengan pendeta yang mengurusi klenteng itu. Pendeta dengan kepala gundul yang mengenakan pakaian merah kuning, seperti layaknya pendeta-pendeta di film Saolin.


    "Anak cantik .... Siapa nama kamu?" tiba-tiba saja pendeta itu memegang pergelangan tangan Melian, tepat pada lengan yang ada gelang gioknya.


    "Melian, Bapak Pendeta ...." jawab Melian yang agak kaget.


    Pendeta klenteng itu tertegun sejenak, mengamati gelang giok yang dikenakan Melian. Sebentar kemudian melihat wajah Melian. Ia memandang Melian dengan sikap aneh. Sambil mengerutkan dahinya, seakan ada sesuatu yang berada di dalam tubuh Melian.


    "Jagalah gelang giok ini baik-baik." begitu kata pendeta itu. Lantas melepaskan tangan Melian, dan melangkah pergi meninggalkan dua gadis tersebut.


    Melian dan Mei Jing memandangi langkah kepergian sang pendeta itu, hingga hilang setelah berbelok ke tempat pemujaan.


    Ada apa sebenarnya pendeta tadi mengamati gelang giok Melian? Apakah ada yang aneh? Apakah pendeta itu tahu kalau gelang giok yang dikenakan itu tidak pernah lepas dari tangannya?

__ADS_1


    Meski demikian, Melian biasa saja menanggapi pendeta itu. Mereka pun terus berlalu, masuk ke halaman dalam, dimana anak-anak sudah berlatih wushu.


__ADS_2