GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 209: ISAK TANGIS PELAYAT


__ADS_3

    Melian diam dengan mata terpejam. Pasrah dan berserah. Menurut tanpa takut. Mengikuti apa kehendak Yang Maha Kuasa. Hanya satu harapannya, ia bisa melihat Cik Indra untuk yang terakhir kalinya, sebelum orang yang disayangi itu dikebumikan.


    Naga raksasa yang berbentuk gumpalan kabut asap hijau itu pun berangsur kembali menipis. Lantas menghilang tanpa bekas. Dan tahu-tahu, Melian sudah berada di sebuah kampung dalam keramaian orang. Melian sudah berada di jalan depan pelataran rumah orang tuanya Irul, rumah yang menjadi tempat tinggal Irul dan Indra. Tempat yang sudah penuh sesak dengan para pelayat.


    Di pinggir jalan depan rumah Keluarga Irul itu sudah berjejer karangan-karangan bunga duka cita. Sangat banyak dan besar-besar. Karangan bunga duka cita yang dikirim oleh para kolega, suplier, pemasok, bos-bos perusahaan yang bekerja sama dengan Toko Laris.


    "Melian ......." terdengar suara laki-laki memanggil.


    Melian menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Ternyata Parmo yang sudah menemuinya.


    "Mas Parmo .... Huk .., huhuhu ...." Melian langsung memeluk Parmo, dan tentu langsung menangis.


    "Yang tabah, Mel .... Cik Indra sudah mendahului kita .... Semoga Cik Indra diterima di sisi-NYa." kata Parmo pada Melian, yang tahunya kalau Melian itu masih ada hubunbgan saudara dengan Cik Indra.


    "Ayo, kita ke tempat jenazahnya Cik Indra ...." kata Parmo yang langsung menggandeng Melian.


    Tentu para pelayat yang tahu kedatangan Melian pada berbisik-bisik, tanya tentang siapa Melian itu.


    "Siapa dia ...?" tanya salah seorang pelayat.


    "Adiknya Cik Indra ...." jawab yang lain.


    "Kok tidak pernah tahu."


    "Di Jakarta ...."


    "Oo .... Pantasan langsung menangis."


    "Kasihan Irul ...."


    "Iya .... Belum punya anak sudah ditinggal istrinya."


    "Padahal Cik Indra itu orangnya baik .... Murah hati, sering memberi pada para tetangga. Bahkan kalau lebaran juga bagi-bagi paket sembako .... Kok secepat ini dipanggil Yang Kuasa ...."


    "Semuanya sudah digariskan, Kang ...."


    "Iya .... Semoga amal baik Cik Indra menjadi pahala yang melapangkan jalannya di surga ...."

__ADS_1


    "Aamiin ...."


    Parmo terus menggandeng Melian untuk masuk ke rumah, hingga sampai di ruang tengah keluarga Irul. Disitu terdapat meja panjang yang terbuat dari kayu jati, yang khusus digunakan untuk meletakkan jenazah. Begitu sampai di ruang itu, tentu bapak, ibunya dan Irul terkejut Melian sudah sampai di situ. Begitu cepatnya perjalanan dari Jakarta ke Lasem, bahkan hampir mengalahkan ambulan yang mengantar jenazah dari Rumah Sakit Rembang ke rumah keluarga Irul.


    "Melian ...?!" Juminem yang begitu melihat kedatangan anaknya, ia langsung menubruk anaknya. Tentu dengan isak tangis, sedih meratapi nasib Cik Indra yang sudah meninggal.


    Begitu juga Melian, yang tentu sangat kehilangan orang yang dianggap caciknya, yang biasa bermesraan dengannya, kini harus terbujur di tempat yang sebentar lagi akan dimasukkan dalam keranda.


    Jamil juga langsung menghampiri anaknya. Ia juga ikut memeluk anaknya yang sudah menangis terisak-isak.


    Setelah berpelukan dengan ibu dan bapaknya, Melian yang melihat Irul yang terpaku di depan jenazah, langsung menubruk laki-laki yang sangat bersedih karena kehilangan istrinya itu.


    "Mas Irul .........!!" Melian memeluk erat tubuh Irul. Tangisnya semakin menjadi. Pedih dan duka yang teramat dalam di hati Melian, dan juga Irul.


    Irul juga memeluk kuat tubuh Melian, ibarat seperti kakak adik yang sama-ama berduka kehilangan istri dan caciknya.


    Juminem dan Jamil mendekat, menghampiri Melian yang masih lekat berpelukan dengan Irul. Demikian juga Parmo yang sudah dekat dengan Melian. Mereka ingin menenangkan Irul maupun Melian yang menangis meraung-raung di depan jenazah Indra.


    "Yang sabar, Nduk .... Semua sudah ditakdirkan Yang Kuasa ...." kata Juminem yang sudah memeluk pundak anaknya sambil mengelus rambutnya.


    Parmo yang ikut mendekat, hanya bisa melihat kakak iparnya dan Melian menangis. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Diam dalam kebingungan, memandangi Irul dan Melian yang benar-benar hanyut dalam duka cita.


    Setelah mendengar kata-kata Pak Jamil, Irul perlahan tenang. Sudah mulai bisa mengendalikan isak tangisnya. Namun Melian, masih saja menangis.


    "Cik Indra kenapa, Mas Irul ...?" tanya Melian disela isak tangisnya.


    Irul memeluk pundak Melian. Merebahkan kepala gadis yang sedang mekar itu di dadanya. Lantas kata Irul perlahan, sambil menahan isk tangis.


    "Maafkan Mas Irul, Mel .... Mas Irul tidak bisa menjaga Cik Indra dengan baik ...." kata Irul di sela-sela isak tangisnya.


    "Memang Cik Indra kenapa, Mas ...?" tanya Melian yang ingin tahu.


    Irul mendekat ke jasat Indra yang terbujur di meja jenazah. Melian mengikuti. Lantas Irul membuka sedikit kain jarit yang menutupi tubuh istrinya, dengan maksud agar Melian bisa menyaksikannya.


    Melian pun melongokkan kepalanya, melihat wajah Cik Indra di balik kain jarik itu. Seketika itu Melian langsung membenamkan kepalanya di tubuh Irul, sambil memukuli dadanya. Tentu dengan isak tangis yang kembali pecah, Melian kembali menangis meraung-raung.


    "Cik Indra kenapa, Mas Irul ....?! Hua ..., hua ..., huhuhuuu ........" tanya Melian pada Irul sambil masih memukuli dadanya. Melian sangat terpukul saat melihat wajah Indra yang penuh luka. Tidak tega menyaksikannya. Pasti Melian langsung menanyakan penyebabnya.

__ADS_1


    Irul diam, tidak sanggup menjawab. Takut salah dan kena amarah. Ia membiarkan Melian memukuli dadanya, untuk melepaskan emosionalnya. Ia tahu presis bagaimana intimnya Melian dan Indra. Seperti kakak adik yang tidak mau dibanding-bandingkan sayangnya pada Irul. Tidak mau dibanding-bandingkan kemesraannya. Maka wajar kalau Melian menyaksikan tubuh caciknya itu yang penuh luka, pasti emosinya langsung meluap-luap.


    Menyaksikan keadaan seperti itu, para pelayat pun merasa iba, kasihan pada Irul, juga Melian yang menangis tidak karuan itu. Termasuk keluarga Irul, bapak ibunya Irul serta adik-adiknya. Tangisan pilu itu sangat menyayat hati para pelayat. Tangisan orang-orang yang kehilangan oarang baik. Dan semua yang menyaksikan itu akhirnya juga ikut meneteskan air mata.


    "Tenang, Nduk .... Sabarkan dirimu .... Biar Cik Indra tenang di alam baka ...." kata Juminem yang akhirnya harus menghentikan perlakuan anaknya itu pada Irul. Kondisinya sedang berduka. Semuanya sedang bersedih. Tidak baik saling menyalahkan dan saling menyakiti.


    Setelah Melian tenang, Irul mendekap tubuh Melian yang masih menangis menggerung-gerung itu. Tentu Irul ingin Melian mulai bersabar dan tenang.


    "Cik Indra kenapa, Mas Irul ...? Apa yang terjadi pada Cik Indra ...?" tanya Melian dalam pelukan Irul.


    "Ada perampok sadis, Mel .... Tidak hanya merampok harta benda, tetapi juga nyawa Cik Indra .... Huhuhuhu ...." jawab Irul yangkembali menangis.


    Tiba-tiba Melian melepaskan pelukan Irul. Melian langsung membalikkan tubuh, lantas kembali membuka kain jarit penutup tubuh Indra. Melian ingin melihat kondisinya. Dan saat itu, tubuh Melian bergetar. Tangannya langsung mengepal kencang. Raut mukanya berubah merah. Mulutnya mengatup kuat. Ada kemarahan yang keluar dari diri Melian. Sangat marah mendengar kata-kata perampok sadis yang sudah merenggut nyawa Cik Indra. Melian tidak rela. Melian tidak terima. Harus ada keadilan yang setimpal.


    Irul yang menyaksikan keadaan Melian, khawatir kalau mengamuk di tempat duka. Ia bergegas memeluk Melian, untuk menenangkan hatinya. Menunda meluapkan kemarahan.


    "Kamu yang sabar, Sayang .... Kakek tua kita sudah mengajarkan keikhlasan kepada kita ...." dalam dekapan itu, Irul mengajak Melian untuk duduk.


    Entah ada energi apa yang mengalir ke mulut Irul, Melian menurut begitu saja. Lantas duduk di kursi bersama bapak dan ibunya serta keluarga Irul. Diam dan tenang.


    Ibunya Irul mendekat ke Melian, memeluk gadis itu sambil mengelus rambut Melian. Pelukan dan belaian yang penuh kasih sayang, seperti layaknya seorang ibu yang mencurahkan kasih sayangnya kepada anaknya.


    Proses pemulasaraan jenazah dilakukan oleh orang-orang kampung yang memang sudah biasa melakukan tugasnya. Tentu dipimpin oleh Pak Modin. Pemakaman Indra dilakukan dengan adat Jawa, melalui tradisi yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat Lasem. Mulai dari upacara pemandian jenazah, pembalutan kain kafan serta menata ke dalam keranda.


    Dan akhirnya, upacara pemberangkatan jenazah dilaksanakan. Tentu dengan pengacaraan yang menggunakan kata-kata yang memilukan, ucapan-ucapan yang menyedihkan. Bahkan setelah keranda jenazah itu diangkat, ada acara brobosan, dimana keluarga yang ditinggalkan berkeliling mengintari bawah keranda jenazah sampai tujuh kali. Dan ternyata yang ikut brobosan itu tidak hanya dari keluarga Irul dan Jamil, tetapi banyak orang yang ikut brobosan. Terutama para perempuan tetangganya yang sudah sangat dekat dan baik kepada Indra. Pasti hal itu mengundang tangis dari orang-orang, baik yang ikut brobosan maupun para pelayat lainnya. Bahkan ada perempuan-perempuan yang sangat terharu dan terus memegangi keranda yang digotong oleh empat laki-laki kekar itu.


    Dan puncak tangis kembali pecah saat empat laki-laki penggotong keranda itu mulai melangkah membawa jenazah menuju kuburan.


    "Cik Indra ........II Jangan tinggalkan kami, Cik .....!! Hua ..., hua .... Huhuhu ...." seorang perempuan setengah baya mengguling-guling di halaman, menangis sejadi-jadinya, tidak mau kehilangan Indra yang akan dikuburkan. Beberapa orang mencoba membantu membangunkan dan menenangkan.


    "Ya ampun ..., Cik Indra .... Kenapa meninggalkan kami ....??!" yang lain juga mulai menjerit pedih.


    "Huhuhuuuhuhu .... Cik Indra ....."


    "Huhuhuuuhuhu .... Kenapa begitu cepat meninggalkan kami, Cik Indra ....??!"


    Hujan tangis mengiringi kepergian Cik Indra ke pemakaman. Barisan pelayat yang mengiringi jenazah sangat panjang. Tidak hanya satu kampung, tetapi juga warga masyarakat dari kampung-kampung sebelah, yang rata-rata kenal Cik Indra. Pasti orang-orang akan kehilangan untuk selamanya. Dan mereka pada menangis, menangisi kebaikan Indra selama ini kepada warga masyarakat. Berbagai kebaikan yang sudah diberikan oleh Indra terungkap semua, dan kini orang baik itu sudah tiada. Orang-orang ini mearasa sangat kehilangan. Kehilangan orang baik, kehilangan kebaikan.

__ADS_1


__ADS_2