
Peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi di Desa Sarang, menjadi cerita yang menyenangkan bagi warga Sarang. Karena Desa Sarang menjadi kampung yang aman. Tidak ada pencuri yang bernai masuk ke kampung itu. Bahkan tidak warga atau orang yang berani mengambil barang atau apapun yang bukan miliknya. Tentu segala harta benda milik warga menjadi aman, tidak ada yang hilang. Tidak hanya harta benda yang ada di rumah, bahkan tanaman yang ada di sawah, di ladang, semuanya aman. Tidak ada orang yang mencuri pisang di kebun, tidak ada orang yang mengambil buah-buahan yang ada di tegalan, tidak ada orang yang mengambil singkong yang bukan miliknya. Semuanya aman.
Keamanan Desa Sarang telah memberikan ketenteraman bagi warga dalam mencari rezeki, dalam bekerja dan dalam seluruh tatanan kehidupan. Tidak hanya sekadar aman tenteram, rasa kekeluargaan pun sangat erat dan akrab. Saling tolong, saling membantu. Kehidupan gotong royong menjadi sendi utama dalam menata desa. Dan yang jelas, kehidupan di Desa Sarang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.
Pernah suatu ketika, pada suatu hari ada tas belanja milik salah seorang warga yang berisi berbagai macam barang belanjaan, ketinggalan di perempatan jalan. Mungkin yang punya lupa, atau bahkan bisa jadi yang punya sengaja mencoba kejujuran warga. Barang itu tergeletak dari pagi sampai sore. Tidak ada yang menyentuh. Tidak ada yang mengambil. Barang itu tetap utuh dan tidak berubah. Hingga akhirnya, ada orang yang mengumumkan, menyampaikan ke warga-warga, berteriak mengingatkan siapa yang belanjaannya tertinggal di perempatan.
"Ada tas belanja yang tertinggal di perempatan jalan, milik siapa ya ....?!" teriak jogo boyo.
Perangkat desa yang menjadi jogo boyo, petugas keamanan kampung itu keliling desa, mengumumkan adanya tas yang ketinggalan tersebut. Tentu sambil tanya-tanya siap yang tahu.
"Iya, Pak .... Saya juga lihat dari tadi pagi ...." ibu-ibu yang ketemu jogo boyo itu berkomentar.
"Punya siapa, ya ...? Masalahnya di dalam tas itu juga ada uangnya ...." tanya jogo boyo yang bingung.
"Walah .... Kok yang punya tas itu juga lupa itu, lho ....Padahal kalau ada uangnya biasanya gak pernah lupa .... Hehehe ...." sahut orang ibu-ibu yang diajak bicara itu.
"Lha iya .... Ini kok jan orang yang punya tidak mbutohi .... Piye leh ngene iki ...?"
"Iya, ya ..., Pak ...." kata ibu itu lagi yang tentu juga heran.
"Sampeyan tidak tahu to, Mbok ...?" kata jogo boyo.
"Tidak tahu, Pak ...." sahut orang itu.
"Tolong sampaikan ke para tetangga ya, kalau misalnya ada yang kelupaan ...." kata sang jogo boyo.
"Iya, Pak .... Nanti akan saya kabar-kabarkan ke para tetangga." kata orang itu yang bersedia untuk menyampaikan kepada para tetangga.
Jogo boyo itu terus berkeliling, tentu masih menyampaikan kalau ada tas belanja yang tertinggal
Ibu-ibu itu pun langsung menyampaikan ke tetangga yang lain, berikutnya juga menyampaikan ke tetangga yang lain lagi. Begitu seterusnya sampai kabar berita tentang adanya tas belanja yang didalamnya ada barang belanjaan dan juga ada sejumlah uang itu tersiar ke seluruh warga kampung.
Namun, meski sudah disampaikan oleh petugas jogo boyo yang keliling kampung, meski sudah getok tular dari mulut ke mulut dikabarkan oleh warga kampung, tetap saja tidak ada orang yang mau mengakui tas belanjaan yang ada di perempatan jalan tersebut. Dan tas itu tetap berada di perempatan jalan.
Hingga akhirnya, saat sore hari menjelang maghrib. Saat Pak Kepala Desa datang ke perempatan, tempat di mana tas belanja itu bertengger. Dan tentu, para warga juga ikut datang ke perempatan, pastinya ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh kepala desanya.
"Benar-benar luar biasa ...." kata kepala desa itu.
"Apanya, Pak ...?" tanya salah satu warga laki-laki setengah baya.
"Ini ...." kata kepala desa itu sambil menunjuk tas yang tergeletak di perempatan jalan itu.
"Memang tas ini punya siapa, Pak?" tanya orang-orang yang lain, yang pasti penasaran.
"Lihat .... Tas ini tadi pagi sengaja saya letakkan di perempatan ini. Ada barang belanjaan dan ada uangnya juga. Pemikiran saya ..., perkiraan saya ..., pasti ibu-ibu akan tertarik dengan barang-barang belanjaan ataupun uang .... Tapi sampai sore, sampai sekarang, sampai detik ini ..., barang ini masih utuh. Bahkan letaknya pun tidak berubah. Benar-benar hebar .... Luar biasa warga Desa Sarang ini. Kalian semuanya sangat jujur dan tidak mau mengambil maupun menyentuh barang yang bukan miliknya. Saya senang .... Saya bangga dengan warga Desa Sarang." kata kepala desa tersebut, tak lupa ia tepuk tangan memuji warganya.
Tentu para warga juga bertepuk tangan memuji Pak Kepala Desa. Ternyata tas belanjaan itu adalah milik Pak Kepala Desa, yang sengaja menaruh tas tersebut untuk menguji kejujuran warga masyarakatnya. Dan ternyata terbukti, warga Kampung Sarang memang benar-benar jujur dan tidak ada yang mau mengambil barang yang bukan miliknya. Warga Kampung Sarang benar-benar menjadi warga yang baik tanpa ada yang mau mengakui hak milik orang lain.
__ADS_1
Berganti hari, lain lagi ceritanya. Pagi itu Desa Sarang dihebohkan oleh adanya bangkai kambing, meskipun kambing itu belum begitu besar. Bangkai kambing itu tergeletak di parit di pinggir jalan kampung. Awalnya diketahui oleh pemilik kebun yang akan memotong buah pisang yang sudah masak di kebunnya. Saat ia melompat dari jalan ke kebun, ternyata ada kambing yang tergeletak di parit. Awalnya ia curiga dengan keberadaan kambing itu, yang dikira tidur atau terperosok ke parit. Namun setelah diamati, dan tentu disentuh untuk memastikan, ternyata kambing itu tidak bergerak, alias sudah mati.
"Tolong ...!! Tolong ...!! Ada kambing mati ...!!" teriak laki-laki setengah baya itu.
"Ada apa ...?!"
"Hah ...?! Kenapa ...?!"
"Ada kambing mati ...."
"Kambingnya siapa ...?!"
"Tidak tahu ...."
"Di mana ...?!"
"Di sana .... Di parit ...."
Pagi itu, orang-orang se kampung yang belum sempat berangkat kerja langsung ribut berlarian menuju tempat yang dikabarkan ada kambing meninggal. Tentu semua ingin tahu, ingin melihat seperti apa kambingnya dan milik siapa kambing itu.
"Bukan milik saya .... Saya tidak punya kambing seperti itu ..." kata salah seorang bapak.
"Kok seperti kambingnya Kang Zaenuri, ya ...?!" sahut salah seorang sambil mengamat-amati kambing itu.
"Coba kamu tanya Kang Zaenuri ..., benar nggak ini kambingnya ...?" yang lain menyuruh salah seorang anak untuk pergi ke rumah yang dikatakan.
Tidak lama, Kang Zaenuri itu pun datang ke situ, bersama anak yang memberi tahu.
"Zen ..., ini kambingmu apa bukan?" tanya orang yang lebih tua pada laki-laki yang baru datang tersebut.
"Tidak, Mbah .... Kambing saya di rumah masih utuh .... Saya baru saja ngasih ramban." sahut Zaenuri yang yakin kalau kambingnya masih utuh.
"Waduh .... Lha terus ..., ini kambing siapa ...?"
"Sudah kaku gini, kok ...."
"Berarti matinya sudah lama ...."
"Lha terus bagaimana?"
"Mau diapakan bangkai kambing ini?"
"Sudah ..., tidak usah ribut .... Kita kuburkan saja bangkai ini .... Kalau kelamaan nanti terlanjur membusuk ...." kata salah seorang bapak yang ada di tempat itu.
"Dikubur di mana ...?" tanya yang lain.
"Di pojok sana .... Itu tanag beran yang tidak diurus. Cukup jauh dan tidak dekat dengan rumah warga. Tempat yang tidak ditanami orang." sahut yang lain memberi pendapat.
__ADS_1
"Ya .... Aku setuju ...." yang lain langsung menyetujui.
"Ambil cangkul .... Kita buat lubang."
"Siap ...."
"Galinya yang dalam .... Biar tidak bau ...."
"Beres ...."
"Bangkai kambingnya digotong ...."
"Siap ...."
Pagi itu, orang se kampung langsung bekerja bakti mengubur bangkai kambing. Entah kambing siapa mati di parit itu. Karena sudah diumumkan ke seluruh warga, katanya tidak ada yang kehilangan kambing. Kambing peliharaan warga masih utuh.
Tidak urusan itu kambing siapa. Tetapi bagi warga Desa Sarang ini, bangkai kambing itu harus segera terkubur. Sebab kalau tidak segera dikubur, nanti akan membusuk dan tentu akan mengundang lalat dan yang ditakuti adalah menyebarkan penyakit. Karena mereka juga takut kalau saja kambing yang mati itu terkena penyakit atau virus yang berbahaya. Tidak hanya berbahaya bagi kesehatan manusia, tetapi mereka juga takut kalau bangkai kambing itu membawa virus menular bagi kambing lainnya.
Itulah sebabnya, maka warga Desa Sarang bergegas untuk segera mengubur bangkai itu. Dan tentu lubang yang dibuat untuk mengubur cukup dalam, biar aman.
"Bagus ...." tiba-tiba Pak Kepala Desa muncul, setelah penguburan kambing itu selesai.
"Wah ..., ada Pak Lurah, to .... Ini, Pak ..., ngubur kambing mati." sahut orang-orang yang baru saja selesai mengubur bangkai kambing.
"Ya .... Memang harus begitu. Kalau ada hal yang kira-kira tidak baik, bisa berakibat buruk di kampung kita, harus segera mengambil keputusan, melakukan tindakan secara cepat dan tepat. Harus berani melangkah tanpa menunggu pimpinan." kata kepala desa itu memberi nasihat.
"Nggih, Pak ...." jawab para warga.
"Lha sudah diumumkan, disampaikan ke warga kampung tidak ada yang tahu kok, Pak ...."
"Kalau memang bukan kambingnya, ya tidak mungkin mengakui, kan ...?! Mosok tidak punya kambing kok disuruh ngaku .... Itu namanya intimidasi .... Tidak boleh .... Dosa." sahut kepala desa tersebut.
"Nggih, Pak ...." sahut para warga.
"Saya bangga dengan warga Desa Sarang .... Saya yakin, kampung ini nantinya akan menjadi desa yang aman tenteram dan makmur." kata Pak Kades.
"Tapi sebenarnya kambing yang mati ini milik siapa ya, Pak .... Kok warga sini tidak ada yang mau mengakui?" tiba-tiba salah seorang warga nyeletuk.
"Hehehe .... Maaf, ya .... Itu kambing dari kampung sebrang. Punya orang sana .... Kambingnya masuk angin setelah makan kulit singkong petruk .... Saya hanya ingin menguji kesigapan warga kampung sini. Bisa tidak menyelesaikan masalah seperti ini? Ternyata warga saya memang hebat. Makanya saya berpesan, kambing kalian jangan dikasih makan kulit singkong petruk. Itu bisa mengakibatkan kambing keracunan, karena kulit singkong petruk itu mengandung asam sianida." kata Pak Kades sambil tersenyum.
"Wualah .... Jebul Pak Kades, to ...."
"Warganya dikerjai ...."
"Tidak apa-apa, Pak .... Ini jadi pengalaman buat kami.
"Ya .... Kalian harus tetap menjaga kebersihan, dan hati-hati dalam memberi makan ternaknya." sahut Pak Kades.
__ADS_1
Dan Kampung Sarang pun semakin maju dan menjadi kampung yang aman dan makmur.