
Setelah selesai makan sate kelinci, di warung sate pinggir jalan Bandungan. Dinginya udara malam sudah terasa. Namun suasana Malam Minggu di Bandungan semakin ramai dan menarik.
"John ..., pacarmu biar ikut saya saja .... Naik mobil, biar tidak kena angin ...." kata teman Jonatan yang kurus, oleh teman-temannya dipanggil Cung Kek itu.
"Iya, John .... Biar bersama kami saja ...." sahut teman yang lainnya.
"Ndak usah .... Biar Melian bonceng saya, nanti saya ngikuti mobilmu." sahut Jonatan yang tentu tidak mau naik motor sendiri jika Melian diajak bareng temannya.
"Ya sudah .... Tapi hati-hati, jalannya agak naik dan agak kurang bagus .... Ditambah udaranya sangat dingin ...." kata Cung Kek.
"Memang vilanya di mana?" tanya Jonatan.
"Itu .... Dari jalan perempatan pasar, nanti naik terus .... Vila yang paling atas." jawab Cung Kek, yang akan mengajak teman-temannya ke vila milik keluarganya tersebut.
"Nggak usah bingung .... Pokoknya ngikuti kami saja ...." sahut teman yang menyetir mobil feroza, yang oleh teman-temannya lainnya dipanggil Kecik.
"Ya, Oke, siap ...." Jonatan langsung menyalakan motornya. Melian langsung membonceng.
"Ngikuti kami, ya ....!" teriak temannya yang sudah menjalankan mobil feroza berisi tiga orang laki-laki, teman Jonatan yang bersekolah di SMA lain.
Mobil feroza itu langsung menuju jalan ke utara, ke arah atas dari Pasar Bandungan. Terus naik ke lereng Gunung Ungaran sisi selatan. Sementara RXZ yang dinaiki Jonatan yang berboncengan dengan Melian mengikuti di belakangnya. Tentu suaranya agak menggerung kencang karena jalannya menanjak dengan aspal yang sudah pada mengelupas karena digerus air hujan. Namanya saja perjalanan menuju lereng gunung. Vila tertinggi di Bandungan.
Hingga akhirnya, jalan beraspal kurang bagus itu pun berakhir. Mobil feroza berbelok ke bangunan rumah yang dijadikan vila oleh orang-orang berduit berlebihan, seperti halnya orang tuanya Cung Kek. Feroza itu langsung masuk ke garasi vila. Tiga orang teman Jonatan turun dan langsung membuka pintu vila. Jonatan ikut memasukkan motornya di teras garasi. Melian turun, bersama Jonatan.
"Nah .... Ini dia, kita sudah sampai di vilaku ...." kata Cung Kek yang langsung membuka pintu.
"Nggak ada orang, Cung?" tanya temannya yang menyetir feroza tadi.
"Ada, yang bersih-bersih. Tapi kalau malam dia sudah pulang. Biasanya vila ini hanya untuk liburan keluarga. Kalau mau kemari ...." jawab Cung Kek.
"Memang ada vila di tempat lain, Cung?" tanya Jonatan yang tentu minder dengan kekayaan orang tuanya Cung Kek.
"Yah, ada sih .... Tapi jauh di Bali. Sudah ayo masuk ...! Di luar makin dingin!" ajak Cung Kek pada teman-temannya.
__ADS_1
Jonatan dan Melian masuk ke vila itu. Demikian juga dua orang teman sekolah Cung Kek. Tentu karena udara di luar sangat dingin. Tidak hanya itu, tetapi suasana di luar yang gelap tentu sangat menyeramkan. Vila itu sendirian di puncak gunung. Tidak ada tetangganya. Bangunan yang menyendiri di lereng tertinggi. Entah apa tujuannya, orang kaya membangun vila di tempat yang sangat jauh dari keramaian itu, padahal jarang ditempati. Yang jelas uangnya sudah berlebihan.
Vila itu cukup mewah. Begitu masuk dari pintu depan sudah ada ruang tamu sekaligus sebagai ruang keluarga yang cukup luas. Ruang keluarga itu dilengkapi dengan sofa-sofa yang bagus dan empuk. Di situ juga terdapat perlengkapan elektronik yang lengkap. Mulai dari televisi layar besar, sound system yang juga besar, serta video CD. Pasti untuk karaoke dan menonton film. Kemudian, mengelilingi ruang keluarga itu terdapat empat kamar tidur ukuran besar. Pasti dilengkapi dengan kasur yang empuk. Sedangkan di bagian belakang, di sisi antara dua kamar tidur, terdapat dapur yang lengkap dengan perabot masak dan makan. Ada kulkasnya besar, meski hanya berisi botol-botol softdrink dan air mineral.
"Tenang .... Tidak usah khawatir .... Ini tempat tidurnya. Kalian bisa tidur nyenyak di sini, sambil menikmati malam Minggu. Tidak tidur juga boleh ...." kata Cung Kek yang menunjukkan tempat-tempat ruangan vila itu kepada teman-temannya.
"Katanya kita mau senang-senang ...." sahut temannya yang dipanggil Kecik itu.
"Tenang .... Santai dulu, Kecik .... Jangan tergesa-gesa .... Malam masih panjang .... Mana kontakmu?" sahut teman satunya, yang langsung berdiri dari sofa tempat duduknya, lantas meminta kunci mobil pada Kecik.
"Mau apa, Ndes ...?! Nih ...." tanya Kecik pada temannya yang biasa dia dipanggil Prendes itu dan langsung melemparkan kontak mobilnya.
"Tenang .... Katanya mau senang-senang." sahut Prendes yang langsung keluar menuju ke garasi, membuka mobil. "Nih .... Kita pesta malam ini ...." kata Prendes.
"Wuah .... Mantap ...." kata Kecik dan Cung Kek yang menyaksikan Prendes membawa satu kardus botol minuman. Ada congyang, ada bir, ada wisky dan vodka. Minuman-minuman keras yang sengaja mereka bawa untuk berpesta. Tidak ketinggalan ada satu plastik besar kacang kulit oven sebagai kletikan. Malam itu, akan mereka nikmati dengan minum-minum bersama.
Jonatan kaget melihat minuman yang disediakan oleh teman-temannya itu. Pasti mereka akan mabuk-mabukan. Tentu Jonatan khawatir. Kalau sampai mereka memaksa dirinya atau Melian menyuruh ikut minum. Kalau sampai mabuk malah repot.
Melian tidak paham dengan apa yang akan dilakukan oleh teman-teman Jonatan itu. Maklum, dia dari kampung dan selalu patuh pada orang tuanya. Tidak pernah punya teman yang aneh-aneh. Tidak mengenal orang minuman keras atau melihat orang mabuk. Apalagi minuman-minuman yang dibawa oleh teman-teman Jonatan itu. Dia tidak mengenal sama sekali. Makanya Melian tidak curiga sama sekali.
Melian yang melihat penuangan minuman itu, pasti heran, kenapa menuangnya hanya sedikit? Pelit amat orang ini.
"Ayo minum .... Nih, diminum ...." Kecik ikut menawarkan. Bahkan sudah memberikan gelas berisi congyang itu kepada Jonatan dan Melian.
"Huweek ....!!!" begitu mencium bau minuman itu, saat akan diminum, Melian langsung menghoek ingin muntah.
"Baunya kok kayak gini ...? Saya jadi mau muntah ...." kata Melian yang tidak jadi minum, tidak doyan dengan minuman itu.
"Jangan-jangan .... Kamu tidak usah minum ini." Jonatan melarang Melian meminumnya.
"Memangnya kenapa ...?" tanya Melian yang tentu ingin tahu.
"Kalau tidak biasa, gak kuat, ini bisa bikin mabuk." jelas Jonatan.
__ADS_1
"Biar dicoba saja .... Tidak apa-apa .... Enak kok .... Bikin badan jadi segar .... Ayo minum ...." kata Cung Kek yang sudah habis dua teguk congyang.
"Jangan, Mel .... Nanti kamu mabuk ...." larang Jonatan lagi. Tentu sangat kasihan kalau sampai perempuan yang disayangi itu menenggak minuman keras.
"Ya, udah kalau gak mau .... Ayo, John .... kamu aja yang minum .... Nanti biar Melian saya ambilkan cola di kulkas." lagi-lagi Cung Kek menyuruh teman-temannya minum.
"Ayo ..., ayo .... Tambah lagi ...." Kecik mengangkat botol, lalu menuangkan kembali minuman dari botol kedua. Botol pertama sudah menggelempang, kosong habis diminum.
Cung Kek ke dapur. Membuka kulkas. Mengambil botol cola yang akan diberikan kepada Melian yang tidak mau minum minuman keras. Lantas membuka tutupnya.
Namun Cung Kek yang sudah berbau alkohol itu punya rencana lain. Ia merogoh saku celananya. Mengambil dompet, lantas membuka dompet itu. Tidak untuk mengambil uang. Tetapi ia mengambil plastik kecil yang ada dalam dompet itu. Ada serbuk putih, semacam tepung dalam plastik kecil itu. Lantas serbuk dari plastik kecil itu dituangkan ke dalam botol cola.
"Nih .... Buat gadis cantik cukup minum cola ini saja .... Silahkan diminum." kata Cung Kek yang memberikan minuman cola kepada Melian.
Tentu Melian langsung meminumnya. Dan pasti enak, tidak seperti congyang yang baunya saja sangat menyengat.
"Ayo ..., dilanjutkan ...." Kecik menuangkan minuman dari botol yang ketiga.
Dua botol sudah habis ditenggak. Kini minumannya sudah mulai dicampur dengan botol lain. Tentu yang lebih tinggi kadar kenikmatannya. Tiga orang teman Jonatan itu sudah mulai ngelantur kata-katanya. Sudah tidak karuan bicaranya. Jonatan yang jarang minum-minuman seperti itu, sudah teler lebih dulu.
Tiba-tiba Cung Kek menghidupkan televisi. Tapi tidak akan melihat siaran TV. Lalu mengganti dengan video. Yang disetel filem Hongkong. Tentu filem remaja, tentang percintaan. Namun itu bukan filem yang beredar di bioskop, tetapi filem yang mestinya ditonton orang dewasa. Ini pasti karena pergaulan bebas anak-anak yang tidak pernah diperhatikan oleh orang tuanya. Hanya dicukupi uang saja. Makanya mereka jadi salah pergaulan.
Ada hal aneh yang terjadi pada diri Melian. Tentu setelah minum cola yang diberikan oleh Cung Kek. Entah karena apa, tapi Melian terlihat seperti orang kesurupan. Mulutnya komat-kamit, seakan mau mengatakan sesuatu tetapi tidak keluar kata-kata. Tangannya gemetar. Bahkan tubuhnya juga terlihat menggeliat berkali-kali. Ada geliat aneh yang dialami oleh Melian.
Jonatan sudah mabuk. Sudah tidak berdaya. Sudah tergeletak di sofa tanpa daya. Jonatan tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Melian. Mengurus dirinya saja tidak sanggup, apalagi mau membantu Melian. Yang ia tahu, Melian hanya bergerak aneh.
Cung Kek menarik tangan Melian. Lantas menatapkan wajah Melian ke arah TV, untuk diperlihatkan pada video yang sedang disetelnya. Begitu menyaksikan filem dalam video itu, Melian justru semakin parah geraknya. Seperti orang yang sedang meminta untuk diberi kasih sayang oleh lawan jenis. Melian kelonjotan, bergerak tidak karuan. Desah nafasnya sangat bernafsu.
Cung Kek yang sengaja memasukkan obat perangsang dalam cola yang diminum oleh Melian, langsung melancarkan aksinya. Melian dituntun masuk kamar. Lantas Cung Kek merebahkan wanita yang sedang terhipnotis rangsangan setan tersebut. Tangan Cung Kek mulai melepas satu persatu pakaian yang dikenakan oleh Melian. Mulai dari jaket, kaos oblong, celana, bahkan seluruh pakaian yang dikenakan oleh Melian.
Kini Melian yang tergeletak di tempat tidur dengan tanpa ada sehelai benang itu melakukan gerakan-gerakan menggeliat ke kanan kiri, atas bawah, seolah seperti seekor ular yang tidak bisa merayap.
Cung Kek yang tahu hal itu akan terjadi, karena mungkin ia sudah biasa melakukan hal ini, terlihat tersenyum kegirangan. Mangsanya sebentar lagi akan dilahap dengan nikmatnya. Maka ia segera melepas pakaian yang dikenakan. Ia akan berenang di atas kolam kenikmatan. Tentu dengan nafsu yang menggelora.
__ADS_1
Setelah puas melihat keindahan pemandangan di atas kasur, dan puas mengamati gerakan Melian, yang menyebabkan Cung Kek semakin terus-terusan menelan ludah, tentu sudah tidak kuat untuk menahan dirinya terlalu lama membiarkan santapan lezatnya. Maka Cung Kek langsung menuju tempat di mana Melian sudah menggelepar. Pasti Cung Kek akan melakukan aktivitas laki-lakinya.