GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 238: KECELAKAAN DI PUNCAK


__ADS_3

    Pagi itu, setelah taksi yang dinaiki Melian berangkat ke bandara, ternyata ada taksi lain yang masuk ke Kampung Transformer. Kebetulan Akbar belum beranjak dari halaman parkir saat melepas kepergian Melian. Dari dalam taksi, keluar seorang gadis cantik. Putri.


    "Akbar ...!" kata Putri yang turun dari taksi dan langsung memanggil Akbar yang berdiri di dekat taksinya berhenti.


    Akbar mengamati gadis yang baru datang itu. Tentu beberapa saat memperhatikan, karena belum begitu yakin dengan gadis yang turun dari taksi itu.


    "Kok bengong ...? Aku Putri ...." kata Putri yang sudah menghampiri Akbar, tentu dengan senyum lebar menatapnya.


    "Iya ..., temannya Melian, kan?" tanya Akbar setelah ingat gadis yang ada di hadapannya itu.


    "Betul ...." kata Putri yang langsung mengulurkan tangannya, menyalami Akbar.


    "Barusan Melian keluar .... Dia mau pulang kampung ...." kata Akbar sambil menunjuk ke arah jalan, dimana taksi yang dinaiki Melian tadi keluar.


    "Aku nyari Akbar .... Bukan nyari Melian .... Hehe ...." kata Putri yang tentu sudah mulai berani berterus terang dengan Akbar.


    Maklum, Putri sudah punya pengalaman pacaran dengan Wijaya yang akhirnya diputus begitu saja. Pacaran gaya anak orang kaya, yang tentu langsung ceplas-ceplos. Yang penting tujuannya adalah pergaulan bebas yang kebablasan. Pengalaman itu mestinya sudah cukup kalau hanya untuk modal merayu Akbar, cowok kutu buku yang tidak pernah mau gaul. Apalagi dengan model pacaran masuk bar atau diskotik. Pasti Akbar akan kelabakan, persis kayak Melian yang langsung melarikan diri.


    Tapi beda perempuan beda laki-laki. Mana ada kucing yang disuguh ikan asin langsung menolak. Paling tidak kucingnya akan mencium-cium, dan lantas menubruk semuanya. Akbar meski sebagai cowok kutu buku, kalau digoda oleh Putri, pasti akan luluh. Apalagi putri merupakan gadis yang cantik. Perawakannya pun boleh dikatakan sangat seksi. Mana ada laki-laki yang menolak. Dan yang pasti pengalamannya berpacaran dengan Wijaya sudah sangat komplit. Kini justru Putri yang akan mengajari Akbar mengenal cinta.


    "Kok nyari aku ...? Ada apa?" tanya Akbar yang tentu bingung.


    "Kemarin lusa aku sudah kemari, nyari Akbar .... Tapi kata Melian, kamu barusan berangkat kuliah." kata Putri.


    "Iya .... Saya masih ada kuliah. Dan kemarin memang mencarikan dinamo untuk kincir air. Buat mainan anak-anak ...." kata Akbar.


    "Kalau hari ini, Akbar ada kuliah apa enggak?" tanya Putri lagi, yang tentu ingin ngobrol bareng bersama Akbar.


    "Saya rencananya mau ke kampus. Ada kegiatan di kampus. Nanti habis makan saya berangkat." jawab Akbar yang tentu konsisten dengan kegiatan kuliahnya. Maklum anak ITB sudah biasa tekun dalam belajar.


    "Kalau aku ikut, boleh nggak?" tanya Putri tiba-tiba, yang tentu sangat ingin mendekati Akbar. Setidaknya Putri ingin mencoba nembak Akbar. Yah, sebagai pengobat frustrasinya saat ini, setelah diputus sepihat oleh Wijaya, yang tentu sangat menyakitkan. Beruntung Wijaya sudah mati terbakar di gedung diskotik.


    "Wah, jangan .... Kegiatan saya cukup lama dan banyak yang harus saya kerjakan di kampus. Kasihan Putri, nanti malah disangka penelusup masuk kampus." jawab Akbar yang tentu sangat keberatan kalau diikuti cewek. Pastinya di kampusnya nanti, Akbar tidak akan bisa menemani Putri karena kesibukannya.


    "Hmmm .... Akbar punya waktu luang kapan?" tanya Putri yang tentu sangat ingin duduk bareng bersama Akbar.


    "Kapan, ya ...? Paling hari Minggu .... Itu kalau nggak ada anak-anak yang minta diajari ...." sahut Akbar.


    "Bagaimana kalau hari Sabtu malam MInggu kita jalan-jalan?" Putri memberi penawaran.


    "Di sini?" tanya Akbar.


    "Ih ..., ya nggak, lah .... Kita jalan bareng ke Ancol, atau ke Puncak, ke mana aja, kek ...." kata Putri yang memberi alternatif.


    "Akan saya usahakan .... Tapi tidak janji, lho ...." kata Akbar yang tentu agak merasa berat.


    "Harus bisa, lah .... Tolong ushakan ya, Akbar ..., please .... Malam Minggu kita jalan-jalan ...." pinta Putri yang merengek.

__ADS_1


    Akbar diam tak menjawab. Lantas berjalan menuju dalam kampung. Pastinya akan kembali ke Rumah Unik, tempat mangkalnya para volunteer. Putri mengikuti langkah Akbar. Tentu akan mencari cara untuk pendekatan dengan cowok ganteng itu.


    "Eh, Akbar ..., kita sarapan bareng, yuk .... Katanya Akbar mau ke kampus .... Sarapan dahulu ..., aku juga belum sarapan, nich ...." kata Putri yang menawarkan ajakan makan.


    Akbar diam tidak menjawab. Tentu bingung kalau diajak makan oleh orang yang belum begitu dekat, walau Putri itu sahabatnya Melian.


    "Aku yang traktir .... Gak usah khawatir .... Ayuk ...." ajak Putri lagi, setengah memaksa.


    "Oke, lah .... Kamu kok sukanya memaksa, sih ...." sahut Akbar yang akhirnya luluh oleh rayuan Putri.


    "Tidak memaksa .... Tapi demi rasa sayangku pada Akbar ...." kata Putri yang sudah mulai berterus terang.


    Akbar langsung gelagapan. Kaget mendengar kata-kata Putri tersebut. Hati Akbar langsung bergejolak, saat mendengar kata sayang dari Putri itu. Tentu Akbar akan berfikir berkali-kali untuk memilih calon pacarnya. Antara Putri atau Melian. Kalau ia menerima kehadiran Putri, sudah jelas cewek itu mengatakan rasa sayang. Berarti tidak diragukan lagi jika jadian sama Putri, ia bakalan langsung diterima. Tetapi jika Akbar berharap pada Melian, ia masih ragu. Benarkah Melian mau mencintai dirinya? Benarkah Melian bisa menerima dirinya? Benarkah Melian juga memiliki rasa seperti yang ada di dalam dirinya?


    Melian memang belum pernah mengatakan apa-apa. Tapi dari kedekatannya, Akbar sudah sangat dekat. Bahkan hampir siang dan malam mereka bersama teman-teman yang lain, selalu membahas permasalahan untuk memajukan kampung para pemulung itu. Dan kini, tentu para volunteer itu sudah memetik hasilnya. Walau Melian yang mewakili, tetapi toh semua yang diperoleh itu dipersembahkan untuk mereka semua. Melian tidak mau mengakuinya secara pribadi. Itulah baiknya Melian. Sehingga semua temannya senang pada dirinya. Tidak terkecuali dengan Akbar. Maka Akbar ragu-ragu untuk mengatakan perasaan kepada Melian. Tentu karena Melian baik kepada setiap orang yang ada di Kampung Transformer itu. Bukan hanya kepada para volunteer, tetapi juga kepada anak-anak dan seluruh warga kampung yang rata-rata adalah pemulung itu.


    Maka, ketika Putri mengatakan kata "sayang" kepada Akbar, hati Akbar mulai berpaling. Setidaknya Akbar menganggap ada peluang yang lebih mungkin untuk bisa mendapatkan seorang cewek yang cantik. Jika dibandingkan dengan Melian pun tidak ada bedanya. Sama-sama cantik. Dan tentunya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.


    "Ayo, dimakan .... Biar nanti saat kuliah tidak kelaparan ...." kata Putri yang terdengar sangat lembut di telinga Akbar.


    "Iya .... Putri juga makan .... Masak sotonya didiamin aja ...." balas Akabar.


    "Iya .... Aku lihat kamu makan aja udah seneng banget ...." jawab Putri yang sambil sesekali memasukkan sendok makannya ke mulut.


    "Biar gak kelaparan .... Atau ..., takut gemuk?" kata Akbar yang berseloroh.


    Mereka berdua pun makan sarapan di cafetaria. Tentu sambil bercerita banyak hal. Hingga selesai. Akbar harus berangkat ke kampus. Dan Putri, pulang ke asrama, tentu dengan hati yang berbingar.


*******


    Hari Sabtu, jalan menuju Puncak memang sangat ramai. Biasanya orang-orang Jakarta pada berakhir pekan, mencari hiburan, untuk refresing di kawasan Puncak. Ada yang menginap di sana. Ada yang berwisata ke obyek wisata. Ada pula yang hanya sekadar jalan-jalan melepas penat setelah sepekan bekerja mati-matian.


    Beda dengan Putri dan Akbar. Mereka berdua bukan sekadar berlibur. Bukan juga berniat untuk wisata. Tetapi niatan Putri adalah menggaet hati Akbar. Tentu bagi Akbar, ini adalah pengalaman pertama untuk jalan-jalan ke Puncak berboncengan sepeda motor dengan seorang gadis yang cantik.


    Walau hanya sekadar membonceng motor, Putri merasa senang. Tentunya karena hatinya yang sedang berbunga karena cintanya bakal berlabuh kembali. Dan membonceng motor dengan seorang cowok ini merupakan pengalaman pertama Putri yang anak seorang pengusaha hotel kaya raya. Namun karena rasa cinta itulah sehingga meski naik motor justru menambah asyiknya perjalanan. Setidaknya Putri bisa memeluk tubuh Akbar. Bukan sekadar memeluk, tetapi merebahkan seluruh tubuhnya di punggung Akbar. Terlihat sangat mesra.


    Tentu jantung Akbar berdetak lebih cepat. Baru kali ini ia dipeluk gadis dengan sangat erat. Terutama rasa bagian punggungnya, sangat hangat dan nikmat. Sehingga kadang-kadang lamunan Akbar melayang sesaat untuk membayangkan kenikmatan itu.


    Waktu terus berjalan. Roda motor sudah berputar untuk yang kesekian ribu kali. Hingga perjalanan dua orang yang berboncengan itu sudah sampai di titik nol Puncak. Mereka berdua berhenti di titik nol. Lantas menyaksikan keindahan alam dari atas puncak itu yang sangat indah dan menawan, dengan hawa sejuk dari ketinggian bukit. Hingga larut malam.


    "Sudah larut malam, Putri .... Mari kita pulang ...." ajak Akbar pada Putri yang masih asyik menyandarkan tubuhnya di punggung Akbar.


    "Akbar ..., ini sudah terlalu malam .... Perjalanan kita pulang sangat jauh .... Bagaimana kalau kita mencari penginapan di Puncak saja ...?" kata Putri yang sebenarnya tidak ingin pulang.


    "Pulang saja .... Toh jalanan juga masih ramai ...." jawab Akbar yang tentu Akbar menghendaki pulang.


    "Ih, apa tidak capek? Aku kasihan sama kamu, Akbar .... Kita menginap saja .... Malah kita bisa menikmati malam di sini ...." sahut Putri yang menghendaki menginap di Puncak.

__ADS_1


    "Maaf Putri, aku tidak mau menginap di Puncak .... Tidak baik ...." kata Akbar. Tentunya Akbar yang masih punya etika, tidak akan mau diajak menginap cewek. Apa kata teman-temannya nanti. Pasti semua akan berpikiran negatif.


    "Ih, cuman menginap saja kok tidak baik .... Kolot kamu itu .... Udik ...." kata Putri yang jengkel, karena Akbar tidak mau diajak menginap.


    Akhirnya terjadi perdebatan antara mereka berdua, yang mengungkapkan alasan-alasan masing-masing. Bagi Putri yang sudah terbiasa pacaran dengan Wijaya, pasti menginap bersama itu sudah menjadi hal yang biasa. Tapi bagi Akbar, tentu ia akan takut karena harus bertanggung jawab membawa gadis anak orang.


    Dan akhirnya, Akbar memaksa tetap pulang. Putri hanya bisa menurut. Khawatir hubungannya akan menjadi retak. Padahal baru saja melakukan pendekatan. Dengan rasa kecewa, Putri membonceng Akbar, untuk pulang ke Jakarta.


    Dalam kondisi emosi seperti itu, tentu hati Akbar menjadi tidak tentram. Antara suka dan benci kepada Putri mulai bercampur. Makanya ia tidak menggubris lagi dengan perlakuan Putri. Bahkan sudah tidak mendengar atau menjawab kata-kata Putri.


    Demikian juga Putri, gadis yang sudah pernah berpacaran ala anak-anak orang kaya yang penuh dengan kebebasan, merasa kecewa saat mengalami kesulitan untuk menaklukkan hati Akbar. Maka meski ikut pulang dengan membonceng Akbar, tentu rasa jengkelnya mulai muncul. Dan kala itu, meski Putri mendekap erat tubuh Akbar, namun lamunannya justru membayangkan kenikmatan yang pernah dirasakan saat bersama Wijaya. Ke mana-mana naik mobil mewah, keluar masuk tempat hiburan, dan segala keinginannya terpenuhi. Tapi dengan Akbar?


    Jalanan dari Puncak di kawasan Cisarua, kondisinya menurun tajam dan berkelok-kelok. Maka untuk menyetir kendaraan di jalan itu harus ekstra hati-hati. Harus waspada dengan setiap tikungan, jika berpapasan dengan kendaraan dari arah yang berlawanan.


    Akbar yang saat itu masih dalam keadaan emosi karena ajakan Putri, tentu konsentrasinya agak terganggu. Pikirannya tidak fokus dengan jalan yang dilalui.


    Dan pada saat di jalan yang menurun dengan tikungan yang tajam, tiba-tiba saja penglihatan Akbar menjadi kabur saat tersorot oleh lampu mobil yang datang dari arah berlawanan. Seketika itu Akbar terkejut dan kehilangan kendali. Kendaraannya oleng ke kiri, keluar dari jalur jalan.


    "Awas Akbar ...!!!" Putri berteriak mengingatkan Akbar.


    "Jdukgh .... Bruoooghk ....!!!" suara motor yang terjatuh ke jurang.


    Putri menggelinding di pinggir jalan. Beberapa kali tubuhnya terhempas tanggul parit. Putri langsung pingsan.


    Sementara itu, Akbar yang menyetir motornya, ikut terjun ke dalam jurang bersama motornya. Walau jurang itu tidak terlalu dalam, tetapi karena kecepatan motor Akbar yang lumayan kencang, mengakibatkan tubuh Akbar terhantam batuan yang cukup keras.


    "Ada kecelakaan .......!!!" orang-orang yang tahu kejadian itu langsung berteriak.


    "Kecelakaan motor ...!!!"


    "Masuk jurang ...!!"


    "Kita bantu  ...!!"


    "Ini ..., ada korban yang tergeletak di parit."


    "Perempuan .... Dia pingsan ...!"


    "Itu motornya ada di bawah ...!!"


    "Ada korbannya juga ...!! Itu dekat motornya ...!!"


    "Panggil Polisi ...!! Tolong lapor ke Polisi ...!!"


    Malam itu juga, Polisi bersama para warga mengevakuasi korban kecelakaan. Putri mengalami luka lecet-lecet, dan sempat pingsan karena saking kagetnya terjatuh dari motor. Sedangkan Akbar, sudah meninggal di tempat kejadian.


    "Hua ..., hua ..., hua ..., huaaaa .... Hukhuhuhuhu .... Huhuhuhu .... Hukhuhuhuhu ...." Putri menangis histeris meratapi nasib Akbar.

__ADS_1


__ADS_2