GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 227: TERPANGGANG


__ADS_3

    Begitu mendengar informasi dari para mahasiswa di Fakultas Ekonomi, yang menyampaikan desas-desus peristiwa kebakaran gedung diskotik dan karaoke di daerah Tambora, dan juga menyaksikan berita di televisi, yang sudah memperlihatkan mobil-mobil korban kebakaran yang masih terparkir, Putri langsung menuju Tambora. Tentu menuju ke gedung yang kini sedang menjadi buah bibir masyarakat, karena kebakaran semalam. Putri ingin memastikan kalau Wijaya ada di tempat itu. Karena secara sepintas, saat menyaksikan siaran televisi, ia melihat ada mobil Wijaya yang terparkir di tempat karaoke itu.


    Begitu sampai di depan gedung diskotik dan karaoke yang terbakar itu, Putri langsung menyaksikan ke arah parkiran mobil. Dan benar, ada mobil sedan sport warna merah. Mobil milik Wijaya. Mobil itu memang sudah rusak. Tetapi masih bisa dipastikan dari plat nomor yang ada, memang milik Wijaya. Berarti Wijaya ikut menjadi salah satu pengunjung yang dievakuasi. Setidaknya, pasti mengalami luka bakar.


    Ingin rasanya Putri masuk ke tempat itu. Namun bagian depan sudah dipasangi pita kuning, garis polisi sebagai pembatas bahwa tempat tersebut masih dalam pemeriksaan yang berwajib dan tidak boleh dilintasi oleh siapapun. Tentunya, Putri hanya bisa melihat tempat itu dari pinggir jalan, bersama dengan warga masyarakat yang berkerumun menyaksikan peristiwa kebakaran yang sudah meludeskan tempat hiburan malam, gedung diskotik dan karaoke tersebut.


    Tanpa terasa, Putri meneteskan air mata. Ia menangis. Tentu memikirkan nasib Wijaya. Bagaimanapun juga, hati Putri belum move on untuk melepas Wijaya. Bagaimanapun juga, Putri sudah menikmati hidup bersama Wijaya. Bagaimanapun juga, hati Putri masih bergetar saat menyebut nama Wijaya. Karena bagi Putri, Wijaya adalah orang yang pertama kali menggoreskan cinta dalam hatinya, dan juga mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya. Cinta antara laki-laki dan perempuan. Cinta eros yang sesungguhnya. Cinta yang ,e;a,piaskan nafsu birahi dua makhluk berbeda jenis. Makanya, meski Wijaya sudah mengatakan putus, Putri tidak mungkin bisa melupakan pengalaman cinta yang sesungguhnya kepada seorang laki-laki.


    "Apakah sudah diketahui korban-korbannya?" tanya Putri kepada salah seorang pria yang juga ikut menyaksikan tempat yang mengalami kebakaran itu.


    "Katanya banyak yang luka terbakar .... Terus tadi dari satpamnya bilang ada yang meninggal dua orang." jawab pria yang juga beru mendengar dari cerita-cerita orang yang melihat peristiwa kebakaran itu.


    "Satpamnya yang mana. Pak ...?" tanya Putri, yang tentu ingin tahu kabar yang paling akurat.


    "Itu .... Pakai seragam satpam, yang di sana .... Yang dekat bangunan sebelahnya." jawab pria itu.


    Maklum, di situ banyak orang berkeruman, yang tentu juga banyak orang yang mengenakan pakaian petugas keamanan atau seragam satpam.


    Putri langsung menerobos ke sela-sela orang yang pada menonton. Ia menuju ke dekat bangunan, ingin menemui satpam yang disebutkan oleh pria tadi, sebagai petugas yang tahu informasinya.


    "Bang, mau tanya .... Ini korbanya siapa, apa Abang-nya tahu?" tanya Putri pada satpam itu.

__ADS_1


    "Ada dua orang yang meninggal .... Sudah dibawa ke rumah sakit. Yang jelas untuk memastikan identitasnya. Kalau yang luka bakar lumayan banyak. Tetapi sudah bisa dimintai keterangan untuk dihubungi keluarganya. Semua masih dalam penanganan pihak yang berwajib." jawab si satpam tersebut.


    "Peristiwanya bagaimana sih, Bang ...?" tanya Putri lagi.


    "Saya tidak tahu presis. Karena saya berjaga di bawah. Tahu-tahu sudah ramai orang berhamburan keluar, dan berteriak-teriak minta tolong, sambil menjerit kebakaran-kebakaran gitu .... Itu terjadi sekitar jam sepuluh malam. Api melalap begitu cepat. Saya tidak berani masuk, hanya membantu yang pada melompat dari lantai dua dan tiga. Tapi karena orang banyak, tetap saja ada yang terluka. Lantas kami menelepon pemadam, dan langsung di semprot. Yah, tetap saja ada yang jadi korban. Dua orang tak terselamatkan." kata si satpam itu, yang menceritakan peristiwanya.


    "Iya, Bang .... Kalau boleh tahu, apakah sudah ada dugaan atau mungkin info sementara untuk yang mengalami naas, korban meninggalnya siapa, ya ...?" tanya Putri yang tentu sangat ingin tahu.


    "Belum tahu presis, sih .... Tapi kata orang-orang, yang meninggal itu yang mobilnya masih terparkir di situ. Dua mobil berjejeran itu. Namanya saya lupa, tapi dia orang keturunan yang suka nraktir teman-temannya." jawab si satpam itu.


    Deg ...! Jantung Putri seakan berhenti berdetak. Ya, jelas itu mobil Wijaya dan mobil Kim Bo. Putri langsung menarik nafas dalam-dalam. Pertanda perasaannya mengalami gangguan. Ya, ia mulai yakin, kalau korban yang meninggal adalah Wijaya dan Kim Bo.


    "Apakah namanya Wijaya dan Kim Bo ...?" Putri mengeluarkan pertanyaan dengan nada yang gemetar. Perasaannya mulai menciut. Yakin dengan dugaannya.


    Tanpa pamitan, tanpa ucapan terima kasih, Putri langsung berlari meninggalkan satpam itu. Kini, Putri benar-benar merasa sesak, menahan berbagai emosi yang yang tidak lagi dapat terbendung. Dan setelah keluar dari kerumunan orang-orang, setelah keluar ke jalan yang lapang, Putri langsung menangis sejadi-jadinya. Menangisi Wijaya dan Kim Bo yang sudah meninggal dunia dengan cara mengenaskan. Terpanggang api di ruang diskotik.


    Putri terus melangkah sambil menangis, menuju jalan yang sudah mulai dilewati kendaraan. Tadi di depan gedung diskotik, jalannya ditutup, dan arus lalu lintas dialihkan. Tentu untuk evakuasi berbagai benda serta untuk memudahkan mobil pemadam yang masih menyisir sisa api. Hingga sampai di persimpangan jalan, Putri melambaikan tangan mencegat taksi.


    "Bang, minta diantar ke asrama mahasiswa Serpong, ya ...." kata Putri meminta kepada sopir taksi yang ditumpanginya.


    "Siap, Neng .... Kok menangis ada apa, Neng ...?" tanya sopir taksi itu ingin tahu.

__ADS_1


    "Terharu menyaksikan gedung yang terbakar itu, Bang .... Banyak korbannya, pada mengalami luka bakar ....Kasihan, Bang ...." jawab Putri.


    "Itu kena azab, Neng .... Tempat-tempat maksiat seperti memang pantas untuk dibumi hanguskan ...." sahut sopir taksi tersebut.


    "Kok Abang bilang begitu ...? Kasihan, Bang ...." tentu Putri protes.


    "Yah ..., tapi itu kenyataan, Neng .... Yang pada datang ke diskotik itu kan orang-orang yang mengumbar hawa nafsu .... Mereka bebas bergaul, bebas melakukan hubungan, kumpul kebo, gonta-ganti pasangan, bahkan menganggap aturan-aturan agama tidak berlaku lagi .... Itu kan sama dengan perbuatan setan, Neng ...." kata si sopir taksi itu lagi.


    "Tapi kalau sampai terpanggang api kan juga kasihan, Bang ...." sahut Putri yang sebenarnya setuju dengan kata-kata sopir taksi itu. Tetapi dirinya sendiri pernah melakukan hal itu saat menjadi ceweknya Wijaya. Itu artinya, sopir taksi tersebut sudah menampar mukanya, menyiramkan kotoran ke wajahnya. Ya, kata-kata sopir taksi itu sudah kembali menggugah hatinya, bahwa Putri sudah melakukan kesalahan. Dan selama ini, ia sangat menikmati kesalahan-kesalahan itu. Ia sangat senang dengan dosa-dosa yang diperbuatnya. Berarti selama ini ia sudah menjadi budak setan.


    "Ini masih lumayan, Neng .... Begitu disemprot oleh petugas pemadam kebakaran, apinya langsung mati. Besok kalau di neraka, api yang memanggang tidak akan pernah padam, dan apinya lebih panas dari api di dunia ini .... Bayangkan, seperti apa rasanya ...." kata sopir taksi itu yang memberi wawasan kepada Putri.


    "Iya sih, Bang ...." sahut Putri.


    "Makanya, Neng .... Kita meti bertobat .... Kita mesti berbuat baik. Kalau kita punya uang lebih, jangan dibawa ke diskotik .... Sumbangkan saja pada anak-anak yatim atau fakir miskin, atau janda-janda yang sudah tidak mampu .... Itu lebih berkah, lebih barokah, dan pasti dapat pahala .... Begitu ya, Neng ...." kata si sopir itu, yang seakan dikirim oleh malaikat untuk menceramahi Putri. Dan tanpa terasa, taksi itu sudah membelok, masuk ke depan lobi asrama putri mahasiswa.


    "Terima kasih, Bang ...." kata Putri yang langsung memberikan ongkosnya.


    "Sama-sama, Neng .... Jaga diri baik-baik ..., biasanya mahasiswi dari daerah banyak godaannya di Jakarta." kata si sopir itu yang kembali menasehati Putri.


    Putri cepat-cepat masuk ke ruang lobi, dan menuju lift. Cepat-cepat ingin sampai kamarnya. Dan sesampai di kamar, Putri menutup pintu, kemudian membanting tubuhnya ke kasur. Tengkurap di kasur dengan menutup kepala menggunakan bantalnya. Putri langsung menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan semua resah, sedih, dan duka yang bercampur menjadi satu. Entah perasaan apa yang ada dalam dadanya. Putri sudah tidak sanggup lagi untuk berkata apa-apa.

__ADS_1


    Walau demikian, Putri masih bersyukur. Beruntung dia diputus oleh Wijaya. Jika saja cintanya belum diputus, pastilah Putri juga akan menjadi korban kebakaran itu. Dan tentu, entah selamat atau tidak, mama dan papanya akan marah-marah pada dirinya. Pasti orang tuanya akan mengatakan pada Putri, anak kurang ajar, anak durhaka, anak tidak tahu diri. Disuruh kuliah, disuruh belajar malah kelayaban ke diskotik.


__ADS_2