
"Mas Irul ..., mungkinkah yang memberikan gelang giok kepada saya ini adalah Engkong?" tanya Melian pada Irul.
"Tidak mungkin .... Tidak mungkin kalau yang memberikan gelang giok itu adalah Engkong, Mel .... Saya tahu persis itu. Bahkan Engkong kamu saja, Babah Ho itu tanya kepada saya. Dan saya pun bilang tidak tahu. Namun kalau yang memberikan Papah Melian, mungkin saja. Saya juga tidak tahu, Mel .... Karena memang saat kamu masih bayi bersama dengan Mamah dan Papah kamu, itu rumahnya berbeda. Tidak tinggal bersama Engkong kamu." kata Irul yang tentu juga ingat saat setelah menikah, orang tua Melian memang berumah tangga sendiri, tidak jadi satu dengan Babah Ho.
"Oo .... Berarti dulu saya tidak tinggal di rumah ini ya, Mas Irul ....?" tanya Melian.
"Lahir Melian di sini. Bahkan yang memendam ari-ari Melian juga saya. Tempatnya di depan situ. Tapi setelah itu dibawa balik ke rumah Papah Melian, dekat Pasar Gombrang. Karena orang tua Melian jualan di sana." jawab Irul.
"Oo .... Berarti hanya kelahiran saya yang di sini?" tanya Melian lagi.
"Nah, Melian tinggal bersama Engkong lagi, itu setelah Papah Melian meninggal. Kemudian rumah kamu yang di Pasar Gombrang itu selalu mendapatkan teror. Maka Mamah kamu ketakutan, terus rumah itu dijual. Lantas kamu diajak tinggal bersama di rumah Engkong ini." begitu jawab Irul yang tentu tahu cerita saat Melian masih kecil. Namun demikian ia tetap tidak tahu siapa sebenarnya yang memberikan gelang giok berukir naga itu, yang selalu menempel di lengan Melian.
"Mas Irul tahu apa tentang gelang giok ini? Gelang giok yang ada di lengan saya ini ...." tanya Melian pada Irul.
"Kalau melihat gelang giok itu, saya sudah melihatnya sejak Melian kecil. Tapi kalau ada apa dengan gelang giok itu, seperti yang diceritakan Melian itu, saya tidak tahu, Melian ...." jawab Irul yang memang tidak paham dengan sejarah gelang giok itu. Tentu karena para orang tua dari silsilah Melian memang sudah tidak ada lagi.
"Katanya gelang ini selalu menyelamatkan saya ya, Mas Irul ...." tanya Melian lagi.
"Saya hanya mendengarkan cerita .... Itu pun yang cerita Mamah Melian, Cik Lan .... Kala itu saat peristiwa kebakaran di Pasar Gombrang, peristiwa itu terjadi di siang hari. Kebakaran yang sangat memilukan banyak orang, karena kebakaran yang melanda Pasar Gombrang itu terjadi secara tiba-tiba dan api yang melalap sangat dahsyat. Api yang melalap Pasar Gombrang itu langsung berkobar sangat besar. Sehingga pasar itu sampai ludes, dan semuanya menjadi abu. Namun ada satu hal yang aneh yang diceritakan oleh Cik Lan waktu itu, yaitu
dirimu. Kamu yang ada di dalam pasar, yang berada di kios Papah kamu, kios itu berada di tengah-tengah pasar, dan ceritanya dirimu ,asih tertinggal di dalam kios itu. Anehnya, saat kebakaran itu ternyata dirimu tidak terbakar. Kamu yang masih bayi, yang belum bisa apa-apa itu tidak tersentuh oleh api sedikit pun. Bahkan konon katanya bau sangit dari asap kebakaran itu pun tidak menyentuh kamu Millian .... Itulah keajaiban yang terjadi saat kebakaran di Pasar gombrang." kta Irul yang mengisahkan diri Melian dari cerita yang pernah dituturkan oleh Cik Lan, dan tentu saat itu menjadi buah bibir tentang keajaiban bayi Melian yang tidak terbakar dilalap api tersebut.
"Mas Irul .... Mungkin tidak, Pak-e sama Mak-e tahu hal ini? Bagaimana kalau misalnya besok kita bersama-sama menanyakan hal ini kepada Pak E sama Ma'e, Mas Irul .... Siapa tahu Pak'e sama Mae punya cerita tentang hal ini. Bahkan mungkin, Pak'e sama Mak-e juga bisa mengurai masalahku." begitu kata Melian kepada Irul, yang tentu merasa bingung dengan apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya, termasuk apa sebenarnya yang terjadi pada gelang giok yang sudah melingkar di lengannya sejak ia masih kecil itu.
*******
Akhirnya, Minggu pagi, Irul bersama Melian berangkat berboncengan mengendarai motor, pulang ke Juwana. Tentunya mereka ingin menanyakan masalah gelang giok yang ada di tangan Melian itu. Dan tentu, Melian juga ingin menceritakan masalah dirinya yang selalu membawa petaka bagi setiap laki-laki yang mendekatinya.
"Pak-e .... Mak-e ...!!" seru Melian saat Irul memasukkan motornya ke halaman rumah Jamil yang ada di Kampung Naga.
"Ee .... Melian ...." sahut Juminem yang langsung turun dari teras dan memeluk anaknya. Tentu sebenarnya Juminem sangat kangen dengan Melian. Maklum saat sepulang dari Jakarta, Melian hanya sebentar berada di rumahnya yang ada di Kampung Naga itu. Padahal kala itu, sebenarnya Juminem masih merasakan duka dengan meninggalnya Pak Endang yang digadang-gadang akan jadi menantunya.
"Ayo, Nduk .... Langsung masuk, Mas Irul ...." begitu kata Jamil yang meminta anaknya dan Irul langsung masuk ke rumah. Setidaknya, mereka akan bgobrol bersama di ruang keluarga. Sambil minum dan tentu Juminem akan menyediakan hidangan.
"Sudah sarapan apa belum ...?" tanya Juminem pada dua orang yang baru datang itu.
"Belum, Mak ...." sahut Melian cepat.
__ADS_1
"Mau makan apa ...?" tanya Juminem lagi.
"Soto kemiri saja, Mak .... Saya sudah lama gak makan soto kemiri ...." sahut Melian yang tentu langsung menyebut makanan kesukaannya.
Ya, dulu waktu masih sekolah SD ataupun SMP, setiap kali pulang sekolah, mampir ke perusahaan bapaknya, dan langsung pesan soto kemiri yang ada di depan pabrik itu. Rupanya, kini Melian kangen pengin makan soto khas daerah Pati tersebut.
Tentu untuk memenuhi keinginan anaknya yang sangat disayangi itu, Juminem langsung keluar rumah, membawa panci untuk membeli soto kemiri yang ada di ujung jalan dari rumahnya.
"Ini kamu kok sukanya merepotkan Mas Irul, to ..., Nduk ...." kata Jamil yang duduk bersama dengan Irul dan Melian.
"Tidak repot kok, Pak Jamil ...." sahut Irul.
"Justru Mas Irul yang ngajak ke sini, mau nemui Pak-e sama Mak-e ...." sahut Melian.
"Memangnya ada apa ...?" tanya Jamil yang terheran. Baru kali ini ada kata-kata Irul pengin menemui dirinya. Pasti ada sesuatu.
"Ah, tidak apa-apa, kok Pak Jamil .... Ini sebenarnya justru Melian yang ingin tahu ...." balas Irul yang melempar kata-kata Melian.
"Iih ..., Mas Irul .... Sukanya melempar ke orang lain." tentu Melian yang tahu itu juga merasa dibalas oleh Irul.
"Asiiik ...." kata Melian yang langsung mengikuti langkah ibunya menuju meja makan.
"Ayo, Mas Irul .... Kita sarapan dahulu ...." ajak Jamil yang tentu juga langsung berdiri dan menuju ke meja makan.
Memang, berangkatnya Irul bersama Melian tadi terlalu pagi. Sehingga belum sempat sarapan. Maklum di perkampungan kecil, saat sepagi itu belum banyak aktivitas. Makanya yang jual sarapan juga belum pada siap.
Akhirnya, mereka semua berada di ruang makan. Menikmati sarapan pagi dengan soto kemiri.
"Uh ..., enak, Mak ...." kata Melian yang sudah memulai makan. Tentu sambil memegang ayam goreng bagian dada. Melian sangat suka mengupasi daging-daging yang menempel di tulang dada. Katanya rasanya lebih khas dan sangat enak.
"Ini kok dengaren, pagi-pagi begini kamu sudah sampai sini, Nduk ...? Apa mau ada acara atau mau pergi lagi kemana?" tanya Juminem di sela-selka sarapan pagi.
"Iya, Mak .... Ini ada masalah yang ingin kami tanyakan sama Pak-e dan Mak-e ...." sahut Melian yang masih mengkerikiti tulang dada ayam goreng.
Tentu pertanyaan itu langsung menjadi pembahasan. Selanjutnya mereka berempat asik ngobrol di ruang makan. Tentu sambil menikmati nasi soto kemiri yang menjadi kesukaan Melian. Lantas Melian dan Irul pun menceritakan pembicaraannya semalam.
"Mak .... Gelang giok yang saya pakai ini sebenarnya dari siapa sih, Mak ...? tanya Melian yang tentu ingin tahu jawaban dari ibunya.
__ADS_1
"Walah, Nduk .... gelang giok itu sudah kamu pakai saat Mak-e dan Pak-e menemukan dirimu. Saat kami menemukan Melian, saat itu sudah memakai gelang yang bagus itu." jawab ibunya. Lantas Juminem pun mengisahkan ceritanya saat dirinya mendapat bayi kecil di pasar.
"Ya, waktu itu Mak-e sama Pak-e ke pasar. Mak-e mau masuk pasar, saat ada laki-laki gagah tinggi besar membopong dirimu. Lantas laki-laki itu menyerahkan bayi kecil itu kepada saya. Waktu itu bayi kecil itu langsung saya bopong. Dan kelihatannya gembira yang saya bopong. Ee ..., ternyata laki-laki gagah tinggi besar itu malah pergi meninggalkan Mak-e. Tentu Mak-e bingung ...." kata Juminem yang mengisahkan pertama kali saat menemukan Melian.
"Mak-e tidak tahu laki-laki yang menyerahkan Melian itu ...?" tanya Melian yang memotong cerita ibunya.
"Walah, Nduk .... Setelah laki-laki yang gagah itu menyerahkan kamu kepada Mak-e, dan kamu saya gendong, tetapi tiba-tiba, laki-laki itu pergi .... Lah, saya kan bingung .... Makanya saya langsung lari mengejar laki-laki itu. Bahkan Pak-e yang menunggu di parkiran juga lari mengejar laki-laki itu. Tapi anehnya, laki-laki itu tiba-tiba saja menghilang di balik lajunya bus luar kota yang sangat kencang. Saya sama Pak-e bingung, bayi itu saya tanyakan orang-orang yang saya temui di pasar, tidak ada yang tahu. Terus mau saya berikan ke siapa bayi itu. Sementara orang yang memberikan kepada saya sudah menghilang begitu saja. Nah, itulah akhirnya bayi itu kami bawa pulang. Saya belum kenal nama kamu. Dan tentunya saat menemukan kamu, saya juga senang .... Karena pernikahan Pak-e sama Mak-e sudah lama belum dikaruniai momongan. Makanya meski ada orang yang menyerahkan bayi lantas menghilang, kami pun sebenarnya senang. Makanya waktu itu, Pak-e sama Mak-e tidak jadi belanja. Langsung pulang membawa bayi mungil yang cantik itu." kata Juminem yang mengenang peristiwa kala itu.
"Berarti laki-laki itu misterius ya, Mak ...? tanya Melian kepada ibunya.
"Iya .... Saya tidak tahu, Nduk .... Wes, pokoknya dia itu hilang begitu saja .... Ibarat kata bisa menghilang tanpa bekas ...." jawab ibunya.
Melian diam dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang jelas memang dirinya ini termasuk salah satu orang yang mempunyai keanehan. Termasuk engkongnya yang dari keluarga papahnya, semuanya hilang wajahnya tanpa bisa diketahui siapa mereka. Dan juga, laki-laki gagah besar itu tentu bagian dari keanehan engkongnya. Melian pun mulai sadar, kalau dirinya yang mengenakan gelang giok berukir naga itu, termasuk bagian dari keanehan orang-orang yang tidak bisa dikenalinya. Seperti halnya keluarga engkongnya yang dari papahnya itu, dan juga laki-laki misterius yang menyerahkan dirinya kepada Juminem. Itu mungkin sudah direncanakan oleh mereka yang memberikan gelang giok di lengannya.
"Mak .... Kalau gelang giok ini, apakah Mak-e dan Pak-e tahu riwayatnya?" tanya Melian pada ibu dan bapaknya. Tentu Melian beranggapan kalau bapak ibunya tahu tentang keunikan, punya keanehan, dan punya hal gaib yang tidak diketahui oleh siapa saja.
"Iya ..., Melian .... Kami menyadari keanehan dirimu .... Kamu itu bayi ajaib. Pokoknya banyak keajaiban yang sudah terjadi dengan dirimu. Tapi sebenarnya kami merahasiakan hal itu. Kami tidak mau mengatakan hal itu. Bahkan sampai sekarang pun, Pak-e sama Mak-e tetap bersepakat untuk tidak membicarakan keajaiban dan keanehan yang ada pada dirimu. Pak-e sama Mak-e takut kena petaka ...." kata Juminem yang menyadari hal itu sejak Melian masih bayi. Tentu dia tidak bisa protes, dia tidak bisa pungkiri, memang Melian adalah anak aneh, anak ajaib yang tidak diketahui asal-usulnya. Tetapi yang jelas dia punya garis keturunan dari orang sakti yang tidak diketahui.
"Mak-e dan Pak-e pernah melihat keanehan gelang giok ini ...?" tanya Melian.
"Ada, Nduk .... Pak-e ingat sesuatu yang aneh ...." tiba-tiba Jamil menyahut pertanyaan Melian.
"Apa, Pak ...?" tanya Melian yang tentu sangat ingin tahu. Demikian juga Irul yang langsung menatap Jamil.
"Ya, Pak-e ingat .... Itu ..., liontin yang menggantung di kalungmu itu ...." kata Jamil sambil menunjuk liontin yang menggantung di leher Melian.
"Liontin ...?!" Melian justru ragu-ragu, kenapa liontin. Yang aneh itu gelangnya.
"Iya .... Liontin itu diberikan oleh Nenek Amak, saat ia terbawa masuk ke dalam peti mati yang terbuat dari batu giok yang sangat besar. Peti mati yang akhirnya masuk kembali ke lubang kubur dan kembali tertutup bongpai. Itu terjadi saat Melian masih kecil, saat pertama kali tinggal di rumah ini. Ini rumah warisan Nenek Amak yang diberikan kepada kita, Nduk ...." kata bapaknya yang menjelaskan tentang Nenek Amak.
"Nenek Amak ...?!" Melian dan Jamil baru mendengarnya sebutan nama itu.
"Iya, Nduk .... Dan saat itu, keajaiban yang terjadi adalah dari gelang yang kamu kenakan itu. Nenek Amak yang membawamu, memasukkan gelang giokmu itu ke lobang bongpai untuk menemui leluhurnya. Dan saat itu, ada keanehan yang terjadi, yang sangat menakutkan dan mengkhawatirkan tentang dirimu." kata Jamil yang menceritakan kisah saat berada di puncak Gunung Bugel bersama Nenek Amak.
"Mungkinkah mereka itu leluhur saya ...?" gumam Melian.
"Yah .... Kalau begitum besok kita ke makam Nenek Amak .... Kita mencari tahu kebenarannya." kata Irul tiba-tiba, yang tentu juga ingin tahu tentang gelang aneh yang dikenakan oleh Melian tersebut. Ya, gelang giok berukir naga.
__ADS_1