
"Siaaaaaap ....... Grak!!! Lencang kanaaaaaan ....... Grak!!! Tegaaaaap ....... Grak!!! Istirahat di tempaaaat ....... Grak!!! "
Begitu aba-aba yang diberikan oleh pengatur barisan di lapangan tengah sekolah. Pengatur barisan itu adalah pengurus OSIS SMA Nasional. Sangat tegas dan meyakinkan. Meskipun kebanyakan dari murid-murid ini berkulit putih dan bermata sipit, tetapi untuk kegiatan bela negara mereka dapat diandalkan. Itu semua karena saat pelantikan pengurus OSIS, mereka diwajibkan mengikuti latihan dasar kepemimpinan atau yang disebut oleh murid-murid LDK. Dalam latihan dasar kepemimpinan inilah para calon pemimpin dalam organisasi OSIS ini mereka dilatih oleh tentara dengan pelatihan secara kemiliteran. Biasanya kegiatannya dilaksanakan di barak TNI yang ada di Bantir Sumowono. Tidak hanya dilatih baris berbaris saja, tetapi mereka juga dilatih fisik dan mental secara menyeluruh. Termasuk kegiatan "Jerit Malam" yang harus masuk ke kuburan yang gelap gulita.
Maka tidak heran, jika kini, saat melakukan kegiatan Masa Orientasi Siswa, membimbing adik-adik kelasnya yang baru, para pengurus OSIS ini betul-betul terlihat sangat profesional.
Seperti pagi itu. Pasukan biru putih sebanyak seratu enam puluh murid, sudah berbaris di lapangan, dipimpin oleh senior-seniornya yang mengenakan pakaian putih abu-abu. Murid yang baru masuk masih memakai seragam SMP. Mengikuti Masa Orientasi Siswa yang diatur oleh para pengurus OSIS. Tentu dilengkapi dengan berbagai asesoris yang menarik. Di lehernya tergantung nama dan kelompoknya. Papan nama yang terbuat dari kardus bekas dengan ukuran lima belas kali tiga puluh centimeter. Lantas diberi tali dari rafia sebagai gantungannya. Di bagian depan kardus bekas itu pada bagian atas ditulis nama masing-masing murid. Sedangkan di bawahnya diberi nama kelompoknya, ada kelompok Nusa, kelompok Bangsa, kelompok Bhinneka, dan kelompok Nusantara. Masing-masing kelompok warnanya berbeda-beda. Warna-warni sangat menarik.
Tidak hanya papan nama. Tetapi bagian rambutnya juga terlihat unik. Untuk anak perempuan, rambunya dikuncir lima, dengan diikat menggunakan pita yang berbeda-benada warnanya. Ada warna merah, putih, hijau, biru dan kuning. Katanya kuncir lima dengan lima warna pita ini melambangkan sila-sila dalam Pancasila. Terlihat sangat menarik. Sedangkan yang laki-laki hanya dikuncir satu pada rambut bagian depan. Ikatannya menggunakan pita warna merah putih. Ini melambangkan bendera Indonesia. Ada yang aneh terlihay pada murid laki-laki. Pasalnya ada yang rambutnya sangat pendek, seperti habis cukur gundul. Tentu tidak bisa dikuncir. Oleh murid itu, pita merah putih diikatkan pada potongan rambut yang diambil dari tempat tukang cukur, lantas potongan rambut yang sudah diikat pita merah putih itu disolasikan di kepalanya. Tentu terlihat lucu. Tapi itulah kreativitas.
Di bagian bawah, pada kakinya ada yang terlihat lebih aneh lagi. Murid baru, baik yang laki-laki maupun perempuan itu semuanya mengenakan kaos kaki panjang, seperti layaknya kaos kaki pemain sepak bola. Tetapi yang menarik adalah pemakaian kaos kaki itu antara kaki kanan dan kaki kiri berbeda-beda. Masing-masing kelompok berbeda warnanya. Kelompok Nusa mengenakan kaos kaki yang kanan warna hitam, sedangkan kaki kirnya mengenakan warna putih. Kelompok Bangsa, kaki kanan berwarna kuning, dan kaki kiri berwarna merah. Sedangkan kelompok Bhinneka yang kanan mengenakan kaos kaki warna hitam dan yang kiri warna kuning. Dan kelompok Nusantara kaki kanan mengenakan kaos kaki warna merah, dan yang kiri warna putih. Sebenarnya, ini juga menuntut para murid untuk berfikir kreatif. Tiap anak tidak harus beli kaos kaki dua pasang beda warna. Tetapi bisa belibersama-sama, nanti tukar sebelah dengan teman yang lain. Tentu ini juga mengajarkan untuk kerja sama tim.
"Siaaaaaap ....... Grak!!! Tiga langkah samping kanaaaaaan ....... Grak!!! Luruskan!!!" aba-aba dari pemimpin barisan.
Petugas yang lain memeriksa barisan murid baru tersebut. Tentu untuk merapikan barisan dan memeriksa kelengkapan atribut yang dikenakan oleh peserta MOS. Dan ketika itu, salah satu senior menemukan ada yang tidak beres. Ia melihat anak laki-laki yang kepalanya habis dicukur gundul itu. Saat dilihat dari belakang, senior itu sudah menduga, pasti anak itu tidak bisa mengkuncir rambutnya. Serta merta ia langsung menepuk pundak anak itu.
"Heh, kamu ...! Maju ...!" bentak seniornya.
Tanpa melihat senior mana yang menyuruhnya. anak laki-laki itu langsung maju ke depan barisan. Lantas disuruh menghadap ke teman-temannya.
__ADS_1
Tentu maksud dari seniornya adalah ingin memberikanhukuman kepada murid yang tidak patuh dengan perintah. Namun senior yang menyuruh maju itu kaget saat anak yang disuruh ke depan, yang dikira tidak menguncir rambutnya karena gundul, ternyata anak itu mengenakan kuncir.
Serta merta senior itu langsung menghampiri adik kelasnya yang disuruh maju. Lantas ia mengamati dengan seksama. Anak itu sudah memasang pita pada potongan rambut, dan lantas ditempelkan ke kepalanya yang diberi solasi.
"Hebat ...! Kamu luar biasa ...!" kata senior itu.
Murid yang disuruh ke depan hanya diam. Tanpa ekspresi apapun. Berdiri tegak seperti patung.
Lantas senior itu menghadap ke barisan peserta MOS, lalu suaranya lantang terdengar.
"Siapa yang tahu kesalahan teman kalian yang saya suruh maju ke depan ini ...!!!" bentaknya kepada para junior.
"Coba kalian lihat teman Anda yang berdiri di depan ini ...! Perhatikan secara seksama ...! Apa kesalahan teman Anda ini ...!!" bentak senior itu lagi.
"Anu .... Itu .... Rambutnya gundul, tetapi bisa pakai kuncir ...." tiba-tiba salah satu teman laki-laki nyeletuk menunjukkan kesalahan temannya.
"Ya, betul ...! Kalian semua harus jeli mengamati sesuatu. Harus cerdas dan berpikir logis. Jangan mau tertipu begitu saja!" kata senior itu sambil mengacung-acungkan jarinya ke arah para juniornya.
Sementara itu, yang disuruh berdiri di depan, pasti sudah khawatir bakal menerima hukuman.
__ADS_1
"Kenapa kamu memakai kuncir palsu ...?!!" tanya senior itu kepada anak yang sudah deg-degan tersebut.
"Karena rambut saya gundul, saya tidak mungkin menguncir rambut." jawab junior yang berdiri ketakutan.
"Dari mana kamu dapat rambut ini ...?!" tanya seniornya lagi, dan sudah mengambil kuncir rambut palsu tersebut.
"Minta di tukang potong rambut." jawab juniornya.
"Bagus ...! Tolong kalian perhatikan semua ...! Kita harus mandiri .... Kita harus kreatif .... Bisa mengatasi segala permasalahan dan memanfatkan apa yang ada di lingkungan untuk kepentingan kita. Contohnya adalah teman kalian ini. Walau tidak punya rambut karena gundul, tetapi ia bisa menghadapi masalah saat harus mengenakan kuncir. Ini contoh anak yang cerdas dan kreatif. Beri tepuk tangan untuk teman kalian ini ...!" kata senior itu yang ternyata tidak memberi hukuman, tetapi malah memberi pujian. Itulah contoh peminpin yang baik.
"Plok ..., plok ..., plok ..., plok .... " tepuk tangan meriah pun menggema di lapangan.
Kegiatan Masa Orientasi Siswa terus berlangsung. Dan tentu murid-murid baru itu mengikuti seluruh kegiatan. Tentu ada yang merasa senang dengan berbagai kegiatan yang asyik dan memberi pengalaman baru dalam hidupnya. Tetapitidak sedikit pula murid-murid yang takut karena dibentak-bentak oleh seniornya. Namun sebenarnya, itu semua adalah untuk membangun mental para peserta didik yang baru mengenal lingkungan sekolahnya.
Seperti halnya Melian, yang dari kampung sudah berharap ingin sekolah di kota, maka ia benar-benar menikmati setiap kegiatan yang dilakukan. Perintah-perintah seniornya dilakukan dengan senang hati. Tanpa ada rasa takut dan ragu. Bahkan ketika diberi sanksi harus menyirami tanaman bunga yang ada di lingkungan sekolahnya, satu kelompok kompak melakukan bersama-sama dengan cara yang unik. Yaitu berbaris untuk estafet mengambil air menggunakan gayung. Karena oleh senior hanya diberi satu gayung, tetapi harus bekerja sama dalam menyiram bunga-bungan di halaman sekolah.
Hal-hal semacam itulah yang sebenarnya jika diterima dengan hati yang lapang, justru memberi pengalaman ilmu pengetahuan yang terkadang tidak diperoleh dari pelajaran-pelajaran di kelas yang dijelaskan oleh guru. Melian sangat senang punya teman yang kompak.
Sebenarnya dengan kegiatan Masa Orientasi Siwa ini, bagi murid-murid baru sangat bermanfaat untuk membangun karakter anak. Setidaknya mereka akan terbangun mentalnya, agar tangguh dan tabah dalam menghadapi berbagai tantangan. Berpikir kritis dan cepat dalam mengambil keputusan dan tindakan. Bertoleransi dan bekerja sama dengan teman-teman, yang tentu akan memudahkan segala persoalan. Yang jelas banyak manfaatnya. Namun terkadang, para senior justru melakukan kesempatan untuk memberikan gojlokan yang sering berlebihan dan tidak mendidik. Sehingga mengakibatkan terjadinya dendam antara senior dan junior. Hal itulah yang sering menjadi noda dalam kegiatan penerimaan murid baru.
__ADS_1