GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 37: MENCARI BUKTI PEMBUNUHAN


__ADS_3

    Kasus tewasnya Pak Pin yang langsung ditangani oleh polisi, dinyatakan bahwa Pak Pin mati karena dibunuh. Buktinya adalah leher Pak Pin yang terluka parah, semacam ditusuk dengan benda tajam. Selain itu, kain yang ditemukan di rumah Pak Pin, yang berlumur darah itu juga menjadi bukti. Polisi mengambil kesimpulan kalau Pak Pin dibunuh dengan cara mulutnya dibungkam dengan kain, kemudian ia ditusuk benda tajam. Namun warga Desa Sarang, tetap percaya kalau Pak Pin dibunuh oleh hantu cekik.


    Ada seorang pemuda yang mulai berfikir lain. Namanya Parjo. Walaupun ia anak desa, tetapi Parjo ini kuliah di kota. Meski orang tuanya tidak mampu dan hanya seorang janda, Parjo yang merupakan anak tunggal itu bercita-cita ingin menjadi orang yang sukses. Maka ia terus bersekolah, meski harus meninggalkan desanya.


    Saat itu, kebetulan sudah satu minggu Parjo berada di rumah. Kebetulan kuliahnya sedang libur. Ia memang kaget dengan keadaan desanya. Terutama perubahan sikap warga kampung yang mudah tersulut dengan isu-isu yang bersifat tahayul. Maka diam-diam Parjo mulai menyelidiki berita tentang hantu cekik yang sudah meneror kampungnya itu.


    Pada awalnya, Parjo memaklumi pendapat warga desanya. Namun saat terjadi pembakaran rumah Jamil yang dituduh memelihara hantu cekik, tanpa ada pembelaan sama sekali, hati parjo mulai bimbang. Ia tahu persis kalau Jamil adalah warga kampung yang baik dan rajin. Maka sudah pantas kalau Kang Jamil bisa membangun rumahnya maupun beli televisi. Kak bisa Kang Jamil itu dituduh memelihara hantu cekik.


    Malam itu Parjo juga hadir di halaman rumah Jamil. Namun ia tidak ikut melakukan perusakan maupun pembakaran rumah Jamil. Ia hanya mengamati orang-orang yang bersikap fandalis. Tentu Parjo juga mengamati sikap Pak Pin yang saat itu seakan menjadi pemimpin, menjadi pahlawan penangkap hantu cekik.


    Dalam hati kecil Parjo berkata, hebat sekali Pak Pin itu. Pastilah ia orang sakti. Karena Pak Pin bisa menangkap makhluk halus sebangsa setan tersebut. Ya, saat itu Parjo kagum dengan kehebatan Pak Pin.


    Namun yang namanya anak cerdas, anak pintar, Parjo pasti tidak percaya begitu saja. Ia ingin tahu, bagaimana caranya bisa menangkap hantu cekik. Maka, mata Parjo langsung tertuju pada Pak Pin. Ia terus mengamati Pak Pin yang berorasi memamerkan kehebatannya menangkap hantu cekik. Bahkan ia juga mengamati kain putih yang dipukuli dengan kayu, seakan Pak Pin ini sedang melawan hantu cekik. Dan tentu Pak Pin yang menang, sehingga kain putih yang dukulinya tadi terserak di teras depan pintu rumah Jamil tanpa ada perlawanan. Lantas kain putih itu dilempar dalam kobaran api yang membakar rumah Jamil. Kain putih itu pun terbakar begitu saja, seperti halnya kain-kain biasa.


    "Kain putih dipukuli .... Katanya hantu cekik itu mengenakan pakaian kain putih itu. Tetapi setelah dipukuli dan kain itu tergeletak begitu saja tanpa membalas, kemana larinya hantu cekik?" begitu yang menjadi pertanyaan Parjo dalam hatinya.


    Dan kini, saat Pak Pin meninggal, yang oleh istrinya dikatakan dicekik oleh hantu cekik sehingga lehernya robek mengeluarkan darah sangat banyak, tanpa bisa melawan. Lagi-lagi, yang dijadikan bukti adalah kain putih yang katanya dipakai oleh hantu cekik. Memang kain putih yang ditemukan di rumah Pak Pin berlumur darah yang keluar dari lehernya. Demikian juga istri dan anak-anaknya yang mengatakan kalau kain putih itu dikenakan oleh hantu cekik yang membunuh Pak Pin. Tentu saja istri dan anaknya langsung memukuli hantu cekik yang sedang menindih Pak Pin yang sudah berguling-guling di lantai.


    Saat polisi datang ke Desa Sarang, lantas menjelaskan kepada warga di kantor desa, yang menjadi satu dengan balai desa, Parjo juga ikut menyaksikan. Ingin tahu kesimpulan yang diberikan oleh polisi.


    Seperti halnya polisi, Parjo menggunakan logika untuk mengira-ira kasus pembunuhan itu. Parjo masih ingat betul kain yang dikatakan sebagai pakaian hantu cekik, kain yang dupukuli oleh Pak Pin, yang akhirnya kain itu dibakar, dilempar ke kobaran api oleh Pak Pin. Saat melihat kain yang ditemukan di rumah Pak Pin, yang oleh anak dan istrinya, yang oleh para warga disebut sebagai pakaiannya hantu cekik itu dikeluarkan oleh polisi dari dalam plastik kresek, mata Parjo terbelalak. Kain itu sama persis yang ia lihat saat di rumah Jamil. Berarti itu adalah kain yang dikenakan hantu cekik. Tapi waktu itu kainnya sudah di lempar ke dalam api, dan langsung terbakar. Namun kini kok kain yang katanya pakaian hantu cekik itu muncul lagi. Apakah memang ini benar-benar punyanya hantu cekik, yang sebagai makhluk gaib, kelompoknya setan, tentu tidak mempan dibakar api. Mungkinkah hantu cekik yang dibakar oleh Pak Pin bisa hidup kembali dan membalas dendam membunuh orang yang sudah menyiksanya?


    Parjo menjadi bingung. Nalarnya tidak masuk di akal sehat. Lantas ia meninggalkan orang banyak, para warga yang masih berkerumun di kantor Kepala Desa, bersama polisi dan Pak Kades, menyampaikan temuan polisi itu.


    Parjo mundur, lalu berteduh di balai desa. Saat itu angin menerpa dirinya. Tiba-tiba saja, ada kain yang tertiup angin, bergerak menerpa kepalanya, sehingga wajahnya tertutup oleh kain itu. Spontan tangan Parjo langsung berusaha melepaskan kain yang mengenai wajahnya itu. Dan ia pun mengamati kain yang ternyata adalah kain gorden yang menggantung di jendela balai desa.


    "Ah ..., mengganggu orang saja ...." gerutu Parjo.


    Namun saat ia mengamati, ia langsung diam dan menggenggam kain gorden itu. Yah, Parjo menemukan jawabannya. Kain gorden itulah pakaian yang katanya dikenakan oleh hantu cekik. Ia pun langsung berlari, kembali menuju kantor Kepala Desa.


    "Pak Polisi ...! Pak Polisi ...! Kain itu sama persis dengan gorden yang ada di balai desa. Mungkin ada hubungannya ...." kata Parjo yang bersemangat ingin mengungkap fakta itu.

__ADS_1


    "Hah, yang benar ...?!" tanya petugas polisi itu.


    "Iya, Pak .... Mungkin itu kain gorden balai desa ...." jawab Parjo.


    "Apa benar, Pak Lurah ...?!" tanya polisi pada Pak Kades, yang di desa juga disebut sebagai Pak Lurah.


    "Wah, saya malah tidak memperhatikan ...." jawab Pak Kades.


    "Kalau begitu, kita lihat sekarang. Mohon yang lain jangan masuk balai desa lebih dahulu. Ini bisa dipakai untuk tempat barang bukti." kata Polisi itu yang langsung berdiri, dan melangkah menuju balai desa. Tentu ingin meyakinkan yang disampaikan oleh Parjo tersebut.


    Hanya melangkah beberapa jangkah, petugas dari kepolisian itu pun sudah bisa memastikan barang bukti. Ya, kain yang dikatakan sebagai bajunya hantu cekik itu ternyata adalah kain gorden jendela balai desa.


    Lantas petugas polisi itu mengamati gorden-gorden yang ada di balai desa tersebut.


    "Pak Lurah, ini memang kain goden balai desa. Lihat .... Sama persis, kan ...?! Dan ternyata memang ada gorden yang kosong alias hilang. Berarti memang ini kain gorden itu." kata polisi itu.


    Pak Kades terdiam. Tidak bisa menjawab apa-apa. Buktinya, kain yang dikatakan pakaian hantu cekik itu memang kain gorden jendela balai desa.


    Lagi-lagi, Pak Kades diam tidak bisa menjelaskan.


    "Siapa yang mengambil kain gorden dari jendela ini, Pak Lurah ...?!" cecar polisi menanyai Pak Kades.


    "Anu, Pak Polisi .... Balai desa ini seminggu yang lalu ditempati oleh Pak Pin yang mati itu .... Apa mungkin yang melepas kain gorden itu keluarganya Pak Pin?" tiba-tiba salah seorang perangkat desa memberi tahu, kalau balai desa itu memang pernah digunakan untuk tidur keluarga Pak Pin.


    "Kalau begitu kita tanyai istri dan anak-anak Pak Pin. Mungkin dia tahu ...." kata polisi itu mengambil keputusan untuk bertanya kepada keluarga Pak Pin yang pernah menempati balai desa.


    Akhirnya, para petugas kepolisian menemukan anak-anak Pak Pin. Polisi itu menanyai anak-anak itu.


    "Bapakmu kok bisa membawa kain dari balai desa?" tanya polisi itu secara perlahan.


    "Iya .... Waktu kami tidur di balai desa, Bapak kedinginan, lantas mengambil kain gorden untuk selimatan."

__ADS_1


    "Sudah .... Sudah jelas .... Tolong anak ini diajak ke kantor desa .... Kasih makan dan minum sampai kenyang." kata polisi yang menanyai anak itu.


    Maka salah satu perangkat desa yang membawa motor langsung memboncengkan anak tersebut.


    "Ibu ..., bagaimana kemarin malam waktu ibu menyaksikan hantu cekik?" tanya polisi itu lagi pada istri Pak Pin.


    "Jadi malam itu kami sudah tidur semua. Tiba-tiba saya terbangun karena kebelet pipis. Tapi belum sempat turun, tiba-tiba saya melihat ada putih-putih bergerak melayang di atas tubuh suami saya. Pasti itu hantu cekik. Makanya saya langsung melompat dan mengambil sesuatu yang bisa saya pakai untuk memukul hantu cekik yang sedang mencekik bapaknya ...." jelas istri Pak Pin.


    "Lanjutnya ...?" tanya polisi itu lagi.


    "Suami saya jerit-jerit, "hantu cekik ..., hantu cekik ...." begitu, Pak .... Anak saya terbangun dan kaget saat melihat hantu cekik yang mengenakan kain putih itu, lantas juga turun mengambil kayu dan ikut memukuli hantu cekik itu. Suami saya masih berteriak kesakitan sambil berkelahi dengan hantu cekik yang sudah menutupkan pakaian putihnya itu ke sekujur tubuh suami saya, sampai jatuh berguling-guling di tanah." kata istri Pak Pin.


    "Hantu cekiknya kelihatan apa tidak?" tanya petugas polisi itu lagi.


    "Tidak, Pak .... Dia masih mencekik suami saya dengan menutupkan kain putih itu ke seluruh tubuh suami saya." jawab istri Pak Pin.


    "Ndan, saya menemukan ini di sudut rumah." bisik polisi yang lain, sambil menunjukkan linggis yang ujungnya terlihat ada noda bekas darah.


    "Oo .... Sudah jelas Pak Lurah .... Saya akan bawa istri Pak Pin ini ke kantor." kata polisi itu yang langsung memborgol tangan istri Pak Pin.


    "Lah ..., piye leh .... Ini bagaimana, Pak Polisi?" tanya Pak Kades yang bingung.


    "Kematian Pak Pin itu karena pembunuhan. Bukti sudah ditemukan, dan pelaku sudah menceritakan." kata polisi itu yang langsung membawa keluar istri Pak Pin, yang tentu akan dibawa ke kantor polisi untuk ditahan.


    Ya, pasti dugaan polisi adalah Pak Pin yang mengambil gorden jendela balai desa untuk dipakai selimut. Namun karena istri Pak Pin masih terbayang-bayang dengan hantu cekik, maka dengan mata mengantuk, melihat suaminya seluruh tubuhnya terbungkus selimut kain putih yang tidak pernah dilihat sebelumnya, maka suaminya dikira sedang diterkam hantu cekik. Maka ia langsung memukuli suaminya itu, yang ternyata menggunakan linggis, hingga suaminya tewas.


    Sedangkan kain gorden yang satu lagi, digunakan oleh Pak Pin untuk mengelabuhi warga sebagai hantu cekik yang sedang bergentayangan. Lantas kain putih itu dipukuli dengan kayu di depan pintu rumah Jamil. Lantas meyakinkan kepada para warga kalau yang memelihara pesugihan hantu cekik adalah Jamil. Warga yang sudah bersiap mengeroyok hantu cekik, lantas dihasut untuk membakar rumah Jamil seisinya. Bahkan Pak Pin pula yang mengikat pintu rumah itu agar Jamil dan keluarganya hangus terpanggang.


    Itulah kenyataannya, ternyata tidak semua orang senang dengan keadaan Jamil maupun Juminem yang semakin sejahtera kehidupannya. Ada yang iri ketika Juminem punya tivi. Ada yang curiga ketiga Jamil bisa memasang keramik untuk lantai rumahnya. Yah ..., namanya orang banyak. Macam-macam sifatnya. Maka iri dan dengki yang mucul dari diri Pak Pin, lantas dibuatlah cerita tentang hantu cekik.


    Kini, hantu cekik itu datang di rumahnya, yang akhirnya harus dipukuli oleh istri dan anak-anaknya hingga mati. Dan kini, istrinya juga harus menderita untuk mendekam di penjara. Itulah balasan hantu cekik.

__ADS_1


__ADS_2