GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 220: HANCUR


__ADS_3

    "Melian ...! Kamu mau ke mana ...?" Kim Bo yang begitu Melihat Melian keluar dari asrama, langsung berteriak menanya. Ia menunggui keluarnya Melian seharian di mobilnya yang terparkir di depan asrama mahasiswi.


    Melian kaget mendengar panggilan itu. Ia berhenti. Lantas menengok ke arah suara yang memanggilnya.


    "Kim Bo ...?!" Melian menyapa heran pada cowok yang mendatanginya.


    "Iya ..., Melian ....  Gue nungguin elo dari tadi pagi ...." kata Kim Bo.


    "Memang kenapa ...?" tanya Melian.


    "Melian ..., gue ingin jalan bareng sama elo ...." jawab Kim Bo berterus terang.


    "Jalan bareng ...?! Ayo kalau mau .... Ini aku mau jalan. Ayo, kalau mau jalan bareng aku ...." kata Melian yang langsung melangkah berjalan keluar asrama.


    Kim Bo tolah-toleh bingung. Tidak seperti yang dia maksud. Mestinya jalan bareng itu bersamaan atau lebih tepat disebut pacaran. Namun yang dilakukan oleh Melian adalah berjalan. Jalan kaki.


    Demi mengejar cintanya, akhirnya Kim Bo mengikuti Melian. Ia mengejar Melian yang sudah melangkah berjalan duluan. Mau tidak mau, Kim Bo harus setengah lari untuk bisa berjalan di samping Melian.


    "Huh ..., huh ..., huh .... Gue capek, Mel ...." kata Kim Bo yang ngos-ngosan kecapaian mengejar Melian. Maklum, Kim Bo tidak pernah berolah raga. Bahkan jalan kaki saja jarang.


    Beruntung Melian hanya berhenti sampai di halte yang ada di depan kampusnya. Tidak begitu jauh dari asramanya. Kalau saja agak jauh, pasti laki-laki itu bisa pingsan.


    "Mel .... Kamu mau ke mana? Gue anter naik mobil saja ...." kata Kim Bo yang masih kehabisan napas.


    Melian tidak menjawab. Diam dan hanya tersenyum geli menyaksikan cowok yang ngos-ngosan tersebut. Dan kebetulan bus BRT sudah datang dan merapat ke halte. Tanpa menghiraukan Kim Bo, mau ikut naik bus atau tidak, bukan urusannya. Melian langsung masuk ke dalam BRT. Dan tentu berdiri karena busnya sudah penuh penumpang. Melian langsung masuk ke tengah. Dan ia tidak lagi memperhatikan cowok yang mengejarnya.


    Namun tiba-tiba, ada cowok berkulit putih dan lumayan ganteng yang mendesak masuk mendekati Melian. Ternyata Kim Bo ikut naik BRT, dan berdesak-desakan dengan para penumpang lain.


    "Hehe ...." Kim Bo tersenyum lebar memandangi Melian yang sudah ditemukan dalam desak-desakan penumpang.


    "Ngapain, kamu ...?! Cengar-cengir ...." kata Melian sinis.


    "Jalan-jalan sama elo .... Hehe ...." jawab Kim Bo yang kembali tersenyum. Tentu senang bisa naik BRT bersama Melian. Ia pun terus mendekat ke Melian. Harapannya bisa menempel Melian.


    Melian diam tidak menggubris. Seolah menganggap Kim Bo ini sama dengan penumpang BRT lainnya, yang tidak saling kenal, hanya kerena kebetulan menumpang di bus yang sama.

__ADS_1


    Kim Bo sudah mulai bergaya di depan Melian. Sok hebat dan sok biasa naik bus. Ia menghadap ke Melian. Tentu dengan memandangi Melian terus-terusan. Dan pasti sambil tersenyum karena saking senangnya bisa berduaan bersama gadis idamannya. Namun ada yang dilupakan oleh Kim Bo. Ia tidak memegang ikatan sabuk pegangan yang menggantung di atasnya. Saat bus sampai di halte, berhenti untuk menurunkan atau menaikkan penumpang, sang sopir mengerem busnya. Dari bus yang awalnya berjalan kencang, tiba-tiba direm untuk berhenti. Maka para penumpangnya pada terhuyung. Dan para penumpang yang berdiri tentu langsung menguatkan pegangannya.


    Berbeda dengan Kim Bo yang tidak pegangan. Maka begitu bus direm oleh sang sopir, Kim Bo langsung terhuyung dan jatuh tergeledak. Orang-orang yang ada di dalam bus pada menertawakannya. Demikian juga Melian yang presis di depannya. Tidak menolong, tapi malah tertawa geli.


    "Hati-hati, Bang ...!" teriak para penumpang.


    "Latihan terjun kok di dalam bus ...." yang lain mengejek.


    Kim Bo meringis kesakitan, sambil memegangi kepalanya yang terbentur lantai bus. Kasihan.


    "Kok Melian gak nolong malah menertawakan ...?" kata Kim Bo setelah berdiri sambil mengelus-elus kepalanya.


    "Habis ..., kamu lucu .... Makanya jangan sok menggaya ...." sahut Melian yang masih tertawa geli.


    Karena malu, kini Kim Bo hanya diam saja. Dan tentu tangannya sudah pegangan erat. Menggenggam ikatan pegangan yang menggandul di atasnya. Ia takut kalau jatuh lagi. Sakitnya sih gak seberapa, tapi malunya itu loh yang gak ketulungan.


    Hingga beberapa halte kemudian, Melian melangkah mendekat ke pintu. Ia akan turun. Kim Bo tentu juga bersiap akan ikut turun. Dan akhirnya sampai di Cawang Ciliwung, Melian turun. Dan tentunya, Kim Bo juga ikut turun.


    Tanpa menghiraukan Kim Bo, bahkan secara sengaja seakan Melian tidak merasa kalau diikuti oleh Kim Bo. Jalannya sengaja dipercepat. Tujuannya agar Kim Bo tidak bisa mengikuti. Maklum, anak orang kaya itu tidak terbiasa jalan cepat. Pasti akan kelelahan mengikuti jalannyanya Melian. Dan benar, cowok itu jauh ketinggalan.


    Melian tidak menghiraukan. Ia terus berjalan menuju ke arah pemukiman kumuh. Tentunya ingin menemui para pemulung yang ada di sana, yang sudah akrab dengan dirinya.


    Dan saat berjalan ke arah pemukiman kumuh itu, ada seorang pemulung yang melintas bertemu Melian. Tentu memberi salam pada Melian. Di saat ketemu salah satu warga pemukiman kumuh itu, Melian berbisik. Lantas laki-laki dengan pakaian kotor sebagai seragam pemulung itu, langsung menemui beberapa temannya. Sesaat kemudian, ia bersama empat orang yang lain, sudah menghadang laki-laki yang berjalan mau masuk ke kampungnya. Tentu tadi Melian membisik untuk menghadang laki-laki itu.


    Kim Bo kembali khawatir saat melihat lima orang yang berdiri menghadang jalannya. Ia ingat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, saat mobilnya dihadang oleh para pemulung. Waktu itu ia ketakutan dan melarikan diri.


    "Eh ..., anu .... Gue mau menyusul Melian .... Cewek itu ..., yang sudah ke sana ...." kata Kim Bo dengan wajah ketakutan.


    "Mana identitasmu ...?!" bentak salah seorang yang mencegat.


    "Iya .... Ini ...." kata Kim Bo yang langsung mengambil dompetnya dari saku celananya, mau menunjukkan identitasnya.


    "Taruh di situ ...!! Dengan dompetnya ...!! Lemparkan ke sini ...!!" bentak yang satunya lagi, yang tentu sambil memukul-pukulkan potongan kayu ke tanah.


    Kim Bo ketakutan. Ia meletakkan dompetnya di tanah, di lempar ke depan para pemulung yang membentaknya.

__ADS_1


    Pemulung yang membentak langsung mengambil dompet itu. Lantas seluruh uangnya diambil semua. Kini dompetnya menjadi kosong. Hanya tinggal kartu-kartu seperti ATM, kartu kredit dan SIM serta KTP yang ada di dalam dompetnya.


    "Nih ...! Dompetmu aku kembalikan ...! Dompet kosong dipamerkan." kata orang yang mengambil uangnya, lantas dompet itu dilemparkan ke kaki Kim Bo.


    Kim Bo mengambil dompetnya, tentu langsung dibukanya. Tetapi dompet itu benar-benar sudah tidak ada uangnya. Yah, Kim Bo harus rela kehilangan semua uangnya demi ingin menemui Melian. Lantas memasukkan kembali ke kantong celananya dengan rasa agak kecewa.


    Lima orang itu pun berlalu meninggalkan laki-laki kulit putih yang tidak pernah kena kotoran tersebut. Tentu orang-orang itu akan kembali ke gubugnya.


    Kim Bo mencoba melangkah, menuju ke arah perkampungan. Tentu tekadnya ingin menemui Melian. Dengan rasa takut dan khawatir, ia berjalan perlahan. Sangat hati-hati, kalau-kalau langsung dicegat lagi oleh orang-orang dari kampung kumuh itu. Tapi rupanya sudah tidak ada yang keluar lagi. Tidak ada yang menghampiri lagi. Ia pun langsung melangkah semakin jauh ke tengah perkampungan kumuh itu.


    Dan setelah sampai di tengah, ada gubug terbuka tanpa pagar. Hanya atap saja yang terbuat dari asbes bekas. Tentu juga hasil yang didapat oleh para pemulung di bekas-bekas bangunan yang dibuang oleh pemiliknya. Yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemulung itu untuk digunakan sebagai atap gubug. Di tempat itu, ada anak-anak yang duduk dengan alas dari kardus. Anak-anak usia sekolah dasar. Mereka belajar di situ. Melian yang mengajari mereka.


    Ya, Melian punya aktivitas di gubug pemulung itu, mengajari baca tulis kepada anak-anak para pemulung, yang tidak bersekolah. Tentu alasannya tidak punya biaya untuk menyekolahkan. Dan yang paling umum didengar, mereka lebih memilih membantu orang tuanya mencari rongsok. Mereka memulung untuk mengais rezeki dari barang-barang bekas. Mencari rezeki dari tempat sampah.


    Melian merasa kasihan dengan anak-anak yang tidak bersekolah itu. Kasihan kalau sampai besar nanti, mereka tidak bisa membaca dan menulis. Itu tentu akan menambah kebobrokan anak bangsa. Akan menambah angka kebodohan. Yang tentunya juga akan menambah angka kemiskinan bangsa Indonesia. Inilah rantai kemiskinan yang sulit untuk diputuskan. Makanya, Melian ingin memberikan sedikit ilmunya, untuk mengajari anak-anak ini membaca dan menulis.


    "I ..., ni ...." suara Melian mengajari anak-anak membaca.


    "I ..., ni ...." sahut anak-anak dengan suara yang lebih keras.


    "I ..., bu ...." kata Melian lagi.


    "I ..., bu ...." anak-anak kembali menyaut.


    "Bu ..., di ...." kata Melian lagi.


    "Bu ..., di ...." sahut anak-anak.


    "Ini ..., ibu ..., Budi ...." Melian merangkai kata.


    "Ini ..., ibu ..., Budi ...." anak-anak menirukan mengeja bacaan yang diajarkan oleh Melian.


    Kim Bo terhenti langkahnya. Ia tidak melanjutkan untuk menemui Melian yang masih bengak-bengok mengajar anak-anak membaca dan menulis. Kini, hatinya mulai terketuk. Ternyata Melian bukanlah gadis sembarangan. Bukan gadis murahan yang mudah diiming-imingi uang dan kemewahan. Tetapi kenyataan yang sesungguhnya, Melian adalah gadis mulia yang mau mengorbankan kebahagiaannya untuk dibagikan bersama anak-anak pemulung, anak-anak tidak mampu, anak-anak kurang beruntung, anak-anak yang tinggal di gubug kumuh di bantaran Sungai Ciliwung.


    Kim Bo seakan disadarkan, kalau hidupnya selama ini ternyata tidak berarti. Hanya foya-foya dan menghambur-hamburkan kekayaan orang tuanya. Hanya mengejar kepuasan duniawi. Hanya memenuhi hasrat dan nafsu sesaat. Tidak pernah berfikir tentang amal. Tidak pernah melakukan kebaikan. Bahkan lebih banyak berbuat maksiat. Sangat jauh berbeda dengan Melian yang ternyata teramat baik bagi sesama. Rela mengorbankan hidupnya untuk orang-orang yang bukan saudaranya, bukan siapa-siapa, bahkan mungkin juga tidak ia kenal.

__ADS_1


    Perlahan Kim Bo melangkah mundur. Ia membalikkan badannya. Lantas melangkah meninggalkan tempat itu. Dan pergi dengan rasa pedih. Hatinya hancur, karena tidak mungkin untuk mendapatkan Melian, gadis yang sangat ia kagumi itu. Kini cintanya hancur berkeping-keping. Meski tidak ditolak, tetapi ia mundur teratur.


__ADS_2