GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 59: KRISMON TERUS-TERUSAN


__ADS_3

PERISTIWA MEI 1998.


    Jamil benar-benar bingung. Usaha kerajinan tempat ia bekerja benar-benar koleb. Majikannya sudah habis-habisan. Bunga bank yang sangat tinggi berakibat fatal bagi nasabah bank yang punya hutang. Seperti halnya pengusaha kerajinan kuningan di tempat Jamil bekerja itu. Pemilik usaha itu tidak sanggup membayar angsuran bank. Akibatnya, tidak sanggup lagi memabayar utang, apalagi untuk membayar karyawan. Sama sekali tidak ada uang. Pengusaha itu mengalami kebangkrutan.


    Pagi itu, bos pengrajin kuningan mengumpulkan seluruh karyawannya. Di ruangan tempat menaruh barang-barang hasil produksi, baik yang baru dicetak maupun yang diamplas atau dihaluskan. Tempat itu biasa digunakan oleh Jamil bersama teman-temannya untuk bekerja.


    "Kalian tahu kondisi saat ini ...." begitu awal mula kata-kata yang diucapkan oleh majikan kuningan itu.


    Semua karayawan diam dan tertunduk. Pasti ada masalah besar yang akan disampaikan oleh bos-nya itu terkait dengan krismon yang melanda di Indonesia. Tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang berkata-kata.


    "Krismon sudah menghancurkan segi perekonomian bangsa. Termasuk usaha saya ...." lanjut bos kuningan itu.


    Lagi-lagi karyawan yang berkumpul di ruang itu terdiam. Tidak ada yang berani menyahut. Melihat wajah bos-nya saja sudah sangat memelas.


    "Terus terang saya bangkrut." kata bos kuningan itu lemas.


    Karyawan langsung mendongakkan kepalanya, memandangi bos-nya yang pucat pasi itu. Kata-katanya memang tidak keras, tetapi mendengar ucapan itu langsung menohok ke ulu hati. Ada kecemasan bagi para karyawan.


    "Tolong kalian semua pahami .... Saya sudah tidak sanggup apa-apa lagi. Bahkan untuk membayar angsuran bank saja, saya sudah tidak punya apa-apa. Saya sudah tidak mampu untuk hidup, apalagi menghidupi kalian. Usaha ini sudah koleb .... Bangkrut ...." kata bos kuningan tersebut.


    Para karyawan itu langsung saling pandang satu sama lain, tentu perasaan sedih mulai menyelimuti hatinya, sebagai rasa empati kepada majikannya.


    "Terus ..., kami bagaimana, Pak?" tiba-tiba ada karyawan yang berani bersuara, menanyakan nasibnya.


    "Saya sudah tidak punya uang .... Hutang saya membengkak karena bunga bank yang sangat tinggi. Sementara barang-barang ini tidak ada yang membeli, karena masyarakat juga tidak punya uang. Jangankan beli hiasan kuningan, untuk beli beras dan kebutuhan hidup sehari-hari saja tidak ada uang. Jadi, kemungkinan saya harus menutup usaha ini ...." kata majikannya menjelaskan.


    "Waduh ...?! Kalau di tutup kami kerja apa, Pak ...?" tanya karyawan yang lain lagi.


    "Kalau kalian kerja, untuk apa ...? Wong barangnya juga tidak ada yang beli .... Terus kalaupun tetap kerja, bagaimana ...? Saya tidak bisa mbayar karyawan .... Tidak punya uang ...." jawab majikannya itu, yang tentu juga bingung dengan nasib karyawannya.


    "Lhoh ..., berarti kami tidak kerja lagi, Pak ...? Anak istri kami bagaimana, Pak?" tanya karyawan yang lain.


    "Mohon kalian pahami .... Hari ini saja saya dapat tagihan dari bank yang bunganya melebihi rentenir ..., tidak hanya mencekik leher, tetapi sudah menjerat leher seakan mau digantung .... Uang saya itu sudah habis .... Saya tidak punya uang sama sekali .... Kalau tidak percaya ..., ini lho, dompet saya kosong ...." kata majikannya itu sambil menunjukkan dompetnya kepada para karyawannya.


    "Sebaiknya kami bagaimana, Pak?" tanya salah satu karyawannya, yang tentunya juga sangat kasihan dengan bos-nya itu.


    "Tolong ada yang bantu mikir .... Kepala saya sudah pusing mengalami krismon ini ...." kata majikan kuningan itu yang sudah pasrah segalanya.


    "Pak ..., bagaimana kalau sementara waktu kita kerja, tapi bayarannya dirapel besok kalau sudah tidak krismon lagi .... Lha sekarang, kita dibayar sedikit-sedikit dulu .... Sambil menunggu perekonomian pulih lagi, Pak ...." kata karyawannya yang tentu punya pemikiran agar tidak terjadi PHK.


    "Tapi soal membayar kalian itu, lho .... Terus terang perusahaan sudah tidak punya uang sama sekali .... Punyanya cuma hutang yang membengkak ...." jawab sang majikan.


    "Tapi kalau di PHK, terus kami mau kerja apa, Pak ...?!" sahut yang lain.


    "Kalau boleh saya usul .... Bagaimana kalau kita tetap kerja sedikit-sedikit, tetapi kita juga cari sambilan di luar .... Paling tidak yang bisa mencangkul ya ikut nyangkul di sawah, yang bisa melaut ikut cari ikan .... Yang penting kebutuhan dapur terpenuhi, tetapi tidak ada istilah PHK. Bagaimana, Pak ...?" kata salah seorang karyawan yang cukup senior.


    "Nah, mungkin begitu lebih bagus .... Jadi jangan terlalu berharap dengan tempat ini .... Orang-orang sudah berfikir sekian kali untuk beli kerajinan kuningan, mending untuk beli beras .... Tapi saya tetap butuh orang yang mau membantu saya untuk mengurusi usaha ini .... Terus terang saya tidak sanggup terus-terusan ditagih bank." kata bos kuningan tersebut.

__ADS_1


    "Iya, Pak .... Yang penting nanti kalau perekonomian sudah membaik, kami tetap bekerja lagi di sini ...." sahut para karyawan itu.


    Akhirnya, bos kuningan itu menganjurkan para karyawannya untuk mencari pekerjaan sambilan, setidaknya bisa digunakan untuk menutupi kekurangan belanja kebutuhan dapur. Para karyawan pun setuju. Tapi bos kuningan itu memesan kepada sopir pengiriman barang agar selalu siap jika ada order. Demikian juga karyawan yang lain diminta siap jika ada pekerjaan, terutama untuk membantu menaikkan barang-barang pesanan.


    Setelah tercapai kesepakatan kerja tersebut, hari itu, para karyawan ini pulang dengan tangan hampa. Meski ada yang kecewa, tetapi dengan penjelasan bos-nya tersebut, mereka bisa menerima kenyataan. Tentu kasihan juga dengan bos-nya yang bangkrut tersebut.


    Seperti halnya Jamil, yang pulang dengan wajah suram dan tak berdaya. Tentu Jamil bingung, akan kerja apa lagi kalau diistirahatkan dari tempat kerjanya. Ingin ikut melaut dengan para nelayan, Jamil tidak bisa. Ia pun pasrah, hanya berharap semoga Tuhan Yang Maha Kuasa segera mengakhiri percobaan bangsa yang sedang mengalami krisis moneter ini.


*******


    Malam itu, masih sekitar jam tujuh malam, Jamil bersama anak dan istrinya masih berada di ruang keluarga, menyaksikan berita televisi. Tentu masih seputar demo tuntutan reformasi. Tidak sekadar menuntut perbaikan ekonomi, tetapi juga menuntut Presiden Suharto mundur. Kepemimpinan orde baru dikait-kaitkan dengan korupsi, kolusi dan nepotisme, yang selajutnya disebut dengan istilah KKN.


    "Tok ..., tok ..., tok ...." tiba-tiba terdengar suara pintu rumahnya di ketuk orang.


    "Kulonuwun ...." suara orang yang mengetuk pintu uluk salam.


    "Kang ..., ada tamu ...." kata Juminem pada suaminya.


    "Siapa ya, Jum ...? Malam-malam begini kok bertamu ...." tanya Jamil pada istrinya.


    "Walah, ya tidak tahu to, Kang .... Sana lihat ...." kata Juminem yang menyuruh suaminya untuk melihat tamunya.


    Tanpa menjawab lagi, Jamil langsung bergegas berdiri dan beranjak untuk mengetahui dan membukakan pintu tamunya.


    Sesaat membuka pintu, tentu ia kaget dengan tamu yang datang.


    Tamu itu langsung masuk, dan duduk di ruang tamu. Dengan wajah sedih dan memelas.


    "Jum .... Tolong buatkan minum, teh hangat untuk Pak Bos saya ...." kata Jamil menyuruh istrinya.


    "Iya, Kang ...." sahut Juminem, yang tentu langsung bergegas membuatkan minuman untuk tamunya. Pasti ia juga menghormati, karena yang bertamu adalah majikan suaminya.


    "Tidak usah repot-repot, Mas Jamil ...." kata bos-nya yang berbasa-basi.


    "Kok dengaren, Pak Bos .... Ada kabar penting, rupanya ...?" tanya Jamil yang tentu heran dengan kedatangan majikannya tersebut.


    "Pak ..., ini teh hangat .... Silakan diminum .... Sama ini ada pisang goreng, hasil tanamannya Kang Jamil .... Hehe ...." kata Juminem yang menyuguhkan minuman pada bos suaminya.


    "Terima kasih, Mbak ...." kata bos suaminya.


    "Ada perkembangan tentang tempat kerja, Pak?" tanya Jamil yang tentu penasaran. Wajar kalau Jamil menanyakan itu, karena mau tidak mau, kini dirinya harus menganggur karena usaha bos-nya dihentikan.


    "Mas Jamil ..., kamu sudah kerja ikut saya hampir sepuluh tahun .... Saya sangat percaya dan senang dengan cara kerja Mas Jamil .... Bahkan saya tidak pernah meragukan kerja Mas Jamil .... Apapun saya berikan untuk Mas Jamil ...." kata bos kuningan tersebut pada Jamil, yang tentu ingin Jamil paham kebaikan bos-nya.


    "Iya, Pak ..., saya mengerti. Bapak terlalu baik buat kami. Bahkan mobil saja saya sering dipinjami, termasuk sopirnya sekalian ...." sahut Jamil yang tentu selalu ingat kebaikan orang lain.


    "Tapi kali ini tidak seperti itu, Mas Jamil .... Terus terang saya kolabs .... Saya bangkrut .... Saya tidak punya apa-apa lagi .... Tinggal tempat usaha itu yang masih tersisa ...." bos kuningan itu terdiam, tapi kelihatan gelisah.

__ADS_1


    "Terus ..., bagaimana, Pak?" tanya Jamil ingin tahu maksud bos-nya.


    "Mas Jamil ..., tolong saya .... Tolong keluarga saya .... Terus terang saya bingung, Mas Jamil .... Tadi pagi itu saya tidak berani blak-blakan di depan karyawan, saya takut di demo .... Huk ..., huk ...." bos-nya Jamil malah menangis. Tentu membuat Jamil jadi bingung.


    Juminem yang mendengar ada suara laki-laki menangis itu ikut kaget, "Ada apa ...?" batin Juminem. Maka ia mencoba melongok, ingin tahu apa yang terjadi.


    "Ada apa, Mak ...?" tanya Melian yang ada di sampingnya.


    "Ssssttt ....! Pak Bos sedang menangis ...." kata Juminem pada anaknya.


    Akhirnya, dua perempuan anak dan ibu di ruang keluarga itu langsung menyimak pembicaraan tamunya. Juminem langsung mengecilkan volume televisi.


    "Pak ..., jangan seperti itu .... Tidak baik meratapi nasib .... Apapun yang terjadi, kita tetap harus bersyukur ...." kata Jamil pada bos-nya yang sudah kehabisan akal.


    "Mas Jamil ..., masalahnya besok pagi tempat usaha kita itu, dan yang jadi tempat tinggal keluarga akan disita bank, karena saya tidak sanggup membayar hutang .... Huk ..., huk ...." kata Pak Bos, yang masih saja menangis, pertanda sangat sedih.


    "Lha terus ..., bagaimana, Pak ...?" tanya Jamil.


    "Tolong kami, Mas Jamil .... Huk ..., huk ..., huk ...." kata Pak Bos.


    "Waduh ...., bagaimana kami bisa menolong, Pak ....?" Jamil mulai bingung.


    "Tolong kami dipinjami uang, Mas Jamil .... Yang penting tempat usaha kita tidak disegel, tidak disita ...." kata bos-nya lagi.


    "Iya .... Tapi saya tidak mungkin minjami uang sebanyak itu, Pak .... Kalaupun saya punya, itu di celengan paling-paling hanya sedikit ...." kata Jamil.


    "Sudahlah, Mas Jamil .... Tolong tagihan bank itu kamu bayar .... Seberapa besarnya tidak masalah. Yang penting tempat usaha kerajinan kuningan itu jangan disita, agar para karyawan tetap bisa bekerja .... Saya itu kasihan dengan para karyawan .... Kalau sampai tempat itu disegel, mereka akan kerja apa ...? Keluarganya akan makan apa ...? Tolong kamu tahu itu, Mas Jamil ...." Pak Bos benar-benar sangat berharap pada Jamil.


    "Iya, Pak .... Saya paham, tetapi uangnya dari mana? Saya ini hanya karyawan bapak, dan bapak tahu berapa bayaran saya ...." Jamil sangat bingung, dua hal yang saling berlawanan. Satu sisi ia ingin membantu, tetapi di sisi lain ia tidak sanggup melakukannya.


    "Tolonglah, Mas Jamil .... Saya yakin Mas Jamil punya uang. Tabungan Mas Jamil sepuluh tahun ikut saya, pasti sudah lumayan .... Tolong ya, Mas .... Huhk ..., hul ..., huk ...." lagi-laki Pak Bos mengharap pada Jamil.


    "Pak ..., celengan saya hanya sedikit .... Itu rencana mau saya pakai untuk beli motor, anak saya sudah besar, dan kami butuh alat transportasi ...." kata Jamil beralasan.


    "Tolonglah, Mas Jamil .... Kasihan para karyawan yang lain .... Demi teman-temanmu ..., bukan untuk saya .... Nanti kalau kamu ada uang, bayar saja, anggap tempat itu kamu beli ...." kata bos kuningan itu yang semakin pasrah.


    "Ya ampun, Pak .... Saya benar-benar tidak punya uang, Pak .... Apalagi untuk membayar rumah Bapak ....Uang dari mana, Pak ...?" kata Jamil lagi.


    "Tapi besok pagi tempat usaha kita akan disita, Mas Jamil .... Terus bagaimana nasib Mas jamil dan teman-teman? Huk ..., huk ..., huk ...." lagi-lagi, Pak Bos yang bingung itu menangis pertanda sedih yang tidak sanggup diselesaikan lagi.


    "Sudahlah, Kang .... Uang yang ada di celengan itu kita pinjamkan dahulu ...." kata Juminem pada suaminya, yang sudah ikut keluar ke ruang tamu, yang tentu juga ikut kasihan pada majikan suaminya itu.


    "Iya, Pak .... Kasihan teman-teman Bapak .... Nanti kalau tidak kerja terus bagaimana?" Melian tiba-tiba juga bersuara di ruang tamu itu.


    "Yaaah ..., sudahlah .... Pak, ini anak dan istri saya yang merestui .... Besok coba kita bayar pinjaman bank seadanya dulu. Nanti akan saya buka celengan saya. Terus terang uang saya hanya sedikit .... Yah, besok kita serahkan ke bank untuk mengurangi beban utang perusahaan." kata Jamil yang akhirnya pasrah, karena kata-kata anak dan istrinya.


    "Terima kasih, Mas Jamil .... Terima kasih, Mas Jamil ...." kata Pak Bos yang langsung memeluk tubuh Jamil dan tentu sudah bisa tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2