
Pagebluk atau kematian-kematian beruntun di Desa Sarang itu benar-benar yerjadi. Sehari dua orang meninggal, hari berikutnya dua orang lagi meninggal. Begitu terus menerus. Dan kematian orang-orang itu kebanyakan terjadi di tempat-tempat yang tidak wajar. Ada yang meninggal di tengah jalan, ada yang meninggal di semak-semak, ada juga yang meninggal di ladang atau di sawah, bahkan ada juga yang meninggal di parit. Sebagian besar meninggalnya di jalan depan bekas rumah Jamil.
Tentu, orang-orang mulai berkomentar, pagebluk yang mengakibatkan kematian beruntun di Desa Sarang ini, pasti ada hubungannya dengan pembakaran rumah Jamil. Alasannya, orang-orang yang mati itu semuanya adalah orang-orang yang berperan saat pembakaran rumah Jamil. Contoh saja Pak Pin, dia yang memprovokasi para tetangganya, menyebarkan isu hantu cekik, lantas hanya dengan membawa kain gorden dibawa lari ke depan pintu rumah Jamil, lantas kain itu dipukuli dengan mengatakan hantu cekiknya ditangkap, hantu cekiknya yang memelihara adalah Jamil, lantas menyuruh orang-orang membakar rumah Jamil. Akhirnya dia yang menjadi korban pertama, dengan mati mengenaskan.
Demikian juga Kasiman. Orang yang pertama kali melemparkan obor minyak ke atap rumah Jamil, yang lantas apinya berkobar. Ia juga mati di pinggir jalan depan bekas rumah Jamil. Demikian juga Kasmo yang juga ikut melempar obor api untuk membakar rumah Jamil.
Ya, semua orang-orang yang mati bergeletakan di jalan maupun pekarangan ini adalah warga Desa Sarang yang ikut membakar dan merusak rumah Jamil. Inilah hukum karma. Jamil orang yang tidak tahu apa-apa, orang yang baik, orang yang tidak bersalah, menjadi korban tuduhan orang-orang yang memiliki sifat iri, dengki dan serakah. Mereka sudah menghancurkan rumah orang lain, mereka sudah menghancurkan keluarga, dan tentu menghancurkan kebahagiaan Jamil dan Juminem serta anak yang disayanginya, Melian.
Berkaca dari kematian-kematian yang terjadi di kampungnya, Pak Kades mulai berfikir, mungkinkah ini ada kaitannya dengan peristiwa pembakaran rumah Jamil? Akhirnya, Pak Kades mengajak warganya untuk membersihkan puing-puing sisa pembakaran rumah Jamil. Tentu tujuan utamanya adalah agar kampungnya lebih terlihat indah dan asri. Sedangkan menurut para tetua kampung, pembersihan puing-puing rumah Jamil ini untuk menyingkirkan arwah gentayangan yang tidak terurus.
Akhirnya, hari Minggu, hari libur untuk semua warga, mereka bekerja bakti membersihkan sisa-sisa puing yang menumpuk di bekas rumah Jamil.
"Mari kita kerja bakti .... Semuanya ikut kerja bakti, ya ...!" ajak Pak Kades.
"Ya, Pak ...." tentu para warga langsung menurut perintah Pak Kades. Mereka langsung beramai-ramai kerja bakti di bekas rumah Jamil.
Tentu, yang namanya ada orang banyak, mereka bersama dengan orang-orang lain, maka rasa takut, rasa khawatir, rasa ragu-ragu saat masuk ke bekas rumah Jamil, hilang bersama riuhnya canda tawa. Orang-orang justru saling berkelakar, saling gojegan, dan saling ejek maupun saling bersendagurau.
"Hayo, siapa yang kemarin ikut membakar rumah Kang Jamil ...?!" kelakar salah seorang anak muda yang ikut kerja bakti, yang tentu menggerombol dengan teman-temannya pemuda yang lain.
"Aku tidak ikut-ikutan, ya .... Kasihan Kang Jamil ...." kata orang yang dekat dengan yang berkelakar.
"Heh, saya kasih tahu .... Itu orang-orang yang membakar rumah Jamil, sudah pada mati dimakan arwah keluarganya Jamil. Pasti Jamil balas dendam ...." sahut yang lainnya.
"Iyah betul .... Itu yang mati urut dari yang mulai membakar rumah Jamil ...."
"Iya ..., ya ...."
"Benar ..., Itu yang sudah pada mati, mereka itu orang-orang yang ikut membakar rumah Jamil ...."
"Tapi, kan orang yang ikut membakar banyak ...."
"Ya, benar .... Tapi tidak semua yang ramai-ramai datang ke rumah Jamil waktu itu tidak semuanya ikut membakar .... Hanya beberapa orang saja."
"Apa yang ikut membakar rumah Jamil sudah mati semua?" tanya salah satu yang ingin tahu.
"Ngomong apa kalian ...?!" tiba-tiba sekelompok pemuda yang membicarakan masalah pembakar rumah Jamil itu kaget, karena dibentak oleh seorang laki-laki tinggi besar wajah brewok itu.
"Tidak, Pak .... Kami tidak membicarakan apa-apa, kok ...." jawab salah seorang dari anak-anak muda itu, yang tentu ketakutan.
"Awas kalau kalian sampai ngomong macam-macam ...!" ancam orang yang tentu wajahnya terlihat seram tersebut. Lantas laki-laki brewokan itu pun pergi meninggalkan anak-anak muda yang kemudian melanjutkan ceritanya.
"Sssttt ..., orang itu kemarin ikut membakar rumah Kang Jamil apa tidak?" bisik salah satu pemuda yang ingin tahu.
"Iya .... Dia ikut berorasi, mengatakan kalau Kang Jamil punya pesugihan ...." sahut temannya juga dalam bisikan.
"Lhah, kok Pak Brewok masih hidup ...?" tanya temannya lagi, yang tentu juga penasaran.
"Tuhan masih melindungi ...."
__ADS_1
"Syukurlah ...."
"Padahal malam itu, Pak Brewok suaranya paling keras, lho ...."
"Berarti itu artinya orang-orang yang mati kena pagebluk itu bukan karena arwah Kang Jamil ...."
"Iya juga, ya .... Toh kematian Pak Pin, hasil penyelidikan polisi kan juga karena lehernya dihantam kampak, bukan diterkam hantu cekik .... Bahkan tuduhan polisi kalau yang membunuh Pak Pin itu istrinya yang melihat Pak Pin memakai selimut kain korden dari balai desa, dianggap sebagai hantu cekik. Makanya langsung dipukul dengan kampak." jelas salah satu anak muda yang tentu lebih percaya dengan penuturan polisi.
"Ayo ..., bersehikan semua arang dan abu-abu yang berserakan .... Jangan sampai ada yang tertinggal. Ditimbun di bagian semak yang rimbun, nanti kita bakar sampai habis, sehingga kelihatan bersih, tidak menjelek-jeleki pemandangan kampung ...." kata Pak Kades mengatur warganya.
"Ya, Pak ...." sahut para warga yang bekerja bakti di situ.
Para warga pun langsung bergerak. Sudah ada yang membakar tumpukan puing. Demikian juga rumput-rumput yang dibabat, langsung ditimbunkan ka api yang sudah menyala.
"Pak Kades ..., kalau lantai yang bekas kena timbunan abu kita siram air bagaimana? biar bersih ...." usul salah seorang warga.
"Ya, itu malah lebih bagus. Silakan ...." sahut Pak Kades.
Akhirnya, ada orang yang menimba air dari sumur yang ada di pekarangan bekas rumah Jamil tersebut, dan menyiramkan ke seluruh pelataran, lantai bekas rumah Jamil tersebut. Tentu tempatnya jadi terlihat bersih. Bahkan keramik lantai yang tadi sudah lengket dengan debu dan abu bakaran, kini terlihat bersih dan mengkilap.
"Kang Jamil ..., saya minta doa restunya dimudahkan mencari jodoh ya, Kang ...." celetuk salah seorang pemuda yang membersihkan lantai itu.
"Iya .... Nanti pulang dari sini, kamu langsung ketemu jodohmu .... Hahaha ...." tentu teman-teman yang lain justru mengejek dan menertawakan. Seolah memberi jawaban yang diminta. Dan itu pasti jadi bahan tertawaan. Maklum yang bilang seperti itu memeang sudah berumur, tetapi belum dapat istri.
"Aaamiiin .... Terima kasih, Kang ...." laki-laki yang diejek teman-temannya itu tidak marah, malah mengaminkan kata-kata temannya dan mengucapkan terimakasih.
"Eh, teman-teman .... Kira-kira tempat terbakarnya Kang Jamil beserta dengan anak dan istrinya ada di mana, ya?" tanya salah seorang yang dari tadi tengak-tengok mencari jasad Jamil dan keluarganya.
"Iya, ya .... Kok kita tidak menemukan, ya ...?!" sahut temannya.
"Yang jelas sudah jadi abu .... Sudah tidak ada bekasnya ...." sahut yang lain.
"Kalau jadi abu, abunya di bagian yang mana? Mosok tidak ada sisa-sisa tulang sedikitpun ...?!" teman yang curiga terus ingin tahu.
"Iya, ya .... Kok dari tadi bersih-bersih tidak ada sedikitpun yang menemukan sisanya ...?!"
"Alaaa .... Tidak usah dibahas. Nanti malam kalau kamu bermimpi ditemui arwah Kang Jamil, saya nggak ikut-ikutan ...." sahut yang lain menghentikan pembicaraan itu.
"Tapi saya kok merasa aneh ...." pemuda yang masih bingung itu, tentu menyimpan berbagai kecurigaan.
Kerja bakti pun selesai sampai tengah siang. Bekas rumah Jamil yang kotor, mangkrak dan menyeramkan itu kini menjadi bersih dan terang. Tidak menakutkan lagi. Bahkan pada jalan depan pekarangan yang sekarang jadi kosong itu, kini dipasangi lampu penerangan yang besar, sehingga kalau malam hari biar tempat itu terlihat terang dan tidak menakutkan. Para warga pun senang dengan bersihnya kampungnya itu. Demikian juga Pak Kades, yang tentu puas dengan hasil kerja bakti hari itu.
Entah siapa yang kata-katanya mujarab. Sebuah kenyataan yang aneh, pemuda yang minta jodoh saat kerja bakti tadi, yang oleh teman-temannya diledeki, ternyata saat pulang dari kerja bakti ia melintas di rumah salah seorang warga yang punya anak gadis. Kebetulan gadis itu berada di teras rumahnya. Lantas tiba-tiba saja, sang gadis yang melihat pemuda yang lewat itu menyuruh sang pemuda untuk mampir ke rumahnya. Meski banyak teman, pemuda-pemuda lain yang tadi bersama-sama ikut kerja bakti, hanya pemuda itu yang ditawari singgah ke rumahnya. Dan tentu teman-temannya langsung mendorong-dorong sambil canda tawa, menyuruh pemuda itu singgah. Ia pun mau. Laki-laki muda itu pun mampir ke rumah sang gadis.
"Wee ..., ada Mas Joko ...." tiba-tiba dari dalam ibu sang gadis itu keluar, tentu menyapa laki-laki muda yang bernama Joko tersebut.
"Iya, Mbok .... Mohon maaf sudah mengganggu ...." sahut pemuda yang bernama Joko itu.
"Mas Joko sudah punya pacar apa belum ...?" tanya ibu sang gadis tersebut.
__ADS_1
"Hehe ..., belum, Mbok ...." jawab Joko yang tentu dengan malu-malu kucing.
"La mbokya itu ..., si genduk itu kami ambil istri ...." kata ibu si gadis tersebut.
Betapa kagetnya Joko, mendengar kata-kata dari orang tua gadis yang mengampirkannya. Tentu muka Joko langsung merah. Tetapi juga bingung mendengar kata-kata itu. Kok secepat dan semudah itu mendapatkan jodohnya. Benarkah ini berkat permintaannya tadi saat kerja bakti membersihkan bekas rumah Kang Jamil. Benar-benar aneh.
Laki-laki muda yang bernama Joko itu pun akan menyampaikan masalah itu kepada orang tuanya, agar orang tuanya setuju dan segera melamarkan gadis cantik itu untuk menjadi istrinya. Itulah kenyataan yang terkadang tidak bisa kita nalar. Yang Maha Kuasa itu tahu segalanya, sanggup melakukan apa saja. Termasuk memberikan jodoh kepada seseorang. Jika cerita ini nanti disampaikan kepada temannya, pasti banyak yang tidak percaya. Kalaupun ada yang menjawab, ia akan mengatakan, "Itu kan berkat kita-kita yang menjawab permintaanmu ...."
Tidak urusan itu semua. Yang pasti anak muda Joko itu kini pulang dengan senang dan girang. Ia pun berjalan sambil tersenyum gembira. Yang terbayang dalam angan-angannya, sebentar lagi ia suadh tidak diejek oleh teman-temannya, sudah tidak menjadi perjaka tua lagi.
Namun, di tengah perjalanannya, sesampainya di perempatan jalan desa, ia dikagetkan oleh orang yang tergeletak di tengah jalan. Benar-benar ada tubuh laki-laki besar yang rebah menelentang di tengah-tengah jalan, seakan membentangi perempatan jalan. Tangan dan kakinya menelentang mbentangi jalan. Seakan orang itu mau menutupi jalan orang yang melewati perempatan desa tersebut.
"Toloooong ...!!" Joko langsung berteriak minta tolong.
Spontan orang-orang yang mendengar langsung berdatangan ke perempatan jalan itu.
"Walah ...."
"Ealah .... Ada orang meninggal lagi ...."
"Siapa, Yu ....?!"
"Belum tahu .... Masih tengkurap menghalangi perempatan jalan begitu kok ...."
"Coba di balik menghadap ke atas ...."
Beberapa orang laki-laki, langsung membalikkan tubuh orang itu.
"Pak Brewok ...."
"We, lha .... Pak Brewok kenapa ...?"
"Pak Brewok meninggal ...."
"Lhah, tadi baru saja ikut kerja bakti ...."
"Iya .... Tadi membentak kami ...."
"Benar .... Tadi juga bilang kepada kami untuk tidak berkata-kata macam-macam tentang Kang Jamil ...."
"Ya, dia juga mengancam saya ...."
"Padahal memang Pak Brewok itu yang ikut bengok-bengok menyuruh membakar rumah Jamil."
"Berarti ia juga kena balas dendam arwahnya Kang Jamil ...."
"Sukurin .... Biar mampus .... Dia itu sukanya memarahi orang ...."
Rupanya, memang orang-orang yang membakar rumah Jamil mendapat hukuman dari Yang Maha Kuasa. Apa pun itu namanya, entah karma, entah balasan, ataupun hukuman, yang jelas mereka sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka. Membakar rumah orang, membunuh orang, akhirnya mereka pun juga mati mengenaskan. Mati bergeletakan di jalan-jalan.
__ADS_1