GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 217: HOBI BARU


__ADS_3

    Sepulang dari kawasan kumuh di bantaran Sungai Ciliwung, Melian mau pulang. Naik bus Trans Jakarta menuju asramanya. Nanti turunnya di depan kampus, tinggal berjalan sebentar ke asrama. Namun sore hari, saat jam pulang kerja, pasti naik bus Trans Jakarta juga ramai dan penuh sesak. Tetapi karena ramai inilah naik bus menjadi terasa mengasyikkan. Banyak teman dan banyak menyaksikan berbagai macam karakter orang. Semua lapisan masyarakat terlihat dalam bus itu. Ada pegawai yang berdasi dan mengenakan jas, berdiri di tengah, tangannya memegang sabuk pegangan yang tergantung, tetap saja merasa nyaman dan enjoi. Ada juga perempuan yang mengenakan bleser, terlihat cantik dengan dandanan yang benar-benar sangat lengkap, make-up yang mahal untuk mempercantik penampilannya. Ia juga nyaman saja naik bus Trans Jakarta. Ada juga ibu-ibu yang sedang hamil. Ia mengenakan daster, sehingga perutnya terlihat besar. Ibu hamil itu duduk di kursi yang sudah sangat penuh. Ada juga anak-anak sekolah yang riuh ramai sambil gojekan.


    Bus Trans Jakarta pada awalnya disebut dengan nama Bus Rapid Transit atau BRT. BRT ini mulai diuji coba oleh Gunernur Jakarta, waktu itu Bapak Sutiyoso, pada bulan Januari 2004, dan masih gratis atau tidak ditarik biaya. BRT di Jakarta ini merupakan sarana transportasi masa pertama yang menggunakan sistem transportasi Bus Rapid Transit atau BRT pertama di Asia Tenggara dan Selatan dengan jalur lintasan terpanjang di dunia, yaitu mencapai dua ratus kilometer lebih. Sistem BRT ini didesain berdasarkan sistem TransMilenio yang dikembangkan di Bogota, Kolombia. Baru setelah bulan Februari 2004, TransJakarta mulai membayar dengan ongkos yang sangat murah sekali.


    Memang Trans Jakarta ini menjadi pilihan masyarakat, karena banyak keuntungannya. Alasan masyarakat memilih naik bus Trans Jakarta ini karena akses cepat dan bebas hambatan serta dengan nyaman saat bepergian, berangkat kerja, atau keliling Jakarta dengan harga tiket yang paling murah, bahkan sangat teramat murah. Tidak khawatir atau risau dan galau dengan kemacetan. Para penumpang merasa senang karena bisa tiba di tujuan dengan cepat, tanpa mengalami kemacetan. Tentu tidak macet, karena bus Trans Jakarta ini mempunyai jalur khusus yang tidak boleh dilewati oleh kendaraan lain. Itulah tujuan dibangunnya jalur Bus Way yang digunakan untuk memperlancar jalannya bus Trans Jakarta.


    Beruntung di Jakarta ada bus Trans Jakarta. Yang tentu sangat membantu masyarakatnya untuk bepergian ke berbagai tujuan. Termasuk hanya sekadar ingin jalan-jalan keliling Jakarta seperti halnya Melian. Kini, jika waktunya senggang, Melian lebih suka keluyuran sendiri, keliling Jakarta, menyaksikan berbagai tempat yang ada di Jakarta. Maklum, Melian sudah sangat sulit untuk ketemu atau kumpul dengan Putri. Alasannya, Putri sudah punya pacar, yang tentu sibuk sendiri dengan pacarnya. Maka Melian lebih senang refresing sendirian.


    Sore itu, sepulang dari menyelesaikan masalah bersama para pemulung di bantaran Sungai Ciluwung, Melian yang naik bus Trans Jakarta kembali menyaksikan hal yang tidak bisa diterimanya. Yaitu laki-laki yang mencopet salah seorang penumpang. Tentu Melian langsung melangkah ke arah sang pencopet. Pasti Melian sudah bersiap untuk menghabisi si copet tersebut.


    "Tolong kembalikan dompet itu kepada pemiliknya." Melian membisik di telinga sang copet yang sudah diinjak kakinya.


    Copet itu masih diam. Dan tentu tidak merasa takut kalau hanya diinjak kakinya dan yang berbisik itu hanya seorang perempuan. Kalau dilawan, pasti sekali pukul langsung tersungkur. Maka copet itu tidak juga mengembalikan dompetnya kepada si pemilik. Ia lebih memilih menunggu sebentar lagi akan ada halte, dan bus Yrans Jakarta itu akan merapat untuk berhenti. Di saat itu si copet berencana akan melarikan diri. Copet ini tentu sudah hafal dengan rute dan jalurnya. Maka ia tidak khawatir kalaupun ada yang tahu, dia akan segera keluar dan lari.


    Dan benar. Sesaat kemudian, bus Trans Jakarta itu sudah merapat di tempat pemberhentian. Dan pintu bus itu langsung terbuka secara otomatis. Copet itu berusaha lari. Ia berusaha melepas kakinya yang diinjak oleh Melian. Bahkan tangannya sudah berusaha mendorong tubuh Melian. Tentunya agar gadis yang menginjak kakinya itu akan melepasnya.


    Melian yang sudah siap kalau bus itu akan berhenti, dan sudah berfikir pula kalau copet itu pasti akan melarikan diri. Maka Melian sudah siap akan menghajar copet itu di luar bus. Sebenarnya saat mengetahui copet itu, Melian ingin menghajarnya. Namun ia tidak ingin membuat keributan di dalam bus. Tidak ingin ada yang takut atau menjerit gara-gara ada copet yang dipukuli. Dan setidaknya, kalau ia menangkap copet di dalam bus, khawatir banyak penumpang yang ikut mengeroyok.


    Maka Melian sudah siap untuk ikut keluar bersama si copet itu. Sengaja kakinya dilonggarkan, agar si copet bisa melangkah. Tetapi ada yang aneh, kaki Melian masih tetap menempel di atas kaki si copet tersebut. Makanya, saat laki-laki copet itu melangkah, jalannya agak aneh karena kakinya terbeban oleh kaki orang yang menginjaknya.


    Saat sudah sampai di luar, copet itu berusaha kabur. Ia mencoba untuk berlari. Namun yang terjadi, laki-laki muda itu justru jatuh tersungkur di bawah halte. Hidung dan mulutnya sudah menatap besi tangga trap untuk jalan naik turun para penumpang. Pasti sakit. Pemuda itu meringis, sudah mengeluarkan darah dari hidung dan bibir.


    Melian seakan menjadi orang yang baik hati. Ia membangunkan laki-laki muda yang mencopet tadi dari tempat jatuhnya. Kemudian laki-laki itu didudukkan di trotoar yang ada di samping halte bus.

__ADS_1


    "Mana hasil copetanmu hari ini ...?! Serahkan semua ...!" kata Melian pada laki-laki itu.


    Namun rupanya si pencopet itu tidak jera dengan yang sudah dialami. Ia berpura-pura mengambil barang-barang hasil copetan. Namun ternyata, tiba-tiba ia mengeluarkan pisau belati yang sangat tajam dari balik bajunya, dan langsung dihujamkan ke arah Melian.


    Tentu Melian kaget. Tidak menyangka kalau pencopet itu akan mengeluarkan belati. Pisau belati yang sangat tajam. Dan tangan copet itu langsung menusukkan belatinya ke arah tubuh Melian. Sangat cepat dan mengarah ke jantung Melian. Beruntung tangan Melian dengan sigap langsung menangkis tangan copet yang menusukkan belati tersebut. Seketika belati itu terjatuh.


    Tahu belatinya terjatuh, copet itu berusaha mengambil pisau belati yang tergeletak di tanah dekat dengan kakinya. Namun rupanya Melian sudah tidak mau kompromi lagi, bahwa copet itu memang tidak mau berubah baik. Maka saat si copet agak membungkuk akan meraih pisau belati, kaki Melian sudah bergerak ke udara, dan langsung jatuh di punggung si copet tersebut.


    "Wadaouhhhh ......!!!" copet itu mengerang kesakitan. Dan tentu, tubuhnya sudah rebah tengkurap tanpa bisa bergerak.


    Suara jeritan laki-laki pencopet itu tentu terdengar orang banyak, terutama orang-orang yang berada di halte BRT. Pasti orang-orang itu langsung menuju ke arah sumber suara. Ingin tahu apa yang terjadi.


    "Ada apa, Neng ...?!"


    "Ada apa, Cik ...?!"


    Orang-orang yang berdatangan langsung bertanya pada Melian yang berdiri di samping laki-laki yang terbujur kesakitan itu.


    "Ini ..., Pencopet di BRT .... Dia sudah mencopet banyak dompet milik para penumpang BRT ...." kata Melian.


    "Yang benar ...?!" tanya orang-orang yang pada mengerubung laki-laki yang masih tergeletak itu.


    "Kalian periksa saja saku dan pakaiannya ...." kata Melian.

__ADS_1


    Beberapa orang langsung merogoh ke kantong celananya. Yang bagian belakang, da dua dompet. Yang bagian depan, ditemukan empat dompet.


    "Benar ...!! Ini ada dompet banyak sekali .... Pasti ini hasilnya mencopet ...!!" kata orang yang memeriksanya.


    "Coba lihat lagi .... Cari lagi di bagian kaos dan baju serta jaketnya ...!!" suruh yang lain.


    "Walah ..., iya benar ....!! Ini masih ada banyak dompet ...!!" kata orang yang sudah merogoh jaketnya.


    "Berarti yang mencopet dompet saya kemarin, ya orang ini ...! Pukuli saja ....!!" kata seseorang yang langsung menjatuhkan kepalan tangannya di wajah copet yang masih diinjak punggungnya oleh Melian tersebut.


    "Ya, benar ...! Kita hajar saja ...!!" sahut yang lain yang juga langsung ikut menendang kepalanya.


    "Kurang ajar ...!!! Dasar copet minta digebuki ...!!!" yang lainnya juga ikut menghajar.


    Dan dalam waktu sekejap, copet itu sudah jadi bulan-bulanan oleh para warga, orang-orang yang akan naik BRT, dan tentu orang-orang yang kebetulan dekat dengan tempat itu. Copet itu sudah babak belur di sekujur muka dan tubuhnya.


    Hingga akhirnya, polisi datang mengamankan copet itu serta dompet-dompet milik orang-orang yang menjadi korban pencopetan. Dan pastinya, di halte BRT itu langsung diberi pengumuman, bagi para penumpang BRT yang merasa dompetnya kecopetan agar menghubungi Kantor Polsek.


    Menyaksikan kejadian itu, rupanya Melian tersenyum senang. Seakan ia sudah melakukan kebaikan kepada para korban pencopetan di dalam BRT bus Trans Jakarta. Dan yang jelas, ia bisa menangkap copetnya. Apalagi saat menyaksikan para warga yang beramai-ramai mengeroyok pencopet itu, Melian merasa ada sesuatu yang bisa membuat dirinya tersenyum puas. Ya, kepuasan dalam melawan penjahat, menaklukkan orang-orang yang mencari rezeki dengan cara merugikan orang lain. Melian sangat gembira bisa membantu orang yang sudah dipecundangi oleh orang-orang jahat.


    Rupanya, sore itu, peristiwa itu, kejadian-kejadian yang dialaminya, sudah membuat Melian berubah pikiran. Ia ingin menolong orang-orang lemah dengan caranya sendiri. Ia ingin menangkap copet-copet itu dari dalam bus. Dan pasti Melian akan menghajar para copet tersebut.


    Maka, Melian kembali naik bus. Kali ini ia sengaja memilih ikut di bus yang penumpangnya penus sesak. Pasti di situ copet-copet akan beraksi. Dan Melian yang akan menangkapnya.

__ADS_1


    Hari itu, Melian punya hobi baru, yaitu menangkap copet.


__ADS_2