
Setelah selesai pemakaman Cik Lan, semua pelayat pulang ke rumah masing-masing. Demikian juga keluarga Babah Ho. Hanya ada beberapa orang keluarga dekat dari Babah Ho yang kembali ke rumah Babah Ho. Kini rumah Babah Ho sudah sepi, sudah habis orang-orang yang melayat. Di halaman rumah hanya tinggal tumpukan kursi besi yang menunggu diambil pemilik persewaan. Demikian juga jalan di depan rumah Babah Ho, sudah tidak ada kendaraan. Hanya tinggal sepeda motor butut milik Jamil, satu-satunya kendaraan yang masih bertengger di tepi jalan.
Setelah pulang dari pemakaman dengan naik bis, tentu Juminem kelelahan. Maka Juminem meminta Jamil yang membopong Melian. Demikian pula Melian, walau bayi kecil itu hanya digendong atau dipangku, tetapi getaran bis dan perjalanan yang agak jauh membuat anak itu sudah tertidur. Melian lelap dalam dekapan Jamil.
Jamil yang membopong Melian yang tertidur itu, berjalan masuk menuju rumah Babah Ho. Tidak ketinggalan Juminem yang memegang lengan suaminya, dengan selendang tersampir di pundaknya, melambai di bagian belakang pantat. Ujung selendang yang satunya lagi ditutupkan ke kepala Melian, agar bocah itu tidak kepanasan. Mereka melangkah perlahan, tentu dengan rasa agak takut.
Di teras rumah Babah Ho ada beberapa orang yang duduk di kursi. Semua orang yang ada di situ pasti keluarganya Babah Ho. Ya, mereka semua berkulit putih dan mata sipit. Setidaknya mereka adalah masih saudara dengan Babah Ho. Bisa jadi mereka itu koko atau cacik-caciknya Cik Lan. Jadi masih ada hubungan darah dengan Melian, anak kecil yang digendong Jamil itu.
"Permisi ...." kata Jamil yang sudah berdiri di depan teras bersama Juminem.
Tidak ada jawaban. Orang-orang yang pada duduk di teras itu seolah tidak melihat Jamil dan Juminem yang berdiri. Mereka sibuk dengan pembicaraannya sendiri.
"Permisi .... Assalammualaikum ...." ganti Juminem yang uluk salam. Namun sama saja. Tidak ada yang memperhatikan.
"Permisi ...!" kali ini Jamil mengucap salam dengan suara yang lebih keras. Tentu maksudnya agar orang-orang yang ada di rumah itu bisa mendengar. Dan mestinya, suara Jamil itu bisa didengar bahkan sampai dalam rumah.
Namun rupanya orang-orang di situ masih saja tidak mempedulikan suara Jamil.
"Walah, Kang .... Lha kok kita bengak-bengok begitu tidak ada yang dengar .... Apa pura-pura tidak dengar, ya Kang ...?!" kata Juminem pada suaminya.
"Mungkin tidak dengar .... Maklum, mereka masih sibuk ngurusi berbagai kebutuhan pemakaman. Kamu tahu to, acara pemakamannya macam-macam dan lama ...." sahut Jamil yang tidak ingin berburuksangka.
"Ya sudah, kita ulangi lagi bareng-bareng, Kang .... Lebih keras biar didengar ...." kata Juminem mengajak suaminya untuk memberi salam ulang.
"Permisi ...! Selamat siang ...!" salam mereka berdua bersamaan. Kompak dan keras.
Ya, kali ini salam yang diucapkan oleh Jamil dan Juminem didengar oleh orang-orang yang ada di teras rumah Babah Ho itu. Beberapa orang sudah menoleh memperhatikan Jamil dan Juminem yang berdiri di depan teras. Bahkan ada wanita yang mendekat ke arah Jamil dan Juminem berdiri. Dan selanjutnya diikuti oleh laki-laki gemuk, yang mungkin suami dari wanita yang mendekati Jamil dan Juminem. Namun kelihatannya wanita yang menghampiri Jamil dan Juminem wajahnya agak kurang baik. Mukanya sudah ditekuk, pertanda tidak senang melihat keberadaan Jamil dan Juminem di depan rumah itu.
"Heh ...! Mau apa ...?!!"
Benar. Suara ketus itu keluar dari mulut wanita tersebut,
"Anu .... Ini saya mau anu ...." Juminem menjadi grogi mendengar bentakan wanita itu.
"Mau apa ...?! Tau nggak, kami ini baru kesusahan ..., baru saja menguburkan keluarga kami yang meninggal .... Kok kamu malah datang minta-minta .... Sana pergi!!" yang laki-laki gemuk itu ikut memarahi Jamil dan Juminem.
Tentu Jamil dan Juminem langsung menundukkan kepala. Takut dan tidak berani memandang laki-laki gemuk itu. Apalagi Juminem, wanita desa yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang kota. Pasti Juminem tidak berani apa-apa lagi.
"Jum, kita pulang saja ...." bisik jamil pada istrinya.
__ADS_1
"Lha anak ini bagaimana, Kang ...?" tanya Juminem lirih di telinga suaminya.
"Kita tinggal di lantai teras ini saja. Terus kita tinggal pulang." usul Jamil.
"Iya, Kang .... Setuju." sahut Juminem yang langsung menarik kain selendangnya, lantas selendang itu ditaruh di atas lantai teras.
Selanjutnya Jamil meletakkan tubuh Melian yang masih tertidur, ditaruh di atas kain selendang yang digelar oleh istrinya di atas lantai teras, persis di tepi batas teras dan tanah tanah halaman. Tentu selanjutnya Jamil dan Juminem ingin segera meninggalkan tempat itu. Mereka tidak ingin berurusan dengan orang-orang kaya yang galak-galak itu.
Namun, itu hanya sebatas rencana Jamil dan Juminem.
"Heh ..., heh ..., heh ...!! Apa ini ...?! Anak siapa ...?!" kata perempuan yang tadi membentaknya.
Tentu sekarang tidak hanya dua orang yang mungkin suami istri itu, tetapi keluarga yang lain, saudara-saudara Babah Ho sudah banyak yang mengelilingi pinggir teras tempat bayi mungil itu digeletakkan oleh Jamil. Semuanya memandangi bayi itu. Lantas memandangi Jamil dan Juminem. Tentu semua menunjukkan wajah kecut, sinis dan tidak senang.
"Angkat bayi ini ...!! Kalau tidak segera dibawa pergi, akan aku tendang bayimu ...!!" bentak yang laki-laki gemuk.
"Cepat ambil, bawa pergi dari sini ...!! Kalau tidak cepat diambil, aku buang ...!!" bentak yang lainnya.
Jamil ketakutan. Apalagi Juminem, dia hanya menunduk ketakutan. Tanpa minta pertimbangan istrinya, bayi yang digeletakkan tadi langsung disaut beserta kain selendangnya, lantas dibopong dan cepat-cepat pergi meninggalkan halaman rumah Babah Ho. Tentu sambil menyeret tangan Juminem.
"Aahh ...,hahhhh .... Aahh ...,hahhhh .... Berhenti, Kang ...." Juminem kembang kempis diajak berlari suaminya.
"Iya, Kang .... Pelan-pelan .... Dadaku sesek .... " kata Juminem yang sudah menerima bayi yang langsung digendongnya.
Jamil sudah menyetater motor tuanya. Gas sudah menderu. Tentu ingin segera meninggalkan tempat itu. Juminem sudah membonceng sambil menggendong Melian di depan, yang dihimpit punggung suaminya. Lantas motor tua itu menderu meninggalkan tempat yang dianggapnya menakutkan itu. Tentu dengan jantung yang berdebar ketakutan. Beruntung Melian tidak bangun. Bayi itu tetap nyenyak tertidur. Bahkan seakan tidur di kasur empuk, sehingga tidak terasa kalau ontang-antingkan, dibawa lari ataupun dijepit Jamil dan Juminem. Ia juga tidak mendengar suara gaduh serta bentakan-bentakan yang meributkan dirinya.
Di perjalanan, Jamil hanya konsentrasi melihat jalan. Walau pikirannya kacau, tetapi ia tetap waspada melintasi jalan kampung yang hanya berupa urugan batu-batu kapur yang sudah diratakan.
Demikian juga Juminem, yang diam tidak bergeming. Ia hanya konsentrasi menggendong bayi yang berada di atas jok motor membonceng suaminya. Tetapi sebenarnya pikiran Juminem juga tidak karuan. Pasti lebih kacau daripada suaminya. Karena Juminem perempuan yang penakut.
Karena pikiran mereka yang terbawa pada perasaannya sendiri-sendiri, tanpa terasa tahu-tahu motor Jamil sudah masuk ke halaman rumahnya. Jamil berhenti tepat di depan pintu rumah, lantas mematikan mesin motornya.
"Lhoh ..., sudah sampai, to ...? Cepet sekali ...." kata Juminem yang kaget karena motor suaminya ternyata sudah berada di teras yang hanya berlantai plesteran pasir semen.
"Sudah .... Sana bayinya bawa masuk ...." jawab Jamil yang kemudian membantu membukakan pintu.
Juminem yang masih menggendong Melian, langsung masuk ke rumah. Selanjutnya meletakkan tubuh Melian ke atas kasur tempat tidurnya.
"Bayi ini aneh ya, Kang ...." kata Juminem sambil mengelus dahi Melian.
__ADS_1
"Aneh bagaimana?" tanya Jamil.
"Masa tidur dari tadi, ditaruh di lantai, ada suara membentak-bentak, diotong-otong, dibawa kesana kemarim kok tidak bangun .... Tidurnya nyenyak banget." jawab Juminem.
"Bayi ya seperti itu, saat mau tidur ya tidur .... Saat mau bangun, ya bangun ...." sahut Jamil sekenanya.
"Jian ..., keterlaluan itu keluarga Babah Ho ...." kata Juminem lagi.
"Mungkin mereka tidak tahu .... Kita ini dikira mau mengemis .... Meminta sumbangan ...." sahut Jamil.
"Tapi kita sudah menyerahkan Melian, malah anak ini mau ditendang, Kang ...." bantah Juminem.
"Ya ..., mungkin mereka tidak tahu .... Dikiranya Melian ini anak pengemis. Itu, lo ..., seperti pengemis yang sering ninggal anak itu ...." jelas Jamil.
"Ih ..., sungguh menghina .... Memangnya orang seperti kita ini memang seperti pengemis ya, Kang ...?" tanya Juminem yang tentu sebenarnya tidak rela dianggap seperti pengemis.
"Ya ..., itulah manusia. Kalau mereka merasa kaya, orang-orang susah seperti kita ini memang dianggap rendahan, yang pantas jadi peminta-minta ...." jelas Jamil.
"Sadis ya, Kang .... Padahal ukuran manusia itu kan lebih dinilai dari akhlaknya ya, Kang ...." timpal Juminem.
"Ya, doakan saja .... Semoga orang-orang kaya itu sadar dan menjadi orang yang berakhlak mulia." sahut Jamil.
"Semoga saja nanti Melian jadi gadis yang baik ya, Kang .... Tidak seperti saudara-saudaranya itu." kata Juminem yang penuh harap.
"Aamiin ...." Jamil tersenyum menatap istrinya.
"Lha ..., terus bayi ini bagaimana, Kang ...?" tanya Juminem yang bingung lagi ketika melihat Melian.
"Kita rawat dahulu, sembari menunggu waktu keadaan berkabungnya keluarga Babah Ho selesai. Nanti Kalau Babah Ho pikirannya sudah tenang, pasti akan mencari." jawab Jamil yang tentu sambil tersenyum.
"Iya, Kang .... Aku juga senang kok anak ini ada di rumah kita .... Buat hiburan kita, Kang ...." kata Juminem yang tentu sangat berharap kalau Melian itu bisa ia rawat sampai besar.
"Ya .... Anggap saja Melian itu anak kita. Anak titipan dari Tuhan ...." sahut Jamil yang pasti juga senang.
"Iya, Kang .... Melian anak kita .... Akan aku rawat sebaik mungkin." timpal Juminem.
"Mama .... Ma ..., ma ..., ma ...."
Melian terbangun. Mungkin mendengar apa yang dikatakan oleh Juminem.
__ADS_1