
Melian sudah lulus SMA. Pasti dengan nilai terbaik. Ia minta kuliah di Jakarta. Tentu Juminem sebagai ibunya sangat berat untuk melepas anak satu-satunya yang kini sudah menjadi gadis dewasa tersebut. Namun Juminem bisanya hanya menangis. Itupun kalau tidak ada anaknya. Tentu kekhawatirannya seperti saat sekolah di Semarang kembali muncul. Anak perempuan yang pergi ke rantau jauh dari orang tua, pasti harus ekstra hati-hati. Apalagi mendengar sebutan Jakarta, sebagai kota metropolitan yang dihuni oleh berbagai suku dari Sabang sampai Merauke. Semuanya ada di sana. Pasti Juminem sangat was-was.
Berbeda dengan Jamil. Bapaknya Melian ini inginnya anaknya maju dan punya ilmu yang tinggi. Setidaknya nantinya bisa mengelola usaha-usaha yang sudah dikelola oleh bapaknya. Menjadi penerus perusahaan keluarga. Jamil tidak ingin anak satu-satunya tidak kuliah. Ia sudah menyadari kebodohan dirinya yang tidak sekolah. Lulusan SD yang tentu sangat minim dengan ilmu pengetahuan. Baca tulis pun kurang pandai. Apalagi masalah berhitung, sangat tidak bisa. Kalau ada tamu asing, mesti memanggil Pak Jumari untuk menterjemahkan. Itulah sebabnya, kenapa Jamil sangat mendukung anaknya untuk kuliah di Jakarta. Agar anaknya pandai dan bisa berkomunikasi dengan orang asing.
"Nduk ..., mbok kamu itu kuliah di sini saja .... Jangan jauh-jauh ...." kata Juminem dengan wajah sedih, takut ditinggal anaknya.
"Di Pati itu tidak ada perguruan tinggi, Mak .... Universitas itu adanya di kota-kota besar, ya ...." jawab Melian yang tentu juga merasa berat untuk meninggalkan ibunya.
"Lha kok ya jauh-jauh itu lho .... Mbok yang dekat saja, piye leh ...." kata Juminem meminta pada anaknya.
"Mak ..., teman Melian itu malah ada yang kuliah di luar negeri, ya .... Ada yang ke Singapura ..., ada yang ke Australia .... Keren itu, Mak .... Mosok Melian malah dilarang .... Piye, leh ...." kata Melian yang memberi gambaran pada ibunya.
"Lhah, mereka kan duitnya banyak .... Kita cukup yang sederhana saja, Nduk ...." sahut Juminem.
"Lhah, Melian kan pengin kuliah ditempat yang bagus ..., yang maju dan moderen to, Mak .... Apalagi ini kesempatan emas, Melian anaknya Pak Jamil dan Mak Juminem diterima di perguruan tinggi hebat di Jakarta dengan tanpa tes. Apa tidak bagus itu .... Mosok mau ditolak .... Biar Melian jadi pinter, Mak .... Dan lagian sekarang ini kan sudah ada telepon, nanti sewaktu-waktu bisa telepon atau SMS, gitu ...." kata Melian.
"Iya .... Anak-e Mak-e mesti pinter ...." kata Juminem yang harus mengakui, sangat sayang jika anaknya tidak kuliah.
Memang, begitu kelulusan SMA di sekolah Melian, yang sebagian besar juga dari anak-anak orang keturunan, mereka langsung pada mendaftar kuliah di berbagai daerah. Pasti di perguruan tinggi yang terkenal di kota-kota besar. Biasanya pada sekolah-sekolah seperti tempatnya Melian itu, memang sering mendapat kiriman brosur atau bahkan memberi kesempatan kepada anak-anak pintar, biasanya rangking pertama hingga sepuluh besar, untuk melanjutkan di perguruan tinggi dengan jalur tanpa tes. Termasuk Melian, salah satu anak yang dapat penawaran masuk perguruan tinggi ternama di Jakarta dengan tanpa tes.
Ya, memang kalau melihat teman-temannya yang lain, ada beberapa anak yang langsung kuliah di luar negeri. Tidak heran, karena orang tua dari anak-anak ini memang rata-rata pebisnis yang jelajah sampai luar negeri. Tentu hubungan dengan orang-orang di luar negeri sudah terjalin baik. Atau setidaknya, orang tua-orang tua mereka ini sudah sering ke luar negeri. Sehingga yang namanya menyekolahkan anak ke luar negeri, itu hal biasa.
Sedangkan Jamil atau Juminem, ngomong inggris saja tidak bisa. Kalau ada pembeli dari luar negeri, yang diundang pasti Pak Jumari. Bagaimana mungkin bisnisnya bisa maju sampai luar negeri? Paling-paling dibeli orang yang sengaja diperdagangkan ke luar negeri. Jadi boleh dibilang, Jamil yang bersusah payah, orang lain yang mengambil untuk besar dari penjualan-penjualan ekspor. Yah, itulah nasib kalau orang tidak pintar.
Makanya, Jamil merasa senang dan bangga Melian bisa diterima masuk perguruan tinggi tanpa tes. Pasti harapannya, nanti Melian inilah yang akan meneruskan usahanya, yang akan memajukan perusahaan Bima Sakti.
"Nduk ..., lha besok itu kamu kuliah di Jakarta, itu sekolah apa?" tanya bapaknya yang memang tidak paham kuliah. Maklum, orang desa yang hanya lulus SD.
"Maksudnya jurusan kuliah itu, Pak ...?" tanya Melian yang mencoba mengarahkan pertanyaan bapaknya.
__ADS_1
"Lha ya, itulah .... Itu lho, sok ada yang bilang pakultas-pakultas itu ...." sahut bapaknya yang mengajak anaknya ngobrol santai di ruang keluarga.
"Fakultas, Pak .... Hehehe ...." Melian membenarkan kata-kata bapaknya.
"Kang Jamil ki nek ra mudeng mbok diam saja ...." Juminem menyela.
"Makanya saya tanya .... Pak Jumari tadi siang tanya ke saya, yo saya gak bisa njawab, wong ndak tahu ...." sahut Jamil yang tentu ingin tahu.
"Lha tanya apa to, Pak Jumari ...?" Juminem ingin tahu yang dibicarakan Pak Jumari. Tentu Juminem maupun Jamil tetap menganggap Pak Jumari itu orang yang paling pintar di kampungnya. Karena dia guru.
"Ya ..., itu .... Melian itu diterima tanpa tes di pakultas apa ...?" jawab Jamil.
"Fakultas, Pak .... Melian itu diterima di fakultas ekonomi, jurusan manajemen bisnis ...." jawab Melian mantap.
"Wah ..., lha ini .... Ini yang yang saya inginkan .... Sip, Nduk .... Pak-e setuju .... Besok kalau sudah lulus, Melian yang melanjutkan bisnisnya Pak-e .... Ben pabriknya tambah maju dan besar ...." Jamil langsung senang mendengar jurusan yang nantinya Melian akan kuliah di sana.
"Maksudnya mahasiswanya, Mak ...? Atau dosennya?" tanya Melian.
"Halah ..., Mak-e gak mudeng babar blas .... Haya apa itu, kok ada mahasiswa, ada dosen ...?" Juminem semakin bingung. Maklum baru kali ini ia mendengar pembicaraan tentang kuliah.
"Kalau muridnya itu namanya mahasiswa, Mak .... Tapi tidak seperti anak sekolah yang harus pakai seragam abu-abu putih atau merah putih itu .... Mahasiswa tidak diberi seragam. Kuliahnya juga beda-beda .... Ada yang ekonomi, ada yang kedokteran, ada yang teknik ..., macam-macam, Mak .... Lha kalau dosennya itu ya mesti orang pintar. Apalagi kalau sudah jadi profesor ..., dia pintar banget, Mak ...." jelas Melian pada ibunya.
"Ooo .... Gitu ya, Nduk ...." Juminem mengangguk-anggukkan kepala.
"Lha mbok kamu besok jadi profesor, Nduk .... Biar pinter banget ...." Jamil yang tertarik dan ingin anaknya pintar, tentu pahamnya ada sekolah profesor.
"Walah, Pak .... Mau jadi profesor itu harus kuliah terus .... Sampai tua masih kuliah .... Apa Melian boleh kuliah terus?" Melian langsung menanyai orang tuanya.
"Hehe .... Pak-e sama Mak-e sampai tua gak bisa nggendong cucu ya, Nduk ...." Jamil nyengenges.
__ADS_1
"Halah ..., Pak-e ki mesti penginnya saya cepat-cepat nikah .... Melian itu, besok kalau nikah senangnya sama orang yang kayak Mas Irul .... Mas Irul itu orangnya baik ..., sabar ..., sayang ..., dan tidak pernah marah .... Makanya Melian suka sama Mas Irul." kata Melian pada bapak dan ibunya.
"Makanya Cik Indra sampai keluar jadi pegawai bank, itu karena saking sukanya sama Mas Irul ...." timpal Juminem yang memang mengakui kalau Irul itu orang yang baik.
"Eh, iya ..., Mak ..., Pak .... Besok saya mau ke Lasem. Saya mau tinggal di rumah Gedongmulyo beberapa hari, sebelum berangkay ke Jakarta. Saya pengin bantu-bantu Mas Irul sama Cik Indra jualan .... Yah, anggap saja sebagai latihan kuliah di manajemen bisnis, Pak ...." kata Melian yang ingin tinggal di rumahnya. Tentu mumpung banyak waktu libur sebelum melanjutkan kuliah. Setidaknya ada waktu satu bulan menunggu ijazah. Daripada bengong di rumah, mungkin Melian ingin melihat bagaimana tata cara pengelolaan bisnis sembako di tempatnya Mas Irul dan Cik Indra. Kalau hanya melihat bisnis bapaknya, itu sudah biasa. Jenisnya tidak banyak. Tapi kalau sembako, jumlahnya banyak dan jenisnya juga bermacam-macam.
"Iya .... Mau berangkat sendiri apa diantar Pak-e ...?" tanya bapaknya.
"Diantar .... Berangkat Minggu pagi, Pak .... Nanti sarapannya di tempatnya ibu penjual sarapan yang dekat rumahnya Engkong. Masakannya enak dan murah, Pak ...." usul Melian pada bapaknya.
"Kalau mau sarapan di sana, sebaiknya berangkat malam Minggu .... Pagi-pagi sudah bisa beli sarapan .... Bagaimana?" usul bapaknya.
"Asyik .... Setuju, Pak ...." sahut Melian yang kegirangan.
"Kang ..., besok aku nemani Melian apa pulang?" tanya Juminem.
"Pulang, lah .... Masak saya di rumah sendirian tidak ada yang memasakkan ...." jawab Jamil.
"Iya ..., Kang .... Berarti saya ndak perlu bawa salin." sahut Juminem.
"Melian tinggal di rumah Engkong sendirian beran, kan ...?" tanya bapaknya.
"Ya, berani lah, Pak .... Kayak anak kecil saja tidur minta dikeloni .... Hehe .... Nanti kalau aku takut saya suruh nemani Mas Irul." kata Melian yang tentu sangat berani. Dulu saja waktu mau mengurusi bank, ia juga tidur di rumah itu sendirian.
"Tapi jangan merepotkan Mas Irul sama Cik Indra lho, ya ...." kata bapaknya yang mewanti-wanti Melian.
"Iya, Pak .... Melian sudah besar ya .... Sudah dewasa .... Harus mulai mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain." jawab Melian yang tentu tidak mau dianggap lagi sebagai bocah yang selalu merepotkan orang lain.
Ya, Melian kini sudah tumbuh dewasa, menjadi gadis mahasiswa yang tidak lagi seperti anak-anak waktu sekolah SD atau SMP. Pikiran Melian pun sudah berkembang lebih matang. Dan tentunya, Melian sudah matang dalam segala hal. Ibarat kata, Melian adalah buah ranum yang sudah matang.
__ADS_1