
Pagi itu, tiga orang tukang yang merenovasi rumah Babah Ho, sarapan di tempatnya bakul nasi pindang yang dekat dengan tempatnya bekerja. Bangunan kecil semacam pos ronda yang ada di depan rumahnya, yang digunakan untuk berjualan. Meski begitu, yang beli sarapan di situ juga ramai. Silih berganti datang dan pergi. Kebanyakan dibawa pulang.
Tiga orang itu, duduk di warung, makan di tempat. Tentunya sambil menikmati jajanan makanan yang dijual oleh ibu pedagang sarapan itu.
"Pak-e mau makan apa ini ...?" tanya penjual nasi itu.
"Sarapan nasi sama pindang, Bu ...."
"Saya juga ...."
"Saya campur-campur .... Dikasih sayuran, komplit ...."
"Saya minumnya teh hangat, Buk ...."
"Saya juga ...."
Tiga orang tukang itu memesan sarapan sesuai selera masing-masing. Penjual nasi itu langsung meladeni. Tentu senang karena dapat pelanggan baru. Melarisi dagangannya.
"Monggo sarapannya .... Ini nasi pindang ...." ibu bakul itu memberikan pesanan.
"Terima kasih, Bu ...." sahut dua tukang yang menerima piring.
"Yang ini campur, pakai semua sayuran, ya .... Monggo ...." ibu penjual itu menyerahkan pesanan yang satu lagi.
"Terima kasih, Bu ...." sahut tukang yang pesan nasi sayur.
"Lauknya milih sendirim ambil sendiri ...." kata si penjual itu lagi.
"Ya, Bu ...."
Ya, di meja dagangan itu ada aneka gorengan. Ada mendoan, heci, telur goreng, tahu bacem dan mentho. Yang mau beli memilih dan mengambil sendiri. Demikian juga yang sarapan di situ, lauknya memilih dan mengambil sendiri. Sementara di belakang ibu yang melayani pembeli yang pada beli, ada anaknya perempuan yang membantu menggoreng mendoan dan heci. Sedangkan suami si ibu tersebut membuatkan pesanan minum kepada para pembelinya.
"Pak-e ini yang kerja di rumah Babah Ho, ya ...?" tiba-tiba ibu penjual sarapan itu bertanya.
"Betul, Bu .... Hanya renovasi, kok ...." jawab dari salah satu tukang itu, sambil menikmati sarapan.
"Menginap di sini, ya ...? Rumahnya mana, to ...?" tanya ibu itu lagi, yang tentu ingin tahu para tukang ini berasal dari mana.
__ADS_1
"Kami dari Juwana, Bu .... Cukup jauh .... Makanya kami tidur di rumah itu. Kulanuwun ya, Bu .... Mohon maaf jika mengganggu." kata salah satu tukang, yang terlihat lebih gagah.
"Ooo .... Ya, ndak papa .... Kalau mau sarapan ke sini saja .... Jika menghendaki makan siang dan makan malam, kami juga mau kalau dipesani." kata bakul itu.
"Ya, Bu .... Terima kasih." sahut si tukang itu.
"Lho, Bapak-e menginap di rumahnya Babah Ho?" tanya salah seorang ibu-ibu pembeli yang sedang ngantri di situ.
"Ya, betul ...." jawab si tukang.
"Berani ...?!" tanya perempuan itu lagi.
"Memang kenapa ...?" tanya para tukang itu yang langsung memandangi perempuan yang sedang mengantri dilayani itu.
"Kemarin saja, ada lima pemuda yang pada bermain di situ, dipindahkan tidurnya di kuburan .... Mereka pada memeluk batu nisan ..., ee ... pada telanjang mereka itu ...." kata si ibu itu lagi.
"Iya, betul .... Saya juga ikut menyaksikan di kuburan ...." timpal pengantri yang lain.
"Lha, semalam ..., Sampeyan tidur di situ, mimpi apa ...? Ditemui apa ...?" tanya pembeli yang lain, yang ingi tahu.
"Tidak ditemui apa-apa, itu .... Kami juga tidak mimpi apa-apa ...." jawab para tukang, yang sudah menghentikan makannya kerena ingin mendengar cerita dari orang-orang kampung.
"Halah .... Itu cerita-cerita takhayul .... Bohong .... Tidak bisa dibuktikan kenyataannya .... Jangan takut, Mas-e .... Tidak usah didengarkan .... Lha wong kami yang rumahnya di sini, yang dekat dengan rumahnya Babah Ho saja tidak pernah melihat ada keanehan di rumah itu, kok .... Tidak usah khawatir .... Kalau kita berbuat baik, dapatnya juga hal-hal yang baik ...." tiba-tiba suami penjual itu ikut menimbrung.
"Iya, Pak ...." sahut para tukang yang langsung melanjutkan sarapannya kembali.
"Kami berterima kasih, itu bagian depan sudah diberi lampu .... Bahkan yang pojok sana itu juga diberi lampu, sehingga kelihatan terang semua .... Pasti orang-orang yang melintas di depan rumah Babah Ho tidak takut lagi. Lha, ini usul saya .... Ini hanya usul lho ya .... Itu yang dipojok belakang, sebaiknya juga diberi lampu. Sehingga lebih asri .... Gitu, Pak tukang ...." kata si bapak itu yang sudah memuji para tukang.
"Ya, Pak .... Nanti akan saya pasangi lampu yang di belakang ...." jawab tukang yang ahli memasang lampu.
"Sudah, Bu .... Habis berapa ini semua ...?" tanya tukang yang paling tua, mau membayar sarapan yang dimakannya.
Setelah selesai sarapan, mereka pun kembali ke rumah yang direnovasi itu. Langsung melanjutkan pekerjaannya. Tentu agar cepat selesai. Tukang yang biasa memasang listri, langsung memasang lampu di pojok belakang, seperti yang disampaikan oleh suami penjual sarapan tadi. Masangnya sengaja di emper pojok, sehingga bisa menerangi sisi belakang dan sisi samping rumah. Mengena di dua sisi. Lampu itu sudah terpasang dan dicoba untuk dinyalakan. Saklarnya ditaruh di dalam, sehingga mempermudah untuk menyalakannya. Nanti malam, lampu itu akan menerangi bagian belakang dan samping rumah. Pasti rumah kuno milik Babah Ho itu akan terlihat lebih asri.
Dua orang lainnya, sudah mulai memperbaiki tembok pagar yang sudah pada pecah. Bagian-bagian yang rusak, yang terkelupas plesterannya, langsung ditambal dan dihaluskan lagi. Sepanjang pagar yang ada di depan rumah itu. Bahkan pada bagian bawah yang di luar, juga di plester, diratakan dengan jalan. Sehingga jalannya terlihat lebih lebar, lebih halus dan rapi. Apalagi di atasnya sudah dipasang lampu penerangan. Pasti warga sekitar situ melihat rumah Babah Ho menjadi lebih indah dan menarik. Tinggal dicat saja, nanti kalau sudah kering.
Demikian juga pada bagian halaman, sudah ditata lebih bagus. Dahan pohon mangga yang terlalu tinggi dipotongi. Demikian juga dahan-dahan yang menjulur keluar pagar. Dipangkasi dan dirapikan. Sehingga pohon mangga itu tidak terlalu tinggi dan terlihat lebih bagus untuk perindang halaman rumah. Setidaknya rumah itu tidak terlalu panas saat siang terik. Semua rumput yang mengotori rumah itu, sudah dibersihkan. Tidak ada lagi rumput yang terlihat.
__ADS_1
"Pak-e ..., Mas-e ..... Ini, makan siangnya .... Sudah saya siapkan di piring ..., saya taruh di kursi teras sini ya ...." kata si ibu penjual sarapan yang tadi pagi dibeli di warung rumahnya. Kini ia mengantar makan siang untuk para tukang itu.
"Ya, Buk ...." sahut tukang yang masih mengelus tembok pagar depan itu, yang langsung menghampiri temannya. Lalu bisiknya, "Kita kan tidak pesan makan siang, kok ini diantari ...? Bagaimana?" bisiknya bingung.
"Karena sudah diantar, ayo kita makan saja .... Kasihan ...." jawab temannya.
Lantas mereka bertiga makan nasi yang sudah disiapkan oleh sang penjual sarapan itu. Duduk di teras. Dan sang perempuan penjual sarapan pagi itu menunggui di situ, juga duduk di teras, menyelonjorkan kakai, dekat dengan para tukang yang sedang makan itu.
"Rumah ini apa dibeli oleh orang Juwana, Pak-e ..., Mas-e .... Kok Sampeyan jauh-jauh dari Juwana nukang di sini ...?" tanya ibu penjual sarapan itu.
"Lhoh, rumah ini kan punyanya Babah Ho ..., engkongnya Melian .... Lha yang tahu presis rumah ini ya, Mas Irul itu, yang punya Toko Laris yang jualan sembako itu. Katanya Mas Irul yang sejak kecil tinggal di sini." jawab tukang-tukang itu sambil makan.
"Melian ...? Kelihatannya saya pernah dengar nama itu .... Tapi kok lupa, ya? Apa anaknya Cik Lan itu, ya ...? Lha Irul itu orang Cina?" tanya penjual nasi itu.
"Bukan, Bu .... Irul itu dulu pegawainya Babah Ho, yang ikut di sini .... Malah dia juga cerita yang mengubur ari-arinya Melian di sini ini, kok .... Lha kalau Melian itu memang sejak bayi sudah pindah ke Kampung Naga, jadi ya tidak pernah kemari." jawab tukang itu sekenanya.
"Oo ..., yang perempuan Cina itu ...? Yang kemarin naik mobil tepak?" tanya si ibu itu lagi.
"Bukan .... Kalau yang itu anak angkatnya Pak Jamil .... Cik Indra, itu istrinya Mas Irul .... Yang jualan sembako itu." jelas tukang itu lagi.
"Oo .... Jadi mereka itu keluarganya Babah Ho semua, to .... Tapi kok baik-baik, ya ...? Biasanya saudara-saudaranya Babah Ho itu nakal-nakal ...." kata perempuan itu.
"Memang begitu ...?" tanya para tukang.
"Iya .... Kalau yang anak-anak datang kemari, pasti kebut-kebutan. Mengganggu tetangga .... Dulu ada yang mobilnya nyungsep di bawah truk. Satu keluarga mati semua .... Terus ada yang terbakar .... Lha ..., kalau Cik Lan itu meninggalnya jatuh dari jembatan. Lha, yang terakhir itu ya Babah Ho sama istrinya, saat dinaikkan ambulan, mobilnya ambulan itu tabrakan terus masuk sungai, meninggal semuanya .... Katanya orang-orang, rumah ini tidak hoki. Orang sini bilang, siwer .... Penuh misteri. Yang menempati kena sial .... Makanya, banyak yang takut kalau lewat sini ...." kata perempuan itu.
"Seperti itu ya, Bu ...." sahut para tukang yang tidak begitu menghiraukan. Bukan urusannya.
"Lha, Pak-e sama Mas-e, tadi malam tidur di sini mimpi apa ...?" tanya perempuan itu yang ingin tahu.
"Ditemui bidadari ...." sahut tukang yang tua sekenanya.
"Sudah, Bu .... Enak banget masakannya .... Ini berapa semuanya?" tanya tukang yang satunya.
"Gratis .... Tidak usah membayar .... Ini sebagai upah, jalannya di depan rumah sudah diperbaiki, sama diberi lampu ...." jawab penjual sarapan itu dengan senyum senang.
"Lho ..., kok gratis .... Apa Ibuk tutak rugi ...?" kata si tukang itu pad penjual sarapan.
__ADS_1
"Tidak .... Wis to, pokoknya dinikmati saja .... Yang penting kampung ini sekarang terlihat asri lagi, terutama depan rumah saya ..., saya sudah bersyukur. Terima kasih ya, Pak-e ..., Mas-e ...." perempuan itu lantas membawa piring yang sudah kosong, pulang meninggalkan rumah tua itu.
Para tukang itu tidak menggubris obrolan perempuan penjual sarapan. Yang penting baginya, kerjaan beres, cepat selesai dan bayaran. Mereka pun langsung melanjutkan pekerjaannya. Tidak perlu diawasi oleh mandor, tidak perlu ditunggui oleh yang punya rumah. Bekerja dengan sungguh-sungguh yang diniati dengan tulus dan ikhlas. Bagi mereka, landasan kerja adalah ibadah. Mengeluarkan keringat untuk memperoleh rezeki yang halal. Sehingga bayaran yang diterimanya menjadi berkah. Bisa mencukupi kebutuhan keluarga tanpa ada kekurangan.