GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 213: YUDISIUM


__ADS_3

    Ujian semester telah berakhir. Rasa senang dan was-was bagi para mahasiswa. Senang karena ujian telah berlalu. Beban belajarnya yang diforsir setiap malam sudah berlalu. Sehingga pikirannya menjadi plong. Tidak terbeban lagi untuk belajar wayangan setiap malam. Namun tentunya juga khawatir dengan hasilnya. Kalau sampai nilainya jelek, pasti harus mengulang di semester pendek. Sehingga tidak bisa pulang ke rumah untuk liburan semester.


    Dan yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa adalah saat yudisium. Yudisium adalah pengumuman nilai  kepada mahasiswa sebagai proses penilaian akhir dari seluruh mata kuliah yang sudah diambil. Minimal yang disyaratkan untuk lulus baik adalah nilai C. Jika ada yang nilainya D atau E, diwajibkan mengikuti remidi. Setidaknya harus mengulang. Biasanya di perguruan tinggi tempat Melian kuliah ini, mengulangnya dilakukan pada semester pendek. Yaitu saat liburan semester, dosen memberikan perkuliahan singkat bagi mahasiswa yang nilainya kurang-kurang itu, lantas melakukan ujian ulang atau remidial untuk perbaikan nilai.


    "Kira-kira besok, nilai kamu bagaimana, Mel ...?" tanya Putri pada Melian.


    "Belum tahu, Put .... Semoga saja baik .... Perasaan sih, bisa mengerjakan soal-soal ujiannya. Tapi hasilnya seperti apa, saya tidak bisa bilang." Jawab Melian yang tidak pernah mau menduga-duga hasil penilaian.


    "Iih .... Melian mesti begitu. Kamu itu mahasiswa pintar, ya .... Setidaknya nanti pasti cumlaude. Nilai kamu pasti bagus semua." kata Putri yang memuji Melian.


    "Tidak begitu, Put .... Putri juga pandai .... Hanya nasib saja yang menentukan. Pas kondisi kita tidak fit, pasti pikiran kita juga terganggu. Apalagi saat banyak masalah, pasti akan sangat berpengaruh pada hasil belajar." jawab Melian.


    "Tapi aku yakin, Melian pasti yang terbaik." kata Putri lagi.


    "Acara kamu apa, hari ini?" tanya Melian pada Putri, yang ingin tahu rencana temannya itu.


    "Gak ada, sih .... Penginnya jalan-jalan. Kalau Melian ada kegiatan, nggak?" tanya Putri balik.


    "Rencananya saya mau ke perpustakaan, mau mengembalikan buku-buku yang aku pinjam." jawab Melian.


    "Ya udah .... Aku mau jalan sama temen .... Cari angin segar ...." sahut Putri.


    "Pasti sama cowok .... Hehehe ...." tebak Melian.


    "Kita udah gede, ya .... Sebentar lagi lulus sarjana muda. Hehehe ...." sahut Putri yang tentu tidak bisa berbohong kalau dengan Melian.


    "Hati-hati ...." pesan Melian.


    "Pasti, kawan ...." sahut Putri yang tentu dengan senyum gembira.


    Putri pun langsung ke kamar mandi. Dan pasti akan dandan yang seksi. Biar menarik bagi cowoknya. Bersiap untuk jalan-jalan bersama cowok yang naksir dirinya, yang katanya akan mengajak ke Puncak.


    Setelah Putri berangkat jalan-jalan ke Puncak bersama cowoknya, Melian pun segera mandi. Beganti pakaian, tidak terlalu resmi. Karena hanya akan ke perpustakaan. Memang Melian ini termasuk mahasiswa yang kutu buku. Paling sering ke perpustakaan untuk mencari referensi tugas-tugas perkuliahannya. Pantas kalau Putri mengatakan Melian ini anak pintar. Tapi itu semua karena Melian rajin membaca. Sehingga wawasannya sangat luas. Tahu informasi dari berbagai penulis. Tentunya pakar-pakar yang menuangkan ide-idenya dalam buku. Untuk beli buku-buku pasti harganya mahal. Maka mahasiswa seperti Melian, yang mau prihatin dengan biaya kuliah, maka perpustakaan itulah tempat paling pas untuk mendapatkan buku-buku secara gratis.


    Berjalan sendirian di kampus yang sudah sepi, tentu sangat nyaman. Mahasiswa sudah banyak yang tidak ke ke kampus. Biasanya kalau menunggu yudisium, banyak mahasiswa yang bermalas-malasan di kost-kostan maupun asrama. Sedang kalau mahasiswa yang rumahnya dekat, mereka memilih pulang kampung. Maka kampus terlihat lengang. Hanya beberapa mahasiswa yang biasanya masih ada kegiatan organisasi di kampus.


    "Melian ...!" tiba-tiba terdengar suara lelaki memanggil Melian.


    Melian langsung berhenti dan menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Ternyata dosen yang pernah menggodanya.


    "Iya, Pak .... Ada apa, Pak?" tanya Melian setelah jejer Pak Dosen itu.


    "Kamu itu bagaimana, sih ...? Hasil ujian kamu jelek ...." kata laki-laki setengah baya yang jadi dosennya itu.


    "Masak sih, Pak ...? Perasaan saya bisa mnyelesaikan ujian itu, Pak ...." kata Melian yang tentu agak kurang setuju kalau dikatakan hasil ujiannya jelek.


    "Benar .... Ini buktinya ...." kata dosen itu yang membuka tas, mengambil map dan membukanya. Menunjukkan kalau nilai Melian jelek.

__ADS_1


    "Ini .... Nilai kamu D. Sangat kurang .... Kamu harus remidi untuk semester pendek ini." kata dosen itu sambil menunjukkan kertas nilai hasil ujian.


    Melian kaget. Saat mengamati nilai-nilai para mahasiswa dalam kertas itu, lainnya bagus-bagus. Hanya nilainya Melian sendiri yang diberi D. Tentu dalam hati Melian, ia protes. Tidak mungkin itu terjadi. Karena ia merasa betul-betul bisa mengerjakan soal-soal ujian. Tapi kenapa diberi nilai D? ini pasti ada sesuatu. Lantas Melian berusaha ingin tahu, bagaimana caranya agar nilainya bisa menjadi baik tanpa ada kuliah semester pendek. Ia ingin liburan di kampung.


    "Ini saya akan setorkan nilai ke bagian akademik. Apa kamu puas dengan nilai D itu? Dan harus mengikuti semester pendek?" kata si dosen itu.


    "Kok bisa ya, Pak ...?" tanya Melian mencoba menelisik.


    "Ya, itu kamu kurang usaha .... Makanya saya kan pernah bilang sama Melian, bagaimana kalau mau dikasih nilai A ...." kata si dosen itu.


    "Memang bisa dapat nilai A?" tanya Melian.


    "Bisa lah .... Kan yang buat nilai ini saya ...." kata dosen itu lagi.


    "Caranya bagaimana, Pak ...?" tanya Melian yang mulai ragu-ragu dengan sikap si dosen itu.


    "Cuman nemani saya jalan-jalan saja .... Misalnya ke puncak, lah ...." kata si dosen itu.


    "Maksud Bapak bagaimana? Apa saya harus menggendong anak atau menuntun nenek, begitu?" tanya Melian yang pura-pura tidak tahu.


    "Oh, tidak .... Hanya kita berdua .... Mau, kan?" kata si dosen itu, yang kelihatan mulai bernafsu.


    "Terus, nilai saya jadi A?" tanya Melian ingin meyakinkan.


    "Iya .... Kamu senang ..., saya juga senang .... Enak kan ...." kata si dosen kranjingan itu.


    "Ya, nanti yudisium kamu nilainya A." kata dosen itu.


    "Kalau Bapak berbohong ...? Saya berkorban, Bapak dapat senang, nilainya tetap jelek. Bagaimana saya bisa menuntut?" Melian meragukan, dan tentu memasang strategi politiknya.


    "Ya ampun .... Tidak percaya kamu .... Ayo ikut saya, akan saya ganti nilai kamu sekarang juga. Tapi kamu jangan pergi, nanti langsung ke mobil sama saya. Kalau kamu pergi, nilainya langsung saya ganti E. Artinya kamu tidak lulus." kata si dosen itu mulai kena goda Melian, dan tentu juga menuntut apa yang dimau.


    "Iya, Pak .... Masak gak percaya sama saya ...." kata Melian yang mulai memasang aksi. Pura-pura tersenyum menggoda dosennya.


    Lantas sang dosen yang sudah mulai emosi menahan nafsunya itu, langsung masuk ke ruang administrasi. Membuka laptopnya dan pinjam  printer. Lantas mengubah nilai Melian yang ada di file komputernya. Nilai D itu langsung diganti A. Lantas diprint.


    "Coba ini kamu lihat ...!" kata si dosen gombloh itu pada Melian, sambil menunjukkan kertas hasil ngeprint.


    "Iya, Pak .... Tapi ini kan masih di tangan Bapak .... Belum diberikan ke bagian input nilai .... Bapak masih bisa ngeprint lagi ...." kata Melian yang tidak mau dibohongi.


    "Aduh .... Kamu itu .... Ayo, ikut saya kalau tidak percaya." kata si dosen itu yang langsung mengajak Melian ke ruang akademik. Menyerahkan nilai hasil ujian.


    "Sudah, kan ...?! Kamu lihat sendiri .... Nilai sudah saya berikan ke bagian akademik. Besok yudisium nilai kamu A. Ayo, sekarang ikut saya ...." kata si dosen itu yang semakin gemas terhadap melian yang malah senyam-senyum. Tentu hal itu sudah menambah hasratnya untuk pergi ke Puncak semakin memuncak.


    Melian pun mengikuti dosen itu, menuju parkiran. Langsung diajak masuk ke mobil. Tangan dosen itu sudah mulai kurang ajar. Tetapi langsung ditolak oleh Melian. Tangan itu didorong menjauh.


    "Jangan di sini, Pak .... Tidak baik kalau dilihat orang. Nanti nama Bapak akan jatuh dan tercemar." kata Melian yang beralasan menolak.

__ADS_1


    "Benar juga kata kamu .... Aku terlalu bernafsu, ya ...." kata sang dosen itu yang langsung menjalankan mobilnya. Melaju ke jalan raya. Dan tentu akan masuk ke jalan tol menuju Jagorawi. Puncak, tempat sejuk dengan udara segar yang paling cocok untuk bermesraan dengan kekasih.


    "Pak ..., nanti kalau ada pom bensin berhenti sebentar ya .... Saya kebelet pipis, udaranya dingin bikin kepengin pipis. Sekalian Bapak isi bensin, supaya gak kehabisan bahan bakar di jalan." kata Melian pada Pak Dosen itu.


    "Belum apa-apa sudah kebelet ...." sahut dosen itu.


    "Habisnya tangan Bapak kelayaban ke mana-mana .... Bisa ngompol nanti saya ...." jawab Melian santai.


    "Iya .... Ini kebetulan bensinnya juga sudah menipis ...." sahut sang dosen yang sudah menengok jarum BBM. Memang sudah tinggal sedikit.


    "Terima kasih, Pak ...." kata Melian yang lega.


    Akhirnya, setelah keluar dari tol dan akan masuk menuju jalan Puncak, saat jalan mulai menanjak ada pom SPBU. Pak dosen memasukkan mobilnya ke area pom bensin. Mengantri BBM.


    Melian langsung turun dari mobil. Berlari menuju kamar kecil. Masuk ke kamar kecil untuk mengurangi beban perutnya. Tentu lumayan lama. Namanya perempuan, pasti harus bersih saat ke belakang. Dan tidak hanya itu, pasti juga harus mengambil pelindung untuk celana. Makanya, tas wanita itu kalau dibuka, isinya pasti berbagai perlengkapan khusus. Maklum namanya gadis yang sedang mekar-mekarnya, harus menjaga kebersihan bagian tertentu agar tetap sehat dan tidak bau.


    Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi. Alangkah kagetnya Melian, ternyata di luar sudah ramai banyak orang bergerombol nampak kebingungan. Bahkan juga ada yang menarik selang air dari kamar mandi. Ada juga yang mencangking ember berisi air. Ada kebakaran di depan pompa bensin. Yah, mobil sedan terbakar. Apinya berkobar-kobar. Tidak mungkin untuk dipadamkan. Orang-orang hanya menyiram air agar api tidak menjalar.


    Melian langsung menerobos ke depan, ingin menyaksikan secara pasti mobil yang terbakar tersebut. Ia juga tengak-tengok, mencari mobil Pak Dosen. Pasti sudah menyingkir, seperti mobil-mobil dan kendaraan yang lain, yang takut terjilat. Jalan di depan pom bensin itu langsung ditutup. Tidak boleh ada yang lewat. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


    Setelah beberapa saat mencari, mobil yang ditumpanginya tadi tidak ada, maka Melian baru sadar, kalau ternyata mobil yang terbakar itu adalah mobil sedan seperti milik Pak Dosen.


    "Ada yang terbakar?" tanya Melian mencari informasi pada orang yang ikut menonton.


    "Hanya satu orang .... Laki-laki yang menyetir." jawab orang yang ditanya.


    "Mobil apa itu?" tanya Melian lagi.


    "Mobil sedan warna merah. Tadi baru saja mengisi BBM, setelah keluar dan menepi di sana itu, tahu-tahu meledak. Sopirnya terbakar di dalam, tidak ada yang berani mendekat untuk menolong. Karena api langsung berkobar besar." jelas orang yang ditanyai Melian.


    Tidak salah, itu pasti mobil Pak Dosen. Kalau sopirnya tidak bisa diselamatkan, berarti Pak Dosen ikut hangus terbakar.


    Melian langsung berjalan keluar. Melintas dari kerumunan orang. Kemudian menyeberang jalan. Pergi meninggalkan tempat itu. Yang pasti akan menumpang bus untuk pulang ke asrama.


*******


    "Melian ...!! Selamat, ya .... Nilai kamu A semua ...." teriak Putri saat menyaksikan hasil yudisium, yang terpasang di depan fakultas. Putri sudah melihat duluan, karena ia berangkat awal bersama cowoknya.


    "Masak, sih ...?! Yang benar, Put ...?!" kata Melian yang baru datang.


    "Kalau gak percaya, lihat sendiri .... Itu, nilainya ditempel di papan pengumuman depan fakultas." kata Putri yang sudah berjalan sama cowoknya.


    "Nilai kamu, bagaimana ...?" tanya Melian yang ingin tahu nilai sahabatnya itu.


    "Yang penting lulus semua ...!" jawab Putri sambil melambaikan tangan, dada ke Melian.


    Melian langsung terburu untuk menyaksikan yudisium. Depan fakutas masih ramai mahasiswa yang pada melihat yudisium. Tentu para mahasiswa pada berebut ingin tahu.

__ADS_1


    Melian juga tidak mau ketinggalan. Ia juga ingin melihat hasilnya. Melian pun ikut berdesakan di depan papan pengumuman itu. Lantas menerobos mendekat. Setelah itu mencari namanya. Sesuai urutan nomor induk mahasiswa. Dan ketemu. Ia cermati baris namanya. Benar seperti yang dikatakan oleh Putri. Nilai Melian semuanya A. Yudisium Melian sangat sempurna. Melian tersenyum gembira.


__ADS_2