GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 134: MENCARI MELIAN


__ADS_3

    "Percayalah kepada Tuhan .... Zat yang berkuasa untuk melakukan hal-hal jauh melampaui apa yang kita


pikirkan, apa yang kita angan-angankan, bahkan apa yang kita perbuat. Berdoalah ..., semoga Tuhan memberikan petunjuk." kata seorang pendeta tua di klenteng, yang ditemui oleh Cik Indra.


    Sebuah petuah yang sangat menenangkan hati Cik Indra. Ya, sore itu, hari Kamis malam Jumat, Cik Indra pulang dari tempat kerja, langsung mampir ke klenteng. Tempat di mana dulu Melian pernah belajar wushu. Cik Indra yang sedang berdoa sambil menangis, ditemui Tetua Pendeta, entah itu Jiao Sheng, Wen Shi, Xue Shi atau Zhang Lao,  yang berdiri di dekatnya, lantas menanyakan kenapa Cik Indra Menangis. Tetapi melihat jubah merah yang dikenakan, maka Cik Indra lebih yakin menyebut dengan panggilan Xue Shi.


    "Maafkan kami, Xue Shi .... Saya ini hanyalah makhluk lemah, wanita yang tak punya daya, perempuan yang tidak memiliki kekuatan .... Kami bertanggung jawab dengan Melian, yang dititipkan oleh orang tuanya. Tetapi saat ini Melian menghilang. Saya tidak tahu, apa yang harus saya lakukan, Xue Shi ...?" Cik Indra berkeluh kesah, sedih memikirkan yang hilang belum ditemukan.


    Xue Shi adalah sebutan untuk pendeta yang mengurusi klenteng. Dalam kepercayaan Konfusianisme, merupakan sebutan yang ditujukan untuk kepercayaan yang berasal dari keyakinan Konfusius, atau lebih dikenal dengan ajaran Konghucu. Xue Shi itu diam memandangi Cik Indra yang terlihat sedang sangat sedih.


    Ya, dalam keyakinan Konghucu, banyak mengajarkan hal-hal yang terkait dengan pembentukan akhlak mulia terhadap bangsa Tiongkok. Ajarannya juga membahas semua hal yang berhubungan dengan jiwa manusia, ketuhanan, metafisika, dan hal lain yang sifatnya ajaib. Dalam ajaran Konghucu ini tidak meragukan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa yang dipercayap oleh masyarakat. Dalam ajaran agama Konghucu, mengajarkan hal-hal yang terkait dengan Yen, Li, Yi, Chih, dan Hsih.


    Yen, merupakan ajaran yang berfokus pada empati, rasa murah hati, dan niatan baik. Ajaran ini memiliki definisi berupa hubungan yang ideal antar sesama manusia. Setiap manusia harus punya budi pekerti, rasa kemanusiaan, dan kebaikan di dalam dirinya. Berbuat baik kepada sesama merupakan kunci ajaran Yen ini.


    Selanjutnya Li, ajaran yang berkaitan dengan kepatuhan dengan aturan-aturan yang ada dalam masyarakat, dan semua perbuatan yang benar. Ajaran ini menunjukkan bagaimana sikap batin seseorang dengan ekspresi secara lahiriah. Ajarannya merupakan suatu keserasian antara ibadah, tingkah laku, adat istiadat, sopan santun, dan tata krama.


    Sedangan Yi, merupakan ajaran yang mengarah pada menjunjung tinggi kebenaran yang menjadi tanggung jawab seseorang dalam rasa kemanusiaan dan penjaga kelestarian alam. Jika alam tidak dijaga kelestariannya, maka Tuhan akan murka dan memberikan hukuman kepada manusia. Hukumannya itu bisa berupa bencana alam.


    Ajaran Chih, mengajarkan manusia agar bisa menjadi orang yang bijaksana. Bijaksana itu menyangkut bagaimana seseorang bisa mengambil sikap yang baik dalam menentukan suatu pilihan. Dalam ajaran Chih, seseorang harus berbuat baik agar tidak menyakiti atau merugikan orang lain.


    Sedangkan Hsih, merupakan ajaran yang berfokus pada kepercayaan dan kesetiaan manusia kepada bangsa dan negara, kepada pemimpin dan kepada tanah air, dan juga kepada rakyatnya.


    Tentu, Bapak Pendeta yang dipanggil Xue Shi oleh Cik Indra itu, sudah memiliki dan sanggup menjalankan ajaran-ajaran Yen, Li, Yi, Chih, dan Hsih tersebut. Seorang pendeta yang dianggap sebagai pemimpin di klenteng itu, harus memiliki kekuatan Yen, Li, Yi, Chih, dan Hsih tersebut. Dan Cik Indra yakin, kalau pendeta itu mempunyai kekuatan untuk melihat jiwa manusia, jauh melintasi gelombang metafisika, dengan kemampuan-kemampuan ajaibnya.


    "Melian ...." gumam Pak Pendeta tersebut.


    "Betul Xue Shi ...." sahut Cik Indra.


    "Apakah dia itu gadis yang mengenakan gelang giok di lengannya?" tanya Pak Pendeta pada Cik Indra.


    "Betul Xue Shi .... Gelang gioknya sangat bagus ...." jawab Cik Indra.

__ADS_1


    "Jangan khawatir .... Dia anak yang baik .... Pasti Sang Maha Kuasa akan melindunginya." kata Pak Pendeta itu.


    "Tapi Melian sejak hari Sabtu kemarin lusa, sampai hari ini belum pulang dan belum aga kabarnya, Xue Shi .... Sudah hampir satu minggu .... Kami bingung, Xue Shi .... Ibunya menangis terus ...." kata Cik Indra yang sangat sedih.


    "Sudah ada orang yang menolong .... Besok ajaklah orang dekat dari gadis itu. Ajaklah dia datang ke tempat anak itu hilang. Anak itu sudah ditolong orang, hanya orang terdekatnya gadis itu yang tahu tempatnya .... Pulanglah .... Hari sudah larut malam." kata Pak Pendeta itu menyuruh pulang Cik Indra.


    Cik Indra menurut. Meski sebenarnya ingin tahu secara rinci dan lebih jelas, tetapi Pendeta itu sudah tidak ada di dekatnya. Cik Indra pun melangkah pulang.


    Sesampai di tempat kost,


    "Kok tumben pulangnya sampai larut malam, Cik ...?" tanya Ivon dan Vanda yang menunggunya di ruang tamu.


    "Iya .... Saya mampir berdoa di klenteng ...." jawab Cik Indra dengan nada sedih dan lemas.


    "Cik ..., tadi saya tanya-tanya ..., cari info tentang Melian .... Kata teman-temannya, Melian memang benar pergi ke Bandungan bersama Jonatan yang kecelakaan itu ...." kata Ivon memberi tahu Cik Indra yang baru datang.


    Maka Cik Indra langsung duduk bersama dua anak itu. Tanpa berganti baju lebih dulu, bahkan juga tidak ke kamar dulu. Tentu ia langsung tertarik saat dua anak SMA itu menyampaikan laporan masalah Melian.


    "Iya, Cik .... Teman-teman sekelas Jonatan cerita, kata papinya Jonatan, Jonatan itu sedang nembak temannya yang dari Juana, berarti Melian. Lantas papinya yang bilang suruh ngajak jalan-jalan ke Bandungan. Dan itu, waktu hari Sabtu itu, saya melihat sendiri kalau Melian membonceng Jonatan. Kalau Jonatan kecelakaan, mestinya Melian juga ikut mengalami kecelakaan itu ...." kata Vanda.


    "Apaan ...?!" tanya Cik Indra yang tentu ingin tahu.


    "Kata teman-temannya, berkali-kali Melian muncul di rumah duka .... Banyak teman yang dilihatin .... Banyak anak yang tahu .... Tapi setiap kali dicari, Melian sudah menghilang ...." kata Ivon yang menyampaikan cerita teman-temannya di sekolahan.


    "Tapi katanya Melian terlihat sedih dan pucat ...." timpal Vanda.


    "Teman-temannya bilang, yang muncul itu pasti arwahnya Melian, Cik ...." kata Ivon yang mulai merinding ketakutan. Tentu ia langsung mendusel ke Vanda.


    "Ah ..., gak ada kayak gitu .... Itu tahayul ...." Sergah Cik Indra yang tidak percaya.


    "Benar Cik .... Tidak hanya satu dua anak yang lihat .... Tapi banyak temannya yang tahu dan ketemu .... Tetapi kalau mau ditemui, Melian langsung menghilang ...." kata Vanda.

__ADS_1


    "Malah katanya ada yang di malam Maisong, saat ia mau pulang motornya di duduki Melian. Tapi saat disamperi, Melian berjalan pergi. Dan saat dikejar akan diboncengkan, Melian sudah menghilang .... Temannya itu langsung ketakutan, Cik ...." lanjut Ivon.


    Cerita tentang Melian yang muncul dirumah duka tempat menyemayamkan Jonatan, sudah menjadi buah bibir di sekolah. Terutama teman-temannya yang pernah ditemui oleh Melian, pasti menceritakan kisah-kisahnya itu dengan bumbu-bumbu yang menyeramkan dan menakutkan. Melian diduga juga sudah meninggal, sehingga yang datang di rumah duka dan menemui teman-temannya itu hanyalah arwah gentayangan yang mungkin mau meminta tolong karena jenazahnya belum ditemukan.


    "Benarkah seperti itu? Apa mungkin Melian juga ikut kecelakaan dan terjun ke dalam jurang?" gumam Cik Indra.


    "Mungkin Cik Indra .... Bisa jadi Melian juga terjatuh ke jurang, dan belum ada yang menemukan ...." kata dua anak itu.


    "Ya sudah ..., saya mau mandi dahulu .... Tolong kalau ada informasi lagi, ya ...." kata Cik Indra yang berjalan gontai menuju kamarnya, pasti karena sedih memikirkan Melian.


    Setelah selesai mandi, Cik Indra mengangkat handphone-nya. Tentu akan menelepon Mas Irul.


    "Halo, Mas Iru ...." kata Cik Indra dalam telepon.


    "Iya, Cik Indra .... Bagaimana kabarnya tentang Melian?" jawab Irul dari sebrang kota.


    "Ada banyak berita, Mas Irul .... Tapi saya belum bisa menyimpulkan. Kata teman-temannya, bahkan juga bapaknya Jonatan, teman dekat Melian, katanya Melian pergi ke Bandungan bersama Jonatan, berboncengan. Jonatan mengalami kecelakaan masuk jurang. Malam hari. Jonatan meninggal karena luka parah. Motornya remuk. Tetapi di jurang itu, yang ditemukan oleh warga hanya jenazah Jonatan. Melian tidak ada. Melian belum ketemu." kata Cik Indra mengabari Mas Irul.


    "Ya ampun ........ Melian .... Huk ..., hu ..., hu ...." tentu Mas Irul langsung menangis, begitu mendengar kabar yang sangat menyedihkan tersebut.


    "Tadi saya mampir berdoa di klenteng, Mas Irul .... Pak Pendeta tetuanya klenteng itu bilang, katanya Melian sudah ditolong orang ..., kita diminta untuk datang ke tempat kecelakaan itu, tetapi saya harus mengajak orang yang paling akrab dan dekat dengan Melian .... Yang dimaksud orang terdekat Melian itu siapa, Mas Irul?" tanya Cik Indra.


    "Yang jelas pasti Mbak Juminem dan Pak Jamil .... Bapak Ibunya .... Besok akan saya sampaikan. Biar besok Pak Jamil dan Mbak Juminem datang ke tempat kecelakaan untuk mencari anaknya." kata Irul yang lumayan ayem mendengar berita itu. Ini sudah mendekati kepastian.


    "Kelihatannya Pak Pendeta tadi tidak menyebut bapak dan ibunya, Mas .... Orang yang sangat dekat dan akrab dengan Melian .... Saya pikir malah Mas Irul yang tahu banyak hal tentang Melian. Malah waktu saya ke sana itu, saya terkesima dengan sikap kasih sayang Mas Irul pada Melian ...." kata Cik Indra yang mengira orang dekatnya bukanlah bapak dan ibunya.


    "Ya, besok saya ikut sekalian .... Terus terang saya juga bersedih kehilangan Melian ...." sahut Irul.


    "Besok Sabtu saja, Mas Irul .... Sekalian orang tuanya mengambil raport semesteran di sekolah Melian. Setidaknya bisa mendengar cerita tentang Melian dari pihak sekolahan. Siangnya, saya antar ke Bandungan, kita cari Melian ...." kata Cik Indra menentukan waktu.


    "Tidak terlalu lama menunggu?" tanya Irul yang tentu sudah tidak sabar untuk mencari Melian.

__ADS_1


    "Besok saya masih kerja, Mas Irul ...." jawab Cik Indra.


    Senang rasanya Cik Indra, dia akan ketemu Mas Irul. Meski dalam keadaan sedih, bahkan boleh dikatakan sedang duka, tetapi setidaknya Cik Indra bisa berdekatan dengan Mas Irul. Ibarat kata, sekali merengkuh dayung, dua harapan bisa terlaksanakan.


__ADS_2