GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 49: BIMBANG


__ADS_3

    "Bagaimana, Kang?" tanya Juminem pada suaminya yang baru pulang dari kerja.


    Jamil paham apa yang ditanyakan istrinya. Pasti tentang kabar berita menyangkut kecelakaan yang menimpa Babah Ho. Tetapi ia ingin membersihkan badannya dahulu karena barusan bepergian dari luar kota.


    "Sebentar, saya mau mandi dahulu .... Dari bepergian luar kota, takit bawa virus ...." kata Jamil yang langsung bablas ke kamar mandi.


    "Iya, Kang .... Mau saya buatkan minum teh hangat apa es sirup?" tanya istrinya yang langsung menuju dapur.


    "Teh hangat saja ...." sahut Jamil dari dalam kamar mandi.


    Tidak lama di dalam kamar mandi, Jamil sudah selesai. Pasti tidak seperti dahulu waktu masih bekerja sebagai penggali batu kapur. Kala itu, waktu pulang kerja tubuh dan seluruh pakaiannya kotor semua. Kalau mandi harus lama, dan tentu menghabiskan banyak sabun untuk membersihkan tanah kapur yang menempel di tubuhnya. Demikian juga Juminem, kalau mencuci pakaian kerja yang digunakan suaminya, sangat berat dan menghabiskan deterjen yang banyak, karena pakaian itu sangat kotor dengan tanah-tanah kapur yang menempel.


    Tetapi sekarang tidak lagi seperti itu. Pakaian Jamil tidak begitu kotor. Demikian juga tubuhnya. Sehingga sekarang Jamil terlihat lebih rapi dan bersih. Tidak kumut-kumut seperti dulu. Lebih ganteng tentunya. Selain itu, waktunya juga kebih enak, pagi hari tidak tergesa berangkat, sehingga bisa membantu istrinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Biasanya pagi hari Jamil mengepel lantai. Sedangkan istrinya menyiapkan masakan untuk sarapan dan bekal suaminya.


    Sedangkan sore hari, setelah pulang dari kerja, Jamil menyapu halaman dan membersihkan pekarangan. Meskipun ia berangkat dan pulang kerja hanya jalan kaki, tidak terlalu capai karena tempat kerja dari rumahnya dekat. Tidak seperti dahulu waktu kerja di penggalian batu kapur, seharian ia membanting tulang mengayunkan cangkul dan kapak besar untuk menggali batu-batu kapur. Pasti setelah sampai di rumah tubahnya sudah kecapaian. Itu pun sesampai di rumah masih harus menimba air dari sumur untuk mengisi bak mandi. Makannya begitu malam tiba, ia langsung mendengkur tidur dan susah untuk dibangunkan.


    Jamil langsung duduk di tempat makan. Langsung menyeruput teh hangat buatan istrinya.


    "Pak ..., pa ..., pa ...." Melian yang digendong Juminem melambaikan tangan ke Jamil.


    Spontan Jamil yang sudah rapi dan segar langsung mengangkat Melian dan memangkunya.


    "Tang ..., kintung ..., kintung .... Anak cantik ..., anak cantik .... Uchm ..., uch ..., uh ...." kata Jamil yang kemudian menciumi anaknya.


    "Gimana, Kang ...?" tanya Juminem lagi, setelah duduk berhadapan dengan suaminya di tempat makan.


    "Jum .... Berita itu benar .... Saya tadi ke Pasar Lasem. Tapi tidak ketemu Mas Irul. Kios Babah Ho tutup. Lantas saya tanya ke pedagang yang ada di sebelah kios Babah Ho, dia mengatakan kalau Babah Ho dan Cik Jun mengalami kecelakaan dan meninggal. Sebenarnya Cik Jun sakit, dari Rembang mau dikirim ke Semarang, namun naas, ambulan yang digunakan untuk mengangkut Cik Jun yang juga ada Babah Ho dalam mobil itu bertabrakan dengan truk yang akhirnya mobil ambulan masuk ke sungai. Persis seperti yang diberitakan di koran. Tiga orang yang ada di dalam monil ambulan, yaitu sopir, Babah Ho dan Cik Jun meninggal semuanya." kata Jamil pada istrinya.

__ADS_1


    "Lha terus gimana, Kang ...?" tanya Juminem yang ingin tahu kelanjutannya.


    "Jenazah Babah Ho dan Cik Jun dibawa ke Semarang, diurus oleh saudaranya yang di Semarang. Makanya tokonya tutup, karena pegawainya termasuk Mas Irul ikut ke Semarang untuk mengurusi majikannya." jawab Jamil.


    "Lha, kita bagaimana, Kang ...?" tanya Juminem yang tentu ingin berbela sungkawa.


    "Kita tidak tahu rumahnya, Jum .... Semarang itu jauh .... Tempatnya juga luas .... Rumahnya dimana kita juga tidak bisa mencarinya .... Yang penting kita doakan, agar dimudahkan segalanya ...." kata Jamil pada istrinya, yang tentu bingung jika harus mencari alamat saudara Babah Ho, saudaranya siapa saja tidak tahu.


    "Lha, Melian bagaimana, Kang ...?" tanya Juminem yang tentu juga bingung dengan keadaan Melian saat ini.


    "Jum ..., semua takdir manusia itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa .... Kita pasrah saja. Nanti pasti ada jalan keluar." jawab Jamil yang tentu tidak bisa berbuat banyak.


    "Iya, Kang ...." sahut Juminem terlihat sedih.


    "Yang penting sekarang ini, kita besarkan Melian sebaik mungkin. Kelak kalau Melian sudah besar, pasti akan bisa menjaga dan mengatur dirinya sendiri." kata Jamil mengingatkan istrinya.


    "Jum ..., hidup itu sudah ada yang mengatur. Nanti kalau Melian sudah besar, pasti rezeki kita juga besar ...." sahut Jamil meyakinkan istrinya.


    "Alhamdulillah .... Aamiin, Kang ...." tentu Juminem menjadi tenang dan ayem setiap kali suaminya mengatakan hal-hal yang baik seperti itu.


    "Pak ..., pa ..., pa ...." Melian yang dipangku Jamil, kembali memanggil bapaknya, seakan mau menyampaikan sesuatu.


    "Iya, Sayang .... Ada apa, Sayang ...? Muah ..., muach ..., muah ...." Jamil langsung mencium anaknya, tentu ia ingin tahu apa sebenarnya maksud anaknya itu.


    "Pak ..., pa ..., pa .... Ha ..., he ...." Melian mencolek-colek pipi Bapaknya sambil tertawa senang. Mungkin itu artinya Melian setuju dengan kata-kata yang disampaikan oleh Jamil.


    Jamil pun senang dan gembira. Maka ia langsung berdiri dari kursi, lantas tangannya mengangkat anaknya dinaikkan ke atas, bercanda ria dengan anaknya. Tentu Melian kegirangan dicumbu oleh ayahnya.

__ADS_1


    Juminem yang menyaksikan suami dan anaknya bercanda ria hingga tertawa terbahak-bahak, ia tersenyum bahagia. Walau Melian itu bukan anaknya, tetapi kasing sayang Jamil maupun Juminem, terkadang justru melebihi kasih sayang orang tua yang sesungguhnya. Itulah senangnya Juminem, punya suami yang baik dan mendapat anak yang cantik.


    "Kang .... Kang Jamil .... Aku kok takut ya, Kang ...." tiba-tiba Juminem mengungkapkan kata-kata itu di tengah kebahagiaan suami dan anaknya.


    "Takut apa ...?" tanya Jamil yang masih terus menimang memanjakan anaknya.


    "Takut itu ...." kata Juminem yang tidak memperhatikan suami maupun anaknya.


    "Itu yang mana ....?" Jamil menurunkan anaknya yang tadi barusan dijunjung-junjung. Lantas ia duduk lagi dan memangku Melian, menghadapi istrinya.


    "Kang ..., aku takut kehilangan Melian .... Hari ini kita bisa bahagia, tetapi besok kalau dia besar bagaimana?" kata Juminem yang khawatir jika kelak harus ditinggal Melian.


    "Juminem .... Kalaupun misalnya kita punya anak sendiri, kelak kalau anak itu sudah besar, pasti juga akan pergi bersama suami atau istrinya. Mereka akan berumah tangga dan akan meninggalkan kita. Seperti contohnya kamu, setelah aku ajak nikah ya ikut aku .... Bahkan sekarang kita berada di sini dan orang tua kita tidak ada yang tau.Begitu Jum ...." jelas suaminya.


    "Bukan itu, Kang .... Maksud saya, Melian itu kan matanya sipit, kulitnya putih, beda dengan kita, Kang .... Kalau nanti dia besar apa mau mengakui kita sebagai orang tuanya, Kang .... Saya takut itu ...." jelas Juminem yang takut kalau-kalau setelah besar nanti Melian akan memberontak, tidak mau bersama Juminem dan Jamil lagi.


    "Jum ..., itu urusan nanti. Soal Melian mau menerima kita sebagai orang tuanya, ya syukur ...., jika memang dia menolak kita, ya itu haknya anak ini. Memang kita bukanlah ayah dan ibunya yang syah dari darah dagingnya. Tetapi setidaknya kita harus ikhlas momong Melian, harus tulus menyayangi dia, dan yang terpenting kita mendidik dia menjadi anak yang baik." kata Jamil yang meminta istrinya senantiasa merawat anaknya itu sepenuh hati.


    "Iya, Kang .... Semoga saja anak kita ini nanti, kelak kalau sudah dewasa menjadi orang yang baik dan berbakti pada orang tuanya ya, Kang ...." kata Juminem yang tentu sambil tersenyum.


    "Aamiin ...." sahut Jamil yang tentu senang jika istrinya berbuat baik dan sayang pada anaknya.


    "Pa ..., pa ..., pa .... Hiq ..., hiq ..., hiq ...." lagi-lagi Melian mencolek-colek pipi Bapaknya sambil tertawa kegirangan.


    Jamil kembali mengangkat anaknya yang masih tertawa senang. Juminem ikut menggoda, tentu sambil menggelitik perut anaknya. Tentu anaknya semakin tertawa kegirangan.


    Kebimbangan Juminem pun larut dengan suasana-suasana yang selalu menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2