GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 38: PAGEBLUK DI DESA SARANG


__ADS_3

    Malam itu menurut perhitungan Jawa adalah malam Jumat Kliwon. Hari yang oleh masyarakat Jawa biasa dikeramatkan. Konon katanya pada malam Jumat Kliwon diyakini banyak genderuwo serta memedi lainnya yang keluar mencari mangsa. Demikian juga bagi warga Desa Sarang, yang percaya kalau malam Jumat Kliwon itu sebagai malam yang angker, malam yang seram, malam yang paling menakutkan.


    Malam itu, kebetulan pas bulan mati. Bulan tidak muncul. Meski langit tak berawan, hanya kerlip bintang-bintang kecil yang tersebar menghiasi angkasa. Lampu penerangan pun hanya lampu kecil yang ada di depan rumah penduduk yang jaraknya masih berjauhan. Maklum rumah kampung. Belum lagi, rerimbunan pohon-pohon besar yang berdaun lebat, pasti menambah gelapnya perkampungan. Tentu suasana malam Jumat Kliwon itu terasa sangat menyeramkan.


    Seperti yang diceritakan orang-orang kampung, bekas rumah Jamil kini menjadi angker. Tempat yang menakutkan. Bahkan sebagai tempat yang selalu dihindari oleh orang untuk melintas jalan kampung.


    Beberapa wanita sudah pernah jatuh pingsan di jalan depan rumah yang sudah hancur tersebut. Ada yang cerita kalau dirinya diseret makhluk hitam besar, ada yang bilang dirinya didorong orang hingga terjatuh. Bahkan ada yang bilang kalau dirinya diajak arwah-arwah keluarga Jamil untuk masuk ke rumah bobrok tersebut.


    Demikian juga dengan anak-anak yang sering bingung kalau sampai di depan rumah itu. Sudah sering ada anak yang jatuh tanpa sebab di tempat itu. Ada pula yang pingsan, bahkan sudah ada anak yang hilang dicarike mana-mana tidak ketemu, ternyata anak itu malah tidur di atas pohon.


    Selanjutnya, kematian Pak Pin yang masih menjadi misteri, orang-orang kampung tetap percaya jika Pak Pin meninggal dunia karena diterkam oleh hantu cekik. Meskipun istri Pak Pin harus masuk penjara, warga masyarakat Desa Sarang tetap tidak rela kalau wanita itu harus disalahkan. Mereka menghendaki istri Pak Pin dikeluarkan, dibebaskan dari penjara, karena ia hanya sebagai korban dari hantu cekik.


    Dengan pertimbangan kasihan karena wanita itu punya anak yang masih kecil-kecil dan butuh kasih sayang seorang ibu serta tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa merawatnya, kemudian juga tuntutan warga yang tetap ngotot menyatakan bahwa wanita itu tidak bersalah, maka seluruh warga desa meminta agar istri Pak Pin dilepaskan.


    Akhirnya, pihak polisi menyerahkan wanita yang sudah mendekam di tahanan selama lima hari itu kepada warga. Namun dengan catatan, jika nanti ada apa-apa di hari-hari berikutnya, pihak warga tidak boleh menyalahkan kepolisian. Dan tentu, kepolisian tidak mau diundang lagi jika ada masalah di desanya.


    Meski berat, warga Desa Sarang pun menerima. Mereka tetap pulang dengan gembira, karena salah satu warganya yang dijebloskan ke penjara boleh dibawa pulang.


    Malam itu adalah malam Jumat Kliwon, kebetulan adalah malam tujuh hari kematian Pak Pin. Sekalian syukuran dikeluarkannya istri Pak Pin, maka di rumahnya diselenggarakan acara selamatan. Para waga desa pada datang untuk ikut acara tahlilan. pasti suasananya sangat riuh. Terutama rasa senangnya istri Pak Pin yang dibebaskan dari penjara. Maka acara pun berlanjut dengan cerita-cerita bagaimana saat istri Pak Pin itu ada di penjara, dan yang tidak hilang dari ingatan masyarakat adalah kisah pembunuhan yang dilakukan oleh hantu cekik.


    Hingga akhirnya, tanpa terasa, malam semakin larut. Suasana semakin sunyi dan sepi. Hanya suara binatang malam yang masih mengalunkan nada-nada sedih menunggu keheningan. Dan sesekali, sepinya malam dipecah oleh lolongan anjing yang seakan mengabarkan ada makhluk halus yang datang memasuki kampung. Tentu bulukuduk orang yang mendengar, langsung berdiri karena ketakutan.


    "Toloooong ....! Ada orang tergeletak di jalan ....!!" tiba-tiba terdengar teriak seorang laki-laki yang tentu terdengar jelas ke segala penjuru.


    Orang-orang yang baru saja pulang dari acara tahlilan di tempat Pak Pin, langsung berlarian menuju tempat asal suara itu menggema. Demikian juga yang sudah sampai rumah, baru saja masuk ia kembali keluar rumah dan berlari menuju sumber suara orang minta tolong. Suasana jalan di depan bekas rumah Jamil yang tadinya sepi karena tidak ada yang berani melintas, kini mendadak berubah jadi ramai oleh orang-orang yang berdatangan.


    "Ada apa ...?! Ada apa ...?!" tanya orang-orang yang sudah berdatangan ke tempat laki-laki yang berteriak minta tolong tadi.


    "Itu, ada orang tergeletak di pinggir jalan .... Tadi saat saya lewat sini, lampu baterai saya menyorot ke sosok itu, yang ternyata orang tergeletak." jawab laki-laki yang tadi berteriak minta tolong.


    "Waalaaah .... Siapa dia?" tanya salah seorang yang baru saja datang.


    "Tidak tahu ...."


    "Coba dilihat ...!"


    Seorang laki-laki separo baya bertubuh kekar langsung membalik tubuh orang yang tergeletak tengkurap. Ya, laki-laki muda yang sudah tidak berdaya. Lantas beberapa orang menyorotkan sinar baterainya ke arah tubuh orang yang tergeletak itu.


    "Kasiman ...!" kata orang yang mengamati itu.

__ADS_1


    "Hah ...?! Kasiman ...?!"


    "Kasiman kenapa ...?!"


    "Tidak tahu ...."


    "Keadaannya bagaimana ...?!"


    "Tolong dilihat ...!"


    Beberapa orang muda, ada juga yang dewasa, langsung mengamati kondisi Kasiman. Tetapi tubuh laki-laki yang belum begitu tua itu sudah dingin. Pertanda Kasiman sudah meninggal.


    "Kayaknya sudah meninggal ...." kata salah seorang yang memegang tangan dan lehernya.


    "Ya, sudah meninggal ...!"


    "Waduh ...?!"


    "Walah .... Lha kok meninggalnya yan tepat di depan halaman rumah Jamil, leh ...."


    "Iya, ya .... Kok persis di depan bekas pintu rumah Jamil ...."


    "Sudah .... Jangan mikir itu dulu .... Yang penting sekarang ditolong untuk dibawa ke rumahnya ...!"


    "Kalau begitu cepat diangkat .... Diantarkan ke rumahnya ...."


    Beberapa pemuda langsung mengangkat tubuh Kasiman, untuk diantar ke rumahnya. Ya, Kasiman adalah salah satu warga Desa Sarang yang saat pembakaran rumah Jamil, ia yang pertama kali melemparkan obor minyak ke atap rumah itu. Apalagi saat acara selamatan di rumah Pak Pin, Kasiman ini pulang duluan meninggalkan acara. Dan kini, ia ditemukan tewas di jalan depan rumah Jamil, dan tepat di depan bekas pintunya. Tentu warga mulai menduga-duga. Pasti istri dan anak-anak Kasiman yang didatangi banyak orang dengan menggotong tubuh Kasiman langsung kaget dan menangis histeris.


    Maka, malam itu warga Desa Sarang tidak jadi tidur. Mereka langsung menyiapkan pemakaman Kasiman. Ada yang langsung menyiapkan pemandian jenazah, ada yang langsung pergi ke kubur menggali lubang penguburan. Malam itu juga Kasiman dimakamkan.


    Para pelayat yang mengiring jenazah Kasiman ke kuburan, tentu pada membawa lampu baterai, untuk menerangi jalan yang agak gelap. Bagian depan sendiri empat orang yang memikul mayat. Belakangnya ada istri dan anak-anak Kasiman yang tentu sambil menangis tidak karuan, sambil menyebut-sebut nama suami dan ayahnya. Tentu tidak rela ditinggal suaminya atau ayahnya mati.


    Di belakang istri dan anak-anak Kasiman, barisan para tetangga yang mengantar. Namanya orang banyak, saat berjalan mengiring jenazah itu tentu ada yang iseng menyorotkan lampu senter ke berbagai arah. Ada salah satu pelayat, anak muda yang menyorotkan lampu baterainya itu ke arah semak-semak di pinggir jalan. Namun tidak sengaja sorotan cahaya baterai itu mengenai sesuatu, semacam onggokan sarung atau kain.


    "Heh ..., heh ..., heh ...! Itu apa ...?!" kata pemuda itu kepada teman di sampingnya, sambil menunjuk kain yang terdeletak di semak tersebut.


    "Mana ...?" tanya temannya.


    "Itu ...!" jawab pemuda itu sembari mengajak temannya mendekati.

__ADS_1


    "Hah ...?! Kok seperti orang kemulan ...?! Orang mumpet ...?! Apa bersembunyi, ya?" sahut temannya yang sudah mengamati dari dekat.


    "Heee ..., ada orang bersembunyi di semak ...!" pemuda itu berteriak.


    "Mana ...?!" beberapa orang langsung menyahut, dan tentu langsung ingin menyaksikan.


    "He ..., siapa kamu ...?!" salah seorang membentak.


    Tapi, orang yang berselimut sarung seakan sembunyi itu tetap diam saja. Lantas beberapa orang mencoba menyentuh orang dalam sarung itu dengan dorongan perlahan.


    Yang terjadi, orang yang seluruh tubuhnya diselimuti sarung itu justru roboh tanpa daya. Menggeletak di semak-semak. Sarung yang menyelimuti seluruh tubuhnya itu menyingkap, sehingga kelihatan wajahnya.


    "Lhah ..., Lek Kasmo ...!" teriak pemuda yang mengenali orang yang ada dalam sarung itu.


    "Siapa ...?!"


    "Kasmo ...."


    "Lhah, tidur kok di semak-semak ...."


    "Tidak tidur .... Dia tidak bergerak ...!"


    "Walah .... Kasmo meninggal ...?!"


    "Ya .... Lek Kasmo sudah meninggal ...."


    "Blais .... Ini si Kasiman baru berangkat mau dikuburkan ..., malah sekarang ditambah Kasmo ....Piye, leh ...?!"


    "Gini ...., sebagian melanjutkan ke kuburan untuk mengubur Kasiman ..., sebagian lagi mengangkat jenazah Kasmo diantar ke rumahnya ...."


    "Walah ..., semalam kok dua orang meninggal ...."


    "Dan meninggalnya kok ya pada di pinggir jalan itu, lho ...."


    Ya, malam itu, Kasmo juga meninggal. Laki-laki muda yang baru berumur dua puluh lima tahun dan belum menikah, bahkan juga belum punya pekerjaan yang mapan, harus digotong oleh para tetangganya. Kasmo ini juga ikut membakar rumah Jamil.


    Hanya dalam semalam, warga Desa Sarang sudah meninggal dua orang. Keduanya adalah orang-orang yang ikut membakar rumah Jamil. Seminggu yang lalu, Pak Pin juga meninggal yang katanya lehernya dikoyak oleh hantu cekik.


    Apakah ada hubungannya antara orang-orang yang meninggal ini dengan kisah pembakaran rumah Jamil?

__ADS_1


__ADS_2