
Hari Sabtu, malam Minggu. Sengaja Juminem mengajak suaminya jalan-jalan keliling kota. Yah, hanya sekadar melepas penat. Sengaja Juminem tidak memasak. Ia ingin makan bersama suaminya di angkringan pinggir alun-alun, sambil menikmati udara malam Kota Juwana.
"Kang .... Aku kok kangen sama Melian, ya ...." tiba-tiba Juminem mengatakan kerinduannya pada anaknya, disaat makan malam berdua di warung angkringan.
"Memang yang kangen cuman kamu .... Saya juga kangen, Jum ...." sahut Jamil sambil menikmati nasi gandul di angkringan. Ini yang benar-benar nasi gandul, karena cara jualnya masih dipikul dengan nasil yang digandulkan pada alat pemikul. Itulah sejarah nasi gandul, karena cara membawa nasinya yang dibungkus daun dan digandul-gandulkan pada pikulan.
"Hehe .... Ternyata Kang Jamil juga kangen to, sama Melian ...." Juminem menepuk pundak suaminya.
"Yo mesti .... Piye leh ...." sahut suaminya.
"Melian itu mbok dibelikan handphone to, Kang .... Biar kalau kita kangen bisa meneleponnya ...." kata Juminem meminta pada suaminya.
"Saya juga kepikiran begitu kok, Jum .... Mau membelikan handphone untuk Melian .... Setidaknya kalau ada apa-apa, kita bisa menghubungi." sahut Jamil yang masih terus menikmati nasi gandul dengan lauk tempe goreng.
"Iya, Kang .... Besok kalau pulang dibelikan ...." kata Juminem lagi, yang rasa rindu pada anaknya semakin membesar jika lama tidak ketemu.
"Kok ini anak kita belum pulang ya, Kang ...?" tanya Juminem yang semakin membicarakan anaknya, semakin dalam rasa kangennya.
"Lha, kan masih testing .... Ya besok kalau sudah terima raport, liburnya lumayan." sahut Jamil sambil menghibur istrinya.
"Iya, ya Kang .... Berarti sebentar lagi Melian liburan di rumah ya, Kang ...." kata Juminem pada suaminya, sambil menghabiskan nasi gandul di piringnya, pakai lauk kikil.
"Sudah, Jum .... Kita mau pulang apa ke mana lagi?" tanya Jamil yang juga sudah menghabiskan makan malamnya, sepiring nasi gandul tambah separo. Lauknya babat lempit sama tempe goreng, minumnya teh hangat.
"Pulang saja, Kang ....Dah malam .... Tidak baik kena udara malam. Usia sudah tua, nanti bisa masuk angin." sahut Juminem.
Setelah membayar nasi gandul, Jamil menghidupkan motornya, bersiap untuk pulang. Juminem naik ke boncengan, pegangan perut suaminya. Jamil sengaja mengendarai motornya jalan pelan-pelan. Sambil menikmati indahnya malam. Meski begitu, tidak lama mereka pun sudah sampai halaman rumahnya. Jamil langsung menaikkan motornya, dan memasukkan ke ruang tamu. Tidak ada garasi khusus.
"Ach .... Capek, Kang ...." Juminem langsung masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya. Bersiap tidur.
__ADS_1
Setelah selesai menutup pintu dan mematikan lampu, Jamil pun menyusul istrinya. Masuk kamar dan mengikuti jejak istrinya, tidur. Dasar perut kenyang, tebuh lelah. Maka dalam sekejap pun mereka langsung terlelap tidur.
Karena sejak sore Juminem bersama suaminya membicarakan Melian, anak kesayangannya itu, maka wajar kalau saat tidur, Juminem pun bermimpi ketemu Melian. Tentu saja, karena mimpi sebenarnya merupakan bentuk perwakilan dari keinginan, pikiran, dan motivasi yang tak disadari. Mimpi yang dialami seseorang terjadi karena dorongan oleh naluri agresif keinginan seseorang yang ditekan dari kesadaran sesaat sebelum tidur. Pikiran-pikiran yang tidak terungkap secara sadar, maka akan muncul melalui mimpi.
Demikian juga yang terjadi dengan Juminem. Karena sejak sore bersama suaminya membahas kangennya pada Melian, maka rasa kangen yang tidak tersampaikan itu muncul dalam mimpinya.
"Melian .......!!! Melian .......!!! Melian .......!!!" tiba-tiba saja Juminem menjerit kencang.
Jamil kaget. Langsung terbangun dan menyadarkan istrinya yang menjerit histeris.
"Jum ..., bangun, Jum .... Sadar, Jum ...!" Jamil menepuk pipi istrinya, agar Juminem sadar.
"Kang ..., Melian, Kang .... Huk ..., huk ..., huk ...." Juminem terbangun dan langsung menangis.
"Ada apa, Jum ...? Kenapa Melian?" tanya suaminya yang duduk memapah istrinya di tempat tidur.
"Huk ..., huk ..., huk .... Saya mimpi buruk tentang Melian, Kang ...." Juminem langsung memeluk suaminya.
"Tapi ini seperti nyata, Kang ...!" sahut Juminem yang tetap menganggap mimpinya sebagai kenyataan.
"Berdoa saja .... Semoga anak kita tidak ada apa-apa, selamat, dan aman ...." kata Jamil sambil mengelus-elus kepala istrinya.
Ya, mimpi buruk atau yang disebut dengan parasomnia, merupakan kondisi yang umum dialami oleh hampir semua orang. Akan tetapi, pada beberapa kasus, mimpi buruk dapat menimbulkan gangguan, terutama apabila terlalu sering terjadi atau sampai menyebabkan gangguan tidur dan stres. Bisa juga mimpi buruk terjadi karena faktor genetik atau keturnuan dari orang tua, psikologis, kelainan fisik, gangguan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, serta gangguan pada otak. Orang yang kecapaian akan mudah mengalami mimpi buruk. Begitu juga orang yang sedang memikirkan hal-hal yang sangat berat membebani pikirannya. Orang yang sedang mengalami kecemasan atau ketakutan, juga mudah mengalami mimpi buruk.
Juminem pun kembali tertidur. Tentu setelah dielus-elus oleh suaminya. Jamil pun ikut tertidur, di sisi istrinya yang sudah pulas. Namun, lagi-lagi, Juminem tergagap.
"Melian .......!!! Melian .......!!! Melian .......!!!" Juminem kembali menjerit kencang. Ia bangun dan duduk di tempat tidur sambil menangis.
"Ada apa, Jum ...?" Jamil yang tergagap, ikut bangun dan duduk sambil memeluk istrinya.
__ADS_1
"Melian ..., Kang .... Huk ..., huk ..., huk ...." lagi-lagi Juminem bermimpi buruk tentang anaknya.
"Kamu mimpi buruk lagi ...? Tentang Melian? Melian kenapa?" tanya suaminya yang sudah mengelus kepala Juminem, yang ditumbuhi rambut hitam panjang dan lebat.
"Iya, Kang .... Melian diculik orang ..., lalu disiksa .... Kasihan Melian, Kang .... Huk ..., huk ..., huk ...." kata Juminem yang tentu menangis sedih.
Lantas Juminem menceritakan mimpinya kepada suaminya. Juminem menceritakan kalau Melian dibawa laki-laki tinggi besar, pergi ke tempat yang jauh dan gelap. Lantas di tempat yang gelap itu tangan dan kakinya diikat. Melian disiksa oleh banyak orang. Melian merintih kesakitan. Melian menangis meraung-raung. Melian meronta, tetapi tidak bisa melepaskan diri. Lantas dalam keadaan tidak berdaya, Melian dilempar ke dalam jurang yang sangat dalam, sehingga tidak ada orang yang sanggup menolong, bahkan tidak bisa melihat tubuh Melian.
"Huk ..., huk ..., huk .... Kang Jamil ..., anak kita bagaimana, Kang ....?" Juminem menangis, mengkhawatirkan anaknya.
"Jum ..., jangan khawatirkan Melian .... Kamu sudah lama hidup dengan Melian, kamu sudah merawat Melian sejak kecil .... Apa kamu tidak ingat keanehan-keanehan yang dimiliki Melian? Apa kamu lupa dengan keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Melian? Jangan khawatirkan anakmu, Jum ...." kata Jamil untuk menghibur dan meyakinkan istrinya.
"Iya, Kang .... Saya tahu itu .... Tapi saat ini Melian di tempat yang jauh, Kang .... Kita tidak tahu orang-orang yang ada di Semarang seperti apa? Di kota besar itu banyak orang jahat, Kang ...." kata Juminem yang masih mengkhawatirkan anaknya.
"Berdoalah, Jum .... Semoga tidak terjadi apa-apa pada diri Melian ...." kata Jamil lagi yang lantas bangkit dari tempat tidur.
Jamil mengambil segelas air putih, lantas diberikan kepada Juminem, diminumkan sedikit demi sedikit. Tentu agar istrinya tenang dan tidak kepikiran lagi dengan mimpi-mimpinya.
"Kang, bagaimana kalau besok pagi kita ke Semarang? Kita tengok anak kita ...." usul Juminem pada suaminya. Tentu untuk menghilangkan rasa khawatirnya.
"Anak kita biar menyelesaikan tentingnya dulu .... Besok kita minta tolong Mas Irul saja, untuk menelepon Cik Indra .... Biar kabar tentang Melian ditanyakan ke Cik Indra oleh Mas Irul." usul suaminya.
"Tapi ..., saya sangat khawatir sekali, Kang ...." sahut Juminem.
"Iya, Jum .... Nanti kita tunggu berita dari Cik Indra. Bila perlu nanti biar handphone Cik Indra dipinjamkan ke Melian, biar kamu bisa ngomong sama Melian ...." usul suaminya.
"Iya, Kang ...." sahut Juminem yang tentu sudah agak sedikit lega.
"Sekarang tidur dulu .... Besok kita ke pabrik, nyuruh Irul telepon." kata Jamil yang langsung kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
__ADS_1
Juminem ikut merebahkan tubuhnya. Kali ini kepalanya direbahkan di atas dada suaminya. Tentu sambil memeluk tubuh suaminya. Dan pasti berharap akan mimpi indah tentang anaknya.