
Irul sudah sampai di rumah sakit. Bersama petugas kepolisian dan Parmo yang mendapingi kakak iparnya.
"Halo, Ndan .... Posisi ada di mana?" polisi yang bersama Irul langsung menelepon temannya yang tadi sudah ikut bersama ambulan.
"ICU ...." terdengar jawaban dari rekannya.
"Lhoh ..., itu Pak RT ...." kata Irul yang melihat ada Pak RT sedang duduk di teras ruang pasien. Pasti Irul langsung menemui Pak RT.
"Mas Irul ...." Pak RT langsung berdiri saat melihat Irul datang. Lantas memeluk Irul seperti orang yang kangen lama tidak ketemu. Tetapi Pak RT membisikkan kata di telinga Irul. "Yang tabah ya, Mas Irul ...."
"Istri saya bagaimana, Pak RT?" tanya Irul yang sudah tidak sabar untujk tahu.
"Hhhmmhah .... Saya tidak bisa menceritakan dengan kata-kata, Mas Irul .... ******* parah, Mas ...." kata Pak RT itu yang sangat terlihat ikut sedih.
"Istri saya di mana sekarang, Pak ...?!" tanya Irul yang ingin segera tahu kondisi istrinya.
"Mas Irul .... Mari ikut saya ...." kata petugas kepolisian yang sudah menggandeng tangan Irul.
"Iya, Pak ...." kat Irul yang mengikuti langkah polisi itu.
"Saya boleh ikut, Pak?" tanya Parmo.
"Saudara tunggu di sini dulu. Di ruang ICU tidak boleh ditengok orang banyak." kata petugas kepolisian itu.
"Kamu tunggu di sini sama saya, Mo ...." kata Pak RT yang lumayan senang tambah ada teman duduknya.
Polisi itu mengajak Irul ke ruang ICU. Untuk masuk ruang itu ada prosedurnya. Harus seijin suster jaga, dan mengenakan baju laborat. Alas kaki harus dilepas. Katanya untuk menjaga kebersihan dan sterilisasi ruangan.
"Mohon maaf sebelumnya, Mas Irul .... Ini kita masuk ke ruang ICU, pasiennya biasanya dalam kondisi parah dan perlu penanganan khusus. Dan di situ banyak pasien lain yang butuh penanganan khusus. Nanti saat melihat kondisi istri Mas Irul, jangan teriak atau menjerit. Mohon Mas Irul bisa menahan emosi." pesan polisi itu pada Irul saat akan masuk ruang. Dan pastinya polisi itu sudah mengira kalau Irul pasti akan kaget menyaksikan kondisi istrinya.
"Iya, Pak ...." jawab Irul, yang tentu sudah berfikir kalau kondisi istrinya pasti sangat parah. Irul pun berusaha sekuat hati untuk tabah. Tidak akan menjerit atau berteriak agar tidak mengganggu pasien yang lain.
"Monggo ...." kata polisi itu yang mengajak Irul masuk ke ruang ICU.
Irul mengikuti masuk ruang ICU. Di ruangan ada sekitar enam pasien yang tergeletak. Dan yang diujung, ada pasien yang masih dilakukan perawatan oleh dua orang suster perempuan. Petigas kepolisian itu berhenti di situ. Irul juga ikut berhenti, dan tentu langsung mengamati pasien perempuan yang masih dalam perawatan itu.
"Ini, Mas Irul .... Istri Anda keadaannya seperti ini, sebagai korban penganiayaan perampokan dengan kekerasan. Kami akan berusaha untuk terus memburunya." kata polisi itu.
Jantung Irul semakin berdebar, memompa darah dengan sangat kuat, hingga darah-darah itu seakan mengumpul semua di kepala Irul. Pikiran Irul langsung berkecamuk, sungguh kejam para perampok itu. Lantas Irul mendekat, mengamati pasien yang disebut oleh petugas itu adalah istrinya. Pasien yang pada bagian hidung dan mulut ditutup dengan alat pernapasan. Dari peralatan rumah sakit juga terdapat kabel-kabel yang kleweran dari peralatan canggih ke beberapa bagian tubuh istrinya yang tertutup selimut hingga leher.
Irul mengamati pasien yang tergolek tanpa daya itu lebih dekat. Ia ingin meyakinkan, benarkah perempuan yang tergeletak itu Indra? Tentu Irul masih belum jelas mengamati istrinya, karena muka istrinya penuh luka, lebam-lebam, gosong dan bengkak. Sehingga wajah istrinya berubah, berbeda dengan aslinya. Irul pun kembali membungkuk, mendekatkan matanya ke wajah istrinya. Ia mengamati dengan lekat ke wajah istrinya. Potongan rambutnya, telinga, alis dan mata serta warna kulit, itu memang benar istrinya. Lantas ia mencoba membuka selimut penutup tubuh istrinya, untuk melihat tubuhnya. Tentu Irul semakin bersedih. Tubuh istrinya sudah hancur dengan bekas sabetan-sabetan senjata tajam. Hampir seluruh bagian tubuh mengalami luka. Ibarat orang Lasem menyebut dengan istilah "tatune arang kranjang".
Hati Irul langsung mengecil. Perasaannya kabur entah ke mana. Yang tadinya ia membungkuk, kini lututnya sudah jatuh ke lantai. Air mata pun langsung menetes. Bibirnya bergetar menahan tangis. Hancur hati Irul menyaksikan wanita yang ada di hadapannya itu memang benar-benar istrinya yang terluka parah dan kondisinya sangat menyedihkan. Ini perlakuan manusia biadab, perbuatan manusia tak bermoral. Perbuatan manusia berwatak binatang. Sangat keji.
"Ya Allah ............" Irul menggumam meratapi kondisi istrinya.
__ADS_1
Irul tidak bisa menahan emosinya. Ia langsung bangkit berdiri dan berlari keluar. Dan setelah keluar dari ruang ICU itu, ia menumpahkan tangisnya. Tangis kesedihan yang teramat sangat.
"Huahuuhuhuhuuu ..... Huuhuhu ,,,,, Huahuuhuhuhuuu ....." suara tangis itu pecah begitu Irul sampai di luar ruang ICU. Irul langsung menangis sejadi-jadinya. Meluapkan emosi hati yang ditahan, namun tetap keluar.
Mendengar suara tangisan yang memilukan itu, pasti orang-orang yang ada sekitarnya langsung pada memandangi Irul. Namun hal itu di rumah sakit adalah hal biasa. Paling menangisi keluarganya. Maka mereka yang melihat kejadian itu hanya memandang saja, tanpa hirau.
Pak RT dan Parmo yang duduk bi teras, ikut mendengar suara tangisan itu. Mereka pun langsung menengok. Dan ternyata yang menangis keras itu adalah Irul. Maka dua orang itupun langsung berlari menghampiri Irul.
"Sabar, Mas Irul .... Yang tabah, Mas .... Allah pasti memberikan jalan terbaik ...." Pak RT mencoba menenangkan Irul.
"Kami akan berusaha untuk mengejar para perampok itu, Mas Irul .... Sampai ketemu." kata petugas polisi yang sudah menepuk pundak Irul untuk menenangkan Irul.
Pak RT dan Parmo langsung merangkul Irul, dipapah dan diajak duduk di kursi yang ada di teras rumah sakit. Tentu ingin menguatkan hati Irul yang saat ini sedang sedih.
"Kita berdoa, Mas .... Semoga Yang Maha Kuasa memberikan keselamatan pada Cik Indra .... Diberikan kemudahan dalam segala hal. Terutama dokter yang menangani, bisa menolong sebaik mungkin." kata Pak RT yang berusaha menghibur.
"Terima kasih, Pak RT ...." kata Irul yang masih sesenggukan menangis.
Parmo memijit-pijit pundak dan lengan kakak iparnya. Tentunya agar Irul menjadi lebih lega. Irul hanya bisa pasrah, tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia membiarkan dirinya dipijiti oleh adik iparnya.
Tiba-tiba ada orang tua yang pantas dipanggil sebagai kakek-kakek, mendekat ke tempat mereka bertiga duduk. Lantas si kakek itu mengulurkan tangan dan menyalami Irul.
"Cobalah untuk belajar ikhlas ...." kata si kakek itu pelan, tetapi suaranya menggema di telingga Irul.
Hati Irul langsung mencair, leleh dan terasa segar. Seakan kakek tua itu sudah menghipnotis pikiran Irul, dengan cerita-cerita yang pernah disampaikan oleh Indra kepadanya.
"Kakek ...?!" kata Irul menyebut orang tua itu.
Tiba-tiba tangan si kakek sudah menarik lengan Irul. Irul sekonyong-konyong sudah berdiri, dan melangkah mengikuti ajakan si kakek tersebut. Irul seperti dituntun menuju ke sebuah taman yang penuh dengan bunga. Entah taman itu ada di sebelah mana di rumah sakit ini. Seingat Irul, tadi waktu masuk ke rumah sakit tidak melintasi taman yang indah seperti itu. Lantas oleh si kakek, diperlihatkan keindahan taman itu kepada Irul. Tidak hanya bunga-bunga yang indah dengan warna-warni. tetapi juga hewan-hewan yang jinak dan sangat ramah. Lucu-lucu dan menggemaskan. Tidak ada yang liar, tidak ada yang buas.
Lalu kakek itu bertutur kepada Irul, "Hujan yang turun ke bumi tidak pernah menunggu kita apakah sudah menyediakan payung atau belum. Demikian pula kematian, ia akan datang menjemput orang setiap saat, tidak peduli kita sudah siap atau belum siap dalam menyambut kedatangan kematian itu. Jika hari ini kita masih bisa berbicara, maka bicarakanlah hal yang baik-baik. Jika hari ini kita masih bisa bersendagurau, maka, bergurau lah dengan etika atau akhlak dan dengan penuh kasih sayang. Jika hari ini kita masih bisa menghirup udara di alam raya, maka banyaklah beribadah mendekatkan diri pada Sang Khalik. Jauhi maksiat dan jangan melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Seperti halnya hari yang dihabiskan dengan perbuatan-perbuatan baik, maka akan membawa tidur yang membahagiakan pula dengan mimpi-mimpi indah. Demikian juga hidup yang dihabiskan dengan perbuatan baik akan membawa kematian yang membahagiakan ruh dan jiwa kita. Raga ini bisa mati. Tetapi jiwa dan sukma, dia akan hidup selamanya. Belajarlah ikhlas. Ikhlas menerima kenyataan, ikhlas memberi dan ikhlas kehilangan. Jangan pernah merasa kehilangan, karena yang menjadi milikmu itu sebenarnya hanyalah titipan yang akan diambil lagi oleh pemiliknya."
"Iya, Kek ...." sahut Irul sambil menoleh si kakek. Namun ternyata kakek itu sudah tidak ada. "Kakek ...!! Kakek ...!! Kakek .......!!!" Irul berteriak memanggil si kakek yang sudah menghilang.
"Mas ..., Mas Irul ....!!! Mas Irul ....!!! Sadar, Mas ...!" Pak RT dan Parmo mengguncang tubuh Irul, yang dianggap kesurupan, karena sejak tadi mulutnya ndremimil, ngomong sendiri yang tidak jelas kata-katanya.
"Ya .., ya ...!! Ada apa ...?! Kenapa ...?!" Irul gedandapan, kaget tubuhnya digoyang-goyang oleh Pak RT dan Parmo.
"Mas Irul ..., kenapa ...?! Ada apa ...?!" tanya Parmo.
"Saya harus ikhlas .... Ya ..., saya harus ikhlas ...! Saya harus ikhlas ...! Saya harus ikhlas, Mo ...! Saya harus ikhlas, Pak RT ...!" Irul berteriak-teriak, dan langsung berdiri dari duduknya, dan akan pergi.
"Mas Irul ..., sabar, Mas .... Sabar, Mas Irul ....!!" Pak RT dan Parmo memegangi Irul, menyadarkan Irul dan tentu khawatir kalau Irul akan melakukan apa-apa. Mereka pasti berpikiran kalau Irul sangat terpukul dan sangat sedih menyaksikan kondisi istrinya.
"Tidak apa-apa, Pak RT .... Saya Ikhlas ...!! Lepaskan saya, Mo ..., saya ikhlas ...!!" lagi-lagi, Irul ingin melepas pegangan dari Pak RT maupun Parmo. Ia akan pergi dari duduknya.
__ADS_1
"Pak Polisi ...!! Tolong Mas Irul, Pak ...!!" Parmo berteriak minta tolong kepada petugas polisi yang tadi masuk ke ruang ICU bersama Irul.
Polisi itu langsung berlari dan memegangi Irul yang seolah mengamuk, ingin melepaskan diri dari pegangan Pak RT dan Parmo. Beberapa orang penunggu pasien yang ada di teras rumah sakit itu pun langsung datang ikut membantu menyadarkan Irul.
"Mas Irul ..., sabar, Mas ...!!" polisi yang ikut memegangi Irul juga berusaha menyadarkan.
"Ini ..., dikasih minum teh dulu .... Biar sadar ...." kata salah seorang yang ikut menolong. Dia memberikan gelas berisi teh hangat.
"Aya, Mas Irul .... Ini teh hangat di minum dulu ...." seseorang membantu meminumkan teh ke mulut Irul.
"Kakek ...!!! Saya ikhlas ...!!! Kakek ...!!! Saya ikhlas, Kek ...!!!" Irul kembali memberontak, memberot dari pegangan orang-orang yang sudah berusaha menahannya. Tetapi kenyataannya, Irul bisa melepaskan tangan-tangan orang yang memeganginya.
"Walah ..., ini kesurupan ...." seseorang nyeletuk.
"Pegang yang kuat ...!! Ayo tolong .... Mohon yang lain pada ikut membantu memegangi ...!" orang-orang langsung kembali memegangi tubuh Irul. Dua orang satpam juga ikut memegangi. Bahkan Parmo dan Pak RT sudah mendekap tubuh Irul agar tidak bisa bergerak.
"Tolong Suster, ini bagaimana ada yang ngamuk .... Mas Irul kayak kesurupan .... Bisa disuntik penenang apa tidak ...?!" petugas polisi itu melapor ke suster penjaga.
"Sebentar, Pak .... Saya panggilkan dokter jaga." kata suster yang berjaga di situ.
Lantas suster itu memejet intercom. Pasti menghubungi bagian depan, di Unit Gawat Darurat. Dokter jaganya ada di sana. Langsung menginformasikan kepada yang mengangkat intercom, kalau di depan ruang ICU ada orang yang kesurupan.
Setelah itu, seorang dokter muda datang. Dia dokter jaga yang bersiap di ruang gawat darurat. Sudah membawa alat suntikan. Pasti akan menyuntik Irul. Dan benar, setelah sampai di tempat orang yang ramai mengerubungi Irul itu, dokter itu langsung mendekat.
"Bagaimana ...?" tanya dokter itu.
"Ini, Pak Dokter .... Mas Irul sedang kesurupan .... Ia ndremimil terus dan mengamuk ...." kata Pak RT yang masih memeluk tubuh Irul.
"Ini bukan kesurupan .... Orang ini hanya mengalami depresi saja .... Tidak usah khawatir .... Nanti kalau sudah tidur, dia akan tenang kembali." kata dokter muda itu yang langsung menyuntikkan injeksinya. Dan sebentar saja, Irul sudah diam dan tenang, seakan mengantuk akan tidur.
"Tapi ndremimil kok, Pak Dokter .... Biasanya yang seperti itu, dia itu kesurupan setan .... Lihat saja tenaganya sangat kuat." sahut orang yang ada di situ, yang ikut memegangi Irul.
"Ya .... Itu karena efek halusinasi pikirannya. Biasanya karena mengalami tekanan batin. Mungkin orang ini terlalu memikirkan keluarganya yang sakit." kata dokter itu.
"Benar juga .... Mas Irul ini istrinya masih di ICU .... Korban perampokan sadis .... Luka parah ...." kata Pak RT.
"Nah ..., itu mungkin yang memicu saudara ini jadi depresi. Tolong dibantu untuk ditempatkan di bed, dan langsung masuk ruangan. Suster ..., tolong siapkan ruang untuk pasien ini, dan langsung pasang infus." kata dokter itu yang menyuruh suster jaga.
"Ya, Dok ...." jawab suster itu.
"Keluarganya mana? Tolong ke ruang administrasi untuk pendaftaran pasien. Untuk sementara ia harus opnam." kata dokter itu pada orang-orang yang sudah membantu.
"Ya, Pak .... Saya adiknya .... Terima kasih, Pak ...." kata Parmo yang langsung bergegas mengikuti langkah dokter itu menuju bagian depan. Untuk mendaftarkan rawat inap kakak iparnya.
Akhirnya, Irul harus ikhlas untuk beristirahat di rumah sakait, bersama dengan istrinya. Dua-duanya harus rawat inap. Hanya yang membedakan adalah ruangannya. Pak RT dan Parmo membagi penjagaan. Parmo menjaga Cik Indra, sedangkan Pak RT menjaga Irul.
__ADS_1