GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 132: MENGAMATI FOTO


__ADS_3

Kembali ke cerita anak-anak dari SMA Majapahit.


    Setelah selesai upacara pemakaman dan kremasi jenazah Cung Kek, Prendes dan Kecik, Lusi segera mencetak foto-fotonya. Tentu sebagai bukti dokumentasi bagi teman-temannya, bahkan juga untuk sekolahan. Dan biasanya, teman-teman yang ikut berfoto, mereka akan pesan untuk dicetakkan, sebagai kenang-kenangan yang akan disimpan di dalam album.


    Bersama dengan Tji Wi, ia berangkat ke Fuji Film. Di tempat Fuji Film itulah orang-orang biasa mencetakkan foto-foto. Zaman dulu, cetak foto tidak seperti sekarang. Setiap orang bisa ngeprint sendiri. Tetapi foto jaman dulu masih menggunakan film atau klise. Roll film isi tiga puluh enam, diserahkan ke pegawai stodio foto. Roll film nanti akan dicuci dan dicetak.


    "Tunggu satu jam, Cik, Koh .... Boleh ditinggal dahulu, atau di tunggu di sini." kata perempuan pegawai stodio foto tersebut.


    "Kami tunggu saja .... Sambil ngobrol di sini, Mbak." jawab Lusi yang tidak ingin ke mana-mana.


    Mereka sudah capai keliling mngikuti acara pemakaman tiga temannya. Walau tidak bersamaan, tetapi menyita energi, karena harus ke sana kemari di tiga tempat yang lumayan. Bahkan tidak hanya siang hari, tetapi juga malam. Apalagi pada saat upacara maisong, puncak rangkaian tata cara kematian tradisi Tionghoa, malam terakhir sebelum pemakaman atau kremasi jenazah. Karena teman sendiri satu kelas dan akrab, maka teman-temannya menghendaki harus datang, memberikan doa terakhir.


    "Lusi, kira-kira kematian tiga teman kita itu wajar apa enggak, menurut kamu?" tanya Tji Wi yang sudah menyandarkan punggungnya di kursi tunggu yang berbentuk melingkar dengan sandaran di tengah yang ada di stodio foto itu.


    "Gimana ya, Wi ...? Mau bilang aneh, toh dari pihak keluarga sudah mau menerima kematian itu, yang katanya over dosis ...." jawab Lusi yang berada di samping kiri Tji Wi, yang juga menyandar di kursi melingkar itu.


    "Saya sebenarnya meragukan kalau mereka dikatakan over dosis. Karena setahu saya, mereka itu kalau minum tidak kuat banyak, kok .... Paling satu gelas saja sudah berhenti. Cuman kalau Kecik memang agak lumayan .... Karena teman-temannya dari luar, itu sering ngajak Kecik minum-minum." kata Tji Wi yang mulai ragu.


    "Atau mungkin temannya dipaksa oleh Kecik?" tanya Lusi yang mendengar penuturan Tji Wi.


    "Kalau itu saya tidak tahu ...." jawab Tji Wi yang tidak mau dituduh mengatakan seperti itu.


    "Memang enaknya minum itu apa sih? Kok barang kayak gitu masih diminum .... Tahu memabukkan, dan tidak enak kok dibeli mahal-mahal ...." kata Lusi yang tidak senang dengan orang yang minum-minum.


    "Yaah, itu demi harga diri, Lusi .... Biar lebih gagah dan dipercaya .... Terutama teman-teman laki-laki yang suka kumpul-kumpul, itu sebagai lambang kejantanan ...." sahut Tji Wi.


    "Halah ..., minum kayak gitu kok lambang kejantanan .... Nyatanya ...?! Mereka pada meninggal." sahut Lusi yang tidak setuju dengan pendapat itu.


    "Ya ..., memang ada juga yang minum itu dijadikan sebagai pelampiasan .... Misalnya kesal dengan keluarga, frustrasi, yah ..., macam-macam. Karena kata orang-orang, kalau minum mereka bisa melupakan masalah." jelas Tji Wi lagi.


    "Bukan melupakan masalah .... Tetapi hilang dari segala masalah .... Kalau mati kan tidak punya masalah lagi ...." sahut Lusi yang blak-blakan, tidak suka dengan anak yang minum-minum.


    "Nggak tahu lah, Lus .... Aku kan gak suka minum. Jadi belum tahu seperti apa nikmatnya orang mabuk." kata Tji Wi yang dikejar oleh pertanyaan-pertanyaan Lusi.


    "Wi ..., apa benar katanya ada yang cerita, kalau bagian bawah anunya teman-teman kita itu ada semacam gigitan serangga, gitu?" tanya Lusi yang mengarah pada perkiraan ada hal lain yang bisa menyebabkan kematian.


    "Wah, kalau itu saya tidak tahu, karena saya maupun teman-teman yang lain juga tidak melihat sendiri fakta itu. Kemarin kami hanya mendengar dari cerita papinya Prendes. Tapi itu kami juga tidak tahu buktinya." jawab Tji Wi yang tentu tidak mau mengarang cerita. Takut nanti kalau jadi masalah. Apalagi teman-temannya ini mati secara tidak wajar. Bisa jadi kalau keliru malah bisa berurusan dengan polisi.


    "Kata teman-teman banyak yang curiga kalau tiga teman kita itu mati karena pembunuhan." kata Lusi lagi, yang belum percaya dengan kematian temannya.


    "Tapi dari bukti yang diperoleh oleh pihak kepolisian, memang over dosis. Dan papinya Cung Kek sendiri yang melihat semua bukti. Banyak botol minuman keras dan ada obat-obatan terlarang ...." jelas Tji Wi yang sudah mendengar penuturan dari keluarga Cung Kek.


    "Koh ..., Cik .... Fotonya sudah jadi ...." kata pranuniaga yang sudah berdiri di meja pelayanan.


    "O, ya ..., Mbak." sahut Lusi yang langsung mendekat ke pramuniaga yang sudah membawa amplop warna hijau yang ada gambar foto-foto.


    "Ini fotonya jadi semua .... Malah jadi tiga puluh tuju. Dapat ekstra satu, lumayan. Klise-nya ada di dalam. Ini dapat buku album gratis." kata pramuniaga yang sudah meletakkan amplop berisi foto dan buku album kecil.


    "Trimakasih ya, Mbak ...." sahut Lusi yang langsung mengambil foto dan buku album dan dimasukkan ke tas plastik yang diberikan oleh pramuniaga.


    "Tidak dilihat dulu hasilnya?" tanya pramuniaga itu.


    "Eh, iya .... Kita lihat dulu, Lus ...." kata Tji Wi yang langsung memegang amplop berisi foto itu.

__ADS_1


    Tji Wi langsung menuangkan foto-foto hasil cetakan itu di meja customer. Lantas mengamati foto-foto itu bersama Lusi.


    "Lhoh ..., Wi ...?!" Lusi terkaget melihat foto-foto itu.


    "Ada apa, Lus ...?!" Tji Wi langsung menanya.


    "Lihat foto ini .... Yang ini .... Sama yang ini ...." kata Lusi sambil menunjukkan foto-fotonya.


    "Memang kenapa foto-foto ini ...? Bagus ..., dan cerah ...." sahut Tji Wi yang belum tahu dengan yang dimaksud oleh Lusi.


    "Ini .... Ini foto yang kemarin ada anak perempuan yang kita curigai itu .... Anak perempuan aneh yang ikut berdoa berkali-kali itu ...!" kata Lusi yang mengingatkan Tji Wi.


    "Hah ...?! Lah, mana anak perempuan itu? Apa tidak jadi kamu foto?" tanya Tji Wi yang melihat foto itu tidak ada gadis yang dimaksud oleh Lusi. Bahkan gadis jutek itu juga dilihat oleh Tji Wi saat ditunjukkan oleh Lusi.


    "Ya, saya foto ...! Ini fotonya ...! Tapi gadis itu kok tidak ada dalam foto ...." kata Lusi sambil menunjuk-tunjuk fotonya.


    "Kok aneh ...?! Masak difoto bisa hilang ...?!" Tji Wi merasa heran.


    "Kamu tahu sendiri kan, Wi .... Waktu aku tunjukkan gadis itu, kamu lihat, kan ...?! Dan waktu aku memotret dia, kamu jga lihat kan, Wi ...?!" tanya Lusi yang sudah amat gusar dengan hasil pemotretannya.


    "Iya .... Saya tahu .... Dan saya melihat .... Tapi kenyataannya di foto kan tidak ada ...." sahut Tji Wi yang masih belum bisa menerima fakta.


    "Coba kita lihat yang saat teman-teman bersama-sama, dan gadis itu ada di tengah-tengah." kata Lusi yang kemudian mencari foto yang bersama-sama saat memberi doa temannya.


    "Hah ...!!!" Namun saat ketemu foto itu, alangkah kagetnya Lusi, karena di foto yang ada teman-temannya itu, di tengah-tengahnya ada bayangan samar-samar. Tidak terlihat orangnya, tetapi hanya semburat warna oranye, semacam foto yang terbakar. Foto itu langsung dilempar kembali ke meja.


    "Ada apa, Lus ...?!" Tji Wi kaget karena dengan sikap Lusi.


    "Itu .., Wi ...." Lusi mundur dari meja itu, sambil menunjuk ke foto yang sudah dilempar ke meja. Raut wajahnya ketakutan.


    "Ini .... Fotonya ada yang aneh ...." kata Tji Wi yang mengambil foto yang dilempar oleh Lusi, dan mengamati juga foto itu. Tentu Tji Wi juga kaget, karena di tengah-tengah foto teman-temannya saat memberikan doa di depan peti mayat, ternyata ada gambar yang rusak atau tidak jelas gambarnya. Walau waktu itu Lusi sudah menceritakan gadis aneh itu ikut berfoto di tengah-tengah mereka, namun karena Tji Wi tidak melihat orang yang dimaksud oleh Lusi saat difoto, maka Tji Wi tidak begitu ketakutan. Hanya merasa aneh karena fotonya ada gambar yang rusak.


    "Kok fotonya bisa seperti ini ya, Mbak? Gambarnya bisa kayak disetip ...." tanya Tji Wi pada pelayan stodio foto itu.


    "Ooh, ini .... Bukan disetip .... Biasanya ini karena efek cahaya. Mungkin saat pengambilan foto pas ada lampu atau sinar terlalu terang jatuh di lensa." jelas pramuniaga yang melayani tersebut.


    "Ya udah, Mbak .... Kami mau pulang dulu. Terima kasih, Mbak ...." kata Tji Wi yang langsung meringkas dan memasukkan foto ke dalam amplop dan dimasukkan ke dalam tas plastik, lantas dimasukkan dalam tas punggungnya. "Ayo, Lus .... Kita pulang." ajak Tji Wi.


    Lusi tidak menjawab. Bahkan juga tidak berpamitan. Tapi langsung mengikuti Tji Wi dan memboceng motor. Mereka berdua meninggalkan tempat cuci cetak foto di Fuji Film.


    "Aku antar pulang apa ke sekolahan lagi, Lus?" tanya Tji Wi pada Lusi, tentu untuk memberi pilihan, siapa tahu Lusi masih kurang nyaman dengan foto-foto yang dicetakkannya.


    "Ke sekolahan .... Kita lihat bareng-bareng foto-foto itu. Kalau rame-rame saya tidak takut." kata Lusi yang langsung mendekap Tji Wi dan menempelkan kepalanya di punggung temannya itu.


    Dalam sekejap, Tji Wi sudah memasukkan motornya di parkiran sekolah. Tentu Lusi langsung turun, berlari ke kelas mencari teman-temannya. Ingin menyampaikan foto-foto yang aneh itu.


    "Teman-teman ..., foto-foto kita sudah jadi .... Tapi ada yang aneh .... Dan pasti menakutkan ...." kata Lusi saat sampai di kelas.


    "Ada apa ...?"


    "Gimana ...?"


    "Apanya yang menakutkan?"

__ADS_1


    "Mana fotonya ...?"


    Teman-temannya langsung mengerubung Lusi. Tentu mereka ingin melihat foto-fotonya. Apalagi mendengar kata-kata Lusi, mereka bertambah penasaran.


    "Ini, fotonya ...." Tji Wi yang datang langsung meletakkan tas plastik Fuji Film yang berisi foto-foto tersebut.


    "Mana ..., mana ...?"


    "Aku lihat ...."


    Tentu teman-temannya langsung berebut, melihat foto-foto hasil jepretan Lusi. Pasti pada riang gembira melihat wajahnya terpampang di foto-foto itu.


    "Aku mau yang ini ...."


    "Aku juga ...."


    "Ih ..., yang ini bagus .... Aku mau ...."


    "Yang menakutkan yang mana, Lus ...?"


    "Ssstt .... Coba perhatikan yang ini .... Orang-orang yang berdoa di depan peti. Kemarin waktu saya ambil gambar ini, di sela-sela orang ini ada gadis aneh yang saya ceritakan itu, Gadis dengan celana jean, kaos oblong dan berjaket .... Tapi di foto, gadis itu tidak ada ...." tutur Lusi yang menunjukkan foto yang dimaksud.


    "Yang bener, Lus ...?!" tanya temannya.


    "Tanya Tji Wi .... Dia juga melihat ...." sahut Lusi.


    "Ih, serem ...." temannya mulai agak ketakutan.


    "Ini .... Yang ini sama .... Dua foto ini saya ambil hanya jeda waktu sebentar. Gadis itu juga tidak terlihat." kata Lusi lagi yang melanjutkan penuturannya.


    "Kok bisa ...?" teman-temnanya mulai tanda tanya.


    "Nah .... Sekarang lihat yang ini .... Foto kalian bersama-sama saat memberi doa di depan peti jenazah. Ini yang kita jadi ribut saat saya bilang di tengah-tengah kalian ada gadis yang aneh itu. Tuh ..., lihat ...!" kata Lusi sambil menunjukkan foto yang ditenganhnya terbakar. Dua foto. Keduanya pada bagian tengahnya hanya terlihat ada semburat warna oranye.


    "Iih .... Kok serem, Lus ...?!" teman-temannya mulai berdiri bulu kuduknya.


    "Lusi ..., coba kita lihat yang saat peti jenasahnya Kecik terjatuh. Katanya kamu juga lihat gadis itu yang mendorong peti yang diangkat oleh orang-orang yang mau menggotong." kata Tji Wi mengingatkan Lusi.


    "Oh, iya .... Saya juga memotret itu. Sebentar .... Foto yang ada peti jatuh .... Nah ini ....Ini .... Betul ini .... Coba kalian lihat ...." kata Lusi yang langsung meletakkan dua buah foto di atas meja kelas, di hadapan teman-temannya tersebut.


    "Hah ...!! Sama, Lus .... Di sini juga ada semburat warna oranye, sebesar orang yang ada di sebelahnya." sahut teman-temannya yang sudah mengamati foto itu.


    "Coba kalian lihat .... Ini kejadian yang saat saya menjerit ketika tahu ada gadis aneh itu menarik peti mati. Coba amati, cahaya oranye seakan seperti api ini ada yang terletak di atas peti, kemudian tertutup peti, dan yang paling terang di bawah peti. Bentunya persis seperti manusia yang menggandul di peti mati .... Iya, kan ...?!" jelas Lusi pada teman-temannya.


    "Iih ..., kok menakutkan, sih ...." anak-anak perempuan langsung merinding, ketakutan.


    "Sekarang lihat yang ini .... Saat peti itu sudah terjatuh, gadis itu berdiri di atas peti. Menginjak-injak peti mati. Kalian amati cahayanya .... Cahaya oranye itu ada di atas peti, kan ...?!" lanjut Lusi menjelaskan lagi.


    "Aku takut ...."


    "Iih ..., serem ...."


    "Aku juga takut ...."

__ADS_1


    "Tapi yang jadi pertanyaan .... Sebenarnya gadis aneh yang kamu lihat itu siapa, ya ...? Apa dia hantu? atau arwah gentayangan yang ingin balas dendam?" Teman-temannya pun langsung menutup foto itu dan memasukkan dalam amplop foto itu lagi. Tentu dengan rasa ketakutan.


    Apakah gadis aneh yang tidak bisa difoto itu hantu? atau arwah gentayangan?


__ADS_2