GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 236: BERDUA RASA


__ADS_3

    Malam itu, Irul datang ke rumah Melian. Tentu sambil membawa sebungkus bakmi goreng dan sebungkus nasi goreng. Minumnya, seplastik es teh dan seplastik lagi es jeruk. Bakmi dan nasi goreng yang dibelinya dari warung depan pasar. Terserah Melian nanti akan memilih yang mana. Bagi Irul, yang penting sudah dibawakan makanan untuk makan malam berdua.


    "Melian ...." kata Irul yang memanggil Melian, saat sampai di rumah kuno itu. Pintu rumah itu tertutup, mungkin Melian masih ada di dalam kamar.


    "Iya, Mas Irul .... Sebentar ...." sahut Melian dari dalam rumah, yang langsung bergegas membukakan pintu rumahnya.


    "Ya ampun Melian ........ Kok kayak gitu, sih ...?!" irul kaget melihat Melian yang hanya mengenakan handuk untuk melilit tubuhnya, dari dada hingga setengah paha. Rupanya Melian baru saja selesai mandi dan belum berganti pakaian. Tentu hati laki-laki Irul yang menyaksikan pemandangan aduhai itu langsung bergejolak.


    Namun Irul bukanlah laki-laki yang mudah tergoda. Setelah menegur Melian, ia bablas ke meja makan. Menaruh bungkusan plastik kresek. Lantas menuju rak piring. Irul mengambil dua piring, dua sendok dan dua gelas. Ia bawa ke meja makan, untuk menata makan malam bersama Melian.


    "Mel ...! Cepetan ganti baju ...! Ini, ada bakmi dan nasi goreng .... Ayo makan bersama ...." kata Irul yang memberi tahu Melian.


    "Iya, Mas Irul .... Sebentar ...." jawab Melian dari kamarnya.


    Sebentar kemudian, Melian sudah keluar, langsung menuju tempat makan. Hanya mengenakan kaos lengan pendek dan ukurannya juga mini, yang terlihat pundaknya dan kalau ketarik ke atas terlihat perutnya, serta memakai celana kulot yang juga sangat pendek sehingga terlihat pahanya. Gadis yang sedang ranum-ranumnya itu terlihat cantik dan seksi, duduk di sebelahnya Irul, yang sudah menanti untuk mengajak makan.


    Tentu mata laki-laki Irul tidak mau melepas begitu saja untuk melihat keindahan tubuh Melian. Setelah setahun ditinggal meninggal oleh istrinya, tentu ia sangat merindukan untuk menyentuh atau membelai perempuan. Dan kini, Melian seakan mencoba memberi godaan pada Irul. Tentu Irul memandangi Melian, dari telapak kaki hingga ujung kepala. Menatap gadis cantik yang sksi itu.


    "Mas Irul kenapa memandangi aku seperti itu ...?" tanya Melian yang terheran dengan sikap Irul yang terus menatap dirinya.


    "Melian kalau di Jakarta juga seperti ini? Di depan orang-orang juga berpakaian demikian?" tanya Irul pada Melian.


    "Ya enggak lah, Mas .... Gak baik lah .... Ini pakaian di rumah .... Pakaian kamar ...." jawab Melian yang tentu tahu maksudnya Irul kalau ia mengenakan pakaian terlalu minim.


    "Ya sudah ...." sahut Irul.


    "Mas Irul gak suka, ya ...?" tanya Melian.


    "Bukan .... Hanya kalau di luar pakai pakaian kayak gini akan mengundang banyak masalah .... Terutama bagi laki-laki yang berniat jahat." jelas Irul.


    "Iya, Mas .... Aku tahu, kok ...." sahut Melian yang tahu dengan maksud Irul.


    "Ayo, kita makan .... Pilih bakmi apa nasi goreng?" tanya Irul sambil menyodorkan piringnya.


    "Aku bakmi saja .... Tapi nanti kalau Melian pengin nasi goreng disuapin Mas Irul, ya ...." kata Melian yang sudah memanja kepada Irul. Badannta sudah melendot ke tubuh Irul.

__ADS_1


    "Uuhh .... Maunya .... Nih ...." kata Irul yang langsung menyuapkan nasi goreng ke mulut Melian.


    "Mas ..., Melian jadi teringat sama Cik Indra ...." kata Melian yang langsung memeluk lengan kiri Irul. Tentu dengan sikapnya yang manja.


    "Iya .... Mas Irul juga rindu ...." kata Irul yang membelai rambut Melian. Penuh kasih sayang. Tentu angannya langsung teringat pada Indra, istrinya yang sudah tidak ada lagi.


    "Mas Irul tidak ingin menikah lagi?" Melian mencoba bertanya, ingin tahu jawaban Irul, apakah ada niatan untuk menikah.


    "Mencintai orang itu tidak gampang, Mel ...." sahut Irul yang tentu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan Melian itu.


    Lantas mereka terdiam. Pikirannya sudah berada di alamnya sendiri-sendiri. Tentu bagi Irul, masih sulit untuk mencari pengganti Indra. Kecantikan dan kebaikan Indra tentunya belum bisa dilupakan. Dan yang pasti, sulit untuk menemukan perempuan yang seperti Indra.


    Melian berfikir lain, kenapa Mas Irul tidak mau menikah lagi? Apakah Mas Irul sudah frustrasi? Ataukah Mas Irul belum dapat jodoh? Atau memang tidak ada wanita yang mau mendekat pada Mas Irul? Pikiran itu berkecamuk menyelubungi perasaan Melian, yang tentu merasa kasihan dengan Mas Irul.


    "Ayo, bakminya dimakan lagi .... Keburu dingin nggak enak." kata Irul yang langsung menikmati nasi gorengnya lagi.


    "Ini, Mas Irul .... Coba bakminya .... Nih, enak kan ...." kata Melian yang juga menyuapkan bakmi kepada Irul. Juga terlihat mesra.


    "Hmm ..., iya enak ...." kata Irul yang menerima suapan dari Melian.


    Lantas mereka berdua menuju dapur, mencuci piring dan gelas. Tentu juga dilakukan bersama-sama. Terlihat sangat akrab dan rukun.


    "Mas Irul tidur sini, kan ...?" tanya Melian.


    "Penginnya pulang ...." sahut Irul.


    "Iih .... Tidur sini saja lah, Mas .... Nemani Melian .... Aku masih kangen, Mas .... Pengin ngobrol sama Mas Irul ...." kata Melian yang tentu tidak ingin ditinggal sendirian.


    "Iya ...." Irul pasrah dan menuruti pinta Melian.


    "Motornya dimasukkan sekalian .... Terus pintunya ditutup. Kita ngobrol di dalam." kata Melian yang meminta Irul untuk memasukkan motornya.


    Anehnya, Irul menurut saja perintah Melian. Ia langsung memasukkan motor, dan menutup pintu rumah.


    "Sini, Mas Irul .... Duduk sini ...." pinta Melian yang menyuruh Irul duduk di kursi panjang, yang sudah diduduki oleh Melian. Pastinya Melian ingin agar Irul duduk disandingnya.

__ADS_1


    Irul juga menurut saja. Ya, memang sejak Melian bayi, Irul selalu memanjakannya. Tidak hanya menetah atau memegangi untuk dilatih berjalan. Bahkan kalau Melian menangis, Irul sering menggendongnya untuk menenangkannya. Demikian juga waktu sekolah SMA, kalau tidak diantar atau dijemput Irul, biasanya Melian mengambek. Makanya Irul selalu mengantarnya setiap pagi dengan memboncengkannya naik sepeda motor. Bahkan kala itu, teman-temannya Melian menganggap kalau Irul itu pacarnya Melian. Dan ternyata, kemanjaan Melian itu tidak berhenti walau ia sudah besar, bahkan sudah mau diwisuda jadi sarjana.


    "Ngapain, sih ...?" Irul yang duduk di sampingnya menanya.


    "Iih .... Ngapain ..., ngapain .... Melian kangen, Mas ...." sahut Melian yang langsung merebahkan tubuhnya di bahu Irul.


    Itu sudah biasa terjadi. Makanya Irul tidak kaget. Bahkan dulu saat masih ada Indra, Melian juga selalu bermanja seperti itu.


    "Melian sudah punya pacar apa belum ...?" tanya Irul tiba-tiba.


    Melian kaget dengan pertanyaan itu. Tentu ia tidak bisa menjawab. Hanya sanggup memandangi wajah Irul, dengan perasaan yang berbeda.


    "Kok Mas Irul nanya pacar ...?" Melian agak cemberut.


    "Lhoh .... Melian kan sudah besar .... Sebentar lagi diwisuda. Sudah pantas untuk menikah ...." jawab Irul.


    Melian kembali diam. Tidak berani mengatakan apa-apa. Hanya kepalanya yang kembali disandarkan di dada Irul. Melian kembali memanja pada Irul Bahkan kakinya sudah naik ke atas kursi. Lantas perlahan tubuh Melian merebah. Selanjutnya, Melian sudah tiduran di pangkuan Irul.


    Irul mendiamkan kelakuan Melian. Ia hanya bisa mengelus rambut Melian yang bau wangi. Memanjakan gadis yang haus dengan belaian kasih sayang itu. Mata Irul tak berkedip, memandangi sekujur tubuh Melian, yang meringkuk di atas kursi, dengan berbantal paha Irul. Tentu Irul sangat takjub, menyaksikan tubuh gadis yang molek itu. Kulitnya yang terlihat putih mulus, terpancar dari telapak kaki hingga ke paha, bahkan sudah sapai atasnya, karena celana yang dikenakan Melian terlalu pendek, sehingga bagian dalamnya kelihatan. Demikian juga pada bagian pinggang dan perutnya, yang benar-benar menggoda, karena kaos mini yang dikenakan itu juga menyingkap. Lantas mata Irul kembali menyaksikan barang indah, Bagian lengan kaos yang ada di dada yang tersibak. Ini benar-benar sebuah godaan untuk seorang laki-laki yang sudah setahun ditinggal mati oleh istrinya.


    Kedua tangan Melian sudah menggenggam tangan kiri Irul. Matanya yang sudah terpejam, menandakan gadis itu ingin tidur dalam pelukan Irul. Hanya ingin melepas rindunya yang sekian lama tidak pernah bertemu.


    Tangan kanan Irul yang semula mengelus rambut Melian yang terurai di pangkuannya, kini jari-jari Irul sudah mulai mengelus pelipis. Lantas mengelus pipi yang halus lembut itu.


    "Emmm ...." Melian menggeliat, menggerakkan kepalanya. Seakan menjadi pertanda, agar Irul mengelus bagian yang lain.


    Tidak hanya menggerakkan kepala. Tetapi Melian mulai membalikkan tubuhnya. Melian merubah posisi miringnya. Dan kini, wajahnya sudah terbenam ke dalam perut Irul. Tangannya pun tidak lagi memegangi tangan Irul, tetapi Melian sudah mendekap pinggang Irul.


    Kembali Irul membelai rambut halus Melian, yang menutupi wajahnya. Irul menyibak rambut itum dari wajah yang cantik tersebut, sehingga terlihat hidung, pipi dan telinganya. Benar-benar gadis yang sangat cantik. Irul mengelus telinga Melian. Mesra sekali. Meski matanya terpejam, bibir Melian terlihat tersenyum bahagia.


    Kini perasaan Irul yang tidak karuan. Gejolak hati seorang duda yang sudah setahun tidak pernah mencium aroma wanita. Dan kini, mata laki-lakinya harus menyaksikan kemolekan tubuh seorang gadis yang benar-benar sedang matang-matangnya. Gadis yang pasrah dalam pelukannya. Bahkan seakan menyerahkan tubuhnya untuk disuguhkan pada dirinya.


    Pikiran Irul mulai kacau. Gejolak asmara yang membara, bercampur aduk dengan tatanan etika seorang laki-laki yang harus melindungi adiknya, melindungi cucu majikannya, melindungi anak pimpinannya. Melindungi orang yang sangat dsayanginya. Ingin rasanya ia harus memberontak dengan berbagai etika itu. Irul ingin meronta, ingin menikmati suguhan yang aduhai itu. Namun lagi-lagi kata-kata etika, tata krama, menjaga, melindungi, kembali menahan gejolak laki-lakinya. Dan sebentar kemudian, nafsu itu muncul kembali.


    Perlahan Irul mengangkat tubuh Melian. Tubuh yang molek dan hanya pasrah tanpa meronta itu. Bahkan kedua tangan Melian hanya memeluk leher Irul. Irul membawa tubuh itu ke dalam kamar. Lantas, tubuh Melian direbahkan di atas kasur. Kepalanya diganjal bantal, kakinya menelentang ditata , tangannya juga ditata. Lantas kaos mini itu ditarik, celana kulot yang sangat minim itu juga ditarik.

__ADS_1


    "Mas Iruuuull ....!!!" Melian berteriak keras.


__ADS_2