
Setelah selesai wisuda, seperti biasa, acara selanjutnya adalah foto-foto. Ya, foto-foto untuk mengabadikan momen terindah bagi para mahasiswa yang sudah menyelesaikan kuliahnya dan mencapai gelar sarjana. Pada acara sesi foto ini pun, Melian bersama keluarganya juga tidak mau melewatkan kesempatan yang indah itu. Mereka pun ikut berfoto-foto.
Sudah sangat umum, tukang jasa fotografer pun di luar auditorium sudah menyiapkan setingan tempat foto. Background dengan gambar rak dengan tatanan buku yang bagus. yang ada gorden terikat, sudah terpajang di beberapa tempat. Ya, dengan latar belakang gambar rak buku inilah para wisudawan berfoto. Dan tentunya diatur dan ditata oleh fotografer yang menjual jasa foto tersebut. Tentunya banyak yang mengantri untuk berfoto. Tidak hanya yang diwisuda, tetapi juga para keluarga yang hari itu sangat berbahagia. Hari itu, jasa fotografer yang menjajakan pemotretan, panen pesanan foto. Rezeki bagi tukang foto.
Ya, memang kegiatan wisuda adalah kegiatan yang perlu di dokumentasikan, sebagai kenangan dalam hidupnya. Itulah sebabnya, maka foto-foto dalam wisuda menjadi hal penting yang harus dilakukan. Menjadi kegiatan utama setelah pengalungan samir dan penyerahan ijazah. Foto-foto menjadi acara untuk mengenang sebuah momen yang mungkin hanya terjadi sekali dalam hidupnya.
Jamil merasa senang dan bangga ketika melihat anak perempuannya yang cantik itu, kini sudah mengenakan baju kebesaran, baju seorang sarjana, dengan predikat yang sangat memuaskan.
Demikian pula Juminem, yang dari pertama masuk di gedung auditorium itu sudah selalu tersenyum bahagia. Bahkan tertawa juga walau tidak keras, saat menyaksikan anaknya yang di wisuda. Bahkan Melian dipanggil untuk tampil dan maju pertama kali yang menerima penganugerahan sebagai lulusan terbaik dan tercepat.
Apalagi Irul, laki-laki duda yang sudah tidak punya istri itu, ketika menyaksikan Melian, bocah kecil yang dulu selalu dibopong dan digendong kalau menangis. Bahkan Melian selalu disayang-sayang oleh Irul. Kini Irul menyaksikan ketika Melian tampil di auditorium itu, sangat penuh dengan pesona. Sangat penuh dengan kewibawaan. Karena Melian menjadi lulusan yang terbaik dan lulusan yang tercepat. Melian, gadis yang berasal dari desa, di kota kecil yang tidak pernah dikenal oleh banyak orang, tetapi kini, Melian menjadi gadis yang terkenal. Melian menjadi gadis yang terhebat. Tentu Irul sangat bangga dengan Melian. Jika saja Indra masih hidup, pastilah Indra juga akan bangga menyaksikan Melian yang berhasil menjadi orang yang terbaik di perguruan tinggi itu.
Di saat Melian, Jamil, Juminem dan Irul berfoto-foto di auditorium tersebut, tentu ada seorang lagi yang mencari Melian. Ia adalah Pak Endang. Ya, Pak Endang yang dari tadi, saat Melian maju ke mimbar utama, saat Melian menerima penganugerahan dari rektor, saat Melian di wisuda, Pak Endang sudah memperhatikan dengan seksama, sudah memandang dengan penuh perhatian. Kini, ia harus menemui Melian. Setidaknya dia akan mengucapkan selamat kepada Melian.
"Nduk .... Lha pacarmu mana ...? Katanya mau ke sini ...? Katanya mau ikut menyaksikan kamu di wisuda ...? Lha mana orangnya, kok tidak ada Nduk ...?" kata juminem yang tentu teringat akan pacar Melian yang katanya akan datang di tempat wisuda menyaksikan Melian di wisuda.
"Sabar ..., Mak .... Paling sebentar lagi dia menemui kita ...." kata Melian yang kemudian mengambil HP. Melian langsung menelepon Pak Endang.
Kala itu, auditorium memang penuh sesak dengan orang yang berlalu lalang di sana dan di sini. Semuanya ingin mengabadikan kenangan terindahnya ketika para mahasiswa ini sudah menjadi sarjana. Tentu keluarga yang dari jauh-jauh tempatnya, keluarga yang dari luar pulau, semuanya ingin mengabadikan momen-momen terindah tersebut. Sehingga di aula itu, orang berlalu Lalang dan berdesak-desaan kesana kemari hanya untuk mengabadikan momen terindahnya.
Melihat kondisi yang seperti ini, tentu akan kesulitan untuk mencari sesorang. Termasuk Pak Endang, yang pasti juga mengalami kesulitan untuk menemukan Melian.
"Halo, Pak Endang ...." kata Melian yang menelepon Pak Endang.
"Ya, Melian ...." sahut Pak Endang menjawab panggilan Melian.
"Pak Endang masih di auditorium ...?" tanya Melian.
"Iya .... Ini saya mencari Melian .... Melian ada di mana ...?" tanya Pak Endang.
"Ini masih di auditorium ...." jawab Melian.
__ADS_1
"Sebelah mana ...?" tanya Pak Endang lagi.
"E, begini saja, Pak Endang .... Kita ketemu di podium. Saya akan ke podium, Pak Endang ke sana, ya ...." kata Melian yang sudah menentukan tempat pertemuan yang paling mudah untuk dicari.
Maka Pak Endang langsung menuju podium. Ia mencari Melian yang sudah menentukan tempat bertemu. Tentu sangat sulit untuk melihat dan mencari orang di kerumunan yang jumlahnya ribuan orang. Maka memilih tempat tertentu adalah cara yang paling gampang untuk saling ketemu.
"Pak-e ..., Mak-e ..., Mas Irul .... Ayo kita ke podium, karena saya tadi di telepon sudah janjian akan ketemu di podium." kata Melian pada keluarganya.
"Pacarmu ya, Nduk ...? Ayo, cepat .... Saya sudah pengin ketemu ...." sahut Juminem yang tentu langsung bergegas cepat untuk menuju ke tempat yang dimaksud oleh Melian.
"Ayo ..., sini .... Tempatnya ada di sini .... Nah kita berhenti di sini dulu .... Kita tunggu sambil foto-foto di sini." kata Melian yang mengajak orang tuanya. Lantas Melian meminta tolong pada Irul untuk memotret, "Mas Irul .... Tolong ya, Mas ..., difoto ...." kata Melian pada Irul.
Tentu, Irul langsung memotret Melian bersama yang didampingi oleh bapak dan ibunya. Irul langsung ceprat-cepret mengambil gambar foto Melian bersama bapak dan ibunya.
"Sekarang saya foto sama Mas Irul ...." begitu kata Melian yang meminta gantian ingin berfoto dengan Irul.
Maka Irul pun memberikan kamera foto itu kepada Pak Jamil. Gantian Jamil yang sekarang memotret Irul yang berdiri di sebelah kanan Melian. Bahkan tidak hanya satu kali foto. Jamil memotret beberapa kali, dan tentu tangan Melian sudah menggandeng lengan kiri Irul dengan mesra.
Melian memperhatikan ada Pak Endang yang sudah datang menghampiri mereka.
"Pak Endang ....!!" teriak Melian yang memanggil Pak Endang. Lantas Melian mendekati Pak Endang. Lantas mengajaknya untuk menemui keluarganya.
"Pak Endang .... Kenalkan .... Ini Pak-e saya .... yang ini, Mak-e saya .... Dan yang ini Mas Irul ...." kata Melian yang memperkenalkan keluarganya kepada Pak Endang.
Pak Endang pun menjabat tangan kedua orang tua Melian, dan juga dengan Mas Irul. Tentu sambil mengenalkan namanya.
"Pak-e ..., Mak-e ..., Mas Irul .... Ini yang namanya Pak Endang .... Pak Endang itu dosen saya, yang ngajar saya di kampus ini." " kata Melian kepada orang tuanya.
Pak Endang pun menganggukkan kepala, tentu karena sudah diperkenalkan oleh Melian dengan keluarganya.
"Lha, pacar kamu mana ...?" tanya Juminem pada anaknya.
__ADS_1
Milian tersenyum agak malu, sambil memandangi Pak Endang. Demikian juga Pak Endang yang dipandangi Melian itu, ia juga malu, tidak berani untuk menyebutkan dirinya sebagai pacar. Tetapi dari tanda-tanda itu senyum yang mencurigakan itu, Juminem pun tahu kalau laki-laki yang disebut sebagai dosennya itu, yang menyebut namanya Pak Endang itu, adalah pacar Melian.
"Ooh .... Jadi ini toh, pacar kamu, Nduk ...." kata Juminem kepada Melian.
Dan tentu, Pak Endang yang saat itu sudah berdiri berjejeran dengan Melian, tersipu malu. Tidak berani menjawab. Maka Juminten langsung memegang pundak laki-laki yang ganteng itu, dan tentu langsung senang karena laki-laki pilihan anaknya sangat layak dan cocok.
"Waduh ..., ganteng sekali ..., Melian .... Cocok .... Saya setuju. Wis ..., sudah .... Ayo kapan menikahnya ...? Mak'e sudah kepingin ngomong cucu ..." begitu kata Juminem yang langsung berterus terang.
Pak Endang yang tersipu malu, ia pun menundukkan kepala sambil tersenyum, karena merasa dirinya sudah dikenalkan sebagai pacar oleh Melian kepada orang tuanya. Bahkan sudah dianggap sebagai calon mantu oleh ibunya.
"Mas Irul .... Ayo kita foto bareng .... Sini Mas Irul, saya sama Pak Endang, tolong di foto ...." kata Melian yang ingin berfoto bareng pacarnya itu.
Irul langsung memoyret beberapa kali. Tentu dengan berbagai pose.
"Pak-e ..., Mak-e .... Sini .... Ayo kita foto bersama dengan Pak Endang ...." kata Melian lagi.
Lantas setelah itu, "Pak-e .... Sekarang saya difoto dengan Mas Irul dan Pak Endang ...." kata Melian lagi, yang kini meminta foto bersama dengan Irul dan Pak Endang.
Dan akhirnya, Melian kemudian mengajak dua laki-laki itu ke podium untuk berfoto bersama. Melian berada di tengah. Irul berada di sisi kanan Milian. Sedangkan Pak Endang berada di sisi kiri Melian. Beberapa kali difoto oleh bapaknya.
Namun, Melian kaget. Saat lengannya dipegang oleh Pak Endang, tiba-tiba saja ada getaran kuat di lengannya. Ya, lagi-lagi, gelang giok yang dikenakan, gelang giok berukir naga yang selalu melingkar di lengan Melian, tiba-tiba saja bergetar kuat. Entah ada apa. Melian yang tahu bahwa itu adalah tanda buruk.
Dan ternyata benar. Sesaat kemudian, belum juga foto-foto bersama itu selesai, tiba-tiba Pak Endang melepas tangannya dari tubuh Melian. Ia langsung memegang dadanya. Ulu hatinya terasa sangat sakit. Bahkan Pak Endang langsung merintih dan membungkukkan badannya tanda kesakitan.
Tentu Melian yang tahu hal itu langsung bingung.
"Tolong ...!! Tolong ...!!" Melian berteriak minta tolong.
Beberapa satpam dan panitia serta dosen yang masih ada di situ, langsung membantu Pak Endang yang merintih kesakitan. Pak Endang langsung digotong, dimasukkan ke mobil untuk di bawa ke rumah sakit.
Namun sayang, belum juga mobil itu berangkat, di dalam mobil, Pak Endang muntah darah. Dan meninggal.
__ADS_1
"Hua .... Huhuhu .... Pak Endang ..... Huhuhu ....." Melian langsung menangis histeris, meratapi nasib Pak Endang. Demikian juga Juminem, yang tentu sangat sedih, karena orang yang dianggap akan jadi menantunya itu sudah meninggal di saat pertama kali ketemu. Ini adalah pertemuan pertama dan yang terakhir.