
Bahagia itu apabila apa yang diharapkan bisa menjadi kenyataan. Senang itu bila orang lain paham dengan apa yang menjadi keinginan serta memberikan kesempatan atau bahkan memberikan sesuatu yang diinginkan tersebut. Hepi itu kalau hatinya terhibur dengan kenyataan-kenyataan yang menyenangkan.
Hari ini Juminem merasa bahagia. Juminem merasa senang. Juminem sedang hepi. Bagaimana tidak bahagia, senang dan hepi, kalau apa yang menjadi angan-angan, menjadi harapan kini semuanya menjadi kenyataan. Hidupnya mendapat anugerah yang tak terhingga.
Siang itu, tidak seperti biasanya Jamil pulang awal. Baru jam satu siang, Jamil sampai rumah.
"Tok ..., tok ..., tok ...." suara pintu diketuk.
"Juminem .... Jum .... Tolong bukakan pintu." Jamil memanggil istrinya yang ada di dalam rumah.
"Eh ..., iya ..., Kang .... Sebentar ...." sahut Juminem dari dipan tempat tidurnya. Tentu ia sudah tidur siang bersama Melian.
Lantas Juminem bergegas membukakan pintu rumah untuk suaminya. Tentu ia kaget dengan kepulangan suaminya yang sangat awal itu. Tidak seperti biasanya kalau pulang yang sampai sore.
"Kok dengarenmen, leh .... Masih siang begini kok sudah pulang, Kang ...?" tanya Juminem yang masih berada di balik pintu untuk membukakannya.
"Iya .... Buka dahulu pintunya ...." sahut Jamil yang ingin segera menyampaikan sesuatu pada istrinya. Tentu sebuah surpise.
"Ada apa to, Kang ...?!" Juminem yang penasaran, meski masih mengusap matanya tentu langsung mengamati seluruh tubuh suaminya saat membuka pintu. Tapi yang dilihat hanya suaminya yang senyam-senyum seakan ada sesuatu yang dirahasiakan.
"Hehehe .... Aku punya sesuatu untukmu." kata Jamil sambil memegang dua pundak istrinya yang masih berdiri di tengah-tengah pintu.
"Apaan, Kang ...?" tanya Juminem yang semakin penasaran.
"Tuh ...! Lihat di halaman itu ...." kata suaminya sambil menunjuk ke halaman rumahnya.
"Lhah, kok ada mobil engkrak segala sampai ke rumah kita? Ada apa, Kang ...?" tanya Juminem yang semakin penasaran karena di halaman rumahnya ada mobil pick up yang terparkir.
"Ituh ....! Ayo lihat ...! Sana lihat apa yang ada di mobil engkrak itu." kata suaminya yang menyuruh Juminem untuk pergi menghampiri mobil pick up yang berhenti di halaman rumahnya itu.
Juminem pun tidak sabar untuk segera melihat apa yang dibeli oleh suaminya. Dan rasa penasaran itu pun akhirnya berubah menjadi gembira yang tidak karuan setelah tahu apa yang dibawa oleh mobil pick up itu.
"Walah. Kang .... Uuh ..., bagus sekali ..., Kang ...." Juminem girang tidak karuan.
Ya, mobil pick up yang datang ke rumah itu mengantar mesin jahit. Jamil baru saja dari Lasem, ke toko mesin jahit, membelikan mesin jahit untuk istrinya.
"Awas, pelan-pelan menurunkannya ...." kata Jamil mengingatkan sopir dan kernet yang menurunkan mesin jahit dari atas mobil itu.
Para tetangga, terutama kaum wanita dan anak-anak, begitu melihat di pelataran rumah Jamil ada mobil pick up yang berhenti dan menurunkan mesin jahit. Mereka pasti ingin tahu. Biasa, orang desa kalau ada tetangga yang beli sesuatu yang baru, pasti langsung berkerumun menyaksikan. Setidaknya mereka ikut senang.
"Walah ..., mesin jahit baru ya, Jum ...?" tanya salah seorang ibu-ibu yang sudah menempelkan tubuhnya di mobil yang mengangkut mesin jahit itu.
"Hehehe .... Iya, Yu ...." sahut Juminem sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Walah ..., pasti mau bawa pulang borongan krudung dari Bu Hajah ...." kata wanita yang lain, yang mestinya juga ikut kerja srabutan membuat kerudung.
"Hehehe .... Iya, Yu .... Biar bisa momong Melian ...." lagi-lagi Juminem menjawab sambil tersenyum simpul.
"Taruh di mana, Pak?" tanya sopir yang mengirim barang tersebut kepada Jamil.
"Langsung masukkan ke dalam rumah saja ...." jawab Jamil sambil menunjukkan tempatnya, di sisi kiri dekat jendela.
"Juminem beli mesin jahit baru ...!" ibu-ibu tetangga Juminem pada berteriak, yang pasti mengabarkan mesin jahit baru yang barusan datang diantar mobil pick up itu.
"Apa ...?! Juminem beli mesin jahit ...?!"
"Ya .... Juminem beli mesin jahit baru ...."
"Wah ..., hebat, Juminem ...."
"Mana ...?!"
"Itu ...! Mobil yang mengantar masih di halaman rumahnya."
Rumah Juminem sudah ramai oleh para tetangga. Kebanyakan perempuan. Ibu-ibu yang memang kebanyakan adalah ibu rumah tangga. Sedangkan laki-laki yang datang ikut menyaksikan, rata-rata sudah tua yang tidak bekerja. Sedangkan kaum lelaki yang usia produktif masih kerja, yang kebanyakan sebagai buruh. Tidak ketinggalan, anak-anak yang sudah langsung bermain di halaman rumah Jamil.
Itulah kerukunan orang kampung yang masih jauh dari perkotaan. Jika ada tetangga yang membeli barang baru, maka satu kampung tahu semua. Mereka akrab dan merasa saling bersaudara. Seperti halnya ketika Jamil membelikan mesin jahit baru untuk istrinya, pasti orang-orang pada berdatangan ingin tahu. Istilah orang Lasem disebut "mertakke" yaitu ingin tahu berita yang disampaikan oleh para tetangga.
Juminem pun langsung mencoba menginjak pedal atau obelan mesin jahit tersebut.
"Uwuiiih .... Enak .... Enteng .... Licin ...." kata Juminem yang tentu sambil tersenyum lebar saking senangnya.
"Waaah ..., besok pasti langsung ngambil krudung ke Bu Hajah ini ...." kata perempuan yang lain, temannya saat ikut borongan menjahit kerudung di rumah Bu Hajah, yang tahu kalau Juminem tidak bisa datang ke rumah juragan kerudung itu lagi karena harus momong bayi cucunya Babah Ho.
"Besok saya boleh pinjam mesin jahitnya ya, Jum ...." kata yang lain dengan rasa ingin juga punya mesin jahit seperti halnya Juminem.
"Boleh .... Untuk menjahit sarung Kang Parjo yang robek, to ...?" sahut Juminem.
"Kok tahu ...?" perempuan itu membalas.
"Hahahaha ...." yang lain tertawa mendengar kelucuan tetangganya.
*******
Malam hari, disaat Juminem duduk sambil masih mengamati mesin jahitnya yang baru, ia bertanya pada suaminya, "Kang ..., kok punya uang banyak, bisa beli mesin jahit, dapat dari mana?" kata Juminem yang pasti ingin tahu asal uang suaminyam dan yang lebih detil lagi Juminem ingin tahu berapa harga mesin jahit itu.
Memang, meskipun Juminem hanya wanita desa, orang yang hidup dalam kesederhanaan, bahkan bisa dikatakan tidak punya uang berlebih selain untuk makan dan hidup sehari-hari. Ia hanya buruh borongan menjahit kerudung. Suaminya juga hanya seorang buruh penggali batu kapur. Bayarannya tidak seberapa. Bagi mereka yang penting cukup untuk makan. Itu saja.
__ADS_1
Maka, ketika Jamil pulang awal bersama mobil pick up yang membawa mesin jahit baru yang harganya pasti lebih dari ratusan ribu, meski senang Juminem tetap ingin tahu asal usul uang suaminya yang digunakan untuk membeli mesin jahit itu. Juminem tidak ingin suaminya cari utang hanya untuk membelikan mesin jahit dirinya. Apalagi kalau sampai uang itu dari hasil yang tidak halal. Juminem tidak mau itu semua.
"Kang ...?! Dari mana uang yang dipakai beli mesin jahit ini ...?!" kata Juminem yang ingin tahu.
Jamil tersenyum, sambil membopong Melian yang belum tidur.
"Kalau saya bilang, pasti kamu tidak percaya ...." begitu jawab Jamil, sambil menina-bobokkan Melian, bayi yang sudah sangat ia sayangi itu.
"Tidak percaya bagaimana ...?! Tidak dari nyolong, kan ...?!" tanya Juminem yang justru penasaran ingin tahu.
"Amit-amit, Jum .... Dijauhkan Tuhan kiranya kalau saya mencuri atau mengambil rezeki yang tidak halal .... Itu akan menjadi api yang membakar kita kelak di neraka, Jum ...." sahut Jamil yang menolak disebut nyolong.
"Lha, terus ...?! Dari mana uang itu?" desak Juminem.
"Aneh, Jum ...." kata Jamil.
"Lha iya .... Anah bagaimana?" Juminem terus mengejar.
"Tadi saat rolasan (istirahat siang jam dua belas) saya dipanggil juragan kapur, pas datang bawa truk untuk mengangkut batu-batu kapur yang sudah digali. Ia tanya kepada saya tentang dirimu yang sekarang momong Melian. Saya pun mengiyakan. Lantas juragan kapur itu bertanya lagi tentang dirimu bagaimana dengan kerjanya di juragan kerudung. Saya langsung cerita kalau kamu tidak bisa ikut menjahit lagi karena harus momong bayi, termasuk saya bilang seandainya punya mesin jahit sendiri, pasti bisa menjahit dirumah, membawa kain-kain kerudung untuk diborong dibawa ke rumah. Eh, tiba-tiba, Jum ..., juragan kapur itu merogoh kantong, lantas mengeluarkan amplop dan diberikan ke saya, katanya untuk beli mesin jahit. Sebenarnya mau saya buka isi amplop itu, tapi dia larang, tidak boleh dibuka, pokoknya disuruh untuk beli mesin jahit, disuruh menyerahkan ke penjual mesin jahit. Saya langsung disuruh berangkat ke toko mesin jahit, dengan syarat saya tidak boleh menoleh-toleh." cerita Jamil pada istrinya.
"Terus ...?" Juminem ingin tahu kelanjutannya.
"Saya menuruti kata-kata juragan kapur itu. Saya pun langsung mengendarai motor saya tanpa menoleh. Tahu-tahu saya sudah berhenti di depan toko mesin jahit." lanjut Jamil.
"Terus ...?" Juminem semakin penasaran.
"Ya terus saya menemui penjual mesin jahit itu. Amplop yang diberikan oleh juragan kapur itu saya berikan, pokoknya saya bilang mau beli mesin jahit." kata Jamil menceritakan kisahnya di toko mesin jahit.
"Langsung disuruh milih mesin jahitnya?" tanya istrinya yang semakin ingin tahu cerita suaminya.
"Tidak Jum. Penjual itu langsung menyuruh pegawainya menaikkan mesin jahit ini ke atas mobil engkrak yang mengirim tadi. Tapi ada yang aneh, Jum ...." kata Jamil.
"Apa, Kang?" tanya Juminem ingin tahu.
"Penjual itu tidak membuka amplop sama sekali. Tidak menghitung uangnya. Amplop dari juragan kapur yang saya berikan itu langsung dimasukkan ke laci. Tapi penjual itu langsung memberikan mesin jahit itu, katanya yang terbaik, Jum ...." kenang Jamil saat di toko mesin jahit.
"Kok aneh ...?! Masak beli mesin jahit uangnya tidak dilihat dan tidak dihitung .... Kalau uangnya kurang apa tidak rugi, Kang ...?" Juminem jadi ikutan bingung.
"Itulah, Jum .... Tolong rahasia ini jangan diceritakan ke orang lain." kata Jamil yang merasa bahwa kejadian ini adalah rahasia dalam keluarganya.
"Iya, Kang .... Memang akhir-akhir ini hidup kita penuh dengan keajaiban. Semuanya aneh .... Kemarin dapat kalung dari kucing .... Sekarang dapat mesin jahit dari juragan kapur .... Kok baikan banget juraganmu itu, Kang .... Entah nanti keanehan apa lagi yang kita alami ...." kenang Juminem yang kadang-kadang bingung dengan hidupnya akhir-akhir ini.
"Berdoa saja, Jum .... Semoga Tuhan senantiasa melindungi kita, dan juga melindungi Melian. Harapan saya, kita bertiga, saya, kamu, Melian akan bersama selamanya, Jum ...." kata Jamil yang memasrahkan hidupnya pada Yang Kuasa.
__ADS_1
"Aamiiiin ...." sahut Juminem mengamini kata-kata suaminya.
Melian sudah tertidur di pundak Jamil. Tenang dan nyenyak. Bibirnya pun terlihat tersenyum. Pasti senyum senang mendengarkan cerita laki-laki yang kini sebagai ayahnya itu.